Papua Tak Hanya Soal Freeport

Rubrik Opini Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & AGUPENA Papua Barat

Gedung olahraga milik Komite Olahraga Nasional Indonesia menjadi saksi, betapa 475 orang berhasil menyelesaikan pendidikan di tingkat sarjana, sebagian diantaranya untuk jenjang magister. Hari itu, kamis (23/2) semua orang bersuka cita. Merayakan kesyukuran atas kerja keras selama ini. Orang tua, kerabat, dan pengurus yayasan datang dari seluruh penjuru Papua. Tukang photo, pedagang kaki lima, tukang parkir, dan juga pedagang mama-mama Papua, semuanya berpeluh menyaksikan perhelatan tersebut.

Saya pun datang dari jarak tempuh yang jauh, sekitar dua belas perjalanan pesawat. Dimulai dari Yogyakarta dengan transit di Denpasar dan Timika sebelum tiba di Jayapura. Pimpinan UNIYAP memberikan kehormatan untuk menyampaikan orasi ilmiah. Selama kurang lebih lima belas menit, kami memaparkan bahan diskusi tentang “Agama, Kebangsaan, dan Kebhinekaan: Inspirasi dari Papua untuk Kemanusiaan”. Hasil perjalanan selama tujuh tahun terakhir disajikan untuk menjadi kajian, eksplorasi, dan penelitian lanjutan sehingga bisa membentuk sebuah kontruksi pengetahuan baru.

Menyaksikan kemeriahan acara, semua lelah hilang. Rasa syukur membuncah, dan senyum yang merias wajah hadirin menjadi pemandangan yang jamak. Tak tampak gerah, walau panas menyengat. Pendingin ruangan tidak mampu untuk menyejukkan hawa. Kadang beberapa orang harus menggerakkan tangan untuk sekadar berkipas ringan. Itu tidak menghalangi sesekali tepuk tangan bergema sebagai penghargaan atas capaian-capaian yang disebut untuk disyukuri.

Hari itu, Universitas YAPIS (Yayasan Pendidikan Islam di Tanah Papua) Papua menggelar wisuda. Semua orang bersuka cita. Gubernur Papua mengutus stafnya untuk hadir mewakili, tidak mengurangi makna acara. Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah XIV juga hadir, beliau seperti biasa menyemangati semua yang hadir. Sembari juga menyerahkan rekomendasi pembukaan program studi. Tak lupa mengabarkan bahwa Rektor Universitas YAPIS Papua sudah layak diusulkan untuk dilantik menjadi guru besar, setelah surat persetujuan Kopertis ditandatanganinya tepat di hari ulang tahun sang Rektor, dua hari sebelum wisuda.

Ini semua tentang semangat. Tak hanya 475 orang tetapi juga orang tua mereka, keluarga mereka, dan guru-guru mereka. Tidak sedikit yang harus berpisah sementara demi meraih pendidikan, keluasan pengetahuan, dan mengasah keterampilan. Mereka harus berjarak dengan kampung halaman. Kadang sakit tak terperih, untuk sementara tidak merayakan idul fitri atau natal bersama karib kerabat, handai taulan, dan sanak keluarga. Semua pengorbanan itu, terbayar lunas juga akhirnya. Mereka menerima pengakuan, sebagai sarjana atau magister dengan kualifikasi yang terdaftar pada administrasi negara.

Tak kalah bahagianya, Rektor UNIYAP, Dr. H. Muhdi B Hi Ibrahim. Beliau menyerahkan ijazah disertai kesyukuran. Sepuluh program studi yang dipimpinnya, hanya satu yang masih terakreditasi C, selebihnya sudah B. Sementara untuk akreditasi institusi, juga sudah B. Bahkan segera akan membuka sembilan lagi program studi baru. Surat rekomendasi diterima saat bapak koordinator menyampaikan pengumuman itu. Begitu pula, beliau menyambut dosen-dosen yang baru saja kembali dari perkuliahan doktor. Tidak ada lagi, dosen yang hanya memegang ijazah sarjana.

Masih tentang semangat. Kota Jayapura juga menyambut dengan suka cita. Sepanjang hari tidak ada setetes air hujan yang tumpah. Keceriahan hari itu semakin lengkap dengan cuaca yang sejuk. Kota Baru, demikian nama yang dilekatkan Presiden Soekarno setelah membebaskan Irian Barat melalui operasi Trikora. Nama Trikora pulalah yang menjadi nama di jalan-jalan utama seentaro Papua. Bersanding dengan nama jalan Abdurrahman Wahid yang mengukuhkan nama Papua kembali digunakan menggantikan kata Irian Jaya.

Kalaulah Papua dikenal dengan Freeport, tetapi tidak hanya itu. Papua juga bermakna semangat. Semua keterbatasan dapat diatasi, salah satuya dengan semangat. Sebesar apapun tantangan yang mendera, hanya dengan kebersamaan akan meluruhkannya. Soal semangat, kebersamaan, dan seni menaklukkan masalah, serahkan semuanya ke masyarakat Papua. Merekalah maestro untuk semua itu. Pejuang, penakluk, dan sekaligus juga pemain sepak bola yang handal. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*