MEREKA TIDAK BELAJAR

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Alamsyah Said
Praktisi Teknis Proses Pembelajaran

Maret baru saja dimulai. Sebagai guru yang berprofesi sebagai praktisi teknis proses pembelajaran, saya mengobservasi kegiatan belajar mengajar kelas satu. Kelas ini adalah kelas SD Antam Pomalaa yang dinaungi oleh Corporate Social Responsibility, CSR PT Antam Tbk, sebuah perusahaan tambang plat merah yang mengeksplorasi nikel di Kabupayen Kolaka, Kecamatan Pomalaa Provinsi Sulawesi Tenggara.

Siswa siswa kelas satu ini adalah kumpulan anak anak kecil yang sedang bertumbuh usianya dan berkembang mental, emosi dan segala elemen dalam otak dan tubuhnya.

Sebagaimana anak anak usia dini lainnya nampak seperti biasa: tak bisa diam, aktif, suka cerita dan suka mondar mandir untuk hal menurut guru tak jelas.

 

Situasi kelas seperti ini, membuat ibu Subarnati, guru kelas yang mengajar di kelas itu bekerja lebih keras dengan tensi tinggi.

Ada 3 panggung pada cerita di atas, pertama: kumpulan anak usia dini sebagai pelaku belajar dan kedua ibu guru Subarnati sebagai pendidik yang mengajar, dan ketiga sebuah panggung drama yang kasat mata, yaitu: proses mengajar dan proses belajar.

Mari kita diskusikan panggung pertama: Anak-anak usia dini dalam konteks sekolah dan Kelas, mereka diarahkan untuk belajar. Namun, apakah mereka sungguh sungguh belajar? Bisa Tidak, bisa Ya. Jika mereka diarahkan belajar seperti robot maka sangat pasti mereka tidak belajar.

Sangat jamak anak anak usia kelas 1 ini diarahkan belajar tanpa melibatkan otak mereka untuk belajar, tanpa melibatkan panca inderawi mereka untuk belajar dan tanpa melibatkan kekhasan gaya mereka ketika belajar. Situasi belajar seperti diatas, saya sebut belajar instruksi Robot.

Jika anak anak usia kelas 1 SD ini belajar dengan memungsikan onderdil kinestetik dalam setiap aktivitas proses belajar, maka mereka akan menyelami proses belajar. Jika mereka dilibatkan dalam fungsi visual maka mereka akan “melihat” proses belajar, jika mereka diberi ruang mengimajinasikan objek belajar dengan spasial-motorik, mereka akan “memvisualisasi” proses belajar, dan jika mereka diberi kesempatan memaksimalkan fungsi area Broca dan area Wernics nya dengan cara auditorial maka anak anak usia kelas 1 SD ini akan menikmati belajar sebagai suasana bermain yang menyengkan.

Jika anak anak kelas 1 SD ini belajar seperti diatas, sangat mungkin dan mutlak mereka belajar.

Mengutip S. Bellen, mengajar dengan cara mereka belajar adalah cara terbaik menjadi Guru Super nan Hebat…

Pomalaa, 1 Maret 2017

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*