Roh Agupena Ada di Jakarta

Rubrik Opini Oleh

Oleh Yanuardi Syukur
(Pengurus Pusat Agupena)

Pengurus Agupena DKI Jakarta telah dilantik pada Sabtu 4 Maret 2017 bertempat di SD Sabilina, Bekasi. Ketua terpilih, dengan gerak cepat memulai pelantikan dengan meluncurkan buku perdana berjudul “Mata Pena” (Sabilina, 2017) yang berisi kumpulan tulisan para penulis Agupena Jakarta.

Di sela-sela acara, Ketua Agupena Pusat, Naijan Lengkong, berkata ke saya, “Agupena DKI ini orangnya lincah-lincah”, yang kemudian saya sampaikan kepada mereka yang hadir ketika itu. Indikasi kelincahan mereka paling tidak terlihat dari buku perdana yang mereka luncurkan. Selain itu, tim pengurus yang merupakan orang-orang terbaik di institusinya juga memperkuat lembaga yang baru terbentuk sukses setelah “termin ketiga” rencana pendirian dan pengaktifan Agupena di ibukota.

Jakarta sebagai ibukota memang penting sekali dalam menopang aktivitas Agupena Pusat. Paling tidak, selain Jakarta, juga ada Banten dan Jawa Barat yang menjadi “tiang penyangga” kegiatan di pusat. Arti sederhananya, jika Agupena Pusat kekurangan tenaga maka penyangga-penyangga tadi dapat mem-back up kegiatan pusat. Sebagai contoh, waktu Munas 2016 lalu, Agupena Pusat sangat merasa penting dengan keaktifan tiga penyangga tersebut mengingat event nasional dan besar seperti Munas harus dikelola dengan sumber daya yang tidak sedikit.

Selain itu, Jakarta juga memiliki posisi strategis sebagai pemimpin gerakan untuk membangun Indonesia yang kuat secara literasi. Keragaman anggota yang terdiri dari guru, dosen, dan tenaga kependidikan, bahkan wartawan dan motivator nasional dari berbagai lembaga (formal dan informal) akan memperkaya gerakan ini menjadi massif dan selanjutnya dapat menjadi pioneer bagi hadirnya gerakan-gerakan literasi di wilayah lain se-Indonesia.

Kemudian, gerat cepat pengurus yang telah menerbitkan buku di hari pertama pelantikan dapat terus dijaga agar para anggota secara kreatif dapat terus menulis dan menerbitkan karyanya baik diterbitkan oleh penerbit indie atau penerbit mayor.

Hal yang cukup penting juga adalah Agupena Jakarta dapat menjadi contoh dalam hal manajemen organisasi yang efektif dan efisian. Artinya, Agupena yang melibatkan para penulis di dalamnya tidak hanya berpuas diri dengan karya, tetapi menguatkan lembaga dengan manajemen yang lebih rapi, efektif, dan tepat sasaran.

Akan sangat baik jika sekiranya Agupena Jakarta dapat menjadi pelaksana dari penerbit Agupena yang dapat menerbitkan karya-karya insan Agupena se-Indonesia. Bisa dibayangkan jika tiap bulan 1 buku, maka satu tahun minimal 12 buku kita punya. Itu bukan hanya penulis Jakarta tapi penulis se-Indonesia.

Selamat kepada Agupena Jakarta yang telah memulai dengan karya terbaiknya di bawah pimpinan Dr. Supangat Rohani, MA yang juga Direktur Perguruan Islam Al-Syukro Universal Tangerang. Di bawah pimpinan “Mr. Roh” yang gesit dan humoris ini kita harapkan dapat membawa Agupena Jakarta semakin eksis, berdaya, dan kontributif untuk masyarakat Jakarta dan Indonesia pada umumnya. ***

Tags:

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,
Go to Top