AJARKAN KEPADA ANAK BUDAYA MENABUNG SEJAK DINI

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh Tawakkal
(Guru SDN 198 Bira, Kec. Bontobahari, Kab. Bulukumba)

Ala bisa karena biasa. Peribahasa ini sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi seluruh kalangan masyarakat, baik itu di kalangan para siswa, pendidik, dan masyarakat awam pada umumnya. Kebiasaan yang turun-temurun bisa diartikan sebagai budaya. Baik itu di bidang adat istiadat, agama, bahasa, bangunan, dan sebagainya. Sama halnya dengan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak. Kebiasaan yang telah diajarkan sejak dini akan melekat pada dirinya serta menjadi bagian yang sulit untuk dilupakan. Salah satu contoh adalah kebiasaan menabung sejak dini.

Menabung artinya menyisihkan sebagian uang atau penghasilan baik dalam waktu yang berkala ataupun setiap hari, yang jumlahnya tergantung oleh yang bersangkutan. Menabung bukan hanya bisa dilakukan melalui bank atau lembaga penyedia tabungan lainnya. Menabung bisa dilakukan dengan alat yang sederhana. Bisa hanya dengan bambu yang yang telah dibentuk sedemikian rupa, kaleng tempat biskuit, atau dengan tempat khusus yang biasanya terdapat di toko-toko plastik dan alat mainan anak-anak yang mempunyai aneka macam bentuk. Menabung mempunyai manfaat yang sangat baik bagi semua orang. Dengan menabung, seseorang bisa merasa terbantu dari segi biaya yang tak terduga. Namun, menabung memerlukan komitmen yang kuat. Jadi alangkah baiknya bila mempunyai program menabung, sebelumnya harus dengan perhitungan yang matang. Jumlah tabungan yang tidak terlalu memberatkan, serta komitmen waktu yang dispilin.

Budaya menabung juga bisa dilakukan atau dipraktekkan di sekolah. Seperti pengalaman saya di kelas. Saya telah melakukan program ini selama dua tahun. Dan menurut saya ini adalah salah satu langkah yang sangat baik, serta mendapat apresiasi yang positif dari peserta didik dan orang tua siswa. Di samping membantu para peserta didik secara mandiri untuk membeli perlengkapan sekolah yang berasal dari tabungan mereka, juga akan membantu para peserta didik dalam menanamkan sikap dan kebiasaan menabung serta memberikan gambaran dan pendidikan pribadi dalam pola dan prinsip hidup hemat. Sekedar untuk berbagi pengalaman dengan teman-teman, berikut beberapa langkah yang saya lakukan sebelum membuat program menabung di kelas.

Mensosialisasikan Fungsi Dan Manfaat Menabung Kepada Peserta Didik dan Orang Tua

Sebelum melakukan program ini di sekolah, terlebih dahulu kita harus melakukan sosialisasi menabung kepada peserta didik. Ini bertujuan agar para peserta didik mengetahui lebih dalam arti menabung, fungsi dan manfaat menabung itu sendiri. Cara ini dilakukan agar peserta didik dapat memiliki kemauan untuk menabung. Sosialisasi ini juga harus dilakukan bersama dengan para orang tua siswa, agar program ini dapat terlaksana dengan baik melalui kerjasama dengan orang tua siswa.

Membuat Kesepakatan Jumlah Dan Besaran Tabungan Peserta Didik.

Langkah yang kedua setelah melakukan sosialisasi kepada peserta didik tentang manfaat menabung, adalah membuat kesepakatan jumlah dan besaran tabungan serta bentuk dan sifat tabungan tersebut. Jumlah tabungan yang ditentukan adalah mengambil standar minimum jumlah sesuai dengan kemampuan para peserta didik. Jumlah ini tidak diperbolehkan dengan memaksakan kepada peserta didik. Prinsip ini didasarkan pada kemampuan peserta didik karena kemampuan peserta didik yang beragam. Jadi, buatlah keputusan yang sifatnya sesuai dengan standar minimal kemampuan para peserta didik. Seperti yang telah saya lakukan, jumlah dan besaran tabungan peserta didik yang telah ditentukan adalah sebesar Rp 1,000.00 per harinya, yang disetor selama proses pembelajaran di kelas atau sesuai dengan hari sekolah. Dengan jumlah tersebut, para peserta didik tidak merasa berat untuk menyisihkan uang mereka. Sifatnya pun ditentukan dengan cara pembagian tabungan kepada masing-masing peserta setiap akhir bulan berjalan.

Melakukan Penunjukan Kepada Siswa Yang Bertanggung Jawab Dalam Pengelolaan Tabungan Tersebut.

Langkah yang ketiga adalah menunjuk satu orang siswa sebagai bendahara. Siswa yang berperan sebagai bendahara bisa ditunjuk berdasarkan dengan struktur organisasi di kelas. Jadi dengan adanya program ini, bendahara kelas harus ikut bertanggung jawab dalam pengelolaan tabungan tersebut. Berikan kepercayaan kepada bendahara kelas untuk  mempertanggungjawabkan program ini, lengkap dengan catatan rinci tabungan tersebut tanpa lepas dari kontrol masing-masing guru kelas.

Dengan tiga langkah tersebut, program tabungan siswa di kelas saya kira dapat dilakukan. Demi mengajarkan budaya menabung sejak dini bagi peserta didik, maka akan membawa kebiasaan baik bagi peserta didik sampai lanjut ke jenjang sekolah yang lebih tinggi hingga seterusnya.  Semoga dengan adanya program tersebut, para peserta didik dapat melakukan pola hidup yang hemat mulai dari lingkungan keluarga sampai ke lingkungan sosial di masyarakat. Mari wujudkan pendidikan yang lebih baik melalui pola hidup hemat dengan budaya menabung sejak dini. “Masa Muda Menabung Raih Masa Tua yang Beruntung”

Akhir kata semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi diri saya pribadi, keluarga, serta teman-teman. Salam….

Lahir di Gowa / Maroanging 13 Oktober 1986. Alamat Dusun Dauhe, Desa Darubiah, Kec. Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Penulis merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Makassar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, jenjang Strata Satu (S-1) PGSD. Mempunyai hobby, menulis, membaca, olahraga, travelling, dan sebagainya. Di samping sebagai guru pada Sekolah Dasar, penulis juga aktif dalam berbagai organisasi profesi. Kritik dan saran sangat diharapkan dan bisa disampaikan lewat akun facebook Tawakkal Thu Alallah atau ponsel/WA di 085255991914. http://tawakkalthualallah.blogspot.com. Kini menjadi Pengurus Agupena Cab. Bulukumba.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Hidden Kurikulum

Oleh: Fortin Sri Haryani Ada pertanyaan di balik tragedi pembunuhan massal oleh

Mind Map dan Aikido

Oleh: Yudhi Kurnia Bagi para praktisi pendidikan tentunya tidak akan asing lagi
Go to Top