“MEMBINGKAI” KEIKHLASAN MENDIDIK

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh Edi Sugianto
Esais, Penyair, Penulis Buku “Menyalakan Api Pendidikan Karakter”

padamu guru!
negeriku subur,
mengapa terasa berbatu?

padamu guru!
negeriku luhur,
mengapa luntur?

padamu guru!
rajawaliku terbang,
mengapa tersungkur?

padamu guru!
hatimu pada tuhan,
mengapa tak melebur

(Padamu Guru, Edi Sugianto, 2016)

Sesuatu yang sangat berharga, biasanya dibingkai, dan dipajang di dinding kamar, misalnya foto-foto keluarga, atau pun momen bersejarah bersama orang terkenal, dan lain sebagainya. Hal itu kodrat manusia yang suka keindahan. Bila yang berbentuk materi saja dibingkai, lebih-lebih yang non-materi seharusnya mendapat “bingkai” yang lebih indah. Di antaranya “keikhlasan”.

Edi Sugianto

Keikhlasan adalah mutiara kehidupan, bahkan kemurniannya pun akan tampak setelah kehidupan. Dengan keikhlasan, seseorang bisa bercermin: seberapa besar kualitas hidupnya. Misalnya, dalam shalat, seseorang bisa mengukur keikhlasannya sendiri; dengan melihat seserius apa ia mau memperbaiki (Ishlahu as-Shalah) bacaan, dan gerakan shalat, juga latihan konsentrasi (Khusyu’) secara kontinu.

Keikhlasan bukan tentang kuantitas, melainkan kualitas, karena itu, nilai shalat satu rakaat dengan kualitas ilmu/tata cara shalat yang baik dan benar, bisa mengalahkan shalat seribu rakaat yang tanpa ilmu (shalat asal-asalan). Jadi, keikhlasan berarti mengerjakan sesuatu sebaik mungkin (Ahsanu a’mala), bukan sebanyak mungkin (Aktsaru a’mala).

Keikhlasan Mendidik
Lalu, bagaimana seorang guru mengukur keikhlasannya dalam mendidik (al-Ikhlasu fi at-Tarbiyah)? Indikator apa saja yang bisa digunakan? Kemudian, apakah guru yang mendapat gaji banyak dikatakan tidak ikhlas, sebaliknya, yang gajinya dikit, atau bahkan tidak digaji bisa dikategorikan super ikhlas?

Mendidik merupakan pekerjaan mulia; tidak hanya tujuan mengubah orang yang tidak tahu menjadi tahu, namun lebih dari itu, mendidik berarti “mengubah” orang yang biadab menjadi beradab.

Merujuk pada definisi ikhlas yang saya jelaskan di atas, maka ikhlas dalam mendidik tidak bisa diukur dari faktor besar-kecilnya gaji seorang guru, melainkan sejauh mana ia serius melaksanakan profesionalitasnya dalam mendidik (profesionalisme).

Bila seorang guru bekerja dengan sangat baik, maka wajar ia akan mendapat gaji yang baik (banyak) pula. Sebaliknya, kerja yang asal-asalan, gajinya pun sekadar saja. Jika seorang guru punya kapasitas, dan sumbangsih besar di sekolah, lalu mendapatkan gaji yang tidak sesuai, justru hal itu bisa mengganggu keikhlasan.

Menurut hemat saya, setidaknya ada dua indikator keikhlasan dalam mendidik:

Pertama, sejauh mana seorang guru memberikan keteladanan (Uswah). Keteladanan merupakan ruh pendidikan, karena itu sebelum mendidik orang lain, guru mutlak harus mendidik diri sendiri. Sebelum ngacain orang, ngaca dulu, seperti apa pola hidupnya.

Perkataan guru yang tidak sesuai dengan tingkahnya akan membuat murid-murid ‘bingung’, siapa yang akan dicontoh? Misalnya, guru rajin menyuruh muridnya untuk rajin membaca, dan menulis (budaya literasi), tetapi ia sendiri tidak pernah “baca buku”.

Guru-guru rajin mengkampanyekan hidup santun, rukun; harmonis sesama teman, tapi saat bersamaan masih banyak guru yang satu dengan guru lainnya saling menyalakan api kebencian, konflik-konflik laten, dan penuh prasangka buruk. Apakah itu uswah? Tentu tidak! Jika, terus-menerus begitu, sebaiknya berhenti menjadi guru, karena akan jadi penyakit sekolah, dan bangsa. Akhlak yang buruk itu menular (Su’ul khuluqi yu’di).

Kedua, kebiasaan (Istiqomah). Pendidikan bukan upaya terus-terusan “memaksa” anak. Paksaan boleh-boleh saja dilakukan, misalnya ketika masih bocah dipaksa; disuapi saat makan, itu wajar, menjadi tidak wajar, bila disuapi sampai dewasa. Karena itu, pendidikan memiliki level-level tertentu, mulai paksa, bisa, biasa, hingga luar biasa.

Seorang guru yang ikhlas dalam mendidik, berarti ia juga Istiqomah memelihara kebiasaan baiknya. Contoh, kebiasaan shalat jemaah yang biasa dilakukan di sekolah bersama anak-anak, tidak begitu saja ditinggalkan saat berada di rumah. Kebiasaan tadarus al-Qur’an bersama murid-murid, tidak hanya dilakukan di sekolah.

Akhirnya, “keikhlasan mendidik” tercermin dari sejauh mana seorang guru mendidik dengan keteladanan, dan kebiasaan. Jika dua hal tersebut bisa dilakukan, maka mendidik akan menuai kemuliaan dunia-akhirat. Amin. Allahu a’lam bisshawab. ***

 

EDI SUGIANTO (Esug), lahir di Sumenep, 22 September 1989 (28 tahun), dari pasangan H. Abd Lathif dan HJ. Holifah. Lulus SD Gedugan I (1996-2001), MTs Al-Hasan Somber Giligenting (2002-2004). TMI Al-Amien Islamic Boarding School, Sumenep Madura (2005-2008), S1- Universitas Muhammadiyah Jakarta (2009-2013). Kegemaran menulis dimulai sejak nyantri di Pesantren Al-Amien. Saat ini tulisannya berupa esai, resensi, dan puisi telah dimuat di berbagai media (cetak, dan online) nasional, seperti koran Kompas, Republika, Koran Tempo, dll. Majalah, Tabloid, Jurnal Kampus, dan Agupena (online). Bukunya yang telah terbit, Menyalakan Api Pendidikan Karakter (2016). 99 Api Berlayar (2016). Tuhan dalam Rintik Hujan (2017). Cinta dalam Secangkir Kopi (2017). Di samping itu, ia juga berkiprah sebagai guru agama Islam di SMA Muhammadiyah 11, Rawamangun, Jakarta Timur, dan SMK Muhammadiyah 15, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sekretaris Majelis Pendidikan Kader, PCM Rawamangun (2015-2020). Di waktu luangnya, anggota AIS (Arsenal Indonesia Supporter) ini, punya hobi main futsal, Football PlayStation, seni vocal (nyanyi dan qiroah). Email: esug_L2s@yahoo.com. Facebook: Edi Sugianto Sug.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top