Oleh-Oleh dari Bangkok

Rubrik Kegiatan Oleh

Oleh Yanuardi Syukur
(Pengurus Pusat Agupena)

Pada 8-9 Februari 2017 saya diundang oleh World Learning, sebuah lembaga pendidikan dan pertukaran yang berbasis di Washington D.C. untuk mengikuti kegiatan “Asia Pacific Think Tank Forum” bertempat di Hotel Courtyard Marriot, Bangkok. Kegiatan tersebut digelar bekerjasama antara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat dan Future Innovative Thailand Institute yang menghadirkan peserta dari 17 negara Asia Pasifik.

Isu penting dibahas dalam pertemuan ini adalah soal pembangunan lembaga Think Tank di Asia Pasifik. Di tengah kebangkitan Asia, Think Tank juga dirasakan sangat penting sebagai “penengah” antara kebijakan pemerintah dengan rakyat. Hasil riset dari lembaga Think Tank misalnya, diharapkan dapat dipakai oleh pemerintah untuk menjalankan program yang tepat sasaran.

Pembicara kunci seperti Mantan PM Thailand Abhisit Vejjajiva dan Mantan Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan juga membahas soal perkembangan dunia global. Menurut keduanya, masalah dunia saat ini membutuhkan kerjasama dari seluruh masyarakat dunia. Kita tidak bisa lagi hanya menutup diri terhadap masalah yang sebenarnya mengancam kemanusiaan seperti climate change, kemiskinan, ketidakadilan, konflik dan kekerasan, dst.

Hal ini butuh kerjasama global, dan lembaga Think Tank dapat memainkan peranannya di sini. Sinergi antara satu dan lainnya sangatlah urgen untuk itu. “The power of synergy” perlu ada tidak hanya di tingkat pemerintah tapi juga di basis masyarakat sipil. Dalam berbagai masalah yang mendera kawasan Asia Pasifik, dibutuhkan “kemitraan dialogis” antara para pemimpin dan masyarakat sipil untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada.

Dari sekian panel yang digelar selama dua hari saya mendapatkan bagian untuk berbicara masalah kualitas riset. Kualitas riset lembaga Think Tank menurut saya harus dimulai dengan kaidah penelitian (research method) yang benar. Selanjutnya, hasil riset itu perlu dijabarkan dalam bahasa yang kontekstual yang dapat diaplikasikan oleh pengambil keputusan (pemerintah). Artinya, signifikansi hasil penelitian sangatlah penting untuk menentukan sukses tidaknya sebuah hasil riset.

Pertemuan internasional ini menarik sekali diikuti. Saya bertemu sekian banyak teman baru dan belajar dari mereka. Dalam dunia yang semakin menyempit ini menuntut saling-kenal yang lebih luas antara satu dan lainnya untuk sama-sama memikirkan dan menyelesaikan masalah global. ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*