Nektar: Sajak-sajak Edi Sugianto

Rubrik Puisi/Sastra Oleh

AKU INGIN TIDUR DI MIMPIMU

Aku ingin berbaring di matamu, menjala keindahan dunia. Menikmati lanskap angkasa dan pesawat terbang yang melintasi mimpi-mimpi kita.

Mimpi itu seperti awan yang kita kejar malam itu: mereka telah beranak-pinak, membangun rumah dan tangga sendiri untuk sampai di nirwana cinta.

Aku ingin tidur di mimpimu seperti awal kita bertemu!

 

Jakarta, 14: 2: 2017

 

BULAN DI WAJAHMU

Seperti merah bibirmu Humairah, putih sajakku satu per satu berguguran: entah menjelma apa?

Senyummu adalah pukat yang anggun. Kau jala aku, aku pun bersauh di hatimu. Kita sama-sama berlabuh!

Aku rela bermalam-malam sampai awan melahirkan setetes embun, jatuh di wajahmu jadi rembulan.

Taukah engkau?

:Gemuruh cinta adalah lahang yang memabukkan!

Jakarta, 4: 2: 2017

 

CINTAKU TAK BER-UFUK

dan bibir merah mawar itu berjuntai tanpa pewarna. “Bilamana kau menanam bunga, kau ‘kan memetik semerbaknya…” sabda Paduka.

(aku hujan dan dia riciknya:
mengalir ke telaga waktu,
bersulang-sulang doa,
di ufuk rindu)

Lalu, saling memejamkan rasa: mengalungkan cinta!

Jakarta, 10: 2: 2017

 

DI BALIK KACA JENDELA

 

Bayang-bayang bianglala yang menyala di balik kaca jendela tanpa sengaja kucuri wajahnya dengan sajak yang nyaris sempurna.

Cinta adalah melati yang terlepas dari tangkainya, kurangkai kembali menjadi bidadari surga.

Di pagi hari, cinta laksana burung yang tak betah di sangkarnya, tapi cericitnya selalu menggoda kelopak bunga!

_Cinta adalah air jernih yang dirindu muaranya!

 

Jakarta, 16: 2: 2017

 

NEKTAR, 1

Aku sekuntum bunga yang tumbuh di lubuk hatimu, merah menyala. Kau tentu merasa, ketika langit semakin sengit menggoreskan nama kita. Aku diam saja, pura-pura tak mengenal rinai-rinai yang menempel di kelopak mata.

Aku sengaja menyimpan cita, lalu mekar dalam cinta yang sempurna.

(Jakarta, 20: 2: 2017)

 

NEKTAR, 2

dalam setiap bunga semoga ada nektar dalam setiap nektar semoga ada madu dalam setiap madu semoga ada engkau yang senantiasa menyemai syahdu jiwa, merangkai bunga-bunga.

(Jakarta, 20: 2: 2017)

 

SEPASANG SANDAL JEPIT

Setiap yang tercipta seperti sandal jepit. Seorang Profesor berkata padaku: “Engkau sang pembuka fajar!” Fajar itu perawan dan aku perjakanya.

(aku jendela dan kau tirainya

aku bunga dan kau nektarnya
aku lirik dan kau musiknya
aku hutan dan kau tamannya
aku hujan dan kau riciknya
aku parfum dan kau harumnya
aku laut dan kau gelombangnya
aku langit dan kau gemintangnya
aku matahari dan kau sinarnya
aku                              burung                         dan                              kau                  kicaunya)

_aku bibir dan kau senyumnya!

Jakarta, 13: 2: 2017

 

PERCAKAPAN OMBAK DAN ANGIN

Ombak menyambut angin dengan lembut. Angin tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia bahagia!

Ombak dan angin sama-sama merantau, mencari kesejukan. Mereka bertemu di musim bunga-bunga bermekaran.

“Seberapa besar cintamu pada sepoi-sepoi?” ujar ombak sembari melempar batu-batu kecil ke pipi laut. “Selama kau juga setia menemaniku dengan ikhlas” jawab angin menggoda.

Setelah beberapa dentuman. Terlihat dari kejauhan berdua saling mendekat bergandengan tangan lalu menghilangkan pandangan. Mungkin mereka ke Kahyangan!

Sumenep, 3: 1: 2017

 

RAYUAN PULAU MADURA

Pulauku yang berkelok,
cemaranya semakin asri
Bibir pantainya nan elok,
Kembang kota ingin memiliki.

Sumenep, 28: 12: 2016

Biodata Penyair:

Edi Sugianto (Esug), lahir di Sumenep, Madura. 22 September 1989. Alumnus Al-Amien Islamic Boarding School, Sumenep, Madura (2008). Universitas Muhammadiyah Jakarta (2013). Guru SMA Muhammadiyah 11, dan SMK Muhammadiyah 15, Jakarta. Buku yang telah terbit di antaranya: “Menyalakan Api Pendidikan Karakter,” (Penerbit Penebar Kata, Jakarta: 2016), dan buku kumpulan puisi, “99 Api Berlayar,” (2016). Buku yang akan terbit, di antaranya: “Tuhan dalam rintik Hujan,” (antologi puisi). “Hanya, Sajak-sajak Cinta,” (antologi puisi). “Tanda Tanya (?),” (antologi puisi). Saat ini, ia bergiat di ‘Si Penulis Unyu’ (SiPU), Jakarta Selatan.

 

EDI SUGIANTO (Esug), lahir di Sumenep, 22 September 1989 (28 tahun), dari pasangan H. Abd Lathif dan HJ. Holifah. Lulus SD Gedugan I (1996-2001), MTs Al-Hasan Somber Giligenting (2002-2004). TMI Al-Amien Islamic Boarding School, Sumenep Madura (2005-2008), S1- Universitas Muhammadiyah Jakarta (2009-2013). Kegemaran menulis dimulai sejak nyantri di Pesantren Al-Amien. Saat ini tulisannya berupa esai, resensi, dan puisi telah dimuat di berbagai media (cetak, dan online) nasional, seperti koran Kompas, Republika, Koran Tempo, dll. Majalah, Tabloid, Jurnal Kampus, dan Agupena (online). Bukunya yang telah terbit, Menyalakan Api Pendidikan Karakter (2016). 99 Api Berlayar (2016). Tuhan dalam Rintik Hujan (2017). Cinta dalam Secangkir Kopi (2017). Di samping itu, ia juga berkiprah sebagai guru agama Islam di SMA Muhammadiyah 11, Rawamangun, Jakarta Timur, dan SMK Muhammadiyah 15, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sekretaris Majelis Pendidikan Kader, PCM Rawamangun (2015-2020). Di waktu luangnya, anggota AIS (Arsenal Indonesia Supporter) ini, punya hobi main futsal, Football PlayStation, seni vocal (nyanyi dan qiroah). Email: esug_L2s@yahoo.com. Facebook: Edi Sugianto Sug.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*