TUHAN: Sajak-sajak Edi Sugianto

Rubrik Puisi/Sastra Oleh

AKU BELUM BISA MENGANGGAPMU TUHAN

“Syirik itu seperti semut hitam, berjalan di atas batu hitam, dalam gelap malam.” (Kuntowijoyo: 2001)
Ya, aku belum bisa menganggapmu tuhan, kalau lagu kampung halaman belum fasih kunyanyikan. Bukan cuma sumpah yang diikrarkan, seperti mereka yang menyembah uang, dan jabatan.

Ikrar adalah jarak yang membentang di antara lanskap kesetiaan, dan borok kemunafikan. Janji seperti musim awan-awan berkejaran, kadang hujan, atau hanya lakon sedang diperankan.

Tentu, aku belum bisa menganggapmu tuhan, betapa tidak! Sembahyang masih kujadikan hutang: lega setelah kubayar. Bahkan, beban hidup kugantungkan sendiri: seakan-akan berdiri tanpa tumpuan.

Bila begitu: aku belum bisa menganggapmu tuhan!

Jakarta, 6: 2: 2017

 

KELAMIN HUJAN

hujan yang menyetubuhi bumi
sudahkah ke pelaminan?
melahirkan cinta bersemi
merimbun rahmat-kebahagian

(anak-anak hujan
adalah sketsa puisi
yang bersemayam
di lubuk kata yang suci)

hujan adalah bukti
cinta tuhan nan abadi!

(Jakarta, 21: 2: 2017)

 

MENEMPUH JALAN SUNYI

Sunyi adalah keramaian batin bersama tuhan, tak banyak yang mengambilnya amsal. Misalnya, di waktu malam menyembunyikan keindahan.

Seorang penjaga makam bersenandika: “Itu hanya tagline keagamaan, lihat muda-mudi yang berkencan di atas kuburan, mereka tak menyaksikan apa-apa!”

Memang! Jalan sunyi hanya bisa dilalui jika syahwat direngkuh seperti anak anjing yang jinak, atau binatang buas peliharaan.

Menempuh jalan sunyi terlihat berduri, pengembara jarang melintasi, padahal ia begitu lapang, asri, lanskapnya terbentang: menjembatani dua kehidupan.

Yang fana adalah lika-liku. Jalan sunyi kekal abadi!

Jakarta, 7: 2: 2017

 

SUATU MALAM DI MUSIM HOAX

……., jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti……(QS al-Hujurat: 6)

Tiba-tiba, angin sakal embuskan kentut di mana-mana, semua mengendus baunya. Ini bencana, bila langit diam saja!

Rinai-rinai pun berbicara jika kau simak, namun ia enggan berkata: apa yang tak dipesankan awan pada rumputan. Di pagi hari, jari-jarinya ikhlas memeluk pohonan.

Di musim hujan ia suka menimbang dirinya di dedaunan muda: pantaskah nyanyikan sajak yang tak sempat ditulis penyairnya? Ia sangat berhati-hati meniti larik dan lirik dengan suaranya.

Rinai adalah tetesan air mata nirwana!

Jakarta, 8: 1: 2017

 

TUHAN YANG KESEPIAN

Perempuan tanpa tudung dirundung gelombang kegalauan yang agung. Burung-burung mencuri pandang kemudian terbang begitu saja.

“Apakah kau sedang meninggalkan tuhan?”
Penjaja koran bertanya, ketika perempuan itu menggantung air mata. Bibirnya bergeming tanpa selehai suara, tapi sebenarnya ia tahu jawabannya.

Terdengar sipongang: “Siapa yang kau cari?”
Hatinya berkunang-kunang. Ia kian meremang saat menerawang sketsa dirinya.

“Aku sering membiarkan-Nya kesepian, padahal Ia selalu menimangku!” Perempuan itu sadar.

Jakarta, 5: 1: 2017

 

Biodata Penyair:

Edi Sugianto (Esug), lahir di Sumenep, Madura. 22 September 1989. Alumnus Al-Amien Islamic Boarding School, Sumenep, Madura (2008). Universitas Muhammadiyah Jakarta (2013). Guru SMA Muhammadiyah 11, dan SMK Muhammadiyah 15, Jakarta. Buku yang telah terbit di antaranya: “Menyalakan Api Pendidikan Karakter,” (Penerbit Penebar Kata, Jakarta: 2016), dan buku kumpulan puisi, “99 Api Berlayar,” (2016). Buku yang akan terbit, di antaranya: “Tuhan dalam rintik Hujan,” (antologi puisi). “Hanya, Sajak-sajak Cinta,” (antologi puisi). “Tanda Tanya (?),” (antologi puisi). Saat ini, ia bergiat di ‘Si Penulis Unyu’ (SiPU), Jakarta Selatan.

EDI SUGIANTO (Esug), lahir di Sumenep, 22 September 1989 (28 tahun), dari pasangan H. Abd Lathif dan HJ. Holifah. Lulus SD Gedugan I (1996-2001), MTs Al-Hasan Somber Giligenting (2002-2004). TMI Al-Amien Islamic Boarding School, Sumenep Madura (2005-2008), S1- Universitas Muhammadiyah Jakarta (2009-2013). Kegemaran menulis dimulai sejak nyantri di Pesantren Al-Amien. Saat ini tulisannya berupa esai, resensi, dan puisi telah dimuat di berbagai media (cetak, dan online) nasional, seperti koran Kompas, Republika, Koran Tempo, dll. Majalah, Tabloid, Jurnal Kampus, dan Agupena (online). Bukunya yang telah terbit, Menyalakan Api Pendidikan Karakter (2016). 99 Api Berlayar (2016). Tuhan dalam Rintik Hujan (2017). Cinta dalam Secangkir Kopi (2017). Di samping itu, ia juga berkiprah sebagai guru agama Islam di SMA Muhammadiyah 11, Rawamangun, Jakarta Timur, dan SMK Muhammadiyah 15, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sekretaris Majelis Pendidikan Kader, PCM Rawamangun (2015-2020). Di waktu luangnya, anggota AIS (Arsenal Indonesia Supporter) ini, punya hobi main futsal, Football PlayStation, seni vocal (nyanyi dan qiroah). Email: esug_L2s@yahoo.com. Facebook: Edi Sugianto Sug.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*