Mead, Pemburu, dan Tulisan

Rubrik Literasi Oleh

Oleh Yanuardi Syukur
(Mahasiswa Program Doktoral Antropologi FISIP UI)

Margaret Mead adalah seorang antropolog Amerika yang pernah meneliti (pada 1930-an) tiga suku di Papua Nugini: Arapesh (pegunungan), Mundugumur (tepi sungai), dan Tchambuli (tepi danau). Dalam bukunya “Sex and Temperament in Three Primitive Societies” yang didedikasikan untuk Franz Boas, Mead menjelaskan bahwa kepribadian manusia ditentukan oleh kebudayaan setempat.

Orang Arapesh misalnya, digambarkan berkepribadian penuh kasih sayang (gentle), responsif (responsive), dan tidak agresif (unagressive). Sementara itu orang Mundugumur berkepribadian keras, kasar, aktif, dan agresif. Dan, orang Chambuli perempuannya kasar, keras, bekerja yang berat-berat (seperti pria); berbeda dengan laki-lakinya yang bekerja sebagai tukang, pencari ikan, pemburu, namun suka berhias kepala dan cat rambut (seperti perempuan).

Hasil penelitian Mead tersebut sampai sekarang masih menjadi buku rujukan dalam antropologi. Di Pascasarjana UI misalnya, mata kuliah “Memahami dan Mengkritisi Antropologi” yang dibawakan oleh Prof. Dr. Meutia Hatta dan Dr. Tony Rudyansjah mewajibkan tiap mahasiswa untuk membaca karya Mead, bahkan mengkritisinya.

Apa yang hendak kita ambil dari Mead?
Kita bisa belajar soal berburu data dan menuliskan data itu. Ketika mengumpulkan data ketiga suku tersebut, Mead melakukannya dengan metode observasi dan partisipasi secara sungguh-sungguh. Jika di-google, kita akan mendapatkan beberapa gambar Mead yang sedang wawancara, atau berfoto dengan suku tersebut menggunakan pakaian lokal.

Penelitian antropologi memang mensyaratkan kedekatan yang mendalam antara peneliti dengan subyek penelitian. Itulah kenapa penelitian antropologi memakan waktu lama (minimal 1 tahun), apalagi untuk PhD yang perlu bertahun-tahun. Hal itu dilakukan agar peneliti mendapatkan data yang lengkap, yang “sehari-sehari”, bukan yang sekedar apa adanya ketika menjamu tamu.

Tiap penulis juga dapat belajar dari antropolog yang menggali, dan berburu data sedalam mungkin. Setelah data diperoleh, maka tiap penulis perlu menuliskan hasil “perburuannya” dalam bentuk tulisan/artikel/esai/buku secara lebih dalam, atau yang disebut oleh Geertz sebagai “thick description” (deskripsi mendalam).

Tulisan yang baik memang seharusnya dalam. Memang butuh waktu dan perenungan yang lebih dalam. Maka tiap penulis perlu sekali mencari data sedalam mungkin, seotoritatif mungkin, dan sealamiah mungkin. Kemudian, dituliskan dalam artikel yang ringan tapi dalam dan menampilkan hal-hal baru bagi pembaca. ***

Tags:

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top