NEUROSAINS DI SEKOLAH JEPANG (1)

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Alamsyah Said
(Penulis Buku 95 Strategi Mengajar Multiple Intelligence, Wakil Ketua AGUPENA Jakarta)

Saya berkesempatan tinggal selama sebulan lima hari di Kota Tsukuba, Jepang, dan saya pun langsung menetapkan niat untuk melakukan observasi pembelajaran.

Gayung bersambut, sahabat saya dan beberapa mahasiswa yang tergabung dalam PPI Tsukuba mengajak saya melihat kegiatan Undokai di jenjang play grup dan TK, usia 3 – 6 tahun.

Apa itu undokai? Dalam bahasa Jepang undokai adalah festival olahraga, yang rutin diadakan pada musim gugur atau musim semi. Undokai dilaksanakan mulai dari jenjang TK usia 3-6 tahun sampai SMA.

Salah satu bentuk festival undokai adalah Tamaire dan Pan-Kui Kyousou. Tamaire adalah pertandingan antara kelompok putih dan kelompok merah yang masing-masing anggota kelompok memegang bola kecil untuk berusaha memasukkan kedalam keranjang, sedangkan Pan-Kuo Kyousou adalah siswa-siswa bersaing dengan berlari secepat yang mereka bisa.

Mengapa undokai ada dalam proses pendidikan di Jepang? Ini pertanyaan menarik. Dalam perspektif Neurosains, undokai menstimulasi membantu siswa bertumbuh dan berkembang dalam nilai-nilai kebudayaan Jepang, seperti pekerja keras, pantang menyerah, kerjasama dan disiplin.

Dan lebih dari itu, kegiatan undokai memstimulasi pengkayaan jalur sinaps pada motor kortek dan ganglia basalia di otak siswa, yaitu bagian yang bertanggungjawab terhadap proses motorik-kinestetik, juga mengatur keseimbangan dan antar kordinasi gerakan.

Pada jenjang usia dini, undokai juga dilakukan bersama anak dan orangtua. Saya melihat bagaimana orangtua dan anak bekerjasama, kompak dan bahu membahu mendorong gerobak tiga roda berisi bola raksasa. Aktivitas membawa bola rakaasa digerobak tiga roda memberikan nilai kerjasama, saling percaya antar orangtua dan anak, melatih kordinasi keseimbangan mental dalam menjaga balance bola raksasa.

Kinerja neurosainsnya adalah pengkayaan jalur sinapsis saraf diarea sistem limbik. Area ini dikenal mengatur emosi-mental. Ikatan kerjasama, kompak dan saling percaya yang menguatkan dan mengedukasi penguatan mental emosi positif pada anak.

Secara seksama, saya memerhatikan siswa setelah melaksanakan satu kegiatan olah fisik dan mental, mereka nampak ceria dan tertawa tentu juga berkeringat. Ceria dan tertawa menghasilkan hormon endorfin yaitu hormon yang memicu rasa senang dan enak hati.

Sahabat pendidik, efek hormon endorfin menyentuh bagian emosional siswa berupa rasa senang dan bahagia. Efek panjangnya adalah menguatkan tiang-tiang pembentuk mental positif.

Aktivitas undokai yang telah berlangsung sejak tahun 1800-an memberikan efek kuat dalam olahraga, efek pantang menyerah, tetap semangat pada setiap siswa. Ketika, seorang siswa terjatuh dari kegiatan permainan, ia serta merta mendapat teriakan ganbare (ayo semangat) dari guru, dan siswa lain. Tak ada siswa yang menertawakan rekannya yang terjatuh apalagi meneriakkan ..huuh.

Pada situasi ini, saya melihat bagaimana sejak masih usia kanak-kanak, mereka telah dilatih dan dibiasakan untuk tak mudah patah semangat atau ganbatte kudasai. Dan sekarang, kita melihat mereka sangat ganbatte kudasai dalam studi, pekerjaan dan tertib hidup.

Sababat pendidik, saat usia dini, kegiatan seperti undokai sangat recomended bagi sistem tumbuh-kembang otak, mental dan fisik anak. Pelajaran moralnya, perkaya aktivitas fisik dan emosi anak kita, siswa kita.

* (Observasi di musim gugur, Tsukuba, Jepang. September-Oktober 2016)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*