Orientalisme dan Eurontalisme

Rubrik Opini Oleh

Oleh Adri Febrianto
(Dosen Antropologi Universitas Negeri Padang/Mahasiswa S3 FISIP UI)

Prof. Syed Farid Alatas membawakan materi kuliah umum mengenai Ibnu Khaldun di Auditorium Ilmu Komunikasi Fisip UI, pada 24 Februari 2017 yang secara khusus membahas tentang orientalisme dan eurontalisme.

Pemikiran eurontalisme dan orientalisme lama menyatakan bahwa barat adalah maju dan kemajuan, sedangkan timur adalah keterbelakangan atau kemunduran. Pemikiran orientalisme dan eurotalisme baru merujuk pada penepian gagasan dari timur. Konsekuensinya kemudian: Indonesia hanya dianggap sebagai sumber fakta, bukan sebagai sumber teori.

Ada 2 jenis orientalisme baru yang menepikan konsep di luar barat: (1) Menepikan/mengabaikan konsep, (2) Pemutarbalikkan kenyataan/realitas sosial yang puncaknya pada kesalahfahaman konsep.

Contohnya, kata beliau adalah agama. Agama adalah ajaran yg diturunkan dari generasi ke generasi. Tidak sama dengan religion atau keyakinan yg dalam arti religion dalam bhs Inggris.

Contoh kedua adalah migration. Dalam bahasa Indonesia/Melayu ada konsep merantau dan hijjrah. Sering dianggap merantau atau hijrah sebagai terjemahan migration, padahal bukan. Merantau pindah ke daerah dalam konteks budaya yang sama. Hijrah berarti bahwa pindah ke daerah dgn kebudayaan yg berbeda.

Kita sebagai ilmuwan tidak menepikan tradisi barat tetapi juga harus mempertimbangkan tradisi lain. Ibnu Khaldun sebagai contoh, menjadi inspirasi bagi Machiavelli, yang pertama mempersoalkan orientalisme, jauh sebelum Edward Said dan Yoserizal di Filipina. Yoserizal mengkritik ilmu Eropa/kolonial dan mencoba pentingnya pendekatan baru yang membahas indolen philipino.

Heriot Martino yang sezaman dengan Auguste Comte, menulis banyak tentang masyarakat, melakukan fieldwork, membahas masalah gender, masyarakat dan pembangunan India, akan tetapi lebih dikenal sebagai penerjemah karya Auguste Comte (ke bahasa Inggris) daripada sebagai peneliti.

Menurut Prof. Syed Farid Alatas, menulis buku teori sosial seharusnya dimulai dengan Ibnu Khaldun, Yoserizal, Martino, dan seterusnya. Ada banyak calon tradisi di luar barat. Untuk membalas orientalisme/eurontalisme, paparnya, pemikiran barat harus digabungkan dengan pemikiran kita, dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan India. ***

AGUPENA.OR.ID merupakan website resmi Agupena yang diluncurkan pada 10 Oktober 2016. Kehadiran website ini diharapkan bisa menjadi pendukung program Agupena di seluruh wilayah tanah air. Website dikelola oleh Sawali Tuhusetya (Bidang Pengembangan Profesi Agupena).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*