Representasi Perempuan dalam “Om Telat Om”

Rubrik Opini Oleh

Oleh: Dini Safitri
(Dosen D-III Hubungan Masyarakat UNJ, Agupena DKI)

Fenomena om telolet om menjadi kisah viral yang menutup tahun 2016. Namun tulisan ini, tidak untuk membahas fenomena tersebut. Tulisan ini khusus untuk mengangkat gambar viral lain yang ikut mendompleng popularitas gambar viral om telolet om, yaitu gambar viral “Om Telat Om”.

Gambar viral “Om Telat Om”, ikut menjadi viral karena ada kemiripan tulisan dengan om telolet om. Namun, dalam pengertiannya, tentu makna yang terkandung dalam gambar viral “Om Telat Om” sangat berbeda jauh dari om telolet om. Makna gambar viral “Om Telat Om”, disebarkan tanpa memikirkan makna konotatif yang tersirat di dalam gambar tersebut. Terlebih lagi apabila kita mengetik kata kunci di mesin pencari maka akan terhubung ke situs yang diblokir oleh internet positif. Hal tersebut karena situs tersebut memuat gambar yang masuk dalam kategori pornografi.

Ada dua gambar viral yang penulis dapatkan di media sosial dengan teks “Om Telat Om”. Gambar pertama, gambar seorang perempuan sedang duduk, menunduk dan menutup mukanya. Gambar kedua, gambar perempuan hamil. Kedua gambar sama-sama memuat gambar perempuan sebagai objek. Bila kita ingin menganalisa dengan semiotika akan didapatkan berbagai macam makna yang bisa merepresentasikan makna gambar viral “Om Telat Om”.

Ada beberapa tokoh terkenal yang mencetuskan teori semiotika. Salah satunya yang terkenal adalah Roland Barthes dengan lima kode. Menurut Barthes terdapat lima kode yang dapat dibaca dalam sebuah gambar. Yang pertama adalah kode hermeneutik, yaitu kode mengenai teka-teki. Tokoh yang muncul dalam gambar “Om Telat Om”, memang tidak diketahui identitasnya. Namun, dalam kode tersebut juga berisi harapan untuk mendapatkan “kebenaran” bagi pernyataan yang muncul dalam teks. Kedua, kode semik yang berisikan makna konotatif. Bagian ini adalah bagian yang banyak di eksplorasi oleh audiens. Ketiga adalah kode simbolik, dimana audiens dapat membaca aspek pengkodean fiksi yang paling khas bersifat struktural. Keempat, kode proaretik, berisi logika tindakan yang menjadi perlengkapan utama teks yang naratif. Dan Kode gnomik atau kode kultural, yang memuat suatu badan pengetahuan tertentu. Kode ini merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan kondifikasi oleh budaya.

Merujuk pada lima kode Barthes tersebut, makna konotatif yang terdapat dalam kode semik, menarik untuk dibahas lebih lanjut dalam pemikiran kritis. Gambar viral “Om Telat Om” merupakan representasi perempuan yang telat datang ‘bulan’, bukan sekadar gambar untuk disebarkan dengan maksud guyon. Terlebih lagi, bila gambar tersebut dimaknai dengan kode kultural. Pada gambar viral pertama, di mana tokoh perempuan dalam gambar tersebut menutup muka, dimaknai penulis sebagai tanda malu, kecewa, dan menyesal. Lebih lanjut lagi, gambar tesebut memperlihatkan akibat dari perbuatan sebelumnya, yaitu perbuatan yang ia sesali. Dan tulisan “Om Telat Om”, menegaskan bahwa perbuatan tersebut tidak ia lakukan sendiri. Kata om, merujuk kepada sosok lain yang tidak terdapat pada gambar. Namun kita dapat memaknai kata om merujuk kepada pria. Kemudian kita pun dapat memaknai, bahwa perempuan itu telah hamil. Hal tersebut dipertegas oleh gambar viral kedua, yang memuat gambar perempuan hamil. Gambar tersebut mempertegas kata ‘telat’ merujuk pada kata hamil.

Perempuan dan kehamilan semesti menjadi hal yang mengembirakan, namun bila kita merujuk pada gambar satu, maka makna perempuan dan kehamilan dimaknai dengan situasi yang berbeda. Situasi di sini adalah situasi yang menyebabkan kehamilan. Seorang perempuan yang hamil tanpa suami, bukan menjadi kabar yang gembira, namun sebaliknya. Terlebih lagi bila kita maknai dengan kode kultural yang di kondifikasi oleh budaya Indonesia. Perempuan yang hamil tanpa suami, apalagi hamil di luar nikah akan menjadi aib dalam keluarga dan masyarakat. Perempuan tersebut akan menerima sanksi sosial, adat dan agama. Di antara ketiga sanksi tersebut, maka sanksi sosial yang akan sangat berat ia rasakan pada awal-awal kejadian dan akan selalu melekat pada nama diri dan keluarganya, yaitu cap sebagai perempuan yang hamil di luar nikah. Selain itu, bukan hanya perempuan tersebut yang akan diberi sanksi sosial, namun anak yang akan dilahirkan juga akan di beri cap sebagai anak haram. Sedangkan secara adat dan agama ia pun juga akan menerima hukuman menurut cara adat dan agama yang ia anut. Tentunya segala sanksi tersebut bertujuan baik, agar perempuan-perempuan lain tidak ada yang mengikuti perilaku tersebut.

Namun tulisan ini tidak untuk mengkritisi berbagai sanksi di atas, yang ingin penulis kritisi adalah representasi perempuan sebagai objek penderita. Mengapa gambar viral “Om Telat Om” hanya memuat gambar perempuan? Hal tersebut ada hubungannya dengan kode proaretik, dimana dalam realitanya perempuan yang hamil di luar nikah, lebih banyak menerima sanksi sosial. Sederet pertanyaan kemudian muncul, diantaranya mengapa ia mau melakukan perbuatan tersebut?

Mengapa ia tidak berhati-hati? Apakah dia tidak bisa berpikir jernih untuk bisa menolak? Pertanyaan-pertanyaan itu diarahkan ke perempuan sebagai alih-alih untuk menyalahkan. Pasalnya bila ia sudah hamil dan belum menikah, maka masyarakat akan tahu dan akan memberikan cap negatif. Sementara ‘Om’ yang seharusnya ikut bertanggung jawab, bisa dengan lebih bebas untuk tidak menanggung aib.

Selain itu, hal tersebut juga dapat diartikan sebagai kode simbolik, yang menjadikan perempuan sebagai objek eksploitasi dalam sebuah guyonan. Walaupun gambar tersebut, berkisah mengenai perempuan hamil di luar nikah, namun justru memberikan referensi yang meneguhkan posisi perempuan sebagai objek yang menarik untuk dikomodifikasi.

Lalu bagaimana seharusnya perempuan menyikapi hal tersebut? Menurut penulis, bukan hanya perempuan yang harus bersikap. Semua insan, baik laki-laki dan perempuan harus sama-sama bersikap. Kasus angka perempuan hamil di luar nikah di Indonesia sudah dalam taraf yang memprihatinkan. Walaupun telah banyak sanksi yang diberikan dan diterima, namun tidak dapat membendung terjadinya perbuatan tersebut. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan makna dalam mindset remaja antara pergaulan yang dijalani dengan resiko yang harus ditanggung. Paham hedonisme yang dianut mayoritas remaja milenial masa kini, belum dapat menjangkau logika risiko yang harus dijalani bila mereka terpaksa hamil di luar nikah. Selain itu dukungan keluarga untuk dapat menutupi perbuatan tersebut menjadi tameng. Solusi yang umumnya dilakukan adalah menikahkan.

Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menutupi malu bersama. Untuk perempuan yang berada dalam taraf usia yang sudah cukup umur menikah, maka solusi tersebut dapat menjadi solusi. Namun lain cerita, bila hal tersebut, terjadi pada perempuan di bawah umur.

Kebetulan belum lama ini, penulis sempat menghadiri FGD mengenai perempuan dan anak yang hamil di luar nikah. Para peserta FGD terdiri dari tokoh masyakat lintas agama dan berposisi sebagai orangtua, sepakat untuk pentingnya menanamkan pendidikan agama dan karakter sejak pendidikan anak usia dini. Nilai agama dan karakter tersebut diharapkan dapat terinternalisasi kepada remaja dan menjadi pondasi utama dalam pergaulan sehari-hari. Selain itu, dalam kesempatan tersebut, penulis juga menambahkan bahwa awal pemantik terjadinya kasus perempuan hamil di luar nikah adalah kurang pedulinya orangtua, pendidik dan masyarakat dalam mengawasi pergaulan anak remaja. Untuk itu diperlukan pengawasan dan kepedulian semua pihak khususnya ditujukan untuk para ayah, ibu, dan guru, dalam mengawasi pergaulan remaja. Karena banyak kasus terjadi, pada awalnya karena orangtua mengizinkan anaknya berpacaran dan berpikir bahwa taraf pacaran anaknya dalam hal yang wajar. Namun setelah semuanya terjadi, akhirnya semuanya menjadi pihak yang seharusnya disalahkan, bukan hanya si anak, terlebih lagi hanya perempuan yang hamil di luar nikah.

Dialog juga seharusnya dibangun oleh semua pihak. Ayah, ibu, anak, dan guru seharusnya dapat berkolaborasi untuk memberikan masukan dan saran yang dapat membentuk karakter anak sebagai pemimpin masa depan dengan akhlaqul karimah. Ayah, Ibu dan Guru tidak seharusnya menjadi pihak yang malah mengekang karakter anak. Terlebih lagi untuk anak perempuan, agar lebih diberikan ruang untuk menyampaikan kebebasan berpendapat dan mengekpresikan keinginan dan cita-citanya. Masa depan yang gemilang juga hak perempuan. Tidak ada yang bisa membatasi seseorang, kecuali keinginannya. Bukan pula seseorang harus menyerah hanya karena alasan gender. ***

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*