KOMUNITAS ORANG MUDA FLOTIM KUNJUNGI OBYEK WISATA

Rubrik Kegiatan Oleh

(Di Kecamatan Tanjung Bunga)
Oleh Maksimus Masan Kian (Warga Flores Timur)

Komunitas Kretif Orang Muda Flores Timur (Flotim) diantaranya Larantuka Photography (Larpha) Wadah Insan Muda Lewotana (Waimatan) dan Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Flotim Waimatan Sabtu, (11/3/17) mengunjungi obyek – obyek wisata di Kecamatan Tanjung Bunga. Kunjungan pertama di lokasi Kampung Adat/ Kampung Lama Keka Desa Waibao Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores timur. Menjangkau Kampung Adat Keka, ditempuh jarak sejauh 53 Km dari Kota Larantuka.

Hadir di Lokasi Kampung Adat Keka di antaranya, Tokoh Adat Suku Koten, Frans Koten, Matias Raja Koten, dan Siprianus Sogan Koten, Anggota Larpha Rafiz Balawelin, Alamsya, Rossi, Patricius Lamatokan, Ketua Waimatan Iwan Puken, Ketua Agupena Flotim Maksimus Masan Kian bersama anggota, Amber Kabelen, Jemmy Paun, Willem Kopong. Sedikitnya 12 warga Keka juga turut hadir. Di lokasi Kampung Adat Keka, Frans Koten menuturkan, tempat tinggal mereka saat ini di Riangpuho sebenarnya bukan kampung asli. “Kampung Adat kami sesungguhnya ada di sini. Karena di sinilah rumah adat kami dibangun.Tempat ini tidak banyak yang tahu. Kami berpindah ke Riangpuho sekitar tahun 1980,  memenuhi program pemerintah untuk tinggal di pemukiman baru Riangpuho. Segala urusan adat dan penguburan orang mati kami lakukan di tempat ini. Kami tidak akan melupakan tempat ini, walau tempat tinggal kami jauh,”tutur Matias. Jarak pemukiman dengan Kampung Adat Keka kurang lebih 7Km. Di lokasi ini, terdapat satu Rumah Adat utama milik Suku Koten dan dua rumah lain milik Suku Kelen dan Brinu. Ada harapan Tokoh Adat Koten, kepada pemerintah untuk memperhatikan jalan menuju ke Kampung Adat mereka, karena jalan saat ini, jalannya masih setapak.

Usai berbincang dengan Tokoh Adat dan memantau lokasi, Komunitas Larpha, Waimatan dan Agupena Flotim melakukan pemotretan rumah adat, peninggalan sejarah berupa gong dan gendang, juga model sepasang warga Keka, Imaculata Paun dan Feri Koten dengan balutan Pakian Adat Keka Desa Waibao Kecamatan Tanjung Bunga Flotim. Pemotretan mengambil lokasi di Kampung Adat dengan latar Rumah Adat Suku Koten (Rumah Adat Utama) dan Rumah Adat Suku Kelen dan Brinu.

Dari Kampung Keka, rombongan bergeser ke Danau Waibelen atau dikenal dengan Danau Asmara, melakukan pemotretan di atas ketigian kurang lebih 20 meter. Saat ini, di sisi timur Danau Asmara atau persisnya di samping kiri jalan utama menuju Riangkeroko Desa Nusa Nipa, atas inisiasi Jemmy Paun (Guru SMPN Satu Atap Riangpuho) bersama warga Keka membangun keda’h (sebuah tangga dari bambu) disadar pada Pohon asam (setinggi kurang lebih 20 meter) dengan anak tangga kisaran 16 anak tangga. Di bagian atas dibangun wogah (semacam bale – bale)  ukuran 1 * 2 meter yang digunakan sebagai tempat untuk foto – foto,   foto selfie dan melihat secara utuh keindahan Danau Waibelen. Sejak dibangun, tempat ini mulai ramai dikunjungi. Matias Raja Koten penjaga tempat ini mengatakan belum ada tarif yang mereka pungut dari wisatawan yang datang dan menggunakan tempat ini untuk melihat keindahan Danau Waibelen. “Untuk menggunakan jasa tempat ini, belum ada tarif yang dipungut. Warga bisa bebas menggunakan untuk melihat keindahan Danau Waibelen sambil foto,’kata Matias. Di sekitar tempat ini, nampak beberapa mama – mama tua dari Riangpuho menjajakan jagung bakar, jagung rebus, dan bahan makanan lainnya.

Agupena Flotim bersinergi bersama Komunitas Larantuka Photography (Larpha) dan Wadah insan Muda Lewotana (Waimatan)

Tak puas pada dua titik obyek wisata ini, rombongan Anak Muda Flotim lintas Komunitas ini, bergeser ke Pantai Nipa tepatnya  di Desa Nusa Nipa memandang langsung dan  menghantar Sunset ke Peraduannya, hingga pukul 18.00 Wita.

Iwan Puken, Maksi Masan Kian, dan Rafiz Balaweling mengatakan, semangat untuk terus berdiskusi dan melakukan aski – asksi kecil di Kabupaten Flores Timur secara tidak langsung membantu pemrintah Flotim. “ Aksi kunjungan ke obyek – obyek wisata dan melakukan pemotretan, jika dilihat sepintas mungkin sekedar sebagai informasi dan publikasi namun secara tidak langsung itu sudah membantu pemerintah dalam menggagas program pembangunan di daerah. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari Literasi Informasi di Kabupaten Flores Timur. Kelak anak – anak Flotim kita arahkan untuk mencintai Adat Budaya Lamaholot dengan menulis dan bercerita tentang kerarifan lokal daerah kita, ‘kata Iwan, Maksi dan Rafiz.***

Keterangan Foto:

1. Agupena Flotim bersinergi bersama Komunitas Larantuka Photography (Larpha) dan Wadah insan Muda lewotana (Waimatan)

2. Pemandangan Danau Waibelen, di Riangpuho Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur, di atas ketingian 20 meter

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*