NEUROSAINS DI SEKOLAH JEPANG (2)

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Alamsyah Said
(Penulis Buku 95 Strategi Mengajar Multiple Intelligence, Wakil Ketua AGUPENA Jakarta)

Sahabat pendidik, saya ingin berbagi kebaikan tentang serba-serbi pembelajaran di sekolah Jepang, khususnya usia dini. Pada tulisan pertama berjudul Neurosains di Sekolah Jepang (1), saya menceritakan mengenai  undokai yang dipraktekkan sebagai program penguatan fisik dan mental student di Jepang. Tulisan kedua ini, dengan judul yang sama, saya lebih spesifik menceritakan mengenai pelajaran dan metode guru mengajar khususnya pada jenjang usia dini, sebagaimana hasil observasi saya beberapa waktu lalu.

Proses pendidikan TK di Jepang berbeda 360 derajat dengan TK di Indonesia tercinta. Itu faktanya. Sekolah TK di Jepang tidak ada proses pembelajaran (Sekali lagi TIDAK ada proses pembelajaran), yang ada adalah proses pendidikan. Ups… apakah berbeda pembelajaran  dengan pendidikan?  Yap… ada perbedaan filosofis pada makna keduanya. Namun, saya tidak akan membahas perbedaan itu disini. (Semoga pada kesempatan lain akan  kita diskusikan bersama).

TK di Jepang tidak melaksanakan proses belajar mengajar sebagaimana proses belajar mengajar di TK-TK nya Ibu Pertiwi. Namun lebih berperan sebagai Lembaga Pengembangan dan Pelatihan Kebiasaan Sehari-hari. Sehingga sangat wajar dan masuk akal jika masyarakat Jepang sudah terbiasa antri, berperilaku taat aturan, taat buang sampah pada tempatnya, disiplin atas waktu, mandiri dan semangat belajar, serta pantang menyerah. Karena sejak usia dini mereka sudah dibiasakan dalam proses pendidikan.

Pada bincang-bincang saya dengan anak-anak Ibu Pertiwi yang bersekolah di TK kota Tsukuba, Jepang, mereka banyak melakukan aktivitas diluar ruangan kelas (outdoor activity) dibanding aktivitas dalam kelas (indoor activity). Kegiatan-kegiatan bersifat kinestetik memiliki porsi yang diutamakan dan saya tak mendengar dan melihat mereka duduk manis dikursi mengerjakan instruksi latihan menulis, membaca dan berhitung. Seringkala anak-anak TK pulang membawa oleh-oleh berupa karya yang dibuat disekolah. Produk berupa robot-robot atau apa saja dari kardus bekas menjadi aktivitas kinestetik yang sangat tinggi tingkat kreativitasnya. Mereka sering diminta mengekplorasi suatu karya yang akan dibuat dari bahan bekas. Suasana aktivitas disekolah seringkali diiringi musik, tentu musik dalam bahasa Jepang.

Hasil bincang-bincang dan diskusi saya dengan pelajar-pelajar Indonesia yang anaknya bersekolah di TK Jepang, mereka mendapati hal yang berbeda, berupa kemampuan imajinasi dan kreativitas anak yang terkadang bagi orangtuanya tidak disangka. Sebagai contoh: Faiz usia TK (anak mahasiswa S3 di Jepang)– memiliki karya-karya berupa robot-robotan, mobil-mobilan dan rumah-rumahan kreatif dari bahan kardus bekas yang mana orangtuanya sampai tidak menyangka dengan kemampuan kreatif anaknya.

Penguatan edukasi diwilayah kreatif-imajinasi pada usia dini sangat disarankan dan sangat dianjurkan serta amat sangat wajib, karena pada tahapan usia tersebut sistem limbik dan sistem limbik-dalam sudah menunjukkan kematangan (Amen, 2000 & Simpson, 2012). Didalam sistem limbik terdapat hipokampus dan amigdala yang masing-masing memediasi proses penyimpanan memori hasil proses pendidikan.

Dalam perspektif neurosains pendidikan, aktivitas belajar siswa usia TK sangat dominan kinestetik dan visual ini merujuk pada bagian serebellum otak anak lebih awal matang ketimbang bagian prefrontal cortex  yang mengatur kemampuan berpikir logis analisis.

Pada usia kanak-kanak PFC belum menunjukkan kematangan. Inilah alasan ilmiah, mengapa Calistung sangat tidak disarankan di sekoah TK Jepang.

Bagian serebellum yang mengatur gerakan, keseimbangan dan kordinasi lebih siap menerima instruksi pembelajaran. Pembelajaran yang diperkaya dengan aktivitas kinestetik-psikomotorik serta visual spasial dan musik lebih sesuai dengan teori neurosains pendidikan. Ini karena pabrik penghasil “gerakan” seperti motor korteks dan ganglia basal lebih dulu mekar dibanding area neokorteka yang mengatur logika berpikir tinggi.

Strategi mengajar guru sangat memaksimalkan fungsi motorik siswa-siswa. Dalam aktivitas itu, sebenarnya mereka berhitung. Namun pendekatan yang digunakan berbasis neurosains, yaitu mengaktifkan kerja motor korteks, ganglia basal serta serta otak reptil siswa. Dengan sentuhan kasih sayang, peran otak reptil perlahan berkurang. Ini artinya, anak didik merespon kegiatan pendidikan dengan “welcoming” yang pada tahap lanjutannya membentuk sinaps-sinaps kepandaian dijalur motrik dan amigdala serta hipokampus.

Sementara, penguatan kebiasaan disekolah, anak-anak dilatih dan dikondisikan pada kebiasaan-kebiasaan positif yang sesuai tatakrama budaya. Pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan dengan teknik simulasi yang dimonitoring selama proses pendidikan berlangsung. Pendidikan karakter dipraktekkan melalui strategi simulasi, seperti antri, buang sampah sesuai jenis sampah pada tempatnya dan kemandirian.

Kegiatan simulasi dijadikan sebagai  sarana latihan, dan hasil latihan simulasi kebiasaan-kebiasaan baik dimonitoring setiap hari, setiap pekan, setiap bulan, setiap semester dan setiap tahun. Mekanisme monitoring karakter dijalankan dan dibiasakan sampai menjadi tahap habit.

Alasan ilmiah, mengapa pendidkan karakter di TK Jepang menekankan simulasi yang dimonitoring secara kotat dan terus menerus, karena acuan ilmiah teori Albert Bandura. Sensei di negeri matahari terbit sangat meyakini bahwa butuh waktu minimal 3 bulan untuk menjadikan kebiasaan menjadi habit. Jika anda sudah terbiasa sholat subuh berjamaah dimesjid mendadak anda sholat sendiri dikamar, maka anda akan merasakan satu ketidaknyamanan, atau ketika anda terbiasa datang tepat waktu, dan seketika anda datang terlambat, maka anda merasa ada yang aneh dalam pribadi anda. Hal yang demikian adalah terjadi setelah 3 bulan terus menerus tanpa putus kita membiasakannya.

Berikut hasil observasi yang dapat saya tuliskan, diantaranya:

  1. Proses pembelajaran usia TK sangat power full dengan aktivitas kinestetik yang mampu menstimulasi perkembangan psikomotorik kasar dan halus siswa
  2. Aktivitas pembelajaran sangat memaksimalkan potensi visual, sehingga tidak heran potongan huruf dan angka sangat jelas dan besar. Termasuk ketika sensei memainkan abacus. Abacus memiliki biji-biji yang besar, hingga nampak jelas dilihat siswa
  3. Aktivitas mengajar sensei sarat penggunaan media dan alat bantu pembelajaran. Semua media dan alat bantu pengajaran nampak sudah tersedia rapi, dan praktis
  4. Nampak setiap sensei memiliki kemampuan manajemen handling siswa. Ini sangat terlihat, ketika siswa-siswa usia day care mengalami “chaos personality”. Mereka nampak sangat sigap dan disiplin menghandhle dan hebatnya tak berapa lama, siswa day care sudah kembali enjoy
  5. Yang sering dikatakan sensei pada siswa-siswanya adalah “ayo semangat” alias ganbare. Ini menegaskan agar siswa selalu semangat dan bekerja keras.
  6. Pembelajaran berbasis projek sangat dianjurkan dan wajib dilaksanakan. Sehingga pada saat libur musim panas, siswa mendapatkan tugas projek yang digarap bersama orangtua.
  7. Pembelajaran berorientasi produk-produk kreatif sangat dianjurkan, bahkan dijadikan projek pada pelajaran sains, sosial dan seni. Sehingga tak heran, kreativitas anak-anak usia TK sangat jago membuat “sesuatu” dari kardus bekas susu, kertas dan lain-lain.
  8. Di Jepang tidak ada sekolah favorit, semua sekolah favorit.
  9. Pendaftaran siswa baru dilakukan di City Hall, semacam kantor Wali Kota. Dimana anak kita sekolah ditentukan oleh City Hall dengan mempertimbangkan kedekatan jarak rumah dengan sekolah, sehingga tak ada istilah macet dan terlambat datang sekolah.
  10. Dikarenakan jarak rumah dengan sekolah yang dekat maka siswa sangat dianjurkan berjalan kaki tanpa harus diantar pakai mobil.

Dalam perspektif neurosains pendidikan, aktivitas belajar siswa usia TK sangat dominan kinestetik, ini merujuk pada bagian serebellum otak anak lebih awal matang ketimbang bagian prefrontal cortex  yang mengatur kemampuan berpikir logis analisis.

Pesan penting dari tulisan ini adalah: Stop mengajar anak usia TK tanpa melibatkan neurosains pendidikan. Dan kabar baiknya adalah, jika anda mendidik anak dengan memahami cara kerja otak, sangat mungkin anak anda menjadi hebat.

(Winter, Tsukuba, Jepang. Desember 2016 – Januari 2017)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top