Guru Harus Memiliki Kesadaran Membaca dan Menulis

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Hamli Syaifullah

Dosen Manajemen Perbankan Syariah, Fakultas Agama Islam-Universitas Muhammadiyah Jakarta/FAI-UMJ, dan Wakil Sekretaris Agupena DKI Jakarta, Serta Blogger di Strategikeuangan.com

Menjadi seorang guru, adalah pilihan hidup. Karena menjadi guru adalah pilihan hidup, maka akan timbul beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang guru, salah satunya ialah melakukan kegiatan membaca dan menulis secara rutin.

Maksud dari rutin ialah, seorang guru harus memiliki budaya membaca dan menulis dalam kehidupan sehari-hari. Karena membaca dan menulis, dua hal kegiatan yang tak dapat dipisah-pisahkan dengan profesi guru.

Yang menjadi pertanyaan mendasar ialah, apakah guru-guru yang ada di Indonesia memiliki budaya membaca yang baik. Tentu, jika tidak memiliki budaya membaca yang baik, akan berdampak pada buruknya kegiatan menulis.

Dalam artian, jika seorang guru tidak memiliki budaya membaca yang baik, sudah bisa dipastikan dirinya tidak akan bisa menulis. Karena, seorang guru yang bisa menulis dengan baik dan benar, disebabkan memiliki budaya baca yang cukup baik.

Maka dari itu, harus ada langkah konkret yang dilakukan, untuk membangun kesadaran membaca dan menulis di kalangan guru. Harapannya, dengan timbulnya kesadaran membaca dan menulis, akan mampu tingkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Namun, sebelum meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia secara menyeluruh, ada baiknya guru-lah yang harus dikedepankan dalam hal peningkatan kualitas dan kapabelitas terlebih dahulu. Khususnya, peningkatan kualitas dan kapabelitas dalam hal membaca.

Dengan meningkatkan kemampuan membaca di kalangan guru, harapannya akan terbangun budaya menulis secara perlahan-lahan. Tentu, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, untuk membudayakan menulis di kalangan guru. Pastinya, dibutuhkan usaha keras dan kerja ekstra oleh guru itu sendiri.

Namun, semuanya akan kembali pada diri guru itu sendiri. Jika memang memiliki keinginan mengubah, menambah, dan meningkatkan kualitas dan kapabelitas yang dimiliki. Pastinya, seorang guru akan coba untuk membudayakan baca. Kemudian, perlahan-lahan coba menulis. Walaupun harus bercucuran keringat dan air mata, di awal-awal berlatih membaca dan menulis.

Guru, Mengapa Harus Rajin Baca dan Bisa Menulis?
Ketika kita menyuruh seorang guru untuk meningkatkan kemampuan membaca, jarang komentar yang terlontar dari seorang guru. Karena, membaca bisa dilakukan kapanpun dan di manapun oleh guru. Entah kala berada di rumah, ataupun ketika berada di sekolah.

Hanya saja, ketika kita menyuruh seorang guru untuk menulis, maka akan terlontar berbagai macam komentar. Mulai dari, “Jangan membebani guru dengan tugas tambahan untuk menulis”, “Jangan menambah beban guru dengan menyuruh untuk menulis, karena tugas guru sudah banyak dan tak mungkin ada waktu untuk menulis”, “Dengan menyuruh menulis bagi guru, seolah menghina guru-guru yang tidak menulis, padahal dirinya telah mengajar dengan penuh ketekunan dan dedikasi yang cukup tinggi.”

Dan mungkin, masih banyak alasan-alasan lain yang dilontarkan untuk membenarkan, bahwa seorang guru harusnya tidak usah menulis. Karena, selain tugas mengajar (di sekolah atau perguruan tinggi) sudah full, juga honor guru (baca: guru honorer) cukup kecil. Sehingga, tak wajarlah jika memaksakan seorang guru untuk menulis.

Jika kita pikir dengan kepala dingin, sebenarya menyuruh guru menulis, tak lain kepentingannya akan kembali pada diri guru itu sendiri. Karena yang akan merasakan manfaat dari kegiatan menulis, ialah guru itu sendiri. Mulai dari manfaat berupa finansial ataupun non-finansial.

Manfaat finansial, seorang guru yang mau belajar  menulis, akan mendapatkn tambahan pendapatan (passive income). Jika tulisan yang dibuat berupa opini yang dikirimkan ke media massa (cetak ataupun online), akan mendapatkan honor dari media yang memuat tulisan kita. Dan jika tulisan kita berupa buku, maka kita akan mendapatkan royalti dari setiap buku yang terserap oleh pasar (laku).

Sedangkan manfaat non-finansial bagi seorang guru yang menulis, cukuplah banyak. Mulai dari ketenaran karena banyak dikenal orang dari karya-karyanya, undangan jadi pemateri kepenulisan, hingga penyebaran ilmu pengetahuan yang ujungnya  akan menjadi amal yang tak putus-putus hingga hari kiamat.

Maka dari itu, bagi kita yang berprofesi sebagai guru, mulai dari guru ngaji, guru sekolah (KB hingga SMA), guru di perguruan tinggi (dosen), guru les, dan lain sebagainya, jangan ragu lagi untuk mulai belajar menulis. Karena, dengan kita menjadi guru yang penulis, manfaatnya akan kita rasakan sendiri di kemudian hari.

Tentu, bagi yang ingin belajar menulis, harus dimulai dengan rajin membaca. Mulai dari membaca buku, baca berita di media massa, baca jurnal, baca koran/majalah, dan lain sebagainya. Karena membaca, merupakan amunisi utama bagi seseorang yang akan terjun di dunia kepenulisan. Tanpa membaca, jangan harap kita bisa menjadi seorang guru yang penulis.

Cara Menumbuhkan Kesadaran
Sebenarnya, banyak cara untuk menumbuhkan kesadaran dalam diri kita masing-masing, agar mau membaca dan menulis. Salah satu cara menumbuhkan kesadaran dalam diri kita ialah, dengan cara mempertebal keyakinan, bahwa kita bisa membaca dan menulis dengan penuh disiplin.

Dalam artian, jika ada seorang guru yang menjalankan profesinya sembari menekuni dunia kepenulisan. Dan mereka bisa menjalankan tanpa mengganggu aktivitas mengajar dan aktivitas lainnya, mengapa diri kita jadi seorang pengecut dengan mengatakan bahwa diri kita tak bisa menulis dan tak bisa membagi waktu untuk menulis.

Jika ada guru yang bertanya, apakah banyak guru-guru yang menjalankan profesi guru sembari menulis?

Jawabannya, sangat banyak. Salah satu contoh, guru-guru yang menjalankan profesi guru dan kemudian menjalankan aktivitas menulis ialah guru-guru yang tergabung di Agupena (Asosiasi Guru  Penulis Indonesia). Bahkan, ada beberapa yang tergabung di Agupena, bukan saja menjadi guru, akan tetapi ada yang sekaligus menjabat sebagai direktur sekolah. Namun, mereka masih enjoy lakukan aktivitas menulis.

Jika demikian, yang menjadi masalah krusial ialah, bukan kepada bakat untuk menulis. Karena, menulis itu sendiri bukanlah bakat bawaan. Akan tetapi, menulis adalah bakat yang diasah dengan banyak berlatih setiap hari. Dengan demikian, berarti tinggal ditanyakan kembali kepada masing-masing guru. Mau atau tidak belajar menulis.

Bila jawabannya mau, berarti guru yang awalnya tidak bisa menulis, lambat laun akan bisa menulis. Seiring banyaknya latihan menulis dan belajar ilmu kepenulisan pada orang-orang yang terlebih dahulu terjun di dunia kepenulisan.

Pun begitu juga sebaliknya, jika jawabannya ialah, mereka tak mau menulis dengan mengetengahkan berbagai macam alasan. Maka, dapat disimpulkan mereka memang tak ada keinginan menjadi penulis. Bagi guru yang tak memiliki keinginan, sekuat apapun motivasi yang diberikan, tentu tak akan berdampak signifikan untuk menciptakan guru yang penulis.

Maka dari itu, dapatlah disimpulkan bahwa salah satu cara menumbuhkan kesadaran menulis di kalangan guru ialah, dengan menanyakan terlebih dahulu, apakah “MAU’ atau “TIDAK MAU” untuk belajar menulis.

Hancurkan Mental Block
Nah, bagi kita yang sudah memutuskan untuk “MAU” membiasakan membaca dan belajar menulis, maka itu adalah langkah yang cukup tepat. Karena dengan adanya kemauan untuk membaca dan menulis, berarti kita telah menghancurkan Mental Block yang ada pada diri kita masing-masing.

Mental Block merupakan sebuah sikap mental yang dapat menghalangi seseorang untuk mencapai cita-cita dan impian hidup. Terhalang, bisa karena memiliki masa lalu yang kurang menyenangkan, pendidikan dan pengajaran yang salah, hingga segala sesuatu yang sifatnya negatif.

Hal negatif tersebut, hingga membentuk memori bawah sadar dirinya. Yang kemudian tertanam hal-hal negatif dalam dirinya. Yang pada akhirnya, akan menghilangkan segala hal positif, yang harusnya mampu hantarkan seseorang menuju pintu kesuksesan.

Dalam artian, ketika diri kita sebagai seorang guru, bahwa kita mau membiasakan membaca, namun tidak mau menulis. Karena menulis itu sulit, maka hal tersebut akan membentuk memori bawah sadar kita. Sehingga, membuat diri kita terseok dan masuk ke dalam jurang ketidaktahuan menulis.

Mental Block dalam hal menulis cukup penting untuk dihancurkan dalam diri kita masing-masing. Tujuannya ialah, agar kita memiliki semangat dan daya juang yang tinggi untuk belajar dan berlatih menulis. Sehingga, kita bisa hasilkan tulisan yang berkualitas, mencerahkan, dan memberikan manfaat besar pada diri pembaca.

Jika dalam proses belajar menulis, sering timbul pertanyaan dalam diri kita, umpamanya: “Kira-kira, saya bisa gak ya jadi penulis?”, “Sepertinya, menulis itu pekerjaan yang sulit….!”,”Rasa-rasanya, saya tak punya bakat menulis”, dan hal lain yang sifatnya negatif. Maka cepat-cepatlah hancurkan pertanyaan tersebut dengan menimbulkan kata pada diri kita sendiri: “Saya pasti bisa jadi seorang guru yang penulis….!”.

Nah, itu merupakan salah satu cara yang dinamakan dengan menghancurkan Mental Block dalam hal belajar menulis. Saya berkeyakinan, jika kita yang saat ini menjalani profesi guru, dan baru belajar menulis.  Paling tidak kesulitan akan datang tiga bulan pertama.

Setelah tiga bulan pertama terlampaui, maka tulisan yang kita hasilkan akan mengalir. Dan lambat laun pun seiring lamanya waktu berlatih menulis, akan semakin baik kualitas tulisan yang kita hasilkan. Karena, kesulitan di awal dalam hal memulai belajar menulis, marupakan hal alamiah yang terjadi untuk semua bidang pekerjaan.

Banyak Berlatih
Setelah kita berhasil hancurkan Mental Block yang ada dalam diri kita, dan kemudian dimunculkan perasaan optimisme bahwa diri kita bisa melakukan aktivitas membaca dan menulis, maka langkah selanjutnya ialah banyak-banyak berlatih.

Latihan membaca, bisa dimulai dengan membaca apa saja yang kita sukai dan senangi. Kemudian, jadikan kegiatan membaca sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian, setelah kita banyak membaca berbagai macam bahan bacaan, langkah selanjutnya ialah belajar dan berlatih menulis. Tulisalah apa saja yang kita rasakan, kita lihat, kita peroleh dari hasil bacaan.

Lakukan sesering mungkin kegiatan membaca dan latihahan menulis, InsyaAllah cita-cita untuk jadi guru yang penulis, lambat laun akan tercapai. Seiring, banyaknya latihan yang kita jalani setiap harinya.

Penutup
Masihkan kita ragu tuk jagi guru yang penulis? Padahal guru yang penulis manfaatnya akan kembali pada diri kita masing-masing. Dan diri kita-lah yang kelak akan menikmati manfaat tersebut.

Jika memang masih ragu tuk jadi guru yang penulis, jangan sekali-kali coba atau sekadar iseng memulai kegiatan membaca dan menulis. Karena, hanya akan buang-buang waktu kita yang berharga. Namun, jika keinginan kita sudah kuat untuk jadi seoran guru yang penulis, maka gantungkanlah setinggi mungkin keinginan tersebut. Sehingga lambat laun akan lahirkan daya juang yang kuat dalam hal belajar dan berlatih.

Selamat mempraktikkan, dan selamat menjadi guru yang penulis…! **

Hamli Syaifullah, lahir di Sumenep-Madura, Jawa Timur. Senang menulis sejak Nyantri di Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. Kemudian bergabung dengan Agupena DKI Jakarta, demi menjaga semangat untuk menulis. Pendidikan S-1 diselesaikan di UMJ tahun 2013 dan S-2 di STIE AD Jakarta, tahun 2016. Aktivitas saat ini sebagai dosen Manajemen Perbankan Syariah di UMJ. Tulisannya telah menyebar di beberapa koran lokal dan nasional. Juga aktif menulis buku populer dan Buku Biografi. Dan saat ini, aktif Nge-Blog di Strategikeuangan.com

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*