Home » Cerpen » Sastra » NASIB BAJU BARU » 220 views

NASIB BAJU BARU

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Cerpen Cut Januarita

Bu Nani gelisah sebab para ibu di sekitar rumahnya pada beli baju baru. Stelan trendy- lah. Suami  mereka mampu memberi karena berpenghasilan lebih.

“Sabar istriku. Makan sehari-hari sudah lebih dari cukup.”

Jawaban yang menyebalkan. Tidak ada salahkan istri minta uang beli baju sama suami?

“Úsaha dong, Pak! Bapakkan laki-laki, punya pikiran dan tenaga lebih untuk mendapatkan penghasilan lain.”

“Makanya jangan kredit sana-sini. Setelah pinjaman selesai, baru kita pikirkan baju barumu,”.

Menurut Bu Nani, kalimat Pak Toib itu tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Bu Nani mulai memelas, Pilu hatinya ingin baju lebih. Ia tidak ingin anaknya bernasib sama seperti dirinya. Baju lebaran untuk merekapun masing-masing bisa terancam hanya satu.

Kredit barang bagi Bu Nani jadi kewajiban. Harap bayar tunai, tidaklah mudah. Itu ibarat harga mati. Mengadaikan gaji suami, berarti mengorbankan gaji penuh. Harga mati itu tidak mungkin mematikan asap dapur.”

“ Makanya Bu Nani jualan kue.”

“Makanya Bu Nani kalau tidak kerja kantoran, bikin usaha  kreatif.”

Sindiran pedas, gosip tetangga, ada benarnya juga. Harusnya ia mandiri sejak kuliah.

Sebelum Bu Nani nikah, ia dan suaminaya telah saling berjanji. Suami bekerja di luar, istri tetap di rumah saja. Awalnya mungkin mudah. Seiring bertambahnya anak dan usia pernikahan, semakin banyak yang harus dipikirkan.

Karier suaminya golongan IIa tidak naik-naik. Itulah resiko menjadi orang terlalu jujur. Peluang sogok-menyogok di instansi perkantoran, terbuka lebar. Suaminya sedikitpun tidak tergoda. Kelakuannya persis seperti Ustaz.

“Rasul tidak mengajarkan umatnya kredit baju baru. Asal bersih tanpa harus baru, itu sudah cukup.Terpenting, hati bersih!”

Khotbah suami layak petir disiang bolong. Linangan air mata Bu Nani mulai membanjiri pipi. Pak Toib mengetahui gelagat pilu itu. Ia pura-pura tidak tahu dan berlalu begitu saja. Hatinya teriris melihat istri tercinta hatinya hancur berkeping-keping.

Di keheningan selesai sahur pertama…

“Bu.., kepingin baju baru ya…?”

Suara yang memecah kehampaan kaku jelang pagi itu terasa indah. Bu Nani seakan tidak menyangka Pak Toib akhirnya luluh.

“Kebetulan ada pekerjaan tambahan. Teman Bapak ada yang sedang sakit. Bapak berinisiatif mengantikan pekerjannya.”

“Terus Pak…,?” tanya Bu Nani bersemangat.

“Selesai pulang kantor, Bapak lanjut tugas lain. Seminggu ini buka puasa dan tarawih di luar. Tugasmu jaga rumah dan anak-anak. Bapak akan bawa pulang rezeki lebih.”

Mulai hari ini selesai tarawih pertama dan seterusnya, Bu Nani menunggu suami pulang di depan pintu. Hmm..pukul 23.00 Pak Toib baru pulang. Wajah lelah. Keringat sebesar jagung meleleh di pelipisnya. Ia tersenyum dan menyerahkan 2 lembar seratus ribu.

Bu Nani girang. Dan itu berlanjut sampai hari keempat. Uang terkumpul cukup untuk membeli baju. Rezeki itu tidak lari kemana. Tetapi ada satu yang dirahasiakan. Pekerjaan apa yang dikerjakan Pak Toib masih tanda tanya buat Bu Nani.

“Pokoknya halal, yang penting kamu bahagia, jawab Pak Toib jika ditanya.

Hari ini malam ketujuh. Bu Nani menunggu pemberian dari suaminya. Tetapi, selesai tarawih, Pak Toib belum menampakan batang hidungnya. Katanya hari ini ia pulang lebih awal. Bu Nani  gelisah, tidak seperti biasanya.

Dari kejauhan tampak para tetangga memboyong seseorang berpenampilan lusuh dan kotor. Sebuah becakpun di dorong beramai-ramai. Bu Nani mulai histeris..

Rupanya Pak Toib dan becaknya jatuh terperosok ke dalam parit saat ia hendak pulang ke rumah. Untung rombongan tetangga datang menolong sepulang shalat tarawih. Tangan dan kaki Pak Toib penuh luka. Becaknya pun rusak dan butuh perbaikan.

“Sejak kapan Pak Toib bawa becak, Bu?”

Pertanyaan tetangga mengagetkan Bu Nani. Apakah seminggu ini Pak Toib mengayuh becak cari penghasilan tambahan? Terus, becak siapa yang dikendarainya?

Bu Nani semakin bersalah. Akibat permintaaanya yang mengebu-gebu, hasilnya lebih buruk dari hidup normal selama ini.

Uang yang selama ini diberi Pak Toib, habis dipakai untuk biaya obat dan perbaikan becak yang dipinjam. Bu Nani tidak memikirkan lagi baju lebaran. Ia meminta maaf kepada suami atas ketidaksyukurannya mendapatkan nafkah selama ini. **

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*