Home » Cerpen » Sastra » UNTAIAN PILU » 261 views

UNTAIAN PILU

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Cerpen Cut Januarita

Memasuki masa semester genap, Bu Risna bingung. Pasalnya, ada satu siswi kelas 2IPA6 ini mulai turun prestasi akademiknya. Ia pintar tapi kini sering melamun saat guru menerangkan pelajaran. Tatapannya kosong memandang guru yang mengajar. Entah apa yang terpikirkan di kepalanya. Pelajarankah, atau pacaran? Maklum masa remaja, ada saja yang terlintas dan melayang-layang di pikiran.

Gadis putih yang baru menginjak masa remaja itu, tinggi semampai. Keadaan fisiknya, mengingatkan akan keadaan sahabat lama. Ia agak mirip dengan Ozie, teman sekampusnya. Cuma banyak juga bedanya. Gadis itu pendiam, sederhana dan sopan santun. Kalau Ozie suka cari perhatian dan agak matrek.

Penasarannya itu membawa Bu Risna rajin bertanya dengan teman seprofesinya. Guru-guru yang mengasuh mata pelajaran di kelas itu jadi tempat wawancara. Jawabannya hampir sama seperti dirinya. Bingung, jelas bingung!!!

Cuma ada satu guru yang kebetulan membidangi bagian OSIS yang menambah referensi jawaban Bu Risna. Dina nama siswi itu sering dihinggapi penyakit lalai. Kalau dikasih amanah A, esoknya yang dikerjakan lain. Dan Dina dengan mudah berkata…” Lupa Bu, banyak pekerjaaan yang harus dikerjakan di rumah.”

Kali ini seperti biasa, Bu Risna mau memberikan ulangan sehabis selesai satu bab pelajaran. Bu Risna memberi ujian untuk menguji kemampuan para siswa. Sudah hampir jam 8 pagi, batang hidung Dina belum tampak di dalam kelas. Sedangkan jadwal jam ulangan yang disepakati sudah sampai titik final. Duh siswiku, ke manakah dirimu? Siswa lainnya sepertinya tahu kegelisahan seorang guru yang menunggu siswinya yang telat datang.

“Bu, kita mulai aja terus ujiannya. Jika Dina tidak datang, kasih aja ujian susulan Bu,” kata teman sebangku Dina sambil menutup buku pelajaran yang telah dibacanya tadi.

“Oke jika begitu…Silahkan kalian menutup semua buku, masukkan dalam tas. Jangan lupa tulis Bismillah, nama dan kelas kalian di kertas kosong, “ kata Bu Risna dengan wibawanya.

“Assalamualaikum, Bu.” Suara indah tiba-tiba telah muncul dekat pintu.

Dina menunduk disela daun pintu. Harapannya satu, Bu Risna berbaik hati mempersilahkan ia masuk.

“Waalaikumsalam Dina, silahkan duduk.” Hamparan telapak tangan kanan Bu Risna mempersilahkan Dina masuk.

“Maafkan saya, Bu. Tadi saya telat bangun pagi. Saya lagi kurang sehat.”

“Untung piket berbaik hati menyuruh kamu masuk.” Perkataan Bu risna mampu melebarkan senyuman Dina yang berwajah pucat.

Kelihatan Dina bergegas mengambil kertas dan pulpen. Bersama teman-temannya yang lain, mereka mulai mencatat 5 soal biologi, mata pelajaran asuhan Bu Risna.

Setengah jam sudah ujian berlangsung dengan aman. Bu Risna tidak bosan-bosannya mondar-mandir memperhatikan siswa jangan sampai ada yang menyontek.

Dan Dina kelihatan menangis. Olala apa yang sedang terjadi??? Tangisan kecilnya mulai terdengar di ruang kelas memecah konsentrasi ujian.

“ Bu, saya sudah siap. Ada beberapa buah yang tidak sanggup lagi saya kerjakan. Saya lupa Bu.” Mata Dina memelas ketika tahu Bu Risna tiba-tiba sudah berada di sampingnya.

Bu Risna memperhatikan lembaran kerja Dina. Hanya 2 soal yang berhasil di jawab dalam waktu setengah jam. Selebihnya nihil. Padahal 3 soal yang diberikan, semuanya sudah diajarkan. Ya kemungkinan kesibukannya di Osis sangatlah menyita waktu. Manajemen waktunya berantakan, tidak mampu membagi waktu antara luar dalam.

Bu Risna mengelus kepala Dina. Katanya dengan suara datar.

“Ya sudahlah…Ibu tahu hatimu sedang dilanda kesedihan. Kita bicara di teras kelas sebentar yuk. “

Dina mengangguk. Ia segera keluar kelas. Bu Dina memberi kode kepada siswa agar tidak ribut.

“Sekarang di teras hanya ada kita berdua. Ibu mau tahu apa yang selama ini menimpa dirimu dan keluarga? Percayalah kepada ibu bahwa tidak akan menceritakan kepada siapapun jua.”

“Ibu saya di rumah sudah keterlaluan. Tadi malam saya dan adik dikejar ibu sambil bawa perang. Untung Ayah datang melerai.” Tangisan Dina mulai keras memecah.

Bu Risna terperanjat. Tapi ia sigap memberi kode agar Dina menghentikan tangisannya. Siswa kelas lain yang kebetulan lalu lalang di dekat mereka, keheranan. Bu Risna memberi aba-aba agar mereka tidak menoleh lagi. Untunglah kelas mereka berada di lantai atas, jadi agak lebih sunyi.

Bu Risna sempat mengeleng-gelengkan kepala. Di jaman sekarang ini, cerita Dina mirip sinetron Indonesia. Pasalnya, Dina dan adik ditugaskan jaga warung. Saat itu rezeki lumayanlah masuk. Hasil penjualan voucer HP juga banyak. Dina terpaksa mengambil uang 50 ribu untuk membayar uang kas kelas yang banyak tertunda. Sisanya untuk membayar uang LKS.  Saat ia memegang uang, ibunya yang kebetulan pulang shouping menangkap basah perbuatan Dina. Adik yang berusaha membela kakak, dianggap kong kalikong berniat mencuri juga. Dengan situasi yang memanas itu, ibunya sempat pergi ke dapur mengambil parang. Rupanya bukan hanya sekali ibunya kalap memegang benda tajam jika marah. Untunglah Ayah yang kebetulan berada di rumah segera melerai.

Tanpa disadari kini mata Bu Risna memerah. Sedih bercampur marah dihati. Kok masih ada di jaman sekarang ibu kandung melakukan perbuatan biadab. Atau mungkin  ia hanya untuk menakut-nakuti saja buah hatinya agar tidak pernah berbuat salah?

“Apakah salah jika saya mengambil hak saya? Kalau diminta langsung, ibu pasti tidak kasih. Sedangkan ibu sering mengunakan uang pemberian ayah untuk membeli keperluan penampilannya. Baju, jilbab, sudah banyak mubazir di rumah.

“Ibu Risna lebih baik dari ibu saya.” Dina menatap gurunya penuh arti.

“ Tidak Nak. Ibumu lebih baik dari semua ibu yang ada di dunia ini. Percayalah, apa yang telah diperbuatnya selama ini, itu hanyalah kekurangan ibumu memahami hakikat Islam. Hak-hak anak dan orang tua yang tidak diketahui, inilah penyebabnya.  Bu Risna yang bijaksana mulai memberi nasehat. Dina mengangguk-angguk. Sepertinya hatinya tersirami dengan sinaran rohani dari seorang pendidik yang tidak pernah ia dapatkan dari ibu kandungnya sendiri.

“Insya Allah dalam minggu ini ibu akan silahturahmi ke rumahmu.”

Kalimat terakhir dari wali kelasnya itu, mampu  menyela air mata yang telah banyak tertumpahkan.

Keesokan paginya, teman sebangku Dina tergopoh-gopoh mencari Bu Risna di ruang dewan guru.  Katanya, Dina tadi menelponnya. Dina tidak bisa pergi ke sekolah karena harus menjaga ibunya yang sakit parah. Dan ia berharap Bu Risna hari ini ke rumahnya.

Setelah meminta ijin sama piket, tanpa ayal Bu Risna segera menancap sepeda motornya. Alamat rumah Dina  begitu mudah dicari. Sepertinya ia pernah menginjakkan kaki di rumah itu.

Ada sebagian tetangga mengurumi rumah sederhana. Ada sesuatu yang terjadi. Ketika tahu guru Dina yang datang, mereka segera menuntun Bu Risna masuk ke bilik kamar. Dari gosip tetangga yang beredar, tadi malam baru terjadi KDRT. Rupanya permasalahan Dina yang mengambil uang di warung, belum habis imbasnya hari itu juga. Suami yang memberi nasehat untuk istri, dianggap suami membela anak. Pisau dapur ditangan istripun mulai mengayun. Suami menangkis dengan tangan kanan sekuat tenaga. Darah mulai bercucuran membasahi baju. Ya ayah Dina terluka. Lebih hebatnya lagi  ayunan pisau kecil itu membal dari tangan istri dan malah mengenai kepalanya sendiri.

“Bu Risna…Uugh…Uugh…,” pelukan itu sangat keras menghantam tubuhnya. Tangisan berat Dina pecah.  Ibu dan ayah Dina terluka…”

Bu Risna memperhatikan sosok tubuh terbaring lunglai. Ia sangatlah terkejut. Kepalanya dibaluti dengan sebagian kain putih. Bekas darah masih menempel di perban itu.

“Apakah kamu Ozie sahabatku dulu?” Suara terbata-bata itu terdengar jelas.

“Ris…na…Benarkah kamu Risna gurunya Dina?”

Anggukan itu makin menguatkan. Bu Risna segera merangkul tubuh yang terbaring itu. Isakan tangis perjumpaan begitu menyayat hati.”

“Maafkan aku, tidak dapat jadi ibu yang baik.”

“Tidak sobatku, masih ada waktu untuk memperbaiki keadaan ini semua.” Bu Risna menghela nafas. Air ludahnya tertekan ditenggorokan.

Sayup-sayup hempasan angin telah membawa dua hati kembali bersatu. Tangisan itu berubah tawa. Di sisi mereka, Dina makin heran dan tak mengerti. Ia berharap perjumpaan ini membuka cikal bakal kehidupan keluarganya yang lebih harmonis. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*