Al-Idrisi dan Bola dunia

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Cerpen Ariza Fahlaivi
(Jurnalis Website Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta)

Ariza Fahlaivi

“Selamat pagi, anak-anak!” ucap Pak Eza mengawali kelas pagi itu.

“Pagi, Pak!” jawab para murid serempak.

“Apa yang pertama terlintas di benak kalian ketika melihat bola dunia ini?” lanjut Pak Eza sembari memutar globe yang ia bawa.

“Bumi itu bulat, Pak!” jawab salah seorang murid perempuan.

“Bumi itu indah, Pak!” sahut lainnya.

“Bumi itu luas, Pak!” balas lainnya.

Layaknya kelas pada umumnya, terdapat dua buah photo Presiden RI yang tertempel di dinding tepat di atas papan tulis berwarna putih. Di depan papan tulis tersebut terdapat sebuah meja dan kursi guru. Sebuah lemari kecil yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan inventaris kelas seperti alat-alat kebersihan terletak di samping meja guru. Hiasan-hiasan berupa gambar tokoh-tokoh perjuangan revolusi, ayat kursi, kaligrafi tentang derajat orang berilmu, tertata rapi mendampingi struktur kelas juga jadwal piket harian.

“Jawaban kalian seperti anak kelas enam SD. Semua pun tahu bahwa bumi itu bulat, indah, luas, dan lain sebagainya. Seharusnya jawaban kalian lebih ilmiah sedikit. Jangan pernah lupa bahwa jurusan kalian adalah sejarah!”

Senyap.

“Itulah akibatnya kalau kalian tidur terus. Otak kosong tak ada isinya,”

“Ah, bapak ini!” ujar sang ketua kelas terkekeh diikuti gelak tawa yang lainnya.

“Baiklah, hari ini kita akan mempelajari bagaimana bola dunia ini terbentuk,”

Keadaan menjadi sunyi. Ruangan yang beberapa saat lalu seramai pasar kini senyap layaknya kuburan. Setiap mata tertuju hanya kepada seseorang yang kini berdiri di hadapan mereka. Lelaki yang sudah menjadiguru selama enam tahun tersebut tampak bersemangat. Atmosfer seperti inilah yang selalu menjaga dirinya untuk tetap mengendarai sepedanya ke sekolah setiap harinya.

“Globe pertama kali dibuat di Sicilia, Italia. Sicilia merupakan sebuah kerajaan yang terletak di tengah-tengah laut mediterania, yang mana, di sebelah timur, selatan, dan baratnya, merupakan Negara Muslim. Letak geografis yang demikian membuat Raja Sicilian pada masa itu yakni Raja Roger II, bertemu dengan banyak orang dari berbagai suku lalu mengumpulkan data dari mereka untuk kepentingan politiknya,”

“Setelah mengumpulkan cukup data dari berbagai sumber, Raja Roger II kemudian memanggil salah seorang geographer muslim yang sangat terkenal pada masa itu yakni Al-Sharif Al-Idrisi. Siapakah Beliau?” tanya Pak Eza sambil menulis nama yang terakhir kali disebutnya di papan tulis.

Sunyi.

“Al-Idrisi adalah seseorang yang membuat bola dunia yang ada di hadapan kita saat ini,” kata Beliau sambil memutar globe di hadapannya. “Beliau lahir dengan nama Abu Abdallah Mubammad ibn Mubammad ibn Abdallah ibn Idris, aI-Sharif al-Idrisi, atau yang lebih dikenal sebagai Al-Idrisi. Beliau lahir di Ceuta, Maroko, pada tahun 493 H/ 1100 M. Beliau termasuk keluarga ‘Alawi Idrisids yang memerintah wilayah di sekitar Ceuta mulai dari tahun 789 M hingga tahun 895 M. Itulah mengapa Beliau di juluki Al-Sharif. Leluhur beliau adalah seorang bangsawan Malaga tetapi tidak bisa mempertahankan wilayah kekuasaan mereka sehingga membuat mereka bermigrasi ke Ceuta pada abad ke-11,”Pak Eza menghentikan kata-katanya sejenak lalu menggambar sebuah diagram tentang leluhur Al-Idrisi di atas papan tulis.

“Pada masa itu, ilmu geografi sudah berkembang. Perkembangan ilmu geografi bermula ketika buku-buku Yunani Kuno diterjemahkan ke dalam Bahasa arab di era khalifah Harun Al-Rasyid dan Al-Makmun pada masa keemasan Daulah Abbasiyah. Sepeninggal khalifah Harun Al-Rasyid yakni ketika Al-Makmun memimpin Daulah Abbasiyah, ia memerintahkan Musa Al-Khawarizmi beserta para ilmuwan muslim lainnya untuk membuat peta bumi dan mereka pun menyelesaikannya pada tahun 830 M. Setelah menyelesaikan peta tersebut, Musa Al-Khawarizmi membuat sebuah buku berjudul Surah Al-Ard/ilmu tentang Geomorfologi. Pada abad yang sama, Al-Kindi juga membuat sebuah buku berjudul keterangan tentang bumi yang berpenghuni.” Guru berambut ikal dan berkacamata tersebut kembali menggambar sebuah diagram tentang apa yang baru saja diceritakannya di samping diagram yang pertama.

“Masih semangat?”

“Masih, Pak!”

“Beberapa abad setelahnya, pada awal abad ke-10 M, berdirilah sebuah akademi survei dan pemetaan di Baghdad yang didirikan oleh Abu Zayd Al-Balkhi,” Pak Eza meletakkan kembali boardmarker ke atas meja. “Pada masa kecil Al-Idrisi, terdapat dua sekolah perpetaan yang sangat terkenal yakni The Ptolemaic dan The Balkhi. Yang pertama merupakan sekolah tertua karena didirikan pada masa khalifah Al-Makmun pada abad ke-8 M sedangkan yang kedua didirikan dua abad setelahnya. Al-Idrisi menimba ilmu di The Ptolemaic School demi belajar ilmu geografi,” sang guru kembali menggambar sebuah diagram di atas whiteboard yang kini mulai terpenuhi dengan cerita Beliau.

“Pada usia enam belas tahun, Al-Idrisi memulai perjalanan pertamanya dengan mengunjungi Asia Minor. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya mengitari pesisir pantai selatan Prancis. Dari Prancis beliau kemudian mengunjungi Inggris lalu mengarungi luasnya Spanyol dan juga Maroko,” Pak Eza menuliskan wilayah-wilayah yang dikunjungi oleh Al-Idrisi pada masa-masa awal perjalanan Beliau. “Deskripsi Beliau tentang Eropa bagian barat sangat hidup dan secara keseluruhan sangat akurat. Sama seperti laporan Beliau tentang Balkan, sebagian Eropa, dan juga sebagian besar dunia Islam. Kumpulan catatan kejadian tersebut didasarkan atas catatan-catatan dari para geographer sebelum Beliau,”

Bayu-seorang murid pendiam di kelas tersebut mengangkat tangannya, lalu bertanya, “Apa yang dimaksud dengan Balkan, Pak?”

“Pertanyaan yang saya tunggu-tunggu,” ucap sang guru. “Balkan adalah nama historis dan geografis yang digunakan untuk menggambarkan Eropa bagian tenggara. Negara yang termasuk daerah ini seperti Bosnia dan Herzegovina, Bulgaria, dan Yunani,” Pak Eza memperhatikan anak-anak didiknya dari tempatnya berdiri di samping papan tulis. “Apa yang bisa kalian pahami hingga saat ini?”

“Saya mulai memahami mengapa Al-Idrisi menarik minat Raja Roger II,” ujar Anja.

“Apa itu?” sahut Pak Eza.

“Pemaparan Al-Idrisi tentang tempat-tempat yang pernah beliau kunjungi begitu akurat,” balas Anja.

“Mari kita bertepuk tangan untuk bidadari kita,” ucap sang guru yang disambut dengan tepukan tangan juga tawa dari seisi ruangan.

“Saya belum bisa menemukan motif politik dari pemanggilan al-Idrisi oleh Raja Cicilia tersebut,” ucap Hakim ketika riuh tak lagi terdengar.

“Sabar, Kim! Saya akan menjelaskan point tersebut setelah ini,” Pak Eza menatap murid cerdas yang selalu bermasalah dengan disiplin tersebut dengan seuntai senyum di wajahnya.

Hakim hanya membalas tatapan Beliau dengan anggukan.

“Raja Roger II mengundang Al-Idrisi untuk mengunjungi istananya pada tahun 1138 Masehi. Sesampainya di Sisilia, Beliau disambut oleh Raja Roger II. Sang Raja begitu takjub dengan hasil kerja Beliau yang mendeskripsikan Afrika bagian utara dan Eropa bagian selatan. Setelah menyanjung Beliau, Sang Raja meminta kepada Al-Idrisi untuk membuat sebuah peta dunia lengkap dengan penjelasan tentang peta tersebut,” kata Pak Eza. “Raja Roger II meminta Al-Idrisi untuk menuliskan luas dan keadaan suatu negara, iklimnya, laut yang melindunginya, daerah terusan, juga sungai-sungainya. Sang Raja ingin mengetahui dengan pasti statistik seluruh pulau-pulau dan bagaimana wewenang para penulis sebelumnya yang menentukan bahwasannya dunia mempunyai tujuh iklim dan juga tentang ilmu geografi serta bagian dari tanah jajahan dari masing-masing iklim,”

“Raja Roger memerintahkan al-Idrisi untuk menggambarkan peta tersebut di atas sebuah bola besar yang terbuat dari perak murni tanpa logam campuran dan mempunyai berat 400 ons. Bahan yang telah tersedia tersebut kemudian diukir oleh para ahli untuk menggambarkan tujuh iklim termasuk wilayahnya, Negara, kejauhan laut, teluk, sungai-sungai yang menunjukkan pulau padang pasir, negeri yang terpelihara beserta jalan yang biasa mereka lewati, dalam mil ataupun jarak yang sudah mereka tetapkan, serta ciri khas dari suatu pelabuhan,” kata Pak Eza. “Beliau melengkapi peta dunia berbentuk bola di hadapan kita ini dengan sebuah ringkasan geografis yang menjelaskan secara detail mengenai gambaran bumi ini,”

“Sebuah mahakarya di hadapan kita ini selesai dibuat pada bulan syawal tahun 548 Hijriah yang bertepatan dengan bulan Januari tahun 1154 Masehi. Pembuatan bola dunia ini selesai dalam kurun waktu lima belas tahun…”

“Maaf, Pak, sebenarnya apa tujuan politik Raja Roger membuat bola dunia tersebut?” potong hakim-murid berkepala pelontos yang selalu duduk di bangku paling ujung sebelah kiri yangtak lagi bisa bersabar.

“Baiklah,” Pak Eza membenarkan kacamatanya sejenak. “Sang Raja sengaja mengundang seseorang yang sangat ahli dalam bidang geografi untuk membuat sebuah peta dunia supaya gambaran mengenai daerah-daerah di seluruh dunia tergambar secara akurat. Raja Roger ingin menyatukan seluruh muslim Spanyol dan untuk memapankan hegemoninya atas tanah Mediterania bagian barat. Ada pertanyaan lagi, Kim?”

Hakim menggeleng pelan.

“Setelah menyelesaikan bola dunia tersebut, apakah Beliau menetap di Sisilia atau berkelana kembali, Pak?” tanya Anggun-murid yang selalu mengucir rambutnya layaknya ekor kuda.

“Beliau menetap di Sisilia setelah pembuatan bola dunia ini bahkan sampai suksesor Raja Roger II yakni Raja William I hingga beberapa tahun lamanya. Namun di akhir hayatnya Beliau kembali ke kampung halamannya di Ceuta, Maroko. Al-Idrisi meninggal dunia pada tahun 560 Hijriah bertepatan dengan 1165 Masehi,” lugas Pak Eza sembari meletakkan spidol dan kacamata Beliau di atas meja.

Kelas riuh kembali. Setiap anak sibuk meregangkan otot-otot yang tegang setelah melipat tangan mereka di atas meja dengan punggung tegak menghadap papan tulis. Pak Eza tersenyum ketika mendapati wajah para anak didiknya begitu cerah. Setelah dimarahinya.

“Pertemuan selanjutnya kita akan mempelajari tentang teori yang mengatakan bahwa asal-usul manusia berasal dari monyet. Minggu depan akan lebih dahsyat lagi karena kalian akan menemukan fakta-fakta yang mencengangkan mengenai teori tersebut. Baiklah, sampai jumpa di kesempatan berikutnya,” Pak Eza memasukkan kacamatanya ke dalam saku kemeja putih yang beliau kenakan serta spidol non-permanent yang dibawanya ke dalam saku celana kain berwarna hitam.

Para murid memasukkan kembali buku sejarah ke dalam meja lalu berbincang-bincang tentang hal yang menarik minat mereka sembari menunggu kedatangan Ibu Aisyah-sang guru matematika. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*