KECEPATAN BELAJAR: PERSPEKTIF NEUROSAINS

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Alamsyah Said
(Penulis buku Revolusi Mengajar Berbasis Neurosains, Wakil Ketua AGUPENA DKI Jakarta)

Setiap anak memiliki kemampuan menyerap informasi pengetahuan yang berbeda. Jika kita perhatikan seksama, disekitar kita, dilingkungan sekolah, di kampus ada banyak anak yang merespon informasi dengan baik namun tidak sedikit anak dengan respon informasi pengetahuan biasa saja atau sedikit lambat dan bahkan agak lebih lambat. Mengapa kemampuan-kemampuan ini bisa berbeda satu sama lain?

Pada saat awal kelahiran, setiap anak terlahir dengan status yang sama, tak membawa apa-apa kecuali bawa badan dan seperangkat ekosistem hidup bernama otak. Produk bawaan ini bisa dilihat dari ketidakmampuan kolektif-universal berupa kebelum-mampuan berbicara. (Kecuali bayi Isa putra Maryam yang terlahir sebagai nabi).

Dengan titik start yang sama, dan pada proses kehidupan yang panjang, akhirnya diperolah kenyataan, bahwa setiap anak pada akhirnya terklasifikasi dengan kemampuan belajar yang berbeda-beda.

Pasca kelahiran, seorang anak dalam usia tumbuh-kembang mengalami proses belajar melalui interaksi lingkungan secara visual, auditori, dan motorik. Molekul proses hasil belajar tersimpan di wadah memori jangka pendek dan memori jangka panjang.

Apapun proses belajar yang terinteraksi secara langsung dan tidak langsung, secara faktual dan imajinatif, secara benar dan salah, positif emosional atau negatif emosional dan secara halus atau penuh kekerasan, semuanya akan tersimpan sebagai file-file memori pengetahuan. Poin inilah, kualitas pondasi mental anak terbentuk.

Secara alami otak selalu mencari makna dalam informasi yang diterimanya. Otak memproses lebih lanjut informasi yang bermakna dan mengabaikan informasi yang tidak bermakna. Pembelajaran yang sarat makna lebih mudah tersimpan di storage memori jangka panjang.

Kebermaknaan interaksi belajar di lingkungan kehidupan melibatkan anatomi sistem limbik. Formasi limbik diantaranya hippocampus mengonsolidasi material-material proses hasil belajar dalam storage memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang.

Dengan semakin bermakna proses belajar yang dialami siswa semakin mempercepat informasi pengetahuan tersimpan di storage memori jangka panjang, dan jika proses belajar sering diulang-ulang, akan semakin menguatkan jalinan sel saraf (sinaps) pengetahuan. Proses ini telah dimulai ketika usia anak masih berumur harian, dan akan terlihat hasilnya ketika usia anak memasuki tahap ketiga tumbuh-kembang, usia 15 – 21 tahun.

Akhirnya pada situasi di atas, sekolah menerima siswa dengan macam-macam jenis kecepatan belajar.

Kecepatan Belajar
Kecepatan belajar setiap siswa itu beragam. Saya mengklasifikasikan ke dalam 4 klasifikasi:
1. Pembelajar cepat (fast learner),
2. Pembelajar normal (normally learner),
3. Pembelajar lambat (slow learner),
4. Pembelajar sangat lambat (very slow learner).

Bagaimana keempat klasifikasi itu terbentuk dipengaruhi oleh kualitas mental anak. Kualitas mental berbandinglurus dengan kapasitas kognisi. Koneksi mental memori dengan area kognisi terhubung melalui fungsi irisan antara sistem limbik dengan neokorteks.

Dalam dunia sekolah, kemampuan menyerap informasi pengetahuan pada siswa disepakati sebagai area kognitif, yaitu suatu area yang berorientasi pada kemampuan intelektual dalam hal kemampuan berfikir, seperti mengingat, memecahkan masalah atau problem solving sampai pada kemampuan melakukan tindakan kreatif atau menghasilkan produk kreatif. Podo et al, mendeskripsikan kognitif sebagai kognisi yang didasarkan pada pengetahuan faktual yang empiris.

Pandangan mengenai kemampuan kogntif yang hanya didasarkan pada angka-angka adalah perspektif yang sempit. Aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir tingkat tinggi yang mencakup kemampuan intelektual dalam menemukan solusi setiap masalah.

Perspektif Neurosains
Dalam perspektif neurosains, belajar adalah mencipta dan memperkuat jalan dari impuls-impuls listrik menempuh sel-sel otak atau neuron-neuron. Pada ujung neuron terdapat neurotransmitter. Diantara tiap hubungan di otak ada sebuah celah yang disebut sinaps atau celah sinpas. (Celah ini jika diperbesar akan nampak seperti jurang).

Saat kita mempelajari hal baru, sinyal listrik itu harus melompati celah untuk melanjutkan perjalanannya. Proses lompatan sinyal listrik adalah proses pembentukan “jembatan-jembatan baru” antar sinaps. Ketika kita terus belajar dan belajar, maka sinyal terus menerus memperkuat jalinan sinpas. Pembentukan “jembatan baru” pengetahuan terindikasi dari kemampuan siswa menjawab soal.

Solusi Neurosains
Berapa lama lompatan sinyal membentuk jalinan baru ditentukan oleh kecepatan belajar. Semakin fast learner siswa semakin cepat ia membentuk “jembatan baru” sinaps dan semakin slow learner siswa maka semakin memerlukan waktu ia membangun “jembatan baru” sinaps.

Siswa pada kategori slow learner, masih sangat mungkin membentuk “jembatan baru” asalkan ada persyaratan berikut ini:
1. Rajin meripitasi kembali pelajaran sebelumnya melalui praktikal, sebab otak memproses informasi secara keseluruhan dan secara bagian per bagian dalam waktu bersamaan.
2. Belajar dengan kondisi emosi positif
3. Bermental sabar dalam proses belajar
4. Fungsikan semua modalitas inderawi saat belajar, karena otak memproses beberapa aktivitas secara bersamaan.
5. Gunakan intuisi dalam proses belajar
6. Minimalkan dosa, karena dosa menumpulkan modalitas dan intuisi
7. Berdo’a pada Sang Pemilik Ilmu Pengetahuan.

Saya percaya pada kekuatan-kekuatan internal, sebagaimana paparan Kazuo Murakami, yang menyebut ada Tuhan dalam gen yang membuatnya mampu mencapai hasil maksimal.

Keterlambatan pemahaman hanyalah masalah waktu yang diperlukan untuk meripitasi kembali pengetahuan. Seberapa sering ripitasi dan praktikal memberikan dampak pada kecepatan belajar. Wallahu’alam.

Karawang, 18 Maret 2017

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*