ME-RECHARGE SEMANGAT GURU HEBAT

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh Edi Sugianto
Guru SMA Muhammadiyah 11 Jakarta

Sabtu lalu (25/3/2017), guru-guru Muse (nama kece dari SMA Muhammadiyah 11 Jakarta), melakukan recharging bersama di Kampoeng Wisata Rumah Joglo, Bogor. Momen yang asyik, dan wow amazing!

Cuaca pagi itu cerah ceria, matahari enggan menyembunyikan senyumnya. Guru-guru Muse berangkat Pukul 07.00, dengan Bus yang keren. Perjalanan Rawamangun (Jakarta)- Joglo ditempuh kurang lebih dua jam. Alhamdulillah… akhirnya mereka menikmati alam Joglo nan asri.

Sebelum acara dibuka, untuk menghangatkan badan, guru-guru menikmat teh hangat, dan singkong rebus khas Bogor, mantap surantap! Lalu, acara dimulai dengan senam Pinguin, semua menjadi Pinguin lucu-menggemaskan. Acara dilanjutkan dengan pelbagai game yang luar biasa seru, dan edukatif.

Banyak permainan yang melatih kekompakan tim; langkah yang sama, dan komunikasi antar anggota menjadi kunci keberhasilan suatu tim. Ada tim yang berhasil dalam game, karena solid. Banyak juga tim yang kalah, karena anggotanya tidak kompak; satu sama lain saling menyalahkan. Itu awal kebangkrutan.

Selain me-recharge semangat, acara tersebut juga bermaksud me-refresh otak yang beku. Tentu, refreshing bukan untuk hura-hura, melainkan untuk memancing hormon endorphin, sehingga dengan itu, kebersamaan dan kekompakan mudah terjalin mesra di antara guru-guru. Saya yakin: “Kekompakan akan mengalahkan kesempurnaan!” “Kemesraan akan mengalahkan kecantikan”.

Pendidikan (sekolah) bukan sekadar bertujuan: untuk mencapai keberhasilan yang ber-sifat fisik saja, misalnya juara lomba sekian kali, murid-muridnya diterima di Universitas bonafit, dan lain sebagainya, namun lebih daripada itu menurut saya, sekolah hebat adalah sekolah yang mampu membuka seribu “pintu” kebahagian masa depan yang riil untuk semua anak bangsa. Semua itu berawal dari pemikiran yang progresif, dan sistem (kurikulum) sekolah yang tidak itu-itu saja.

Mengapa semangat guru-guru harus di-recharge? Semangat, sama seperti baterai hanphone, jika dayanya berkurang, maka harus segera di-charging. Ingat! Jangan tunggu low-battery, baru kemudian pimpinan sibuk cari charger, mental seperti itu sangat bahaya, bisa membunuh diri sendiri! Artinya, me-recharge semangat, jangan tunggu setahun, bahkan lima tahun. Recharging merupakan konsekuensi logis dari suatu pemakaian yang mutlak dibutuhkan siapa pun, kapan pun, dan dimana pun juga.

Pelajaran lain yang bisa diambil dari rangkaian kegiatan tersebut adalah, bahwa pendidikan butuh pendekatan yang proporsional; seimbang dan menyenangkan (joyful learning), karena itu proses pendidikan harus “lentur”. Transfer pengetahuan (pikir), spiritual (zikir), keterampilan (ukir), jangan sekali-kali “dibatasi” kelas/dinding sekolah yang cenderung beku, kaku, dan membosankan.
Dampaknya, adalah jika guru-guru (sekolah) mampu mencipta proses pendidikan yang menyenangkan, maka akan lahir anak-anak yang hebat, dan tidak kaku dalam menyongsong masa depan. Amin. Allahu a’alam bis shawab!

Saya tutup tulisan ini dengan dua sajak, khusus untuk sahabat (guru-guru) Muse yang gokil, dan murid-muridku yang unyu:

SECAWAN HARAPAN
Dari sudut kota, terekam kumandang cakrawala timur dan barat yang tak lagi simetris. Secawan harapan berenang di meja sekolah: entah kapan menetas lumba-lumba?

Udara pagi itu begitu buas. Ketenangan tak ditemukan di mana pun. Sakal biru berkecamuk di muka pintu, namun anak-anak merpati tetap bersitegap kukuh dengan waktu.

Senyum masa depan masih ada: lihat mereka terbang ke pagupon, menikmati tembang yang terkadang belum dimengerti.
Kelak
Mereka tahu!
“Bagaimana harapan merangkai kupu-kupu?”
(Jakarta, 6: 2: 2017)

PADA RINAI
pada rinai di pohon cemara
dekap daun demi daun
ukir tanya yang menyala
kilat senyum-senyum rimbun
pada rinai di gedung ramah
memupuk hijau kehidupan
menabung doa dan ibadah
genggam tawa masa depan
pada rinai yang menyapa
usik hati bermekaran
awan-awan tetap setia
sampai senja bertaburan
(Jakarta, 21: 2: 2017)
***

EDI SUGIANTO (Esug), lahir di Sumenep, 22 September 1989 (28 tahun), dari pasangan H. Abd Lathif dan HJ. Holifah. Lulus SD Gedugan I (1996-2001), MTs Al-Hasan Somber Giligenting (2002-2004). TMI Al-Amien Islamic Boarding School, Sumenep Madura (2005-2008), S1- Universitas Muhammadiyah Jakarta (2009-2013). Kegemaran menulis dimulai sejak nyantri di Pesantren Al-Amien. Saat ini tulisannya berupa esai, resensi, dan puisi telah dimuat di berbagai media (cetak, dan online) nasional, seperti koran Kompas, Republika, Koran Tempo, dll. Majalah, Tabloid, Jurnal Kampus, dan Agupena (online). Bukunya yang telah terbit, Menyalakan Api Pendidikan Karakter (2016). 99 Api Berlayar (2016). Tuhan dalam Rintik Hujan (2017). Cinta dalam Secangkir Kopi (2017). Di samping itu, ia juga berkiprah sebagai guru agama Islam di SMA Muhammadiyah 11, Rawamangun, Jakarta Timur, dan SMK Muhammadiyah 15, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sekretaris Majelis Pendidikan Kader, PCM Rawamangun (2015-2020). Di waktu luangnya, anggota AIS (Arsenal Indonesia Supporter) ini, punya hobi main futsal, Football PlayStation, seni vocal (nyanyi dan qiroah). Email: esug_L2s@yahoo.com. Facebook: Edi Sugianto Sug.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*