MENJADI GURU YANG DIRINDUKAN

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Alamsyah Said
(Wakil Ketua AGUPENA, DKI Jakarta)

Banyak jenis pekerjaan yang berhubungan dengan manusia, seperti perawat, dokter, psikolog-terapis, pelatih sepak bola (coach) dan lain-lain. Namun semua pekerjaan diatas, tidaklah serumit dan sekompleks pekerjaan guru. Pekerjaan guru sejatinya adalah mendidik bukan “mengajar”. Banyak guru yang salah kaprah mengenai pekerjaan guru yang sesungguhnya. Mereka hanya paham, bahwa tugas guru adalah mengajar. Pemahaman seperti inilah biang keladi guru tidak dirindukan siswa-siswanya.

Pekerjaan menjadi guru bagi setiap orang bukanlah impian dan hanya sekian persen saja yang memilih cita sejati menjadi guru. Saya yang kurang lebih 18 tahun menjadi guru menyadari dan meyakini bahwa dalam mendidik terkandung makna mengajar dan proses belajar.

Ada kemewahan dalam proses mendidik, setidaknya kita bersentuhan dengan fungsi psikologi, neurobiologi dan fungsi agama pada siswa yang kita didik. Kemewahan dalam proses mendidik menjadikan pekerjaan guru menjadi “rumit”, “kompleks” dan sarat makna moralitas. Adagium pendidikan yang disebut Vina Barr (ketika ia memeroleh pengahargaan sebagai guru teladan untuk wilayah Florida, Amerika tahun 2006), bahwa “Kami bukan hanya mengajar tapi kami melukis pikiran peserta didik”, kanvasnya adalah otak dan kuasnya adalah cinta. Ungkapan Barr adalah manifestasi dan representasi guru yang memiliki jiwa pendidik. Saya sangat percaya, jika jiwa mendidik adalah panggilan, maka kita pasti akan menerima cinta dan rindu dari anak didik kita.

Kemewahan berprofesi sebagai pendidik akan sangat mungkin diganjar Tuhan dengan surga. Ini bukan basa-basi kawan, bukan pula dongeng masuk surga hanya menjadi pendidik. Dengan mencari kebaikan disetiap menit mendidik, insya Allah jalan-jalan yang kita harapkan dari keberkahan hidup akan kita rasakan. Kemewahan lain yang kita dapati dalam proses mendidik adalah sentuhan fungsi psikologis dan neurobiologi siswa yang kita didik. Dengan kemewahan inilah pekerjaan mendidik lebih dari sekedar mengajar yang membuat tidak setiap orang mampu mendidik.

Menjalani profesi pendidik mampu membawa pelakunya ke surga, sepanjang buah dari pekerjaan mendidiknya menghasilkan amalan jariyah. Pekerjaan pendidik sangat filosofis dan kaya dengan filsafat kebaikan. Bagaimana tidak, guru yang dirindukan selalu didoakan yang baik-baik oleh siswa dan orangtua siswa yang didiknya. Bahkan lebih dari itu, ada tantangan kebikan dari pekerjaan guru yang sebenarnya, yaitu: “memanusiakan manusia yang belum menjadi manusia, agar menjadi manusia yang manusiawi”. Kawan… jujur saja, sunguh-sungguh ini sangat kompleks jika tidak dikatakan “rumit”.

Sebagai perbandingan saja, profesi perawat adalah merawat pasien sakit. Tentu, perawat memiliki kadar kesulitan terhadap pasien yang keras kepala ketika ngeyel dalam meminum obat untuk sembuh. Begitupun pekerjaan dokter yang mengumpulkan data riwayat sakit pasien, menganalisa rekam medis, premis-premis keluhan pasien disimpulkan menjadi rujukan pengobatan. Dan jika salah rujuk, perawat dan dokter akan mendapatkan hasil yang tidak diingjnkan sehingga terjadi mal-praktek yang berakibat kematian atau cacat.

Poin inilah yang membedakan pekerjaan menjadi guru dari pekerjaan yang lain. Bukan berarti pekerjaan lain itu tidak rumit, namun setiap pekerjaan memiliki kadar kerumitan dan masing-masing. Mal-prakteknya dokter dapat dilihat hasilnya seketika, namun jika mal-praktek pendidikan terjadi, hasilnya akan kita rasakan dimasa depan. Tentu saja, sebagai guru kita jangan sampai melakukan mal-praktek profesi pendidikan. Setidaknya, dengan menjadi guru yang baik dan benar alias profesional, kita sudah akan menjadi guru yang dirindukan oleh anak-anak didik kita.

Dirindukan dan merindukan adalah serupa dua kutub yang saling tarik-menarik yang keduanya bersinergi dalam areanya masing-masing. Ketika guru mencintai pekerjaannya, sangat mungkin anak didiknya memberikan sinergi yang positif. Setidaknya, anak didiknya berkata: “I love my teacher“.

Menurut penulis, ada enam poin yang jika dilakukan guru, siswa-siswanya akan merindukannya, di antaranya:

  1. Cintai pekerjaan dengan sebenar cinta. Passion diawali dari rasa suka dan rasa mencintai. Istilah Inggrisnya, I love my Job.
  2. Ceria saat di Sekolah dan di Kelas. Ceria sangat erat dengan emosi positif dan emosi negatif. Untuk meningkatkan kualitas ceria, saya menyarankan agar banyak silaturahmi.
  3. Sabar dalam mendidik. Semakin berkualitas nilai kesabaran dilihat dari seberapa kokoh pondasi kesabaran anda. Jika anda mempunyai siswa-siswa slow leaner, maka anda dituntut pada kondisi yang lebih besar untuk sabar dibanding saat anda memiliki siswa-siswa yang fast learner.
  4. Perkaya dan maksimalkan apersepsi saat mengajar. Ketika guru mampu membuat otak reptil siswa-siswanya tidak aktif dan bagian sistem limbik aktif. Maka, guru cenderung lebih dirindukan dan disukai siswa. Artinya, Anda harus menguasai teknik alfa zone, ice breaking dan fun story demi membuat siswa senang saat belajar. Jika ini berhasil anda lakukan, sangat mungkin Anda dirindukan siswa Anda.
  5. Kreatif saat mengajar. Mengajarlah dengan multi strategi agar siswa Anda mengalami kondisi active learning. Siswa yang aktif saat Anda mengajar lebih cenderung menunjukkan kesukaan pada gurunya.
  6. Teruslah belajar dan belajar. Dengan Anda terus belajar, Anda akan mampu memberikan informasi up date pada siswa Anda. Siswa sangat menyukai informasi up date.

Saya pribadi sangat yakin dan percaya, jika kita mencintai profesi dengan segala material pendukungnya, bukan mustahil, anda menjadi Guru yang Dirindukan. Wallahu’alam.

Tangerang, 26 Maret 2017

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*