Pendidikan Kita Hanya Mencetak “Anak Mami”?

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Sawali Tuhusetya
(Bidang Pengembangan Profesi Agupena)

Kita sungguh tak habis pikir menyaksikan berbagai adegan di atas panggung sosial-politik negeri ini. Kearifan, kedewasaan, dan kematangan berpikir tampaknya belum menyatu ke dalam gaya dan pola hidup para figur publik politik kita. “Dendam” pribadi sering dibawa-bawa ke dalam ranah politik publik. Sementara itu, di ranah yang lain, proses anomali sosial juga berlangsung di kalangan pelajar kita. Tawuran, seks bebas, narkoba, pesta “pil setan, dan perilaku selera rendah lainnya seolah-olah sudah menjadi pemandangan rutin sehari-hari. Yang lebih memilukan, banyak orang yang tega melakukan mutilasi, pembunuhan, atau praktik kekerasan terhadap sesamanya, tanpa merasa bersalah dan berdosa.

Kenapa wajah Indonesia yang sudah 72 tahun merdeka ini masih diwarnai berbagai noda dan citra buruk? Kenapa para politisi kita masih miskin kearifan dan kepekaan terhadap nasib rakyat, dan justru tenggelam dalam naluri purbanya; cakar-cakaran dan mau menang sendiri? Kenapa pejabat dan orang-orang kaya yang seharusnya peka terhadap jutaan saudaranya yang lain yang hidup dalam kemiskinan dan penderitaan masih suka menumpuk-numpuk harta dengan cara korupsi dan manipulasi? Kenapa konflik horisontal dan konflik antaretnis masih saja terjadi meski sudah diikat oleh Bhinneka Tunggal Eka? Kenapa masih ada juga organisasi yang mengatasnamakan agama tertentu masih suka mengandalkan kekuatan massa sambil mengacung-acungkan pedang untuk memperjuangkan tujuan organisasinya? Kenapa juga para pelajar kita yang didesain untuk menjadi calon-calon pemimpin masa depan masih suka tenggelam dalam arus tawuran, pesta “pil setan”, dan narkoba? Jika mau, masih ada setumpuk pertanyaan yang bisa dijejer untuk mempertanyakan eksistensi Indonesia yang sudah 72 tahun merdeka.

Tidak sedikit pengamat yang menyatakan bahwa sumber kekacauan dan berbagai aksi chaos yang melanda negeri ini sebenarnya berasal dari dunia pendidikan kita sebagai basis “character building” sebuah bangsa. Apabila fondasinya rapuh, jelas pilar-pilar di atasnya akan rontok dan mudah tersapu angin.

Lihat saja proses pembelajaran yang berlangsung di dunia persekolahan kita. Para siswa didik diperlakukan bak “keranjang sampah” ilmu pengetahuan. Mereka didesain untuk menjadi penurut, sendika dhawuh, dan “anak mami”. Mereka yang mencoba untuk menghidupkan sikap kritisnya dengan banyak bertanya dan berkata “tidak” di depan sang guru, buru-buru diberi stigma alias diberi cap sebagai “pemberontak”, “mbadung”, dan “mbandel”.

Yang lebih menyedihkan, atmosfer pembelajaran di kelas berlangsung seperti di penjara. Angker dan menegangkan. Guru menjadi satu-satunya sumber pembelajaran yang berperilaku bak sipir penjara. Para murid bagaikan narapidana yang sedang menjalani masa-masa hukuman. Ruang kelas jauh dari iklim pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Ruang-ruang kelas seperti kerumunan sel berjeruji sel yang angker dan singup. Tak heran apabila begitu keluar dari ruang kelas, para siswa didik seperti terbebas dari sekapan penjara dan melampiaskan kebebasannya dengan berbagai macam cara, ya, seperti itu tadi, tawuran atau pesta “pil setan”.

Atmosfer pembelajaran semacam itu agaknya membenarkan istilah Paulo Freire –tokoh pendidikan dari Amerika Latin– dengan ”pendidikan gaya bank”-nya di mana para siswa didik yang sedang belajar dianggap sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa. Guru sebagai sosok yang serba tahu, sedangkan para murid diarahkan untuk menghafal secara mekanis. Otak murid dianggap sebagai safe deposit box, di mana pengetahuan dari guru ditransfer ke dalam otak siswa, dan jika sewaktu-waktu diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal diambil. Dalam konteks pembelajaran semacam itu, hubungan guru-murid hanyalah subjek-objek, bukannya subjek-subjek.

Karena pendidikan di Indonesia tidak membebaskan manusia dari ketertindasan, keterbelakangan, dan kebodohan, disadari atau tidak, keluaran pendidikan kita berusaha menemukan makna kebebasan itu dengan cara mereka sendiri yang sesuai dengan naluri agresivitasnya. Mereka yang memiliki naluri untuk kaya, tak jarang menempuh cara-cara korup dan menerapkan ilmu permalingan, mereka yang punya naluri untuk disegani dan dihormati tak segan-segan membeli ijazah, jabatan, atau pangkat dengan cara yang tidak wajar, mereka yang punya naluri hidup mewah dan kebelet memuaskan naluri hedonisnya tak segan-segan menipu orang miskin, mengeruk uang negara, dan merasa bangga jika lolos dari jeratan hukum.

Pertanyaaannya sekarang, quo-vadis dunia pendidikan kita pasca 72 tahun merdeka? Akankah terus dibiarkan atmosfer pendidikan yang dinilai telah gagal melahirkan manusia-manusia yang utuh dan paripurna semacam itu? Sebuah pertanyaan besar yang perlu dijawab oleh para penguasa negeri ini. ***

Seorang guru, penyuka musik tradisional, penikmat sastra, dan bloger. Sebagian besar tulisannya dipublikasikan di blog pribadinya sawali.info. Ikut berkiprah di Agupena pada Bidang Pengembangan Profesi. Buku kumpulan cerpen pertamanya, Perempuan Bergaun Putih, diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top