BUKU, CINTA, DAN FEMINISME: THE JANE AUSTON BOOK CLUB

Rubrik Opini Oleh

Abdul Malik Raharusun
(Wakil Sekretaris PP. Asosiasi Guru penulis Indonesia)

Sebuah film berjudul The Jane Austen Book Club dirilis pada tanggal 9 April tahun 2007. Film yang berlatar Inggris era 90an ini scenario dan sutradara oleh Robin Swicord. Robin Swicord wanita paruh baya ini lahir di Columbia, Carolina Selatan, Amerika pada 23 Oktober 1952, terkenal dengan gaya penulisan scenario film bergenre feminism. Sampai dengan tahun 2016 Robin Swicord masih terus menulis scenario film diantaranya The Promise dan Wakefield. The Jane Austen Book Club adalah film ke-10 yang ditulisnya.

The Jane Austen Book Club diangkat dari novel fiksi yang juga berjudul The Jane Austen Book Club karya Karen Joy Fowler seorang novelis kelahiran Bloomington, Indiana, Amerika, pernah meraih penghargaan Nebula untuk katagori cerita pendek terbaik tahun 2004-2008. Menariknya novel The Jane Austen Book Club yang ditulis Karen Joy Fowler juga terinspirasi oleh novel-novel fiksi karya Jane Austen yang digandrungi remaja sampai orang tua Eropa dan Amerika saat itu. Jane Austen lahir pada tanggal 16 Desember 1775 di Steventon, Hampshire, Inggris meninggal pada 18 Juli 1817, adalah novelis bergaya realisme, mengupas kondisi sosial secara kritis dan tajam, dan kepiawaiannya meramu gaya narasi bersudut pandang orang ketiga, parodi, dan ironi.

Novel karya Jane Austen dikenal dan dibaca khalayak pada abad ke-19 sampai dengan 20. Gaya penulisannya yang realistis dengan kehidupan sosial – lesbian, pertengkaran rumah tangga, interaksi anak dan orang tua, persahabatan, cinta dan seks- telah menghantarkan karya Jane Austen sebagai bahan diskusi anak muda dan kaum wanita di Eropa dan Amerika. Lebih dari satu abad setelah kematiannya diskusi novel Jane Austen menghiasi starbuks coffe, library dinner, taman dan kampus.

The Jane Austen Book Club berlantar kelompok diskusi buku Jane Austen yang sebagai besar kelompoknya adalah wanita dengan beragam latar profesi dan problem yang dihadapi. Setiap bulan kelompok diskusi buku ini bertemu dan mendiskusikan novel-novel karya Jane Austen setiap diskusi itu pun mewakili profesi dan problem yang dihadapi anggota kelompok diskusi. Keselurhan karya Jane Austen seolah hadir dalam scenario film ini.

Membaca Film The Jane Austen Book Club
Film The Jane Austen Book Club berdurasi 1 jam 45 menit. Film ini mengawali kisahnya dengan kematian anjing milik Jocelyn (Maria Bello), kematian anjing setianya yang dimakamkan secara resmi ini telah membuat Jocelyn terpukul. Saat yang bersamaan pertengkaran keluarga Daniel (Jimmy Smith) dan istrinya Sylvia (Amy Brenneman) pun terjadi saat pemakaman tersebut. Daniel si suami berterus terang kepada istrinya (Sylvia) bahwa ia telah menjalin hubungan dan berkencan bersama teman kerjanya. Pengakuan yang walaupun jujur telah memicu pertengkaran dan perpecahan rumah tangga mereka. Untuk menghilangkan kesedihan Sylvia, putri semata wayangnya Allegra (Maggie Grace) kembali ke rumah. Dan Allegra adalah seorang lesbian bersama pacarnya Corrine (Pariza Fitz Henley).

Pada tempat yang lain, Prudie (Emily Blunt) kecewa berat kepada suaminya Dean (Marc Blucas) lantaran membatalkan liburan keluarganya merangkap perjalanan dinas ke Paris dengan alasan akan menyaksikan basket di luar kota. Kekecawaan Prudie si guru bahasa Prancis lantaran pembatalan ke Paris tidak hanya memicu keretakan hubungan rumah tangga tetapi juga telah menghantarkannya Prudie untuk mencoba bermain mata dengan Trey (Kevin Zegers) yang tidak lain adalah siswanya.

Film The Jane Austen Book Club diawali dengan sejumlah problem keluarga, seks terlarang, psikologi dan percintaan. Adalah Bernadette (Kathy Baker) yang juga paling senior usianya diantara kelompok wanita tersebut berinisiatif membentuk klub baca untuk novel-novel karya Jane Austen. Gagasan membentuk klub baca ini adalah untuk menghibur sahabat-sahabatnya (Jocelyn, Sylvia, Allegra, dan Prudie). Ide klub buku menjadi menarik ketika Jocelyn mengajak Grigg (Hugh Dancy) seorang lelaki muda yang justru hobby bersepeda bukan membaca atau berdiskusi buku, bergabung dalam klub buku Jane Austen.

Jocelyn mengajak Grigg bergabung dalam klub buku dengan maksud lelaki muda ini dapat menggantikan Daniel di hati Sylvia sahabatnya. Namun tanpa disadari Jocelyn bahwa Grigg yang sama sekali tidak hobby dengan membaca dan mengikuti klub buku itu harus memaksakan diri membaca novel-novel fiksi karya Jane Austen serta mengikuti diskusinya justru dalam rangka mendekati atau menarik simpati Jocelyn.

Enam novel fiksi karya Jane Austen bergenre feminism itu di bedah dalam klub buku The Jane Austen Book Club. Sebulan sekali klub buku ini berjumpa di starbuks coffe, library dinner, taman, atau rumah salah satu rekan klub. Setiap novel yang dibedah justru menghadirkan problem yang secara sepintas sama dengan masalah yang dihadapi klub book. Novel Jane Austen bergaya feminism seolah memberi ruang bagi Sylvia untuk tampil menjadi tipe wanita setiap sembari mencomooh kaum pria yang doyan selingkuh. Lalu Prudie justru menemukan kekuatan melawan keinginan bermain mata bersama muridnya dengan berusaha meminta suaminya, Dean untuk terlibat di dalam klub book. Sementara Jocelyn kian hari justru terpikat oleh gaya Grigg menjelaskan setiap detail novel yang dibacanya.

Film The Jane Austen Book Club berakhir dengan ajakan kaum pria untuk memahami naluri feminsme. Setiap problem yang dihadapi dalam rumah tangga pada akhirnya diselesaikan lewat diskusi yang elegan, sebagaimana pesan Jane Austen dalam novelnya. Disebuah library dinner film ini berakhir dengan “kemenangan” para anggota klub book. Para keluarga kembali berkumpul dan menemukan cintanya, Sylvia dan Daniel, Prudie dan Dean, Jocelyn dan Grigg.

Buku, Cinta, dan Feminisme
Di suatu sudut malam mata yang sulit aku pejam tertuju sebuah stasiun televisi menghadirkan film ini, film The Jane Austen Book Club. Tidak terlalu senang dengan film drama keluarga tetapi karena tergoda dengan judulnya yang seketika dapat ditebak bercerita tentang kelompok studi buku maka naluri untuk menonton pun hadir. Film yang telah menghantarkanku pada penghujung malam.

Film The Jane Austen Book Club sebuah kolosan drama keluarga bergenre cinta dan budaya feminism. Buku dan diskusi menjadi suguhan akademik dalam film ini. Bagaimana mungkin seorang Bernadette berusaha menghibur dan mencari solusi bagi teman-temannya lewat diskusi buku. Mengambil latar novel-novel karya Jane Austen film ini mendapat tempat di hati para pecinta novel Jane Austen di Inggris dan Amerika.

Film ini dapat menjadi referensi bagi pengiat buku, novel, film bergenre feminism dan cinta. Namun, sebagaimana karakter film berlatar Eropa dan Amerika bimbingan kepada anak, remaja tetap menjadi perhatian orang tua ketika bersama keluarga menikmatinya. Sebagai epilog dari tulisan sederhana ini (hehehe), izinkan saya mengucapkan Selamat Hari Film Nasional, 30 Maret 2017, lewat tulisan ini besar harapan dapat memperkaya sudut pandang kita membaca film.

Sumber Tulisan:

Film The Jane Austen Book Club, penulis scenario dan sutradara, Robin Swicord, tayang perdana  9 April 2007.

https://en.wikipedia.org/wiki/Jane_Austen diunduh 30 Maret 2017

https://en.wikipedia.org/wiki/Robin_Swicord diunduh 30 Maret 2017

https://en.wikipedia.org/wiki/Karen_Joy_Fowler diunduh 30 Maret 2017

http://www.rinurbad.com/the-jane- austen-book- club-2007/ diunduh 30 Maret 2017

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top