Hai, Anak Muda yang Baru Niat Jadi Penulis, Yakin Sudah Melakukan 5 Hal ini?

Rubrik Literasi Oleh

Oleh Damae Wardani

Menjadi seorang penulis, hari ini agaknya menambah satu daftar pilihan cita-cita anak muda. Terbukti kian menjamurnya deretan buku baru yang dikarang oleh generasi berusia sekira 20 sampai 30-an. Tentu ini pertanda positif untuk kemajuan literasi di Indonesia, sekaligus memberi harapan akan membaranya semangat edukasi di kalangan penentu masa depan bangsa. Bukankah nasib bumi pertiwi memang berada di tangan para pemudanya?

Keberadaan penulis muda juga meginspirasi anak muda lain untuk mengikuti jejak menjadi penulis. Bermimpi punya karya sendiri, dikagumi banyak orang, memiliki fansclub, dan diundang kemana-mana sebagai pembicara. Sayangnya, seringkali kelabilan anak muda ini tak sebanding dengan angan-angan mereka. Tak jarang yang kandas di tengah jalan. Baru icip-icip dunia kepenulisan saja sudah mual-mual. Apalagi harus menjalani proses yang begitu panjang, ditolak penerbit puluhan bahkan ratusan kali, atau merasa mentok sana-sini saat mencoba membuat media pribadi.

Alamak, daripada kamu menghabiskan banyak waktu dan energi untuk mengeluh, mending segera coba lakukan 5 hal ini kalau memang sudah berniat akan menjadi penulis.

1. Komitmen
Tak hanya penikahan yang membutuhkan komitmen, wahai anak muda. Menjadi penulis juga wajib berkomitmen, tingkat dewa malah. Komitmen merupakan ikrar kesungguhan niat dan besarnya keyakinan akan keputusan yang kamu ambil. Komitmenlah yang akan menemani tekad besarmu untuk menjadi penulis, mengingatkan mimpi itu di saat semangat lebur, dan mengantarmu hingga gerbang debut yang selama ini kamu doakan. Lalu sejak kapan harus berkomitmen? Sejak kamu berniat ingin menjadi seorang penulis. Sudah siapkah kamu berkomitmen untuk berjodoh dengan penulis, eh, kepenulisan?

2. Membaca dan Menulis Apa pun Sebanyak-banyaknya Setiap Hari
Mustahil bisa menjadi penulis kalau tidak suka membaca. Lebih mustahil lagi, ingin menjadi penulis tapi malas berlatih menulis. Itu sama dengan orang biasa yang berkhayal punya pacar super star. Hei, realita tidak seindah drama Korea!

Mulailah membaca apa pun setiap hari, sebanyak yang kamu mampu. Syukur bisa menabung untuk mengoleksi buku sendiri dan membaca dengan nyaman di rumah atau café kesayangan. Tapi kalau tidak punya banyak budget untuk beli buku, jangan cemas! Nongkrong saja satu jam per hari di toko buku yang mengizinkan pengunjung bebas baca sepuasnya. Baca dengan cara skimming atau membaca cepat agar bisa menelusuri banyak karya dalam waktu singkat. Masih nggak punya waktu buat ke toko buku? Beli koran di tepi jalan, cukup 3 ribu perak sudah dapat puluhan halaman yang tidak akan habis dilahap seharian. Masih nggak ada uang? Berselancar saja di dunia maya! Kunjungi situs-situs yang kredibel dan bermanfaat. Masa scroll sosmed berjam-jam bisa, baca sehari satu jam saja susah.

Jika sudah terbiasa dan cinta membaca, mulailah menuliskan apa yang sudah didapat dari bacaan. Pelan-pelan. Sedikit demi sedikit. Tapi rutin setiap hari selama sebulan. Jangan dulu berpikir pakai teori A-Z, jangan khawatirkan hasil bagus atau aneh. Tulis saja dulu. Tulis saja dulu. Sekali lagi, tulis saja dulu. Tentang cerita perjalanan yang macet ratusan meter gegara ada kecelakaan. Soal kerjaan yang lagi-lagi dikritik sama bos. Juga sahabat yang putus nyambung tapi jalan terus kaya gerbong kereta. Atau rencana liburan pekan depan ke rumah nenek. Bisa juga ringkasan kisah di novel yang baru selesai dibaca. Komentar terkait berita di koran yang baru dibeli tadi pagi juga boleh. Apa pun itu. Tulis saja dulu.

3. Pilah Bacaan yang “Gue Banget”
Sekian lama terbiasa membaca, pasti kamu akan menemukan jenis bacaan yang paling sesuai selera. Mulai artikel ilmiah (jangan salah, membaca buku kuliah atau jurnal juga sangat membantu kamu buat jadi penulis, lho!), cerita imajinatif, sastra, puisi, artikel populer, berita, buku motivasi, kisah traveling, hingga novel ratusan halaman. Mana yang paling kamu suka? Kalau sudah tahu apa kesukaanmu, jadikan itu sebagai patokan bacaan yang harus paling banyak dan paling sering kamu baca, ketimbang bacaan lain. Bukankah passion dan bakat mula-mula ditandai oleh ketertarikan? Nah!

Tapi ingat ya, menentukan mana yang paling kamu suka baru bisa dilakukan setelah kamu membaca semua jenis bacaan. Jangan tergesa-gesa memutuskan. Baru baca novelnya Tereliye saja sudah bersorak: gue mau jadi penulis novel!. Eee.. Sebulan kemudian ketemu “Merantau” karya Rio, langsung ganti cita-cita: jadi penulis motivasi saja, ah!. Dikira ini ajang move on yang bisa pindah ke lain hati?

4. Pilih Tulisan yang “Gue Bisa”
Bacaan yang paling disukai biasanya akan menuntun kita pada genre tulisan yang paling mampu dikuasai. Setelah rutin menulis segala macam tulisan setiap hari, sekira durasi tiga bulan kamu akan menemukan, “Oh.. Ternyata aku paling ngerasa gampang kalau nulis quote!” (asal bukan sembarang copas, ya). Ini mengindikasikan kamu akan lebih mudah merampungkan tulisan bergenre motivasi daripada artikel ilmiah atau cerpen. Begitu juga kalau kamu lebih nyaman menulis cerita perjalanan saat dinas ke berbagai kota atau sengaja traveling ke berbagai tempat favorit. Jelas kamu lebih cocok menulis feature perjalanan atau travel writing, ketimbang novel atau artikel populer.

Pilih satu saja dulu genre tulisan yang kamu rasa paling bisa, jangan dulu rakus pengen bisa semuanya. Satu saja dulu. Istiqomah menulis genre itu setiap hari. Pelajari berbagai teorinya yang bisa kamu dapatkan dari berbagai sumber atau program-program workshop. Baca tulisan sebanyak-banyaknya yang bergenre sama dengan tulisan kamu. Jangan sungkan belajar pada senior yang kamu kenal sudah punya karya dalam genre serupa. Juga jangan malu share tulisan kamu di akun sosial media yang kamu punya. Ini latihan mental pertama yang bisa kamu lakukan sebelum mencoba menembus koran atau penerbit buku. Just do it! Nggak perlu banyak mikir.

5. Tentukan Media yang Bisa “Gue Tembus”
Sudah berlatih kurang lebih 3 bulan rutin setiap hari (sekali lagi: setiap hari), sudah cukup matang belajar dari senior, sudah memperbaiki kesalahan-kesalahan yang disampaikan dalam kotak komentar postingan di sosmed, dan kamu sudah merasa yakin untuk serius menjadi penulis, ini saatnya kamu naik kelas. Ini waktunya kamu mencari media yang memungkinkan untuk kamu tembus dan membuat karya yang layak terbit. “What? Jadi selama 3 bulan itu karyaku belum layak terbit?”. Belum. Baru pemanasan.

Mencari penerbit yang bisa kamu tembus ini ibarat mencari jodoh. Kadang seseorang tidak berjodoh denganmu itu bukan karena dia tidak baik atau tidak pantas buat kamu. Tapi mungkin karena bukan sosok seperti dia yang kamu butuhkan dan bukan dirimulah yang dia inginkan. Begitu juga dengan media yang tepat untuk tulisan kamu. Bisa jadi bukan karena tulisanmu jelek makannya ditolak terus, tapi mungkin karena bukan genre tulisan seperti milikmu yang sedang dibutuhkan atau dicari penerbit tujuanmu. Tidak menutup kemungkinan tulisan itu akan berjodoh di media atau penerbit lain setelah berkali-kali ditolak penerbit yang kamu incar.

Karenanya, memahami karakter media atau penerbit sangat penting dilakukan sebelum memutuskan menulis karya. Kamu sudah punya incaran penerbit apa dan tulisan seperti apa yang diinginkan penerbit itu agar lolos seleksi. Kamu harus sudah tahu ketentuan kepenulisan artikel di koran A, B, C, sebelum kamu mengirimkan tulisan ke sana. Intinya, lebih baik tentukan media atau penerbit apa yang kamu incar, baru membuat karyanya. Daripada menulis dulu baru bingung mau mencari media atau penerbit mana yang mau ditembus. Meski cara terakhir tetap bisa dilakukan, tapi kalau kita sudah tahu mau dibawa ke mana tulisan kita, tentu akan lebih tipis kemungkinan tersesatnya bukan?

Satu hal yang harus catat. Kecanggihan teknologi hari ini memberi keleluasaan untuk kamu berkarya di dunia maya. Media online baik mainstream maupun milik penerbit sudah tak terhitung jumlahnya. Mereka semua menerima kiriman tulisan, bahkan kerap mencari freelance writer. Media perusahaan atau pun media milik bersama juga bisa kamu temukan jutaan linknya di search engine. Kamu bisa banget bergabung dengan berbagai komunitas yang menyediakan ruang karya free untuk semua membernya. Bahkan, kamu bisa membuat media sendiri seperti blog pribadi yang kini sedang naik daun. Penyedia layanan blog gratis seperti WordPress dan Blogspot bisa kamu manfaatkan. Jadi jangan terpaku hanya pada media cetak dan merasa ciut saat ditolak. Ruang untuk berkarya sudah terbuka dimana-mana.

Setelah membaca kelima hal di atas, masihkah kamu ingin melanjutkan niat untuk menjadi penulis? Yakin? Lanjutkan jika iya! Tapi saya sarankan, jangan pernah membuang kesempatan lain yang mungkin lebih berharga hanya demi sesuatu yang kamu sendiri tidak berani untuk bilang: yakin. Jadi penulis kok coba-coba?!***

Damae Wardani merupakan nama pena dari gadis berkacamata kelahiran lembah Paris Van Java, Siti Dzarfah Maesaroh. Aktif di dunia kata melalui kegiatan blogging, komunitas menulis, dan jurnalistik online.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top