Demokrasi, Korupsi, Makhluk Halus, dan Politik Indonesia (Bagian I)

Rubrik Literasi Oleh

Demokrasi, Korupsi, Makhluk Halus, dan Politik Indonesia: 
Kajian terhadap buku Democracy, Corruption and the Politics of Spirits in Contemporary Indonesia karya Nils Bubandt

Yanuardi Syukur
(Universitas Khairun, Ternate)

Konten Buku
Buku ini ditulis oleh seorang professor Antropologi dari Aarhus University, Denmark, bernama Nils Bubandt.Sejak tahun 1990-an, Bubandt telah melakukan penelitian etnografi di Indonesia, terutama di wilayah Maluku Utara. Dalam buku yang berbasis pada penelitian lapangannya (antara 2001 dan 2002) di Jawa Timur dan Maluku Utara, Bubandt membahas tiga hal penting yang saling berkelindan satu dengan yang lainnya, yaitu: demokrasi, korupsi, dan politik jin dalam masyarakat Indonesia kontemporer. Dalam menjelaskan ketiga hal penting tersebut, Bubandt meneliti lima hal spesifik yaitu kiyai, blogger, politisi, sultan, dan nabi. Penjelasannya tentang kelima hal tersebut tidak terlepas dari tiga kerangka besar penelitian ini sebagaimana telah dijelaskan di atas.Bubandt juga membahas tentang pesona demokrasi, paradoks demokrasi Indonesia, “hantu-hantu” politik dalam demokrasi seperti korupsi, elitisme, nepotisme, dan patrimonialisme (“pertemuan” antara sistem politik modern dengan budaya politik tradisional yang berakar pada kerajaan masa silam), serta tentang sekularisme. Pembahasan Bubandt tentang tema-tema menarik tersebut dibingkai dalam kerangka kajian terhadap dunia politik dan dunia jin/dunia gaib atau “alam lain.”

Pada bagian pertama tentang The Kyai: spirits and corruption, Bubandt membahas profil Kyai Muzakkin yang mengatakan bahwa ia pernah mengirim jin dalam demonstrasi sehingga tidak terjadi pertumpahan darah. Muzakkin adalah kyai yang respek dengan demokrasi dan menghargai setiap politisi terpilih. Tapi ia tidak anarkis yang dibuktikan dengan mengirim “sekumpulan” jin untuk mengamankan demonstrasi. Dalam bagian ini, Bubandt hendak mencari apa alasan yang mendasari sehingga Kyai Muzakkin memutuskan untuk mengirim seribu jin dari pesantrennya di Jawa Timur untuk menghadiri demonstrasi anti-korupsi di Jakarta (p. 22). Menurut Muzakkin, ia memiliki kesaktian yang merupakan anugerah dari orang tuanya yang merupakan keturunan dari Jaka Tingkir, pendiri Kerajaan Pajang. Berbekal “legacy” tersebut, ia kemudian mendirikan pesantren yang tidak ada santri manusia sebagai pusat dunia jin di dunia (p. 26).

Dalam bagian kedua, The Bloggers: spirits, embarrassment, and the battle for Islam, Bubandt membahas tentang jin, rasa malu, dan perjuangan untuk Islam di dunia maya yang dilakukan oleh blogger.Apa yang dilakukan oleh Kyai Muzakkin di atas ketika dipublikasikan di Kompas, dalam 30 jam kemudian dikomentari oleh 167 blogger yang mengejek dan merasa malu dengan hal tersebut. Menurut salah seorang blogger, dunia jin tidak compatible dengan modernitas dan merupakan sebuah aib (malu) jika Indonesia modern harus berada di bawah dunia luar (gaib). Selain itu, ada blogger yang melihat hal itu sebagai bid’ah (heretical), dan menganggap bahwa Muzakkin telah sesat (misguided). Jika dilihat dalam Al-Qur’an, eksistensi jin merupakan bagian dari doktrin Islam akan tetapi yang menjadi kontroversi di tubuh umat Islam adalah soal penggunaan jin dalam pengobatan, pemujaan jin dalam ritual-ritual tertentu, atau dalam pengiriman jin dalam demonstrasi, yang beberapa hal tersebut telah memantik perdebatan di kalangan tradisionalis yang direpresentasi oleh Nahdlatul Ulama dan kalangan modernis lewat Muhammadiyah (p. 45).

Pada bagian ketiga, The Politician: sorcery and decentralization, Bubandt membahas tentangsihir dan desentralisasi politik dari kasus Muhammad Ahmad di Halmahera Timur yang wafat secara misterius tidak lama setelah sakit. Ia merupakan jurnalis, politisi, dan calon anggota DPRD Maluku Utara yang juga salah seorang aktivis dalam memperjuangkan desentralisasi pemerintahan sejak 1999 khususnya bagi terbentuknya Kabupaten Halmahera Timur. Sejak 1990, Muhammad Ahmad sering menulis di media lokal terkait korupsi dan nepotisme dalam birokrasi regional. Kematian yang terjadi atas politisi jurnalis Muhammad Ahmad dan pengerahan seribu jin oleh Kyai Muzakkin dalam demontrasi tidak terlepas dari dunia jin (p. 65), yaitu: Ahmad yang biasa menulis tentang korupsi wafat karena pengaruh jin dan Kyai Muzakkin mengamankan demontrasi anti-korupsi lewat bantuan jin.Menurut Bubandt, sihir bersifat fungsional sebagai alat politik birokrasi karena sihir—seperti juga ilmu gaib—selali sangat bersifat politis (p. 75).

Bagian keempat, The Sultan: electons, ancestors and the law, Bubandt membahas tentang hubungan antara ruh nenek moyang dengan hukum yang dalam hal ini mengeksplorasi Sultan Ternate ke-48 Mudaffar Sjah, yang pernah mencalonkan diri sebagai Gubernur Maluku Utara atas “restu” dari nenek moyang. Kematian beberapa orang dekat Thaib Armaiyn (Gubernur incumbent) dianggap sebagai katula, atau korban akibat melanggar taboo yang terkait dengan tradisi adat se atorang yang dipegang oleh Kesultanan Ternate.

Kemudian bagian kelima, The Prophet: world renewal and the ghost of a president, ia mengeksplorasi bahwa Hajjah Nur yang mengaku sebagai nabi perempuan (female prophet) yang mendapatkan wangsit dari dunia jin (moro) untuk mengenali Sultan Jailolo yang sebenarnya. Menurut Nur, ada satu triliun emas yang akan tumbuh secara gaib dari tanah dan menyediakan kekayaan yang tak terbatas (untold wealth) bagi seluruh dunia jika Sultan Ternate mengenali Sultan Jailolo yang sebenarnya yang dia telah identifikasi sebagai Jiko Makolano (penguasa teluk). Jika tidak, maka emas tersebut akan tenggelam kembali ke tanah yang dijaga oleh bangsa moro (jin), dan Maluku Utara akan hancur karena gelombang besar (p. 106). “Kembalinya Sultan Jailolo” dapat disebut sebagai kembalinya “Ratu Adil” (Just King)yang sepanjang abad ke-18 muncul dalam perlawanan politik di Maluku Utara.Akan tetapi pendapat Hajjah Nur tersebut dianggap sebagai omong kosong dan dilabeli orang gila. Pertemuan Bubandt dengan Hajjah Nur mendapatkan fakta anggapan dari masyarakat bahwa Nur digerakkan oleh sebentuk kegilaan (madness) dan ilmu hitam (illicit magic), akan tetapi penampilan ibu 10 anak tersebut lebih terlihat seperti seorang perempuan yang hendak berkebun ketimbang seorang nabi. Kepada Bubandt, Nur bercerita tentang visi besarnya terkait dunia baru yang menggabungkan antara spiritual dengan politik, dan juga tentang ayahnya (seorang imam di Kao) yang menghilang di depan 44 muridnya (dan membawa salah seorang murid) akan tetapi tidak mati, bahkan hidup di dua alam: dunia nyata dan dunia gaib. Ayahnya kemudian memberikan tugas kepada Nur untuk menemukan Sultan Jailolo yang sebenarnya (p. 110-112).Seperti juga ayahnya, Presiden pertama Indonesia, Soekarno juga hidup dalam dua alam, dan kuburannya di Blitar sekedar “tanda mata” (a symbolic token) dan “tempat singgah” atau petilasan (a spiritual left-over) saja bagi seorang “Ratu Adil” atau kesatria (dalam mitologi Jawa) yang menggerakkan perlawanan anti-kolonial lewat cerita dirinya sebagai keturunan Raja Jayabaya.

Tipe Etnografi
George E. Marcus (1995) dalam tulisannya Ethnography in/of the World System: The Emergence of Multisited Ethnography, membahas tentang metodologi antropologi yang terkait dengan adaptasi bentuk-bentuk etnografi terhadap kehidupan manusia yang kompleks. Selama ini menurut Marcus kajian etnografi dulu berfokus pada single-sitedyang cenderung melihat kebudayaan dalam pendekatan tradisional seperti 7 unsur kebudayaan yang kemudian dinarasikan dalam bentuk deskriptif etnografis, akan tetapi saat ini memasuki sistem kapitalis yang lebih luas yang di dalamnya ada dikotomi apa yang disebut lokal dan global. Dalam konteks penelitian multi-sited, peneliti melihat bagaimana proses pembentukan world system yang di dalamnya terkandung sirkulasi, koneksi, asosiasi, network, dan juga imajinasi yang dibangun dalam rentang sirkulasi tersebut (Gille & O Riain, 2002: 280-284). Metode ini juga melihat bagaimana budaya diproduksi yang akhirnya menjadi budaya tertentu. Pergulatan antara the self dan the others dalam sebuah immersionakan melahirkan pandangan emik (world of view) dari masyarakat tersebut. Konsep masyarakat/komunitas yang merupakan “place-making projects” (lokasi project) dalam multi-sited ethnography juga tidaklah statis, akan tetapi dinamis, heterogen, dan lokasi tersebut memiliki keunikan tersendiri dalam penelitian (Gille & O Riain, 2002: 277). Pentingnya riset etnografi yang multi-site ini dalam konteks kajian multidisipliner termasuk kajian media, sains, teknologi, dan budaya.

Metode multi-sited ethnography berusaha untuk mengidentifikasi secara sistemik realitas-realitas lokal dari beberapa lokasi, kemudian mengkaji sistem dunia dari lokalitas tersebut. Untuk itu, maka seorang peneliti immerse dengan masyarakat untuk mendapatkan cerita-cerita mereka, metafora, kemudian melakukan perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Menurut Marcus, seorang peneliti multi-sited ethnography perlu “follow the thing” (mengikuti sesuatu yang penting) terkait dengan sirkulasi, jaringan, distibusi komoditas, uang, pekerjaan seni, atau propert intelektual yang merupakan pendekatan dalam meneliti proses sirkulasi sistem kapitalis (p. 106-107).

Secara singkat, multi-sited ethnography adalah metode pengumpulan yang mengikuti topik atau permasalah sosial lewat beberapa lokasi penelitian yang berbeda secara geografis atau secara sosial. Menurut George Marcus, multi-sited ethnography bertujuan sebagai cara untuk menguji proses global dan kenaikan interkoneksitas seluruh masyarakat dalam globalisasi dunia. Multi-sited ethnography menjadi solusi untuk menganalis proses transnasional dan pergerakan manusia. Sejak multi-sited ethnography mengakitkan antara ide-ide, masyarakat dan komoditi, ia berkaitan erat dengan world-systems theory yang dalam perspektif Immanuel Wallerstein melihat bahwa kapitalisme sebagai proses tanpa batas geografis. Dalam pandangan Marcus, multi-sited ethnography, sebuah komoditi misalnya bisa jadi diproduksi oleh satu lokasi, dibungkus di lokasi lainnya, dan digunakan oleh orang-orang di lokasi lainnya.Untuk memahami hal ini tentu saja membutuhkan pemahaman antara beberapa beberapa lokasi walaupun tidak harus tinggal lama di lokasi penelitian tersebut sebagaimana yang dilakukan dalam penelitian single-sited.

Ketika meneliti dengan metode multi-sited ethnography, ruang atau lokasi dapat berupa gegrafi, masyarakat, atau virtual, yang sangat bergantung pada pilihan yang dipilih peneliti.Seorang peneliti dapat meneliti sebuah masyarakat, “sesuatu”, metafora, secara, biografi, atau konflik.Ia juga dapat meneliti komoditas, pemberian, uang, seni, atau properti intelektual (p. 106-107). Ketika berfokus pada metafora misalnya, seorang peneliti mencari tanda-tanda (signs), simbol, atau makna simbolik yang ada dalam topik yang spesifik (p. 108). Apapun yang dipilih oleh seorang peneliti akan memberikan pengaruh pada hasilnya nanti. Sebagai contoh, jika seorang peneliti hendak meneliti pekerja migran, maka ia harus mengikuti para migran di sepanjang beberapa lokasi penelitian.

Buku ini merupakan salah satu karya etnografi yang ditulis menggunakan perspektif multi-sited ethnography sebagaimana yang ia katakan pada bagian konklusi buku dengan sub-judul democracy from a spirit point of view (p. 129). Dalam buku ini, Bubandt hendak melihat bagaimana demokrasi, korupsi dan politik dunia gaib dalam masyarakat Indonesia kontemporer. Bubandt memulai tulisannya dengan fenomena keterkaitan antara dunia politik dengan alam gaib. Ketika politisi Demokrat Sutan Bathoegana mengatakan bahwa kasus Buloggate dan Bruneigate itu diakibatkan oleh Gusdur, banyak orang Jawa (khususnya Nahdlatul Ulama) yang mengecam Bathoegana dan meminta dia untuk bertaubat dan berziarah ke kuburan Gusdur. Kaum NU percaya bahwa walau sudah wafat, arwah Gusdur masih memberikan pengaruh kepada pengikutnya.Penghinaan kepada arwah orang yang telah meninggal, apalagi kepada Gusdur yang dianggap selain salah satu Wali Songo, adalah sesuatu yang berat.Sutan akhirnya meminta maaf kepada keluarga Gusdur, begitu juga Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum (Bubandt, 2014: 1-4).Dalam hal ini, dunia politik ternyata tidak bisa dipisahkan dengan dunia gaib.

Selain itu, Bubandt juga meneliti pengaruh dunia gaib dalam kehidupan sehari-hari.Ia membandingkan dunia gaib di Jawa Timur, dan Maluku Utara. Di Jawa Timur misalnya, Bubant meneliti fenomena Kiyai Muzakkin yang memiliki santri dari bangsa jin. Dalam salah satu demontrasi, Muzakkin mengirimkan seribu jin untuk menjaga demonstrasi anti korupsi sehingga tidak menimbulkan pertumpahan darah yang dapat mengganggu pemerintahan Presiden Gusdur (p. 21). Sedangkan di Maluku Utara Bubandt meneliti tentang Sultan Ternate Mudaffar Sjah yang mencalonkan diri sebagai Gubernur Maluku Utara.  Point yang hendak disampaikan di sini adalah bahwa penelitian Bubandt menggunakan sistem multi-sited, yaitu meneliti fenomena yang sama baik di Jawa maupun Ternate yang saling memiliki interkoneksi antara satu dan lainnya. Dalam buku ini, Bubandt mengkaji politik Indonesia yang dikaitkan dengan dunia gaib (the spirit world) yang berasal dari jin, kekuatan leluhur, santet dan sebagainya. Dalam salah satu sub-judul pada bagian pendahuluan misalnya, Bubandt hendak melihat bagaimana interkoneksi antara politik dengan dunia gaib yang dalam hal ini bagaimana perspektif dunia gaib terhadap perpolitikan Indonesia (p. 6)

Dalam kajian ini, Bubandt membuat interkoneksi antara beberapa subjek tersebut dalam ranah politik dan ilmu gaib.Bubandt juga membuat perbandingan (comparison) antara Kiyai Muzakkin, Sultan Ternate, Pak Muhammad Ahmad dalam hal politik dan ilmu gaib dengan konteks budaya lokal dimana mereka hidup. Dalam konteks ini, Bubandt mencari elemen-elemen kunci (key elements) yang ada dalam objek kajiannya kemudian ia berusaha memahami hal itu dengan motivasi dalam kebiasaan manusia (Blasco dan Wardle, 2007: 59). Dalam konteks ini, Bubandt melakukan penelusuran sumber dengan menemui beberapa tokoh kunci dalam penelitiannya.Ia kemudian bertanya kepada beberapa tokoh kunci untuk mendapatkan data bagaimana pandangan dunia gaib terhadap perpolitikan Indonesia. Kepada Kiyai Muzakkin ia bertanya bagaimana perspektif beliau dalam melihat dunia politik dan korupsi sehingga ia terlihat dalam pengerahan pasukan jin untuk mengamankan demonstrasi. Juga, ketika bertemu Sultan Ternate ia menelusuri hal-hal yang dianggap taboo di Kesultanan Ternate seperti “melawan” titah Sultan dengan cara menjadi rival politik Sultan saat pilkada. Hal-hal taboo tersebut diyakini oleh sebagian masyarakat bahwa jika dilanggar akan mendatangkan kesialan (misfortune), sebagaimana juga yang diyakini oleh warga NU ketika Sutan Bathoegana mengkritik Gus Dur yang dianggap dapat mendatangkan kesialan. Dalam hal ini, terlihat bahwa ada kesamaan pandangan dari warga NU dengan warga Kesultanan Ternate yang melihat bahwa kritikan atau resistensi terhadap tokoh sakral (kyai kharismatik atau sultan) dapat mendatangkan kesialan tertentu.

Dalam menelusuri data, Bubandt juga mencari informasi dari hal-hal yang berkaitan dengan penelitiannya seperti orang-orang, pengambil kebijakan, metafora, cerita, konflik atau biografi tokoh yang berkaitan dengan penelitiannya tersebut (p. 106-110).Tampaknya Bubandt memang memilih untuk lebih berfokus pada tokoh kunci tersebut ketimbang wawancara dengan banyak warga biasa lainnya.Hal ini sangat dimaklumi karena pandangan bahwa dunia gaib, politik dan korupsi lebih banyak dikuasai oleh para tokoh kunci dalam komunitas tersebut.

Tapi memang kendati multi-sited ethnography yang dilakukan Bubandt ini mendapatkan data-data penting, akan tetapi ia memiliki kelemahan karena perubahan masyarakat yang begitu cepat. Artinya, apa yang dipikirkan oleh para tokoh tersebut bisa jadi akan berubah dalam waktu yang tidak lama, seperti ketika Sultan Ternate wafat sekira dua tahun yang lalu, titah Sultan tentang siapa sultan pengganti setelah beliau (yang dibuat di atas kertas), tidak diindahkan dengan berbagai pendapat yang ada. Bahkan, titah sultan ditentang oleh internal keluarga kesultanan karena anak kembar yang lahir dari permaisuri Sultan Ternate bernama Boki Nita Budhi Susanti (mantan Anggota DPR Partai Demokrat) dianggap bukanlah anak biologis dari Sultan. Dalam konteks ini, anggapan sebelumnya bahwa warga atau juga keluarga cenderung percaya pada titah sultan kini menjadi “mentah” karena intrik kekuasaan setelah sultan wafat.Implikasinya kemudian adalah tidak semua yang datang dari sultan harus ditaati oleh warganya yang hal itu dapat dianggap sebagai krisis legitimasi (legitimacy crisis) Kesultanan Ternate secara internal.Dalam hal ini, sebenarnya pengaruh sultan di era demokrasi sekarang ini menjadi sangat relatif dan unsur sakralitas seorang sultan menjadi dipertanyakan kembali, bahkan digugat kembali oleh lingkaran terdekatnya.Atau, dengan kata lain, kekuatan spiritual (barakat, spiritual power) yang secara inheren berada dalam diri seorang sultan dalam hal-hal tertentu—seperti “pewarisan tahta”—tidak menjadi bagian sakral lagi, padahal jika dilihat dari tradisi sebelumnya, pewarisan tahta menjadi sesuatu yang sangat sakral dan tidak bisa digugat karena anggapan bahwa pilihan sultan tidak sekedar pilihan rasional akan tetapi berdasarkan pilihan kekuatan gaib yang melindungi Kesultanan Ternate. (Bersambung)

Tags:

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top