MENCEGAH SPLIT PERSONALITY (KEPRIBADIAN PECAH) DI KALANGAN PESERTA DIDIK

Rubrik Pendidikan Oleh

MENCEGAH SPLIT PERSONALITY (KEPRIBADIAN PECAH) DI KALANGAN PESERTA DIDIK MELALUI PENDEKATAN DSL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA

Oleh: H.A.Sholeh Dimyathi

 PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

H.A.Sholeh Dimyathi

Pelajaran agama yang diterapkan di sekolah-sekolah umum, biasanya kurang diminati peserta didik. Ini boleh jadi lantaran sistem pembelajarannya yang kurang menarik. Disi lain, perilaku dan akhlak sebagian peserta didik sangat jauh disparitas antara cita dan fakta.  Data menunjukkan kenakalan, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas dan gaya hidup permisivisme semakin meningkat, kebiasaan bergerombol dipinggir jalan dan mejeng di pusat perbelanjaan (Mall) telah menjadi hal yang biasa.  Semua ini menjadi bukti, ada yang salah dalam proses pendidikan, diperparah lagi dengan orientasi yang tidak benar yang dilakukan sebagian lembaga pendidikan.

Disamping itu, keterbatasan waktu jam pelajaran perminggu sekali tatap muka, ditambah belum efektif dan efesiennya pelaksanaan pendidikan agama di sekolah- sekolah umum dalam membina keagamaan siswa baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler belum dikelola secara baik dan berkesinambungan, makin memperparah fenomena kerusakan akhlak dan karakter peserta didik ( Split Personality dikalangan generasi muda kita).

Mengantisipasi perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam era globalisasi, aspek kualitas yang perlu dibangun pada setiap diri peserta didik, tidak terbatas pada sisi jasmani dan mental kecerdasan saja, tetapi meliputi kemampuan peserta didik menapis (filter) pengaruh perubahan zaman.  Kekuatan daya tapis ini banyak ditentukan dari tingkat penghayatan dan pengamalan keimanan serta ketaqwaan kepada Allah SWT yang telah dimiliki masing-masing peserta didik.

Kondisi inilah yang melatar belakangi kami, merumuskan model pembelajaran pendidikan agama di sekolah umum, khususnya di SMA,SMK dan MA, dengan membuat model pembelajaran dengan pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) sebagai paradigma baru dalam pembelajaran pendidikan agama disekolah

Pendekatan ini, sebagai upaya perbaikan moral dikalangan peserta didik, melalui perubahan paradigma pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Yaitu membentuk peserta didik untuk mempraktikkan (aplikatif) aspek pengajaran agama baik aspek kognitif, psikomotorik, maupun afektif dalam kehidupan sehari-hari serta mengembangkan potensi fithrahnya dengan baik.

Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama dengan Pendekatan DSL
Mengapa Dakwah Sistem Langsung ( DSL ) ?

Masa remaja merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja berada pada posisi yang resah. Mereka sedang dalam usaha pencarian jati diri. Dengan kata lain, di dalam kelompoknya, remaja berusaha menemukan dirinya.

Di kota kota besar seperti Jakarta, tawuran, kenakalan dan asusila dikalangan remaja menjadi suatu hal yang memprihatinkan. Permasalahan remeh dapat menyulut pertengkaran individual yang berlanjut menjadi pekelahian massal. Tawuran telah menimbulkan korban dengan jumlah yang tidak sedikit, bahkan ada yang sampai meninggal dunia.

Berawal dari sebuah keprihatinan, penulis bersama MGMP PAI dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta pada tahun 1998  menggagas upaya baru untuk melakukan pembinaan moral remaja secara intensif, yakni penyelenggaraan dakwah sistem langsung (DSL) sebagai program wajib bagi para siswa muslim di SMK-SMK di DKI Jakarta sebagai bagian dari sistem pendidikan agama dan pelaksanaannya diprioritaskan pada sekolah yang sering terlibat tawuran. Penanganan moral pelajar secara intensif ini sangat tepat jika dihubungkan dengan latar belakang tawuran pelajar, karena menurut Malik (2002); rendahnya moralitas remaja memiliki peran yang besar dalam melatarbelakangi tawuran pelajar.

Dakwah Sistem Langsung (DSL) adalah pembinaan keislaman dengan pendekatan dan pembelajaran oleh teman sebaya, sebagai mentor, yang dilakukan dalam bentuk kelompok yang terdiri dari lima sampai sepuluh peserta didik. Proses Dakwah Sistem Langsung (DSL) memanfaatkan kecenderungan remaja untuk lebih dekat pada kelompok sebayanya, untuk memperoleh hasil optimal. Untuk memaksimalkan proses pembelajaran, digunakan pola pendekatan 4F, yakni Fun, Fresh, Focus, dan Friendly. Pendekatan DSL ini sangat sesuai dengan konsep pengajaran yang juga mementingkan keterlibatan peserta secara aktif dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan efektifitas proses.

Dakwah Sistem Langsung (DSL),model pendekatan yang berisi bimbingan dan pembinaan keagamaan peserta didik secara integral dan berkesinambungan yang mengintegrasikan antara kegiatan belajar mengajar (KBM) dikelas ( intrakulikuler) dan kegiatan peserta didik diluar jam pelajaran (ekstrakurikuler). Setiap kelas peserta didik dibagi  menjadi kelompok-kelompok yang terdiri antara 5-10 peserta didik, setiap kelompok dipandu dan dibimbing oleh seorang mentor.  Sehingga, peserta didik dapat mengambil peran positif yang mendukung proses menuju kedewasaan berpikir, kemandirian , dan berperilaku akhlakul karimah.

Setidaknya ada tujuh alasan mengembangkan model pendekatan ini, Pertama, mensiasati keterbatasan jumlah jam pelajaran pendidikan agama,yang hanya perminggu sekali . Kedua materi muatan kurikulum yang luas. Ketiga, guru agama yang yang belum profesional dan merata kualitasnya. Keempat, penggunaan metode pengajaran yang masih konvensional dan verbalisasi. Kelima hasil penilaian yang masih menekankan pada unsur kognitif dan nilai dakwah. Keenam, menciptakan mentor sebaya sehingga konsep pendidikan agama lebih diakrabi peserta didik. Dan ketujuh , menyikapi situasi dan kesan masyarakat bahwa kenakalan tawuran pelajaran sulit diatasi.

Sistem ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memadukan, mengintegrasikan ,menerapkan pengetahuan , sikap dan keterampilan yang telah dipelajari ke dalam situasi nyata, baik dilingkungan keluarga , sekolah , maupun di masyarakat.

STRATEGI PELAKSANAAN
Strategi Pembelajaran dengan Pendekatan DSL

Strategi pelaksanaan sistem ini dilakukan melalui tiga pendekatan. Yaitu dalam bentuk belajar mengajar pendidikan agama di kelas, kegiatan tutorial/mentoring diluar kelas dan kegiatan mandiri peserta didik yang meliputi kegiatan keagamaan di rumah, disekolah dan dimasyarakat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut ini:

 

 

Pola Penyelenggaraan
Bagaimana pola penyelengaraan pembelajaran pendidikan agama dengan pendekatan DSL ini? Penulis membaginya dalam tiga tahapan : persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan meliputi, guru membagi peserta didik setiap kelas kedalam kelompok binaan antara 5 sampai 10 peserta didik. Tiap kelompok dibimbing seorang mentor dari seksi kerohanian /kakak kelas yang lebih menguasai agama, atau alumni.

Kemudian membuat jaringan pembinaan peserta didik dalam kegiatan mentoring pendidikan agama, mengenalkan program pembelajaran pendidikan agama dalam format Dakwah Sistem Langsung (DSL) kepada peserta didik. Dan melakukan koordinasi dengan seluruh warga sekolah, khususnya wakil kurikulum, guru pembina siswa, guru BP/BK dan wali kelas.

Tahap pelaksanaan mengunakan 3 strategi. Pertama kegiatan intrakurikuler, langkah pembelajarannya meliputi tahap pertama 10-15 menit mengecek, mengulang bacaan Al-Quran peserta didik. Tahap kedua 50-60 menit:pembahasan materi pokok sesuai lesson plan / Rencana Pokok Pembelajaran (RPP) dengan memakai bahan ajar yang disusun oleh tim IMTAG MGMP PAI. Langkah berikutnya, pembahasan materi meliputi pengantar tentang kompetensi dasar yang akan dipelajari, manfaat dan tujuannya. Pembahasan kompetensi diawali dengan membaca ayat Al-Quran dan terjemahannya yang menjadi pokok bahasan. Tes penguasaan bahan/materi dan pemahaman Konsolidasi, sebagai usaha pembetulan pemahaman peserta didik yang kurang pas terhadap materi yang dipelajari, mengontrol dan memeriksa pelaksanaan kegiatan mentoring agama dan pembagian tugas berstruktur , belajar mandiri, praktik ibadah, bacaan Al-quran , dan kegiatan keagamaan lainnya.

Kedua, kegiatan mentoring ini dilakukan diluar kelas agar peserta didik lebih mengenal, mencintai, dan mengamalkan ajaran agama. Ada lima karakter mentoring : teman sebaya, kakak adik, fun fresh, and focus, tutorial, bimbingan ibadah dan membaca Al-Quran. Lantas program intensif pemberantasan buta huruf Al-Quran , dilanjutkan pertemuan sepekan sekali dengan pokok bahasan meliputi aqidah, akhlak, ibadah, muamalah, materi tambahan seperti adaptif, produktif, atau bedah buku. Pendekatan ini adalah kegiatan mandiri peserta didik. Ini dilakukan dilingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Ketiga, kegiatan mandiri peserta didik, dalam hal ini , ada tiga bentuk kegiatan peserta didik yang harus dilaksanakan. Yakni, kegiatan keagamaan disekolah , kegiatan keagamaan dirumah atau keluarga dan kegiatan keagamaan di masyarakat.

Pada tahap ini evaluasi, penilaian mencakup dua aspek. Pertama penilaian proses kegiatan, indikasi keberhasilan 75% jumlah peserta mentor aktif dan 90% kehadiran mentor. Kedua, penilaian hasil . Tolak ukur yang digunakan berdasarkan Penilaian Acuan Patokan yang didasarkan atas nilai dan norma keislaman yang terdiri atas unsur amaliah, praktik keseharian, sikap, pantulan akhlakul karimah dan wawasan keislaman.

Kegiatan Mentoring
Arus globalisasi dan informasi telah mengalir keseluruh segi kehidupan dan membawa dampak bagi manusia yang sebelumnya tak diduga.  Bersamaan dengan itu, pengaruh invasi pemikiran yang dilancarkan orang-orang kafir untuk menghancurkan umat Islam semakin menjadi-jadi. Terbukti dengan semakin banyaknya orang Islam yang tidak tahan terhadap ajaran agamanya sendiri dan semakin jauh dari pedoman hidupnya, yaitu Al-Qur’an dan  Al-Hadist.  Untuk membentengi pengaruh yang negatif, maka penguatan materi Pendidikan Agama Islam dikalangan para peserta didik sangat diperlukan. Materi-materi yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam sebagai bahan materi kegiatan mentoring antara lain adalah ;

No. Kelompok Bahasan Tema / Materi Kegiatan Mentoring
1. Aqidah 1.1.  Menuju pemahaman Islam yang utuh

1.2.  Allah SWT sebagai tujuan

1.3.  Muhammad Saw sebagai utusan Allah SWT

1.4.  Dasar hukum Islam

2. Al-Qur’an 2.1. Intensifikasi Tulis Baca Al-Qur’an

2.2. Tadarrus Al-Qur’an

2.3. Kajian Al-Qur’an tematik sesuai dengan pokok bahasan

3. Ibadah 3.1. Hakekat Ibadah

3.2. Do’a sebagai inti ibadah

3.3. Peran masjid dalam pemberdayaan potensi umat

3.4. Bagaimana mensikapi khilafah

3.5. Menuju shalat yang khusu’

3.6. Tilawah Al-Qur’an

4. Muammalah 4.1. Pentingnya pendidikan Islam

4.2. Ukhuwah Islamiyah

4.3. Amal Jama’i

4.4. Menuntut Ilmu

5. Akhlak 5.1. Manusia / Al Insan

5.2. Rasulullah Saw sebagai teladan

5.3. Meneladani Perjuanagan Sahabat Rasulullah

5.4. Kedudukanwaktu bagi seorang muslim

5.5. Bagaimana pemuda Islam bersikap

5.6. Akhlak terhadap orang tua

6. Pengembangan 6.1. Bedah buku

6.2. Perkenalan

6.3. Games Islami

 

Hasil Kegiatan DSL

Berdasarkan penelitian, yang dilakukan oleh Saudara Taufik dkk. mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh September (ITS) Surabaya bahwa tingkat keberhasilan sistem ini mencapai 95%.  Saat ini metode Dakwah Sistem Langsung (DSL) telah dikembangkan di 150 SMK-SMA di Jakarta dan ditetapkan menjadi program wajib yang harus diikuti tiap siswa SMK di DKI Jakarta dimulai pada  tahun ajaran 2001-Sekarang.

Untuk mengamati pengaruh sistem ini pada angka tawuran pelajar, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh September (ITS) Surabaya (Taufiq ; 2005) melakukan penelitian pelaksanaan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di beberapa sekolah SMA-SMK Provinsi DKI Jakarta yang melaksanakan DSL menunjukkan angka penurunan yang siqnifikan. Penelitian yang dilakukan Anwar (2002) juga menyatakan penyelengaraan kegiatan Dakwah Sistem Langsung di SMK Rasera 66 termasuk salah satu lembaga pendidikan yang dianggap cukup berhasil. Hasil ini terbukti dengan adanya pemberitaan dari ANTEVE tentang proses pelaksanaan DSL. Hal itu didasari karena setelah diberlakukan program DSL, frekuensi tawuran yang melibatkan siswa SMK Rasera 66 menurun. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BALITAMAS menyimpulkan, setelah diterapkan program DSL, SMK Pembangunan, SMK Grafika dan SMK Poncol tidak lagi terlibat tawuran. Data kasus tawuran yang dicatat oleh Polda Metrojaya dapat ditunjukkan dalam Gambar 1 sebagai berikut:

Gambar 1 Frekuensi Tawuran Pelajar

Antara tahun 1998 dan 1999 tawuran menurun dari 230 kasus menjadi 193 kasus (sebesar 16%). Pada 2000 terjadi peningkatan 4 kasus (2%). Di tengah tahun 2001, formalisasi Dakwah Sistem Langsung (DSL) mulai berjalan dengan prioritas sekolah yang sering terlibat tawuran dan beberapa sekolah yang dapat menjadi pemantau pelaksanaannya di sekolah lain. Pada tahun 2001 pula mulai terjadi penurunan angka tawuran sebesar 74 kasus (sebesar 38%) menjadi 123 kasus, dari 197 kasus di tahun 2000. Dalam tahun 2002 terjadi penurunan sebanyak dua kasus menjadi 121 kasus. Sepanjang 2003, Polda Metrojaya mencatat terjadinya penurunan jumlah kasus tawuran sebesar 13 kasus, dari 121 kasus menjadi 108 kasus (10%) dan untuk DKI Jakarta secara khusus menjadi 70 kasus.

Pada tahun 2004, secara khusus di DKI Jakarta terjadi penurunan intensitas tawuran sebesar dari 70 kasus menjadi 39 kasus (sebesar 45%) dengan rincian

  1. Di Jakarta Pusat terjadi peningkatan dari 9 kasus menjadi 10 kasus.
  2. Frekuensi tawuran di Jakarta Utara tetap 6 kasus.
  3. Jakarta Barat menurun dari 2 kasus menjadi nihil.
  4. Jakarta Selatan terjadi penurunan 13 kasus, dari 36 kasus menjadi 23 kasus.
  5. Di Jakarta timur terjadi penurunan sebesar 100% dari 17 kasus menjadi nihil.

Penurunan angka tawuran secara drastis pada tahun 2004 dengan persentase yang terbesar dibandingkan periode sebelumnya, dimungkinkan terjadi karena berubahnya karakter pelajar secara umum di sekolah yang selama ini terlibat tawuran di DKI Jakarta. Fenomena ini menjadi indikasi adanya peran dari program Dakwah Sistem Langsung (DSL) sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan semangat keislaman pelajar serta proses pendampingan yang intens pada pelajar untuk mengarahkan pandangan dan perilaku mereka ke arah yang lebih baik, hingga pada akhirnya mampu mengantisipasi terjadinya tawuran pelajar.

Memang tidak diketahui berapa rasio siswa muslim dengan nonmuslim yang terlibat dalam tawuran yang selama ini terjadi, namun Ketua MGMP PAI SMK DKI Jakarta dari hasil wawancara mengungkapkan, karena sebagian besar pelajar dari SMK yang  siswanya sering terlibat tawuran mayoritas beragama Islam, Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi menggunakan hipotesa bahwa pelaku tawuran mayoritas beragama Islam.

Peningkatan tawuran di Jakarta Pusat dan tidak adanya perubahan angka tawuran di Jakarta Utara dimungkinkan oleh kualitas mentoring yang menurun pada tahun 2004 di wilayah ini. Penurunan kualitas ini secara dominan disebabkan oleh kualitas mentor yang menurun. Hal ini diakui oleh Direktur Yayasan Iqro Club, Asep Iskandar, sebagai akibat dari keterbatasan SDM Yayasan Iqro Club untuk menyelenggarakan kegiatan pelatihan mentor agama Islam, hingga kemudian mentor di sekolah yang kualitas mentoring dinilai sudah baik, berasal dari beberapa siswa yang akhlaknya cukup Islami. Namun tentu saja kemampuan mentor dari siswa yang lebih senior tidak sama dengan mentor lulusan SMA/SMK, baik dari segi pemahaman materi maupun keterampilan memandu mentoring. Hal ini mengindikasikan bahwa proses mentoring yang mampu mengatasi tawuran pelajar bukanlah sekedar formalitas proses mentoring, apalagi pelaksanaan yang tidak teratur, melainkan sebuah proses mentoring yang berkualitas, yakni mentoring yang diselenggarakan dengan manajemen yang teratur, sesuai konsep yang telah tersusun rapi, mentor yang profesional, dan peran serta semua pihak. Kemungkinan yang lain adalah dari pengamatan Ketua MGMP PAI SMK DKI Jakarta yang mengatakan, ”Sekolah-sekolah yang akhir-akhir ini terlibat tewuran lebih banyak didominasi SMA-SMA yang memang belum menerapkan Dakwah Sistem Langsung (DSL) sebagai program wajib bagi siswanya dan SMK-SMK yang belum menerapkan program DSL.”

Dampak dari adanya program Dakwah Sistem Langsung (DSL)  ini ternyata tidak hanya dapat kita lihat dari penurunan jumlah kasus tawuran pelajar di Jakarta, tetapi juga penurunan jumlah pelaku yang terlibat dalam tawuran. Data terlampir digambarkan dalam Gambar 2 berikut ini:

Gambar 2 Jumlah pelaku yang terlibat tawuran (Sumber : Polda Metrojaya)

Dari Gambar 2, pada tahun 1999 terjadi peningkatan 189 orang pelaku.Dalam tahun 2000 jumlah pelaku tawuran mengalami penurunan sebesar 578 orang. Namun jika dikaitkan dengan jumlah kasus tawuran, terjadi peningkatan. Kondisi yang berlawanan ini bisa jadi disebabkan kurangnya kesigapan aparat. Pada tahun 2001, Dakwah Sistem Langsung (DSL)  mulai diformalkan, dan dapat dilihat jumlah pelaku tawuran menurun lebih drastis (sebesar 1002 orang) seiring dengan penurunan kasus tawuran. Trend penurunan ini terus mengalami mengalami perkembangan yang positif empat tahun terakhir sejak formalisasi program Dakwah Sistem Langsung (DSL). Dari tahun 2001 hingga 2004 jumlah pelaku tawuran pelajar selalu mengalami penurunan. Pada rentang tahun 2002 terjadi penurunan sebanyak tiga orang, yaitu dari 503 pada 2001 menjadi 500 orang, atau menurun sekitar 0,6%. Begitu juga di 2003, dari 500 pelaku pada 2002 turun menjadi 337 orang (menurun 32,6%). Dan dalam tahun 2004 terjadi penurunan lagi, dari 337 menjadi hanya 116 pelaku. Hal ini berarti pada tahun 2004 terjadi penurunan sebanyak 65,6% dibanding tahun sebelumnya.

Dapat dilihat dari data-data di atas bahwa Dakwah Sistem Langsung (DSL)  merupakan proses yang mampu melakukan pendidikan moral melalui pengamalan keagamaan secara efektif kepada pelajar, sehingga timbul kesadaran yang tinggi untuk menghindari tawuran tanpa adanya pengawasan pelajar, memiliki kemauan untuk menghindari tawuran. Namun perlu disadari bahwa penurunan tawuran pelajar SMA/SMK di DKI Jakarta bukanlah semata-mata peran tunggal Dakwah Sistem Langsung (DSL), melainkan juga hasil dari upaya sinergis dari berbagai  pihak, baik kalangan pendidikan, ulama, aparat penegak hukum, LSM, pemerintah daerah, dan segenap elemen masyarakat yang peduli terhadap pembinaan moral dan akhlak peserta didik.

                                                                                             Jakarta, 2 April 2017

 

Maraji’ :  Tim IMTAQ-MGMP PAI, Paradigma Baru Pemebelajaran PAI dengan Pendekatan DSL,Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi,Jakarta, 2004

 

Drs. H. Ahmad Sholeh Dimyathi, MF., MM. (biasa dipanggil Pak Kyai) lahir di Pati, Jawa Tengah, 17 Oktober 1954. Prestasi yang berhasil dicapainya meliputi pemenang utama Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 1997, guru teladan tingkat Jakarta Timur tahun 2000, pemenang II Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 2001 dan 2002, guru berprestasi dan berdedikasi luar bisa tingkat nasional tahun 2005, kepala sekolah berprestasi nasional tahun 2006, dan pengawas berprestasi terbaik 2 tingkat DKI Jakarta tahun 2014. Dalam kepangkatan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) berhasil meraih pangkat pembina utama dengan golongan IV E. Pangkat dan golongan ini bagi PNS yang berkarir dari seorang guru, merupakan prestasi yang sulit dicapai. Pada tahun 2004 ia meraih Satya Lencana Pendidikan Guru Berprestasi dan Berdedikasi dari Menteri Pendidikan Nasional. Saat ini menjadi Dewan Pembina Pengurus Pusat Agupena (Asosiasi Guru Penulis Indonesia).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

PAHLAWAN ZAMAN NOW

Oleh Fortin Sri Haryani Pahlawan diartikan sebagai seorang yang telah berjasa, memberikan
Go to Top