Demokrasi, Korupsi, Makhluk Halus, dan Politik Indonesia (Bagian II)

Rubrik Literasi Oleh

Demokrasi, Korupsi, Makhluk Halus, dan Politik Indonesia:
Kajian terhadap buku Democracy, Corruption and the Politics of Spirits in Contemporary Indonesia karya Nils Bubandt

Yanuardi Syukur
(Universitas Khairun, Ternate)

Fokus Kajian
Peneliti dalam buku ini berfokus menempatkan diri sebagai instrumen utama (the self) dan informan sebagai the others (Lassiter, 2005).Bubandt mengkaji tiga hal penting dalam buku ini, yaitu demokrasi, korupsi, dan politik dunia gaib pada masyarakat Indonesia kontemporer yang diwakili oleh dua wilayah: Jawa Timur dan Maluku Utara. Menurut Bubandt, tiga hal ini tidak bisa dilepaskan dalam politik Indonesia modern ini. Bahkan, demokrasi Indonesia dengan dunia gaib sangatlah dekat posisinya satu sama lain (p. 5). Sebagai peneliti dari dunia Barat yang berpendidikan di Denmark (Aarhus University, Denmark) dan Australia (The Australian National University, Canberrra) tentu saja memahami bahwa demokrasi merupakan sebuah pilihan rasional, tapi saya kira perubahan pemikiran ini dirasakan oleh Bubandt ketika ia mulai meneliti Indonesia selama lebih 20 tahun ini. Bahwa ternyata demokrasi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari dunia gaib.Kegaiban memainkan peranan dalam politik dan politik juga memainkan kegaiban untuk mencapai tujuan-tujuan politik.

 

 

 

Paling tidak, kajian tentang ketiga hal di atas tampaknya memang masih kurang atau jarang di Indonesia, apalagi dalam perspektif etnografi.Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa kajian Bubandt terhadap tiga hal tersebut menjadi pembuka bagi kajian-kajian selanjutnya terutama kajian-kajian kontemporer Indonesia yang sebenarnya termasuk hal sensitif untuk dikaji namun Bubandt dapat menuliskannya.Fokus Bubandt dalam mencari secara utuh ketiga hal tersebut membuatnya harus berpindah-pindah dari Jawa Timur ke Maluku Utara—dua wilayah yang sangat jarang dikaji secara komparatif atas kesamaan-kesamaan yang ada. Tapi memang, alasan Bubandt untuk meneliti kedua wilayah tersebut saya kira sangat rasional dengan pertimbangan bahwa Maluku Utara merupakan daerah basis Islam yang cenderung sufistik dan memiliki semacam paradigma tertentu tentang dunia yang unik dan memiliki kegaiban seperti mahkota sultan dan sakralitas dalam diri seorang sultan. Kemudian, Jawa Timur merupakan wilayah di Jawa yang merupakan basis Islam yang pada hal-hal tertentu masih belum meninggalkan mistisisme Jawa kendati telah memeluk Islam.Fokus Bubandt dalam buku ini menurut saya telah tepat karena mengkaji tiga hal yang sangat relevan yang menggerakkan perpolitik Indonesia kontemporer.

Cara Bubandt Mengaitkan Fokus Kajiannya dengan Teori
Clifford Geertz pernah menulis bahwa jika kamu ingin memahami ilmu pengetahuan maka hal pertama yang harus dilakukan bukanlah melihat teori, argumentasi, dan penemuan yang dihasilkan, akan tetapi harus melihat bagaimana peneliti melakukan penelitiannya tersebut. Kendati The Oxford English Dictionary mengatakan bahwa etnografi adalah “deskripsi saintifik tentang bangsa-bangsa” (scientific description of nations), akan tetapi para antropolog sendiri mendefinisikannya sebagai deskripsi tingkah laku dalam kebudayaan tertentu yang secara khas dihasilkan dari penelitian lapangan (Jacobson, 1991: 1).

Dalam buku ini, Bubandt mengkaji isu kaitan antara dunia politik, korupsi, dengan ilmu gaib yang jarang dibahas oleh peneliti sosial.Dalam bagian pendahuluan, Bubandt menerangkan sebuah pertanyaan penelitian yang sangat sentral, yaitu bagaimana politik dilihat dari perspektif dunia gaib? Kemudian, apakah dunia gaib dan dunia politik merupakan sesuatu yang sama dan berkoneksi satu sama lain? Dan pertanyaan ketiga soal apakah dunia gaib memberikan pemahaman baru dalam realitas politik kendati dunia gaib juga ditentang oleh masyarakat Indonesia?

Berdasarkan beberapa kajian pustaka dan dikaitkan dengan fenomena lapangan, Bubandt membuat state of the art penelitian ini sebagai berikut: adanya keterkaitan antara dunia gaib dengan dunia politik dalam masyarakat yang dalam hal ini tercermin dalam masyarakat Indonesia kontemporer. Dalam konteks ini, masyarakat modern (pengikut demokrasi) cenderung dipahami sebagai masyarakat yang tidak senang pada mistisisme, akan tetapi demokrasi Indonesia menunjukkan perbedaan. Dalam politik Amerika misalnya, demokrasi tidak begitu tampak dipengaruhi oleh dunia gaib karena anggapan bahwa rasionalitas cenderung lebih diutamakan ketimbang emosi dan dunia mistik.Demokrasi di Indonesia menunjukkan model demokrasi yang berbeda, yaitu demokrasi yang tidak melepaskan pengaruh gaib dalam segala sesuatunya. Hal pertama yang paling menarik menurut Bubandt adalah soal kritikan Sutan Bathoegana kepada Gus Dur dalam kasus Buloggate dan Bruneigate yang kemudian mendapatkan resistensi yang sangat kuat dari warga NU dan jika Sutan tidak meminta maaf, istighfar, dan berziarah, maka dia akan mendapatkan kesialan. Bahkan, urusan yang sebenarnya hanya satu orang Sutan kemudian mengharuskan Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum meminta maaf kepada warga NU dan pendukung Gus Dur.Hal ini tampak sangat menarik bagi Bubandt yang melihat bahwa orang yang sudah meninggal (artinya sudah gaib) ternyata masih memiliki kekuatan yang berpengaruh dalam perpolitikan orang yang masih hidup.Dengan kata lain, kasus Bathoegana tersebut dilihat oleh Bubandt sebagai foreshadowed problem yang kemudian diangkat menjadi research problem dalam penelitiannya.

Lantas, bagaimana cara Bubandt melihat debat teoritis antara dunia gaib, politik, dan korupsi tersebut? Dalam bagian pendahuluan (p. 7), pada sub-judul The enchantment of democracy, Bubandt membahas sebuah paradoks bahwa demokrasi di satu sisi cenderung lekat dengan sekularisasi, bahkan pada titik tertentu menjauhkan/atau menafikan religi dan ilmu gaib dalam menjelaskan fenomena kemanusiaan. Perkembangan dari sekularisasi di dunia barat yang melahirkan demokrasi—sebagai lanjutan dari “penemuan kembali” ide-ide Yunani Kuno ke dalam masyarakat barat dalam at least dua abad terakhir—telah membawa pemisahan yang sangat diametral antara agama (diwakili oleh gereja) dengan negara. Maka, sisi pertama yang menarik bagi Bubandt adalah bahwa demokrasi pada dasarnya sekularisasi sebagaimana tesis Weber “rasionalisasi dan sekularisasi berkaitan sangat erat”, akan tetapi ada kecenderungan kedua yang muncul dalam demokrasi Indonesia, yaitu pengaruh dunia gaib dalam dunia demokrasi sekuler.Akan tetapi, tidak bisa dimungkiri bahwa rasionalisasi Weber juga mengartikan bahwa ada konsep rasionalisasi agama yang diasosiasikan dengan Protestanisme yang sangat rasional bahkan menjadi pilar penting dalam pembentukan kapitalisme sebagaimana yang dieksplorasi oleh Weber (1930) dalam bukunya The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism.

Upaya untuk menafikan dunia gaib dalam politik juga terjadi dalam kajian ilmu politik dan filsafat abad ke-20.Akan tetapi, fakta yang berkembang ternyata demokrasi sekuler tersebut menjadi sesuatu yang sangat lunak dan bebas untuk ditafsirkan oleh masyarakat yang hendak mengadopsi demokrasi seperti Indonesia. Ada kecenderungan di Indonesia untuk mengadopsi ide-ide barat seperti demokrasi akan tetapi melewati berbagai proses “naturalisasi” dengan pemikiran orang Indonesia yang tidak terlepas dari ilmu gaib. Artinya, penerapan demokrasi di berbagai negara tidaklah sama satu dan lainnya karena sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor kultural yang sangat berbeda antara barat dan timur. Ya, kendati saat ini terkadang tidak begitu relevan memisahkan antara barat dan timur secara diametral karena masyarakat telah terhubungan satu dan lainnya akan tetapi kecenderungan umum memang masih ada perbedaan cara pandangan antara orang barat dan timur, atau dalam arti lain adalah perbedaan antara masyarakat yang cenderung rasional dan spiritual. Dalam pendahuluan bukunya (p. 7-9) Bubandt secara khusus membahas perdebatan teoritis soal hubungan antara demokrasi dengan alam gaib yang secara khusus dalam antropologi dapat dilihat dari kajian Comaroff (2000), Coronil (1997), Geschiere (2013), dan Meyer & Pels (2003) yang melihat adanya relasi antara modernitas dengan alam gaib (magic).

Perspektif Blasco & Wardle
Blasco & Wardle (2007), dalam tulisan mereka How to Read Ethnography, menulis bahwa etnografi tidak hanya menjelaskan data-data yang terkumpul (recollection), akan tetapi juga melakukan beberapa hal seperti refleksi (reflection), pengujian (examination), dan memberikan argumen atas pengalaman yang dialami oleh peneliti (p. 9). Semua data penelitian yang berupa bukti-bukti tersebut dalam konteks ilmu sosial menurut Charles Ragin (dalam Ten, 2004) perlu didialogkan dengan ide-ide dari peneliti dalam upaya untuk merespon satu pertanyaan yang diajukan dalam permulaan riset.

Ada empat isu utama dalam membaca etnografi menurut Blasco & Wardle, yaitu: perbandingan, konteks, pemaknaan, dan hubungan-hubungan sosial. Dalam perbandingan (comparison),keduanya mengatakan bahwa comparison dalam etnografi diperlukan untuk melihat perbedaan antara satu lokasi dengan lokasi lainnya.Selain itu, comparison berguna untuk membuat generalisasi yang diambil dari beberapa lokasi penelitian.Dalam membandingkan antara diri peneliti (the self) dengan masyarakat (the others), seorang peneliti haruslah memulai dengan memahami tentang the others dan kebudayaannya (p. 15). Dalam konteks karya etnografi Bubandt, ia membandingkan korelasi antara politik dan dunia gaib di Jawa Timur dan Maluku Utara. Alam pikiran orang Jawa yang miskin—yang direpresentasi oleh figur Kyai Muzakkin ditelusuri pemikiran dan aksinya—dalam pengamanan aksi demonstrasi anti-korupsi dalam tubuh negara yang menurutnya sedang sakit.Sebagai cultural broker (Geertz, 1960), seorang kyai di Jawa memiliki tanggungjawab untuk meluruskan moralitas tubuh fisik manusia dengan moralitas dalam tubuh politik sebuah bangsa.Di titik ini, aktor Kyai Muzakkin tersebut kemudian dikomparasikan dengan aktor lainnya di Maluku Utara seperti Sultan Ternate yang hendak menjadi Gubernur Maluku Utara, Pak Muhammad yang hendak menjadi anggota DPRD Maluku Utara, serta Hajjah Nur yang memiliki kepercayaan bahwa dirinya mendapatkan wangsit terkait harta karun yang dapat menopang kesejahteraan umat manusia. Masing-masing aktor ini memiliki kepercayaan yang sama pada adanya peranan unsur gaib dalam menyelesaikan masalah umat manusia (khususnya politik dan pemerintahan) dan juga berasal dari keturunan yang memiliki unsur gaib, kecuali Pak Muhammad yang dari orang biasa. Sementara itu, Bubandt membandingkan aktor-aktor tersebut mengambilan peran yang berbeda-beda terkait dengan kepercayaan mereka akan dunia gaib, seperti: Kyai Muzakkin (berfokus pada bantuan jin pada demonstrasi), Sultan Ternate (keinginan menjadi Gubernur karena mendapatkan tanggungjawab spiritual dari para rumah nenek-moyang), Pak Muhammad (keinginan menjadi anggota legislatif yang kemudian wafat karena pengaruh dunia gaib), dan Hajjah Nur (“nabi” yang menyiapkan kedatangan Ratu Adil Sultan Jailolo).

Pada bagian kedua, terkait konteks, buku Bubandt menjelaskan tentang variasi-variasi teks yang ada dalam konteks Jawa Timur dan Maluku Utara dalam konteks situasi, sikap, pernyataan, dan respons terhadap fenomena yang terjadi (Blasco & Wadle, 2007: 37). Persepsi kedua masyarakat tersebut terhadap dunia bertemu pada titik yang sama yaitu kepercayaan akan korelasi antara politik dan dunia gaib dan dunia gaib perlu masuk ke dalam politik. Konteks Kyai Muzakkin lebih banyak terkait dengan politik nasional di Jakarta, sedangkan Sultan Ternate lebih banyak terkait politik lokal Maluku Utara.Sebagai salah satu kesultanan tertua di Indonesia, Ternate memiliki berbagai mitos seperti 7 bidadari yang turun ke bumi dan salah satunya menikah dengan orang Ternate dan menjadi istri Sultan Ternate—akan tetapi tidak disinggung folklor ini oleh Bubandt. Jika dilihat dari kultur, orang Jawa sebagai masyarakat agraris cenderung tertutup yang olehnya itu dunia sihir lebih dominan di Jawa ketimbang di Ternate yang maritim dan terbuka. Asumsi ini terlihat jelas misalnya dari kajian tentang sihir yang sangat massif di Jawa ketimbang sihir di Ternate (atau sekitarnya) yang tidak banyak dan tidak terbuka.

Selanjutnya, dalam etnografi ada data yang implisit (terlihat langsung), ada juga yang eksplisit (tidak terlihat kasat mata) yang membutuhkan interpretasi untuk mendapatkan makna-makna (meanings).Variasi-variasi data yang ada menjadi sangat penting dalam perbandingan.Dalam menangkap data lapangan, seorang etnografer perlu menangkap variasi berbagai elemen seperti situasi, kebiasaan, pernyataan, dan respons the others terhadap konteks yang terjadi di masyarakat dalam bentuk-bentuk yang menurut Blasco & Wardle, a highly abstrak way (p. 57). Abstraksi terhadap fenomena yang ada sangatlah penting secara metodologis dalam hal meningkatkan abstraksi dari yang rendah (lowest) ke tinggi (highest) atau dari sekedar fakta atau alam nyata empiris menjadi konsep, proposisi, teori menengah, dan diharapkan kelak mendapatkan novelty untuk menjadi teori umum (Pelto & Pelto, 1984: 3). Dalam penelitian seorang etnografer dapat menangkap hal-hal yang unik atau diversitas yang ada seperti intonasi suara, gesture (gerak tubuh), yang sangat berkaitan dengan konteks kejadian tertentu (Blasco & Wardle, 2007: 37). Dalam buku Bubandt, ia berhasil mencapai abstraksi terhadap fakta-fakta lapangan terkait dunia gaib dan politik kemudian diperdebatkan dalam ranah perdebatan akademik tentang hal itu. Selanjutnya, Bubandt menafsirkan makna dari berbagai abstraksi tersebut bahwa dunia gaib dan dunia politik di Indonesia memiliki keterkaitan satu sama lain (Bubandt, 2014: 128).

Blasco & Wardle juga membahas tentang interpretasi dan eksplanasi.Data yang dimiliki oleh peneliti diinterpretasi dengan menghubungkan dengan data-data lainnya.Selain itu, peneliti juga memikirkan kembali (eksplanasi) untuk mendapatkan makna-makna yang mendasari sikap dan kebiasaan sebuah komunitas.Memang tidak dapat dimungkiri bahwa sejak awal, peneliti membawa ‘cultural baggage’ ketika melihat objek penelitiannya.Itu kecenderungan awal pada tiap peneliti.Pendirian awal tersebut adalah sangat wajar dalam pendekatan etik.Untuk mendapatkan data yang lebih holistik maka peneliti tetap membutuhkan perspektif emik yang berasal dari komunitas tersebut.Ketika menjelaskan hasil penelitiannya, seorang etnografer juga membutuhkan metafora. Anna L. Tsing misalnya, menulis buku Di Bawah Bayang-Bayang Ratu Intan sebagai sebuah metafora kebudayaan di kalangan orang Dayak Meratus di Kalimantan yang metafora tersebut dapat menjelaskan secara keseluruhan konteks marjinalisasi yang terjadi sana. Dalam meneliti, seorang antropolog harus bisa menangkap metafora yang ada dalam objek penelitiannya. Metafora itu dapat berupa representasi, konsep apa yang merepresentasikan sebuah masyarakat dengan memasukkan logika relasi (relational logic) antara metafora tersebut dengan kebudayaan masyarakat tersebut.

Dalam buku Bubandt, hubungan-hubungan relational masyarakat juga dikaji, yaitu misalnya dalam pembahasan terkait Kyai Muzakkin di internet yang mendapatkan kritikan dari para blogger. Peristiwa pengiriman jin tersebut dikritik oleh para blogger sebagai sesuatu yang memalukan di zaman demokrasi yang tercermin dari beberapa komentar yang ditujukan kepada Kyai Muzakkin seperti, “bikin malu bangsa”, “sinting”, dan “konyol” (Bubandt, 2014: 48). Dalam konteks ini, publik internet memiliki hak untuk menilai bahkan pada titik tertentu “menghukum” sosok Kyai Muzakkin dalam berbagai komentarnya. Akan tetapi, Muzakkin tetap berkeyakinan bahwa ia memiliki tanggungjawab atas ketidaksempurnaan modernitas Indonesia dengan caranya yang mistis (Bubandt, 2014: 49). Untuk Maluku Utara, kita bisa mengambil contoh hubungan sosial yang terjalin lewat respons Menteri Dalam Negeri Kesultanan Ternate bernama Hamid yang mengatakan bahwa Hajjah Nur yang mengaku sebagai nabi adalah “omong kosong”, bahkan dianggap “orang gila” karena memberikan klaim yang memalukan (Bubandt, 2014: 107). Pada titik ini, Bubandt sesungguhnya hendak “menghidupkan” hubungan sosial antara para aktor dalam etnografi ini agar mereka tidak berdiri sendiri-sendiri akan tetapi terlibat saling merespon satu sama lain. Dalam perspektif multi-sitedethnography, hal ini merupakan salah satu bagian dari kekuatan etnografinya karena dapat melihat bagaimana sebuah isu tertentu mengalir, saling berkoneksi, berasosiasi, dan bagaimana diproduksi oleh para aktor yang ada sehingga menjadi kultur atau kepercayaan tertentu. (Bersambung)

Tags:

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top