Demokrasi, Korupsi, Makhluk Halus, dan Politik Indonesia (Bagian III-Habis)

Rubrik Literasi Oleh

Manfaat Buku
Sebagai mahasiswa yang berencana meneliti tentang ilmu gaib, agama, dan kekuasaan di Kesultanan Ternate, saya merasakan manfaat setelah membaca buku ini sebagai berikut.Pertama, dengan menggunakan multi-sited ethnography, Bubandt telah berhasil mengabstraksikan fenomena yang biasa saja kelihatannya menjadi sebuah konsep akademik yang layak untuk dikaji bahkan diperdebatkan. Selama kurang lebih dua tahun ia melakukan  observasi-partisipasi, bertemu dengan beberapa tokoh kunci seperti Kyai Muzakkin, Sultan Ternate, Pak Muhammad, dan Hajjah Nur untuk menggali lebih dalam informasi dari informan yang dipilih secara sengaja tersebut. Sepengetahuan penulis, Bubandt termasuk peneliti yang aktif mengikuti berbagai acara budaya yang ada di Maluku Utara untuk lebih immersion dengan masyarakat tempatan.

Selain itu, Bubandt juga telah diuntungkan dengan riset sebelumnya terkait suanggi (setan) di Maluku Utara yang berfokus pada kajian di Halmahera Timur. Pengalamannya dalam menyelesaikan PhD di ANU tersebut selama beberapa tahun tentu saja memudahkan ia dalam membangun raport, observasi-partisipasi, dan immersionyang sangat penting memahami makna penting dalam masyarakat (Emerson, Fret, dan Shaw: 1995: 2). Artinya, dari segi bahasa sebagai kunci untuk tidak asing dengan kebudayaan lokal (Newman, 1965: 5) paling tidak telah dikuasai oleh Bubandt sebelum penelitian ini. Maluku Utara sebagai wilayah yang sejak abad ke-16 telah disinggahi oleh berbagai orang asing seperti bangsa Portugis dan Spanyol hingga Belanda, dan Jepang, pada masa sekarang menjadi terbuka ketika berhadapan dengan orang asing. Hal ini tentu saja memudahkan Bubandt dalam menunaikan risetnya hingga selesai. Namun, memang dalam buku ini ia tidak menjelaskan apa saja pertanyaan penelitiannya kepada pembaca dan hal-hal apa saja yang tidak dijawab oleh para informan. Kecuali terhadap Hajjah Nur yang ia rahasiakan nama aslinya, informan kunci lainnya dijelaskan oleh Bubandt secara terbuka.

Kemudian dari segi referensi, buku ini kaya dengan referensi teoritis dan praktis dari penelitian para akademisi di dalam dan luar negeri.Akan tetapi, memang tidak banyak rujukan yang diangkat oleh Bubandt yang berasal dari karya orang Ternate sendiri tentang budaya mereka. Misalnya, beberapa tulisan karya Sultan Ternate Mudaffar Sjah tidak ia hadirkan dalam referensi, padahal kedekatannya dengan Sultan tentu saja sangat baik untuk mendapatkan data berbentuk tulisan. Kemudian, referensi lainnya yang dimiliki Kesultanan Ternate seperti Buku Tembaga, atau buku-buku karangan Abdul Hamid Hassan, Jusuf Abdulrahman, Adnan Amal, Gufran Ali Ibrahim, dan para akademisi lokal di Universitas Khairun, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, STAIN Ternate cukup relevan untuk melihat kaitan antara dunia gaib dan politik di Kesultanan Ternate. “Kekurangan” ini menjadi sesuatu yang cukup mengganggu dalam referensi karena peneliti lokal juga memiliki kecakapan tertentu dalam melihat budaya yang ada di masyarakatnya.Akan tetapi, kekurangan tersebut diatasi oleh Bubandt dengan adanya wawancara langsung bersama beberapa tokoh kunci tersebut.

Secara umum, menurut saya buku ini telah turut membuka kajian baru terkait kaitan dunia gaib dan politik di Indonesia, sekaligus menjadi kajian etnografi berbasis multi-sited ethnography yang menarik. Bagi masyarakat umum, buku ini akan memperkaya pandangan mereka terkait perubahan sosial politik yang terjadi di Indonesia. Sedangkan bagi akademisi khusus antropolog, buku ini menjadi “gerbang” yang dapat membuka kajian dengan setting serta lokasi yang tidak harus berada dalam satu tempat tertentu dalam waktu lama. Perubahan sosial politik yang relatif cepat menuntut untuk para peneliti menggunakan perspektif multi-sited agar dapat melihat global system dari perpektif lokalitas yang saling berinteraksi, mempengaruhi dan memproduksi berbagai gagasan yang baru yang gagasan tersebut turut dipengaruhi dan dapat mempengaruhi global system.

Selain itu, saya juga merasa tertarik dengan cerita terkait Soekarno dan Sultan Jailolo ini hendak menyatakan bahwa Soekarno adalah keturunan langsung dari Mohammad Arif Bila yang berasal dari Maluku Utara.Dari cerita Hajjah Nur di atas juga menjadi legitimasi bagi terpilihnya Abdullah Harianto sebagai Sultan Jailolo yang sebenarnya pada 2001.Kaitan antara Jailolo dan Soekarno juga terlihat dari keturunan Soekarno (Megawati) yang menjadi presiden sebagai kebangkitan kedua bagi Sultan Jailolo (p. 118). Sinkronisasi antara naiknya Megawati (keturunan Soekarno) secara demokratis sebagai Presiden RI dan restorasi Kesultanan Jailolo menurut Bubandt dapat dilihat sebagai pergeseran demokrasi yang hadir sebagai “takdir” yang digerakkan dari dunia gaib (p. 119). Apa yang dilakukan oleh Hajjah Nur (dan juga oleh Sultan Ternate sebagaimana disinggung di atas) adalah bagian dari tugas suci (divine duty) dari perjuangan untuk mengembalikan tradisi dan memasukkan posisi ruh nenek moyang ke dalam politik dalam rangka menciptakan dunia politik yang benar-benar demokratis (p. 123). Beberapa fakta ini membuktikan bahwa demokrasi tidak hanya dianggap sebagai koneksi antara fakta dan logika dan memisahkan secara diametral dengan kepercayaan dan keyakinan. Keyakinan pada demokrasi dan “Ratu Adil” dalam perspektif “kenabian” Hajjah Nur merefleksikan bahwa logika tata-kelola pemerintahan juga diliputi oleh kepercayaan, keyakinan, dan prediksi-prediksi (p. 124). Kegagalan nubuat yang terkait dengan kembalinya Sultan Jailolo yang hilang menurut Bubandt adalah sebentuk kegagalan dari demokrasi Indonesia.Adapun identifikasi Sultan yang telah lama hilang dengan spirit Soekarno adalah digerakkan oleh “nostalgia millinerian” (a millenarian nostalgia) terhadap demokrasi baik dalam skala lokal maupun nasional. Dalam skala lokal, cerita kembalinya Sultan Jailolo tersebut merupakan sebentuk janji terhadap kembalinya demokrasi berbasis kekuatan spiritual (barakat) di Maluku Utara yang dalam sejarahnya telah dirampas oleh Kolonialisme Eropa di abad ke-16 dan kaum Nasionalis Indonesia di awal abad ke-20 (p. 125).

Dalam buku ini, Nils Bubandt menyajikan sebuah narasi etnografi terhadap paradoks politik yang dikaitkan dengan korupsi dan dunia gaib dalam masyarakat Indonesia kontemporer.Dunia gaib menjadi sesuatu yang sangat penting dalam penelitian etnografi karena dapat membantu dalam membaca kesuksesan dan kegagalan berdemokrasi di Asia Tenggara. Dalam konteks antropologi, kajian-kajian antropologi politik menurut Bubandt seharusnya mengkaji dunia gaib secara serius sebagai aktor-aktor politik (political actors) karena dunia politik dan dunia gaib merupakan terjalin erat satu sama lain. Dunia gaib juga telah “dilepas” (atau hadir) dalam berbagai demonstrasi, pemilihan, proses administrasi dalam desentralisasi pemerintahan, dalam media, LSM anti-korupsi, dan imajinasi tentang sejarah nasional, mending presiden, dan masa depan politik (p. 128).

Saya juga merasa tertarik dengan kajian korupsi yang melanda Indonesia terlihat semakin massif lewat beberapa kasus besar seperti Bank Century yang kabarnya berkontribusi pada dana kampanye Susilo Bambang Yudhoyono. Konflik yang terjadi di internal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menjadi masalah tersendiri dalam perang terhadap korupsi.Kasus “Cicak versus Buaya” (antara Susno Duadji dan pimpinan KPK) menjadi perdebatan panas di berbagai media.Akhirnya, korupsi tersebut mengakibatkan krisis legitimasi di tubuh pemerintahan.Mimpi untuk mewujudkan pemerintahan yang transparan dan terbuka menjadi perdebatan tentang rekayasa, “kegelapan”, dan situasi ketertutupan dalam politik.Demonstrasi mahasiswa pun dianggap telah ditunggangi oleh penumpang gelap (free-riders) yang membajak demonstrasi dan mengakibatkan terjadinya konfrontasi antara mahasiswa dan aparat keamanan.Pada titik ini, kata Bubandt, teori konspirasi pun melanda dan sangat sering menutupi konspirasi yang sebenarnya.Dalam situasi seperti itu, Kyai Muzakkin pun hadir untuk berkontribusi dalam perjuangan anti-korupsi lewat bantuan dunia gaib.

Dalam kasus ini, Bubandt melihat bahwa secara etnografis penelitiannya telah memperluas paradox bahwa korupsi telah menjadi alat yang buruk sekali (awkward means) dalam reproduksi demokratik di Indonesia (p. 40).Demokrasi yang tanpa imunitas di Indonesia haruslah diberantas karena menjadikan korupsi seperti hantu. Korupsi dapat dilihat sebagai fakta “setan seutuhnya” (total evil fact) yang menegasikan masalah sosial, publik, dan kebaikan seperti hukum, hak, market, kehidupan, dan demokrasi. Dalam arti lain, korupsi adalah anti-spirit dari momentum kontemporer yang diibaratkan seperti hantu dalam mesin demokrasi (a ghost in the democracy machine). Dalam konteks ini, apa yang dilakukan oleh Kyai Muzakkin dengan mengirimkan seribu jin dalam demonstrasi adalah bagian dari memperlihatkan dunia jin dalam dunia nyata.

Dalam menjelaskan etnografinya, Bubandt menganjurkan untuk menggunakan etnografi demokrasi dengan caramulti-sited sebagiamana Marcus pada 1998. Kebutuhan untuk mempelajari demokrasi pada beberapa domain dan tempat—geografis, sosial, dan imajinasi—dimana demokrasi tersebut dipikirkan, dipraktikkan, dan diinstitusionalisasikan walaupun tidak terlihat seperti bentuk demokrasi ideal dan sesuai definisi konvensional.Untuk itu, maka mengikuti demokrasi dalam dunia gaib merupakan sebuah keniscayaan karena demokrasi pada faktanya berkeliaran dalam dunia gaib dan dunia gaib juga berkeliaran dalam dunia demokrasi (p. 129).

Daftar Pustaka:

Blasco, Gay Y & Wardle, H
2007    How to Read Ethnography. London & New York: Routledge

Bubandt, Nils
2014    Democracy, Corruption and the Politics of Spirits in Contemporary Indonesia. New York: Routledge

Gille, Z & R, Riain
2002    “Global Ethnography’, Annual Review of Sociology

Jacobson, David
1991    Reading Ethnography. New York: State University of New York

Lassiter, L.E
2005    “Collaborative Ethnography and Public Anthropology”, Current Anthropology

Marcus, G.E
1995    Ethnography in/of the World System: The Emergence of Multi-sited Ethnography. Annual Review of Anthropology

Newman, Philip L.
1965    Knowing The Gururumba. New York: Holt, Rinehart and Winston

Emerson, Robert M, Fret, Rachel L, & Shaw Linda L.
1995    Writing Ethnographic Fieldnotes. Chicago & London: The University of Chicago Press

*) Tulisan dibawakan pada Bedah Buku “Demokrasi, Korupsi, dan Makhluk Halus dalam Politik Indonesia” yang diadakan oleh Pusat Kajian Antropologi (Puska) FISIP UI, di Auditorium Komunikasi FISIP UI, Senin 3 April 2017.

Tags:

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top