Mempersiapkan Jurnal agar Terakreditasi

Rubrik Literasi Oleh

Hal-hal yang Harus Dipersiapkan Pengelola Jurnal agar Dapat Terakreditasi
Oleh: Dini Safitri
(Dosen D-III Hubungan Masyarakat UNJ, Agupena DKI)

APJIKI (Asosiasi Penerbit Jurnal Komunikasi Indonesia) beberapa waktu yang lalu bekerjasama dengan FIKOM UP mengadakan workshop pendampingan jurnal akreditasi. Hadir sebagai narasumber adalah Dr. Lukman dari PDII LIPI. Berikut adalah paparan materi dari Lukman mengenai hal apa saja yang perlu dipersiapkan pada pengelola jurnal untuk dapat terakreditasi.

Pada awalnya, tema workshop adalah pendampingan OJS (Open Journal System). Namun Lukman menegaskan bahwa OJS hanyalah salah satu sistem agar jurnal dapat online dan diakses oleh banyak orang dari seluruh penjuru dunia. Yang terpenting agar jurnal dapat terakreditasi, dimulai dari manajemen penerbitan jurnal elektronik.

Menurut Lukman, adanya Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 tentang pemberian tunjangan profesi dosen dan tunjangan kehormatan profesor menjadi shock theraphy bagi para dosen untuk menulis di jurnal terakreditasi. Namun persoalannya, untuk jurnal komunikasi, baru ada 4 buah jurnal yang terakreditasi. Untuk itu Lukman memberikan sejumlah hal yang harus dipersiapkan pengelola jurnal komunikasi agar jurnal yang dikelolanya dapat terakreditasi.

Pertama ia mengatakan bahwa, jurnal yang mengajukan akreditasi akan di verifikasi oleh empat orang asesor. Dua asesor akan memeriksa manajemen penerbitan jurnal elektorik dan dua asesor lainnya akan memeriksa konten. Untuk dapat lolos dari pemeriksaan asesor, disarankan agar pengelola jurnal terlebih dahulu mengisi form evaluasi diri secara jujur. Selain itu, mereka juga sebelumnya dapat mengajukan bantuan tata kelola jurnal elektronik dengan menempuh dua tahap pengajuan. Pertama, mendaftarkan jurnal dengan mengisi borang secara online ke situs Arjuna (arkreditasi jurnal elektronik). Kedua, mengisi formulir pendaftaran online ke alamat simlitabmas.ristekdikti.go.id. Namun jauh lebih penting dari semuanya, untuk dapat terbit secara elektorik, maka jurnal harus memiliki nomor e- ISSN.

Workshop dimulai dengan mengisi evaluasi diri secara jujur.  Ada 8 hal yang dinilai dalam evaluasi diri. Pertama, Penamaan terbitan berkala ilmiah. Untuk penamaan dijelaskan di halaman home mengenai cakupan jurnal. Kedua, Kelembagaan penerbit. Masih pada halaman home dijelaskan mengenai organisasi yang menerbitkan jurnal. Sebaiknya mengandeng organisasi profesi bila di terbitkan oleh perguruan tinggi. Ketiga, Penyuntingan dan Manajemen Pengelolaan Terbitan. Untuk profil mitra bebestari, disarankan bila di klik akan terhubung ke link google scolar atau pun scopus ID. Dan untuk manajemen pengelolaan terbitan, juga ada menu yang akan menghubungkan kepada proses review setiap artikel. Keempat, subtansi artikel.

Kelima, Gaya Penulisan. Untuk panduan penulisan, disarankan untuk memuat template halaman yang sama dengan panduan. Bila lima halaman, maka template panduan juga lima halaman. Begitu pula dengan ukuran huruf dan margin. Hal ini untuk memudahkan penulis untuk menulis pada kolom template dan editor tidak perlu mengedit untuk keseragaman. Keenam, Penampilan. Penting menjaga isi artikel yang konsisten. Ketujuh, keberkalaan. Bila terjadi perubahan, penting untuk menuliskannya di bagian home. Kedelapan, penyebarluasan. Untuk penyebarluasaan, penting untuk memiliki link cititasi ke lembaga pengindeks nasional dan internasional. Terlebih lagi, memiliki link kepada lembaga pengindeks nasional menjadi syarat terakreditasi. Lembaga pengindeks nasional yang menjadi syarat diantaranya adalah Indonesian Scientific Journal Database (ISJD), Portal Garuda, Pustaka Iptek dan/atau yang setara. Selain link, setiap artikel harus memiliki DOI.

Lukman juga mengingatkan untuk menyediakan menu mengenai publication ethics yang ditujukan untuk penulis, editor dan reviewer. Hal tersebut penting, karena terdapat pebagian tugas dan wewenang masing-masing, terutama antara editor dan reviewer. Menurut Lukman, tugas editor ada empat. Pertama, memeriksa naskah apakah sesuai dengan ruang linkup jurnal. kedua, memeriksa naskah, apakah suda sesuai dengan gaya selikung jurnal. Ketiga, memeriksa bahwa naskah yang dikirim tidak plagiat. Dan terakhir menjadi wasit antara penulis dan single blind reviewer. Sedangkan reviewer hanya bertugas mengoreksi konten artikel. Hal lainnya yang perlu dipelajari pengelola adalah cara membuat referensi yang benar. Saat ini sudah banyak software referensi yang bisa dipakai. Lukman merekomendasikan untuk memakai Mendeley.

Nah bagi Anda pengelola jurnal yang sudah terbit, paling sedikit 2 tahun berurutan, dengan frekuensi penerbitan berkala ilmiah paling sedikit 2 kali dalam satu tahun secara teratur, serta berisikan sekurang‐kurangnya 5 artikel setiap kali terbit, dapat mengajukan akreditasi jurnal ke alamat arjuna.ristekdikti.go. id, pada akhir bulan Maret dan Agustus. Syarat pertamanya miliki akun pada portal Arjuna, daftarkan jurnal Anda, dan usulkan jurnal Anda untuk diakreditasi. ***

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*