Antara Harben, Anis, dan Amsal

Rubrik Sastra Oleh

Oleh: Dini Safitri
(Dosen D-III Hubungan Masyarakat UNJ, Agupena DKI)

Kisah ini, dikisahkan oleh seorang Ustadzah pada saat sholat tarawih di Kampung saya, di Pariaman, Sumatera Barat. Saya ingin berbaginya kepada Anda semua.

Al Kisah, pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang saudagar yang kaya raya.

Saudagar kaya raya ini, punya Harben yang banyak dan Anis yang cantik. Namun sayang, Amsal dianaktirikan olehnya.

Ia sangat sayang kepada Harben dan Anis. Apa pun kehendak mereka, diberikan. Sementara Amsal dinomor akhirkan. Bila Harben dan Anis sudah dipenuhi keinginannya, barulah Amsal di berikan pula.

Sayangnya, Bila Harben dan Anis diajak jalan-jalan, Amsal dilupakan. Tapi Amsal tidak pernah mengeluh.

Padahal, bila di lihat dari keinginannya, amsal cuma punya satu keinginan. Amsal ingin, saudagar kaya raya beribadah yang rajin kepada Allah. Sementara Harben dan Anis, keginginannya amat banyak dan tidak pernah puas.

Suatu hari, tibalah masanya saudagar kaya raya menghadap sang Penguasa.

Saat Ia sakaratul maut. Harben yang pertama kali minta izin kepada saudagar kaya raya, ” Wahai tuan ku, saya minta permisi sekarang. Sudah habis masa saya bersama tuan. Kini, saya akan mempunyai tuan baru, yang lebih kuat, muda dan gagah”.

Saudagar berkata, “Teganya dikau Harben. Padahal, kau yang ku nomor satukan. Aku rela waktu tidur ku berkurang. Demi engkau harben. Aku rela masa muda ku, lewat begitu saja. Demi engkau harben. Aku curahkan tenaga dan pikiran ku. Hanya untuk mu Harben”.

Harben menjawab, ” Itu urusan mu sendiri Tuan. Kini, saya permisi”.

Betapa kecewanya hari saudagar kaya raya.

Kemudian, tibalah saudagar di pintu kubur. Saat ia hendak melangkah masuk, Anis pun pamit kepadanya, ” Wahai kakanda, sampai di sini, Anis menemani Kakanda”.

Saudagar berkata, ” Mengapa demikian Anis? Bukankah dulu, engkau telah berjanji. Kemana pun aku pergi, kau ikut pergi. Kini, kau pamit dan pergi meninggalkan aku sendiri. Masuk ke dalam tempat yang gelap itu”.

Anis menjawab, ” Itu kan dulu. Lagi pula, saya sudah lupa akan hal itu”. Lalu, anis pun pergi.

Tinggal lah saudagar seorang diri. Dia benar-benar kecewa. Tiba-tiba, Ia teringat akan Amsal. Tak lama kemudian, datanglah Amsal kepada saudagar kaya raya.

Saudagar kaya raya berkata dengan mengiba, “Amsal, apakah kau datang untuk sama seperti yang lain. Akan meninggalkan aku pula, seperi Harben dan Anis?”

Amsal pun menjawab, ” Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu, seperti Harben dan Anis. Aku akan ikut dengan mu. Tapi aku tidak bisa menolong mu, karena semasa kau hidup, kau tidak memperhatikan aku. Kau, sering tidak mempedulikan aku. Kini, rasalan olehmu ketetapan dari Tuhan mu.

Saudagar pun tertunduk malu. Ia sangat menyesali perbuatannya kepada Amsal. Amsal yang setia, yang tidak menuntut banyak darinya. Sayangnya, ia tidak terlalu pedulikan. Kini ia, akan masuk ke dalam kubur, dengan siksa yang telah menanti.

Semoga kisah di atas, dapat menjadi bahan renungan untuk kita. Selagi kita masih hidup, turutilah keinginan Amsal. Jangan seperti saudagar kaya raya dalam kisah di atas. Ia telah menganak tirikan amsal. Padahal, hanya Amsal yang setia menemani Saudagar kaya raya masuk, sampai liang kubur.

Amsal adalah amal sholeh kita. Harben adalah harta benda kita. Dan Anis adalah Anak istri kita. Dan Saudagar kaya raya, bisa jadi cerminan dari diri kita sendiri. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*