Mengendalikan Naluri Agresivitas melalui Sastra

Rubrik Esai/Sastra Oleh

Oleh: Sawali Tuhusetya
(Bidang Pengembangan Profesi Agupena)

Sawali Tuhusetya

Tewasnya Kresna Wahyu Nurachmad, siswa SMA Taruna Nusantara Magelang, Jawa Tengah, pada Sabtu, 1 April 2017, yang lalu, yang diduga dibunuh oleh temannya sendiri, makin memperpanjang daftar kekerasan berujung maut yang menyelimuti dunia pendidikan kita. Entah sudah berapa nyawa remaja pelajar kita melayang sia-sia akibat naluri agresivitas yang (nyaris) tak terkendali. Mereka yang seharusnya getol menimba ilmu, justru tenggelam dalam memanjakan naluri purbanya.

Kematian tragis sebagaimana yang dialami Kresna Wahyu Nurachmad bisa jadi merupakan akibat gagalnya para remaja pelajar kita dalam mengendalikan naluri agresivitas yang tengah bergolak dalam dirinya. Mereka yang seharusnya akrab dan kuyup dalam tradisi dan budaya akademis untuk mengembangkan potensi kecerdasan justru saling pamer kekuatan otot. Entah, apa yang akan terjadi dengan masa depan negeri ini kalau mereka yang didambakan menjadi calon-calon pemimpin masa depan justru lebih akrab dengan panggung teror dan kekerasan ketimbang mimbar akademik.

Kita sangat menyesalkan mengapa peristiwa tragis semacam itu kembali terjadi dan gagal dicegah. Sudah sedemikian rapuhkah kekuatan kontrol seluruh elemen bangsa ini sehingga terkesan melakukan pembiaran terhadap praktik-praktik vulgar ala masyarakat Kanibal yang tak berperadaban semacam itu terus terjadi? Sudah bangkrutkah moral dan nurani bangsa ini sehingga kehilangan ruang kearifan dan keluhuran budi untuk mewujudkan pranata hidup yang lebih terhormat dan bermartabat?

Tiba-tiba saja, saya teringat pernyataan Danarto beberapa tahun yang silam ketika ditanya wartawan terhadap maraknya tawuran antarpelajar. Menurut sastrawan kelahiran Sragen (Jawa Tengah), 27 Juni 1940 ini, merajalelanya kasus tawuran antarpelajar bisa jadi lantaran mereka tak pernah membaca karya sastra. Di sekolah, mereka cenderung dijejali hafalan dan teori yang menjenuhkan. Akibatnya, kristalisasi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam karya sastra gagal menjadi asupan gizi rohaniah yang mencerahkan.

Berlebihankah pernyataan Danarto? Saya pikir tidak. Sebuah karya sastra yang baik memantulkan dimensi kemanusiaan yang mampu merangsang pembacanya untuk menjadi manusia yang responsif, berbudaya, dan luhur budi. Semakin banyak membaca karya sastra, pembaca akan menemukan pengalaman-pengalaman baru dan unik sebagai “nutrisi” dan gizi batin yang mampu memperkaya khazanah rohaniah pembacanya. Di dalam teks sastra terkandung ranah kemanusiaan dengan segala problematika kehidupan yang begitu majemuk. Berbagai masalah hidup yang terepresentasikan dalam teks sastra mampu menumbuhkan kepekaan nurani pembaca sehingga –disadari atau tidak– ia (pembaca) memiliki ruang kearifan dalam gendang nuraninya untuk bisa membedakan mana nilai kehidupan yang baik dan yang buruk. Seseorang yang telah memiliki tradisi membaca karya sastra yang baik akan mampu mengendalikan naluri agresivitas yang bergolak dalam dirinya.

“Dulce et Utile”
Pada mulanya, karya sastra memang untuk dinikmati keindahannya, bukan untuk dipahami. Akan tetapi, mengingat bahwa karya sastra juga merupakan sebuah produk budaya, maka persoalannya menjadi lain. Karya sastra berkembang sesuai dengan proses kearifan zaman sehingga lama-kelamaan sastra pun berkembang fungsinya. Yang semula hanya sekadar menghibur, pada tahapan proses berikutnya karya sastra juga mampu memberikan sesuatu yang berguna bagi pembaca. Hal ini relevan dengan idiom sastra “Dulce et Utile” (menyenangkan dan berguna). Karya sastra yang hanya sekadar “memuja” keindahan, tanpa ada upaya untuk memproyeksikan nilai-nilai moral dan kemanusiaan di dalamnya, hanya akan berada di puncak menara gading keindahan yang kurang membumi.

Ia (baca: karya sastra) tak akan banyak memberikan manfaat bagi pembaca yang rindu akan nilai-nilai kearifan dan keluhuran budi. Sebaliknya, karya sastra yang sarat dengan pepatah-petitih sosial tanpa diimbangi dengan kuyupnya nilai-nilai estetika, tak ubahnya seperti tumpukan famlet yang vulgar dan cerewet. Karya sastra bukan khotbah yang bersifat dogmatis. Karya sastra juga bukan teks orasi seperti yang biasa dilontarkan oleh para demonstran dengan berbusa-busa dan sarat dengan yel-yel atau karya reportase para jurnalis yang sering menghiasi headline surat kabar. Karya sastra sejatinya merupakan kristalisasi nilai-nilai kehidupan yang dengan amat sadar diendapkan oleh sang sastrawan berdasarkan kepekaan intuitifnya yang kemudian diekspresikan dengan menggunakan medium bahasa yang amat menyentuh, subtil, dan indah.

Itulah sebabnya, karya sastra yang baik tak pernah kehilangan daya tarik dan daya pesona untuk dibaca berulang-ulang. Karya sastra senantiasa menjadi “mata zaman” yang akan terus hidup dalam mewartakan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Karya sastra memang tidak langsung sekaligus memberikan perubahan-perubahan. Akan tetapi, ia terus merangsang kepekaan nurani dan menjadi “prasasti” peradaban; tempat memahatkan nilai-nilai moral dan budi pekerti ke dalam khazanah batin pembacanya. Andai saja para pelajar dan mahasiswa di negeri ini memiliki tradisi membaca karya sastra yang baik, bisa jadi mereka akan mampu mengendalikan naluri agresivitas yang tengah bergolak dalam dirinya, sehingga tak gampang dihasut dan diprovokasi untuk melakukan tindakan-tindakan konyol yang menodai kebersamaan dan keharmonisan hidup.

Apresiasi Sastra Terpinggirkan?
Sayangnya, apresiasi sastra di negeri ini masih menjadi sebuah Indonesia yang tertinggal. Dari sekitar 250-an juta penduduk yang menghuni bumi Indonesia bisa jadi hanya sekitar 10% yang memiliki kadar apresiasi sastra yang memadai. Selebihnya, masih terperangkap dalam pemujaan budaya pop; sebuah budaya yang berkiblat pada penikmatan dunia seni berdasarkan selera massal. Lihat saja teks-teks sastra, seperti cerpen atau puisi yang bertaburan di media massa cetak pada setiap edisi Minggu. (Nyaris) teks-teks tersebut hanya sebatas dibaca beberapa gelintir orang saja. Berita-berita perselingkuhan, kekerasan, politik, hukum, olahraga, atau ekonomi, masih memiliki nilai jual tinggi ketimbang cerpen atau puisi. Tak berlebihan kalau banyak koran yang terpaksa harus menutup rubrik sastra lantaran sepi peminat. Katup bisnis kaum pemilik modal mungkin akan terasa lebih nyaman apabila koran yang dikelolanya memiliki space iklan atau berita-berita bernilai jual tinggi, sehingga tak sedikit pun berkenan menyisakan sedikit ruang kontemplasi melalui lembar budaya dan sastra. Belum lagi nasib buku-buku sastra yang (nyaris) lapuk tak tersentuh di rak-rak perpustakaan yang berdebu. Tak berlebihan pula kalau banyak penerbit yang merasa “alergi” untuk menerbitkan buku-buku sastra lantaran tak memiliki nilai jual.

Apresiasi sastra sangat erat kaitannya dengan pengalaman estetik, imajinatif, personal, dan kemampuan menggerakkan syaraf-syaraf intuitif untuk bersentuhan dengan beragam fenomena hidup dan kehidupan. Ia (baca: apresiasi sastra) tak bisa disamakan ketika seseorang menyantap hamburger atau menenggak bir yang bisa langsung terasa di kerongkongan atau tenggorokan. Proses apresiasi sastra sangat erat kaitannya dengan ranah emosional dan pengalaman batiniah. Meski demikian, tidak lantas berarti bahwa proses apresiasi sastra menjadi sesuatu yang elitis dan soliter. Ia bisa digeluti, digauli, dan diakrabi oleh siapa pun tanpa membedakan status, jabatan, dan atribut-atribut sosial yang lain. Apresiasi sastra sah menjadi hak setiap orang. Ia akan sangat ditentukan oleh faktor minat dan “kemauan politik” untuk menyentuhnya.

Dengan kadar apresiasi sastra yang memadai, kita menjadi lebih toleran, peka, dan tak gampang terperangkap untuk melakukan tindakan-tindakan konyol yang bisa menodai citra keharmonisan hidup. Apresiasi sastra menjadi lorong yang tepat untuk membangun manusia yang lebih berbudaya, utuh, dan manusiawi. Melalui pengalaman-pengalaman hidup yang terungkap dalam teks sastra, pembaca akan mendapatkan asupan gizi batin yang cukup sehingga secara tidak langsung akan terus mengendap ke dalam gendang memori. Jika proses apresiasi sastra terus dilakukan secara intens dan total, kita makin kaya pengalaman hidup dan terus bersemayam ke dalam nurani, sehingga tak gampang menyakiti dan menistakan orang lain.

Entah sampai kapan apresiasi sastra di negeri ini terus terpinggirkan. Dunia pendidikan yang diharapkan mampu menjadi benteng untuk menyelamatkan apresiasi sastra di kalangan generasi masa depan pun agaknya makin tak berdaya akibat demikian kuatnya gerusan budaya pop di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sementara itu, menunggu keteladanan para pejabat dan kaum elite kita untuk mencintai dan mengakrabi sastra agaknya juga sebuah utopia bagaikan Menunggu Godot. Kalau sudah begini, bagaimana bisa bangsa yang besar ini mampu melahirkan generasi masa depan yang peka dan luhur budi yang sanggup mengendalikan naluri agresivitasnya kalau sikap empati dan responsif terhadap nasib sesama sudah diberangus oleh ledakan budaya pop sehingga miskin apresiasinya terhadap karya sastra? ***

Seorang guru, penyuka musik tradisional, penikmat sastra, dan bloger. Sebagian besar tulisannya dipublikasikan di blog pribadinya sawali.info. Ikut berkiprah di Agupena pada Bidang Pengembangan Profesi. Buku kumpulan cerpen pertamanya, Perempuan Bergaun Putih, diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Esai

NASIB SASTRA KITA

NASIB SASTRA KITA Oleh: Cut Januarita *) Menyikapi opini Saudara Mustafa Ismail
Go to Top