Potret Institusi Pendidikan Kita

Rubrik Pendidikan Oleh

Dwi Surti Junida
Dosen Luar Biasa di Fakultas Usuluddin dan Filsafat Politik Jurusan Ilmu Aqidah Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Alauddin Samata Kabupaten Gowa

Miris melihat dunia pendidikan kita dengan berbagai peristiwa yang mencoreng institusi pendidikan formal anak-anak didik kita. Kasus demi kasus menyangkut persoalan anak seakan tak kunjung henti diberitakan. Satu demi satu selalu mengisi media tanah air. Masih ingatkah kita dengan kasus pembunuhan karena penganiayaan dilingkup intitusi pendidikan terjadi dalam waktu yang berdekatan, bahkan dua kasus terjadi dalam sebulan secara berurutan. Kita dihebohkan kasus di sekolah Taruna Nusantara, dua mahasiswa FKIP Unsri Indralaya tewas tenggelam pada hari Minggu (27/3/2017) pada saat mengikuti pendidikan dasar organisasi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP Unsri. Disusul pembunuhan siswa SMA Taruna Nusantara disekolahnya 31 Maret 2017 lalu, sekitar pukul 04.00 WIB dalam kondisi bersimbah darah karena luka di bagian leher (Liputan6.com). Sebelumnya siswa taruna tingkat satu Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta juga tewas akibat tindak kekerasan dari sejumlah seniornya Selasa Tanggal 10 Januari 2017 (tribunnews.com). Menyusul di bulan yang sama tanggal 20 Januari 2017 seorang mahasiswa peserta acara Diksar mahasiswa Univeritas Islam Indonesia Yogyakarta meninggal dunia seusai mengikuti The Great Camping (TGC) 2017 dalam Pendidikan Dasar Mahasiswa Pencinta Alam UII karena serangan hyphothermia (kompas.com).

Kenapa dengan institusi pendidikan kita hingga saat ini? siapa yang patut bertanggung-jawab dalam hal ini? Berdasar pada kebanyakan pendidik termasuk orangtua mempercayai bahwa sekolah, sesudah rumah tangga, merupakan alat utama yang mempengaruhi jalannya kebudayaan melalui perubahan type-type kepribadian (F.Keneller, 1989: 48). Sehingga orangtua memiliki kepercayaan kepada institusi sekolah sebagai wadah pendidikan (selain orantua) yang diperuntukkan bagi anak mereka. Banyak yang menganggap bahwa hadirnya sekolah membantu para orangtua, untuk mendampingi anak-anak mereka menuju kedewasaan psikis dan psikologis demi menghadapi kehidupan secara luas dalam mempersiapkannya bersaing/mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Namun, jika para pendidik di sekolah/kampus harus mempertimbangkan menggunakan sekolah dengan cara yang diinginkan orangtua anak didik, tentu untuk mencapai efek yang diinginkan/yang sesuai dengan kebudayaan orangtua, maka pendidik di sekolah harus memiliki ide-ide tertentu tentang saling pengaruh-mempengaruhi antara kebudayaan dan kepribadian sang anak didiknya. Misalnya, sudah sepatutnya para pendidik di sekolah/kampus lebih meningkatkan perannya sebagai pelindung setelah orangtua anak didiknya. Orangtua mereka mempercayakan anak-anak mereka dengan harapan anaknya dapat tumbuh dengan lingkungan yang mendukung psikologis anak-anak mereka.

Apalagi selain faktor biologis dalam mempengaruhi tumbuh kembang fisik sang anak, faktor lingkungan alam dan lingkungan sosial dalam masyarakat akan dijumpainya. Suatu proses dimana seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan keinginan kelompoknya (sosialisasi). Sehingga tidak heran kalau tidak sedikit orangtua yang kadang tidak nyaman dengan pelayanan yang diberikan oleh sekolah. Kadang mereka complain dengan guru anaknya tentang berbagai hal seperti nilai anaknya menurun, sulit bergaul bahkan sering murung. Pembentukan dan pewarisan kepribadian ini didapatkan dilingkungan tempatnya bermain dan bergaul, salah satunya didapatkannya di sekolah/kampus yang disebut sebagai proses transformasi budaya.

Unsur-unsur transformasi kebudayaan adalah nilai-nilai budaya, adat-istiadat masyarakat, pandangan mengenai hidup serta berbagai konsep hidup lainnya yang ada di dalam masyarakat; berbagai kebiasaan sosial yang digunakan dalam interaksi atau pergaulan para anggota masyarakat tersebut; berbagai sikap dan peranan yang diperlukan di dalam dunia pergaulan dan akhirnya berbagai tingkah-laku lainnya termasuk proses fisiologi, reflex dan gerak atau reaksi-reaksi tertentu dan penyesuaian fisik termasuk gizi dan tata makanan untuk dapat bertahan hidup. Berbagai unsur ini tidak hanya diperoleh melalui keluarga melainkan didapatkan di institusi pendidikan tempat menimbah ilmu. Hal tersebut semuanya dijumpai di sekolah, dimana sang anak (ditengah perubahan biologinya berlangsung) mengalami perubahn sosial secara psikologis atau mental dalam merespon berbagai hal disekitarnya. Jika anak tidak mendapatkan arahan dalam bersikap baik di sekolah maka ia pun bersikap tidak baik dalam melampiaskan hasrat amarahnya kepada teman atau juniornya di sekolah. Dalam hal ini gurulah/dosen yang memiliki peran besar sebagai pendidik dilingkup sekolah/kampus.

Para pendidik ini harus menjadi orangtua kedua setelah ayah dan ibunya. Mereka harus mengasuh dan mendidik dengan rasa sayang dan empati yag tinggi terhadap berbagai permasalahan anak-anak didik mereka. Apalagi yang memasuki usia pra dewasa dari remaja menuju dewasa. Misalnya, sang guru/dosen mampu menjadi  sosok pendidik yang tegas dan lemah-lembut dalam arti guru mampu menjadi sahabat yang baik sehingga anak didik dapat curhat ke mereka. Hal ini memudahkan sang guru/dosen member solusi yang baik. Disisi lain mereka juga tegas dalam peraturan sekolah/kampus yang jelas menjadi aturan bersama misalnya peraturan jadwal belajar dan bermain.

Saya menghimbau juga tidak hanya kepada para pendidik institusi formal, melainkan juga kepada para orangtua agar dapat terus mengontrol anak-anaknya. Menciptakan iklim yang kondusif dan sehat dalam proses pewarisan budaya kepada anak-anaknya tentu saja akan berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian anak-anaknya itu. Misalnya jika sang anak diasramakan maka orantua atau keluarga wajib mengontrol mereka setiap saat melalui komunikasi via telephone, sosmed dsb, orangtua juga menjalin komunikasi intensif dengan para pendidik asrama dalam hal ini para guru, kepala sekolah dan semua pihak-pihak dilingkup sekolah/kampus serta mereka harus menjadi sahabat yang baik dan terdekat bagi anak-anak mereka setiap saat dengan memberikan kasih sayang dan cinta. Sebab peran keluarga jika dioptimalkan dengan sebagaimana mestinya maka tidak akan menimbulkan mental anak yang anarkis, yang dapat merusak mentalnya dengan melakukan tindak kriminal kepada sesama temannya, dapat menghindari sikap anarkis dilingkup sekolah baik kepada juniornya atau sesamanya.

Dosen Luar Biasa di Fakultas Usuluddin dan Filsafat Politik Jurusan Ilmu Aqidah Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Alauddin Samata Kabupaten Gowa.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

PAHLAWAN ZAMAN NOW

Oleh Fortin Sri Haryani Pahlawan diartikan sebagai seorang yang telah berjasa, memberikan
Go to Top