Home » Cerpen » Sastra » Tobelo Marahai » 312 views

Tobelo Marahai

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Tobelo Marahai
Cerpen Arlen Ara Guci dan Yanuardi Syukur

Angin buritan  berdesingan di pelabuhan ketika kaki kugeret lagi ke bawah papan-papan ini. Papan yang berbaris rapat itu adalah lantai rumah kami. Dindingnya juga disematkan dengan papan serupa. Atap dilungkupi seng tua. Kalau hujan lebat dari biasa, tempiaslah setiap sisinya. Tak jarang buku-buku pelajaranku huruf-hurufnya berubah kabur, karena disiram air langit itu. Bajuku juga berubah warna. Kalau tak menguning, dipastikan bintik-bintik hitam. Aku yakini pakaian itu disaput lembab berpanjangan.

Aku mulai pekerjaan hari-hariku ini. Ada katang* berlari di balik bebatuan yang diambil dari karang-karang di dekat Pulo* Tolonuo. Saat jari tanganku menyentuh ekornya, kepiting itu hening bergeming. Ada udang sebentar-sebentar melayang dan menghilang. Jari tanganku lebih lincah menghadang. Jika tangkapanku hari ini lebih dari biasa, maknanya mama tara usa* bersebak dada memutar akal, apa yang akan jadi sambal. Sedang ayah tentulah peluhnya tengah bersimbah. Kole-kole* membawanya menghadang samudera sejak pagi sampai surya ke balik bumi. Tapi tlah lepas Isya pula, ayah belum jua kembali. Itu biasa bagi kami. Apalagi jika purnama. Ayah kerap berlama-lama di belakangPuloKumosana. Meski harga ikan-ikan menjunam, tapi semangat ayah membelah lautan tak pernah padam. Aku bangga pada ayah. Meski tiba masa itu, aku mau tak mau meninggalkan mama dan ayah buat sementara waktu.

Ujian Nasional berakhir kulewati dengan mata berair. Bukan karena aku tak mampu mengerjakannya, namun apa iya, mama dan ayah akan kutinggalkan begitu saja, demi sebuah cita-cita si anak laut?

Di bawah kolong rumah papan ini mataku menembus samudera lepas Pasifik dan Pulo Morotai yang waktu Perang Dunia Kedua dijadikan pangkalan militer Amerika Serikat oleh Jenderal McArthur. Dari pulo ini pula sang jenderal berhasil menusuk jantung pertahanan Jepang di Iwojima dan Okinawa.

Tak sadar mataku berasa panas.Tadi pagi di sekolah kuterima kabar itu. Pihak universitas menerimaku sebagai mahasiswa tanpa tes.  Semula aku tak yakin, karena aku miskin. Hanya lewat angka-angka rapor sejak kelas satu hingga kelas tiga jiwaku berbicara pada mereka. Dadaku bersuara pada guru. Semestinya aku mensyukuri. Tapi mama dan ayah bagaimana? Walau pada awal masuk di universitas nantinya akan kulewati dengan percuma, namun setelah itu gelombang sebenarnya akan menghadang. Mamadan ayah menyandarkan hidup dari tangkapan ikan-ikan di lautan. Mataku berubah basah saat camar melayang-layang girang.

Hari pendaftaran ulang itu sudah di ambang. Kalau universitas itu  masih di daerahku, atau minimal ke Ternate, mungkin soal ongkos tak terlalu menyesakkan dadaku. Tapi ini? Universitas itu nun di seberang sana melewati lautan lepas. Apa yang disebut orang Pulau Selebes. Di kota Ujung Pandang, tepatnya. Dan jarak Tobelo dengan Ujung Pandang tak bisa dibilang dekat. Meski galau mendesau, aku beranikan diri mengatakan niat hati pada mama.

Ngana harus kasana*, Di! Ngana harus kuliah!” kata mama.

“Tapi ma, biaya kuliah tara murah!” jawabku pilu.

“Adi, mama deng ayah berusaha terus mencari uang sekuat tenaga, asal ngana kuliah,” balas mama berat.

“Tapi, ma!” kataku mulai ragu. Ngilu seketika menyuntih dadaku, “saya tak mau patah di tengah nantinya. Kuliah bukan sebentar, ma. Empat lima tahun baru bisa jadi sarjana.”

“Adi, apa nganatara sayang pada mama ini? apa ngana tara sayang pada ayahmu lagi?”

Mendengar jawaban mama, air mataku beriak. Semestinya aku tak meragui orangtua sendiri. Seharusnya aku bangga pada mama dan ayah. Nampak nian semangat keduanya hendak mengantarku jadi orang kelak. Meski kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Walau tak ada kayu, jenjang pun akan dikeping. Tak ada rotan akar pun jadi. Begitu kiranya mama dan ayah memilin harapan. Di kemudian hari anaknya lebih baik dari mereka.Tapi, aku masih saja sulit menerima. Apalagi percaya.

“Kalau kamu tak mengambil undangan itu, mama deng ayahmu akan sedih! Tiada kebahagiaan orangtua selain melihat anaknya berhasil. Anaknya lebih baik nasibnya dari mereka,” kata guru pembimbing, saat hari terakhir aku menginjakkan kaki di sekolah dasar negeri satu Tobelo yang belakangan aku dapat kabar sudah digusur untuk jadi gedung anggota dewan.

“Tapi, aku takut kuliah tak sampai selesai.”

“Yang ke depan itu kita tak tahu, Di. Macam-macam boleh terjadi. Tapi kita harus yakin, bukankah barangsiapa yang berhijrah ke suatu daerah untuk  mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan untuknya.”

“Mungkinkah yang saya dengar selama ini benar adanya, Pak?”

“Maksudmu apa, Di?”

“Di koran dan di tv kadang saya lihat, para mahasiswa banyak yang kuliah sambil kerja. Semoga saja koran-koran itu tak mengarang cerita. Tv-tv itu tak menyajikan cerita dusta pada penontonnya.”

“Di, untuk yang ini, koran itu benar. Tv itu juga benar. Para pelajar dan mahasiswa sekarang ini tak lagi menyandarkan hidup mereka semata-mata pada orangtua. Lagi pula tuntutan hidup dan kebutuhan para pelajar mahasiswa jaman sekarang juga kian bertambah. Lebih kompleks. Jadi, kalau mereka tak kreatif, tak pandai menangkap peluang, akan ketinggalan. Akan dilindas oleh jaman. Bapak yakin, kamu pasti bisa mandiri setelah di Ujung Pandang nanti. Coba kamu ingat, bukankah selama ini kamu sering jual asongan di pelabuhan bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Maksud bapak, tak banyak anak-anak di sini yang mau bersusah payah. Kebanyakan malas dan tak mau membantu kedua orangtua, walau sudah nyata orangtua mereka susah. Nah, pesan bapak, karena sudah biasa, yakinlah, di  sana nantinya kamu pasti akan ada saja cara untuk meringankan biaya kuliahmu.”

Mendengar penjelasan guru pembimbing panjang lebar itu, semangatku untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi sedikit banyak terpantik juga. Ya, bukankah sejak dari bangku sekolah dasar hidup telah mengajarkanku untuk tidak berpangku tangan? Untuk tidak bergelung saja di dalam selimut?

Di hari keberangkatan mata mama menderas jelas di pelabuhan ketika kakiku mulai beranjak ke geladak kapal. Sedang ayah di tengah lautan. Mungkin sedang mengembangkan jala penangkap ikan.

“Jaga diri bae-bae’, Di! Mama dan ayah akan selalu mendoakan! Kalau ada apa-apa, kabari mama segera ya.”

“Iya, ma,” jawabku singkat dengan suara tercekat.

Lalu,  suara terompet kapal berbunyi sebanyak tiga kali. Rasa putus jantung dan nadi saat diri ini berlayar kini. Ujung selendang mama nampak mengibas. Tangannya melambai, sekali-sekali ujung selendang itu ditekannya di pelupuk mata. Melihat mama kian sedu, aku pilu dan kelu. Baru aku sadari,  berpisah dengan mama rupanya membuat gamang di badan diri. Walau begitu, aku pergi untuk mama dan ayah tercinta. Pergi ku untuk meneruskan mencari ilmu. Bekal hidup nanti di hari tua.

Ujung Pandang kurasa agak menyengat dari Tobelo saat tekadku kian bulat. Kuliah sambil bekerja. Meski cerita-cerita mahasiswa sambil kerja kebanyakan berlaku di kota-kota di Jawa; Jakarta, Bandung, Yogyakarta. Tapi sebentar lagi akan bergulir di sini. Di papan pengumuman nama-nama mahasiswa yang lolos matrikulasi barusan ditempelkan. No. 001. Nama: ARYADI RASYIDIN. Meski  bertenang hati namaku ada di urutan pertama, tapi kurasakan ini baru permulaan. Ini baru awal dari perjalanan. Satu semester kulewati dengan mencemaskan. Nilai mata kuliah memang memuaskan, tapi yang membuat keningku berlipat, untuk ke pembayar kuliah semester  berikutnya ke mana akan kudapat. Aku seperti gagap dengan Ujung Pandang. Kalau di Tobelo aku tentu sudah berkeliaran di pelabuhan sebagai pedagang asongan. Tapi di sini? Di kota Hasanuddin ini? Aku surati mama bahwa aku akan berpijak di atas kaki sendiri. Pepatah Arab yang dikatakan guru mengajiku mengiang lagi, “bukanlah disebut seorang pemuda, jika berkata inilah ayah saya, tapi seorang pemuda itu disebut pemuda, yang berkata, inilah saya.”

Itulah isi suratku pada mama. Aku agak percaya, mama mungkin tak akan berair mata karenanya. Meski mama juga takkan pernah kuberitahu, anaknya jualan alat-alat tulis ke kawan-kawan di kampus selama itu, hingga toga disangkupkan di kepala. Di malam yang berselendangkan bintang aku beringsut ke tepi pantai, tak seberapa jauh dari Benteng Fort Rotterdam. Di angin yang tengah melambai di Pantai Losari ini, semoga pesanku sampai, aku datang Tobelo Marahai*!

@@@

Kuala Lumpur-Jakarta, Mei 2009

 

Keterangan:

*Katang: Kepiting

*Kole-Kole: Perahu kecil khas Maluku

* Tara Usa: Tidak Usah

* Pulo: Pulau

* Ngana harus kasana: Kamu harus ke sana

* Deng: dengan

* Tobelo Marahai: Tobelo yang cantik

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerpen

Senandung Cinta di Lalao

Cerpen: Heronimus Bani Sejauh mata memandang di pantai Ba’a nuansa sore mengantar

Di Shopping Center

“Neta, ikut mbak Shopping yuk..”, ajak Mbak Nela. Mbak Nela itu, kakak

Perempuan Pemurung

Cerpen: Hadi Sastra Perempuan itu melepaskan pandangannya. Siang tak lagi terik. Angin
Go to Top