Wahai Guru, Dengarkan Suara Hati Muridmu!

Rubrik Kegiatan/Pendidikan Oleh

Oleh: Fortin Sri Haryani

Ada yang menyentuh perasaan di Penerimaan Siswa Baru (PSB) hari ini. Ketika mengobservasi salah satu calon siswa (salah satu tahapan dalam PSB) di Fajar Hidayah, calon siswa menuliskan harapannya di pertanyaan ” Sekolah yang bagaimana yang anda harapkan ?” Calon siswa menjawab ” Sekolah yang guru-gurunya penyayang, tidak memaksa bila muridnya tidak mampu menjawab.”

Gambar 1 Observasi calon siswa

Sejenak saya merenung, cukup singkat namun begitu mendalam. Di Fajar Hidayah memang  seluruh calon siswa harus melewati  tahapan observasi dan tes kesehatan. Observasi bukanlah sekedar tes akademis, namun lebih bertujuan kepada pengenalan profil calon siswa serta pemetaan bakat dan potensi yang dimiliki calon siswa. Melalui observasi didapatkan informasi awal tentang hobby, cita-cita, pelajaran yang diminati, pola makan, hubungan dengan keluarga dan pertanyaan lainnya yang orientasinya adalah pengenalan konsep diri. Kami meyakini bahwa pengenalan konsep diri yang baik akan menjadi modal bagi siswa untuk dapat lebih siap dalam menjalani proses pembelajaran.

Gambar 2 Wawancara Orang Tua Murid

Kembali ke harapan siswa tentang  sekolah yang diinginkan, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Einstein “ Everyone I a genius, but if you judge a fish on it’s ability to climb a tree it will live a whole life believing it I stupid.” Bila diterjemahkan kurang lebih bermakna  bahwa memaksa ikan untuk dapat memanjat pohon adalah hal yang sangat konyol. Sama halnya dengan siswa yang memiliki bakat di bidang bahasa dipaksa untuk mahir matematika. Masing- masing siswa punya potensi dan tugas kita sebagai guru agar mampu mengenali dan mengoptimalkannya. Tidak  semuanya harus pandai matematika namun yang terpenting adalah semuanya bisa mengoptimalkan bakat yang dimiliki.

Gambar 3 Observasi calon siswa

Tidak ada siswa yang bodoh, mereka hanya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat memahami.  Memberikan kesempatan kepada mereka  untuk mengeksplor lebih dalam adalah salah satu solusinya.  Kadang kala mereka membutuhkan binaan face to face agar dapat lebih fokus. Bisa juga dengan membentuk kelas remedial yang pesertanya kita batasi. Namun di satu sisi kita juga harus dapat memfasilitasi potensi yang mereka miliki.

Mungkin mereka memang tidak mahir di pelajaran matematika, namun ketika  menghasilkan karya, mereka mampu memukau banyak orang, hasil karya  mereka  jauh melampaui siswa lainnya. Di sinilah kesempatan kita untuk mengembangkan potensi mereka. Misalnya dengan membentuk klub seni atau klub lainnya sesuai dengan bakat yang mereka miliki. Pada saat  life skill kita asah kemampuan mereka dengan mendatangkan pelatih yang profesional. Dan sabagai bentuk apresiasi,  kita rayakan dengan menyelenggarakan event seni di sekolah misalnya bertemakan ” All About Art“. Mereka bisa memamerkan hasil karya mereka kepada pengunjung. Pada tahap ini mereka akan percaya dan berbangga diri kepada bakat yang mereka miliki. Disitulah esensi pendidikan muncul.

Ketika mengajar terkadang kita terjebak denga target kurikulum yang harus dicapai. Sehingga pemenuhan hak individual siswa terabaikan. Di saat inilah jiwa pendidik sejati terpanggil, sebagai pengayom dan tempat curahan hati para siswa hingga mampu membangkitkan kembali motivasi belajar siswa.
Aku ingin diajari oleh guru yang penyayang..yang tidak memaksa bila aku tidak mampu..” semoga kita salah satu sosok guru yang didamba siswa kita.****

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*