The Nuer: Sebuah Review

Rubrik Literasi Oleh

The Nuer: Sebuah Review

Yanuardi Syukur
Mahasiswa Program Doktoral Antropologi FISIP Universitas Indonesia
yanuardisyukur@gmail.com

Pengantar
Buku Evans-Pritchard, The Nuer, pertama kali diterbitkan pada tahun 1940 dan dianggap sebagai buku klasik dalam antropologi sosial serta “the best work of modern British anthropologists” (Leach, 1970: 288).  Ini adalah yang pertama dalam serangkaian studi ekstensif tentang Nuer yang dibuat oleh penulis.  Orang Nuer adalah suku Afrika yang terletak di Sudan Selatan dan Ethiopia Barat.

Pada bab pertama ia menjelaskan kunjungan pertamanya ke daerah dan kesulitan yang ada dalam posisi dirinya untuk studi ini. Kendati telah klasik, tapi buku ini sangat penting untuk memahami hubungan manusia dalam masyarakat “pra-kelas” dan “awal kelas”.

 

Instisari Buku

Evans-Pritchard memulai kajiannya pada bab I dengan judul Kepentingan pada Ternak (Interest in Cattle).  Dari deskripsi Evans-Pritchard, orang Nuer pada tahun 1930-an tampak berlatih kehidupan yang pasti sangat mirip dengan masyarakat “petani pertama”(first agriculturalist).  Bahkan mode mereka mengorganisir masyarakat tampaknya semacam “jembatan” antara apa yang bisa disebut masyarakat pemburu-pengumpul (a hunter-gatherer society) dengan masyarakat pertanian menetap.

Hal ini sangat menarik karena kurangnya kelas (lack of class) di komunitas mereka. Masyarakat kelas (class society)hanya bisa terjadi ketika pada masyarakat pertanian tersebut ada surplus makanan untuk mendukung anggota non-produktif dari populasi mereka.  Tapi ini tidak langsung; akan ada banyak masyarakat sementara di mana pertanian semakin dominan tapi lama dan egaliter.

Orang Nuer memposisikan ternak sapi sebagai sesuatu yang penting dan utama. Sapi tidak hanya sumber utama rezeki kepada orang-orang Nuer, juga memainkan peran penting dalam interaksi sosial. Sebagai contoh, laki-laki Nuer memerlukan ternak untuk menikah, bahkan untuk menebus kejahatan atau kesalahan sosial.

Sapi juga dapat dibagi dengan anggota suku yang membutuhkannya, meskipun tidak ada yang bersedia untuk mencuri ternak dari orang lain di masyarakat.  Karena orang-orang Nuer (terutama penggembala sapi yang juga menggunakan teknik hortikultura), ternak juga merupakan pokok utama ekonomi mereka.

Hal ini dijelaskan dengan sangat rinci dalam penelitian ini.  Seperti uraian bahwa kehidupan ekonomi orang Nuer tidak memiliki kepala suku (absence of chieftainship) dan memiliki sentimen demokratis.  Hal ini tidak berarti bahwa orang Nuerhidup dalam utopia yang sempurna.  Kekurangan makanan yang umum, perang(war), permusuhan(feuds), perzinahan (adultery)dan sesekali pembunuhan adalah bagian dari masyarakat mereka. Tapi ini didasarkan pada sikap yang sangat berbeda dengan dunia di sekitar mereka, dan satu sama lain.

Orang Nuer memiliki pemimpin akan tetapi bukanlah pemimpin permanen yang setiap katanya harus dipatuhi.  Evans-Pritchard menjelaskan tentang tut (seorang “kepala pria keluarganya dan keluarga bersama”) yang “mengambil bagian yang paling menonjol dalam menyelesaikan urusan kelompok ini, tapi ia tidak bisa … dikatakan memiliki otoritas politik …  Sebuah keluarga bersama memutuskan atas saran dari tut mereka untuk mengubah kamp …  tapi keluarga bersama lainnya memutuskan untuk tidak bergerak sampai hari lain.  Kepemimpinan dalam komunitas lokal terdiri dari seorang pria berpengaruh memutuskan untuk melakukan sesuatu dan orang-orang dari dusun lain yang mengikuti pada kenyamanan mereka.”

Kepemilikan pribadi memainkan peran yang berbeda untuk orang Nuer. Bagi mereka, sapi adalah segala sesuatu, yang memungkinkan seseorang untuk menikah atau untuk menebus kejahatan dengan membantu pembangunan rumah.  Setelah laki-laki Nuermemiliki cukup ternak ia akan menikah lagi.  Kata Evans-Pritchard, “Saya belum pernah mendengar dari orang Nuer mencuri sapi dari sesama suku hanya karena ia ingin mendapatkan sapi meskipun orang Nuer sangat senang untuk mencuri dari suku lainnya. ”

Masyarakat yang memiliki mode produksi yang berbeda memiliki mode organisasi sosial yang berbeda pula. Orang Nur tidak bisa dikategorikan sebagai masyarakat pra-kapitalis atau pra-kelas mode-mode produksi yang primitif.

Pada Bab II berjudul Oecology, Evans-Pritchard menulis bahwa orang Nuer bekerja sebagai peternak, nelayan, dan petani di sekitar Sungai Nil dan sungai-sungai lainnya. Sebagai petani, mereka menanam millet di pulau-pulau kecil di atas rawa yang luas.  Sedangkan sebagai peternak, mereka menganggap ternak sebagai asset paling penting yang berkaitan dengan semua proses sosial.  Ternak, bagi mereka, tak hanya berguna daging dan susunya, akan tetapi dapat digunakan sebagai korban dalam upaya, bahkan sebagai mahar dan kompensasi yang harus dibayarkan ketika seseorang membunuh suku lainnya.

Orang Nuer tidak sepenuhnya masyarakat pastoral (penggembala), akan tetapi mereka telah menetap.  Terkadang, mereka pergi untuk memenuhi kebutuhan hidup atau untuk menghindari kelaparan di musim kemarau.  Dalam konteks itu, mereka menjaga kekerabatan yang saling bantu, terutama ketika kelangkaan makanan.  Mereka memahami bahwa untuk bertahan hidup, mereka harus bekerjasama dan saling mendukung.

Evans-Pritchard menulis bahwa orang Nuer memiliki karakter seperti keberanian (courage), kemurahan hati (generosity), kesabaran (patience), kebanggaan (pride), loyalitas (loyalty), keras kepala (stubbornness) dan kemandirian (independence), yang karakter ini sangat berguna dalam kehidupan mereka dalam konteks masyarakat dan relasi sosial yang sederhana (p.  90).

Pada Bab III berjudul Waktu dan Ruang (Time and Space), Evans-Pritchard menulis tentang konsep orang Nuer terkaitwaktu dan ruang yang dapat mempengaruhi sistem politik mereka. Karena catatan tertulis tidak disimpan, sejarah orang-orang Nuer hanya pergi sejauh generasi ingat.  Tanggal dan peristiwa diberitahu sehubungan dengan kelahiran anggota suku atau peristiwa penting dan mengesankan lain.  Karena kurangnya catatan sejarah dalam masyarakat Nuer serta sosial budaya sangat egaliter, sistem politik hampir tidak perlu. Kepemimpinan tidak ada, tapi tidak permanen dan tentu saja tidak dianggap memiliki otoritas politik yang sah.

Orang Nuer memiliki konsepsi waktu yang berbeda. Bagi mereka ada lebih jarak waktu di pagi hari (ketika mereka sibuk beternak) daripada di sore hari. Evans-Pritchard menunjukkan bahwa untuk orang Nuer, “jarak antara awal dunia dan hari ini tetap tak bisa diganti” dan ditunjukkan pohon di mana manusia menjadi ada.

Pada Bab IV Sistem Politik (The Political System), Evans-Pritchard menulis bahwa orang Nuer terbagi dalam beberapa bagian(segments).  Suku terbesar disebut dengan suku utama yang terbagi menjadi beberapa bagian suku sekunder yang terbagi lagi menjadi beberapa bagian suku tersier.  Secara definisi, tulis Evans-Pritchard, konsep primer, sekunder, dan tersier adalah istilah yang dianggap cukup untuk menggambarkan orang Nuer. Kelompok tersier itu terdiri dari sejumlah komunitas yang terdiri dari kelompok kekerabatan.  Suku Lou misalnya, terbagi menjadi dua suku primer (Mor dan Gun) yang terbagi lagi dalam suku tersier: Mor (Gaaliek, Jimac, dan Jaajoah, dan Gun (Rumjok) yang terbagi dalam bentuk tersier (Leng dan Nyarkwac) yang merupakan suku sekunder dari Gaatbal (p.  139). Dalam buku ini, Evans-Pritchard mencontohkan selain Suku Lou, yaitu Eastern Jikany, Gaawar, Lak, dan Thiang.

Setiap bagian suku tersebut memiliki banyak karakteristik seperti nama khas, sentimen umum, serta wilayah yang unik yang dipisahkan oleh hamparan luas semak atau sungai.  Prinsip segmentasi dan pertentangan antar segmen adalah sama di tiap bagian suku.  Dalam konflik mereka saling mengorganisir diri dalam bentuk-bentuk kolaborasi untuk menentang kelompok yang dianggap sebagai musuh.

Orang Nuer memiliki sistem politik yang terkait dengan perang sebagaimana dalam diagram (p.  144) berikut.

Ketika Z1 melawan Z2 maka tidak ada kelompok lain yang ikut serta.  Ketika Z1 melawan Y1, maka Z2 bersatu dengan Z1 sebagai Y2.  Ketika Y1 melawan X1, maka Y1 dan Y2 bersatu, begitu juga X1 dan X2.  Ketika X1 melawan A maka X1, X2, Y1 dan Y2 bersatu sebagai B.  Dengan demikian, maka sistem fusi dan fisi dari kelompok politik Nuer terkait sekali dengan nilai-nilai dan hubungan antara segmen mereka dan keterkaitan mereka dalam sistem yang lebih besar.  Struktur pemerintahan mereka, tidak lebih dari sebuah aliansi yang hanya aktif selama konflik antara salah satu terjadi. Maka, organisasi politik mereka dikenal sebagai pelengkap (complementary) atau oposisi yang seimbang (balanced opposition).

Konflik antara orang Nuer bisa terjadi karena beberapa sebab, yaitu: (1) sengketa masalah sapi, (2) jika seseorang memukul sapi/kambing orang lain yang memakan bekas millet, (3) seseorang memukul anak kecil dari orang lain, (4) seorang laki-laki mengambil sesuatu tanpa izin dari pemiliknya, dan (5) ornamen tarian yang diambil tanpa izin pemiliknya.

Orang Nuer tidak memiliki pemimpin politik yang jelas. Maka ketika terjadi sengketa mereka menyelesaikannya lewat lembaga informal (informal adjudicator) yang disebut sebagai “kepala kulit macan tutul” (leopard-skin chief). Orang ini dipercaya tidak sebagai pemimpin politik (political chief), akan tetapi hanya sebagai mediator.  Ia juga memiliki kapasitas dalam ritual yang terkait dengan kehidupan sosial dan alam orang Nuer yang keahlian tersebut ia dapatkan berdasarkan keturunan (hereditary) dan merupakan “the one who has religious overtones for the social well-being” (satu-satunya orang yang memiliki nuansa keagamaan untuk kesejahteraan sosial).

Ketika seorang laki-laki telah membunuh laki-laki lainnya, ia harus segera pergi ke rumah leopard-skin chief yang akan memotong lengan pelakunya hingga darah mengalir.  Jika pihak korban (dead man) ingin balas dendam kepada pelaku (slayer) maka mereka mengikuti prinsip lex talonis, seperti hukum like for like.  Jika si pelaku takut akan balas dendam dari pihak korban maka ia bisa menetap di rumah leopard-skin chiefkarena rumah tersebut dianggap sebagai tempat suci.  Selanjutnya, beberapa bulan kemudian leopard-skin chiefakanmemediasi konflik antara dua kelompok tersebut.

Proses medianya dilakukan oleh leopard-skin chiefdengan cara menghadirkan kerabat pembunuh yang siap membayar kompensasi untuk menghindari perseteruan.  Di sisi lain, leopard-skin chiefjuga membujuk kerabat korban untuk menerima kompensasi.  Selama periode mediasi ini, tidak ada pihak yang bisa makan atau minum dari wadah yang sama.  Akan tetapi mereka makan di rumah orang ketiga yang sama(leopard-skin chief).  Selanjutnya, leopard-skin chiefmengumpulkan ternak sebagai 40 atau 50 dan membawanya ke rumah korban sebagai mekanisme untuk pengorbanan lewat pembersihan dan penebusan diri.  Dengan cara demikian, maka perseteruan pun dapat dikendalikan.

Orang Nuer tidak memiliki hukum dan tidak tidak memiliki kekuatan politik dengan fungsi legislatif atau yudikatif.  Akan tetapi mereka memiliki konvensi untuk memberikan denda bagi orang yang menuduh laki-laki berzina dengan istri orang lain, percabulan dengan anak perempuan, pencurian, dan seterusnya.  Mereka tidak membuat sistem hukum (legal system) karena tak ada otoritas yang dibentuk yang berimbang untuk memutuskan kebenaran dan kesalahan. Artinya, orang Nuer yang tidak memiliki hukum juga tidak memiliki pemerintah. Dalam tradisi mereka memang tidak ada otoritas hukum individu (individual legal authority) atau semacam dewan tetua (council of elders) yang bertugas menegakkan keadilan sebagaimana di negara barat. Adapun leopard-skin chief atau ritual agents lainnya tidak disebut sebagai pemimpin politik walaupun mereka menonjol dan ditakuti di wilayahnya.

Secara singkat, sistem politik orang Nuer adalah tidak memiliki otoritas politik formal yang bersifat memaksa, akan tetapi mereka memiliki sistem oposisi komplementer (seimbang) dalam menciptakan kohesi sosial.  Walaupun mereka tidak punya sistem politik tapi tidak bisa disebut sebagai masyarakat yang chaos, akan tetapi dapat disebut sebagai masyarakat yang menjaga bentuk kehidupan politik yang “anarki yang teratur” (ordered anarchy).

Pada bab V terkait Sistem Kekerabatan (The Lineage System), Evans-Pritchard menulis secara rinci garis kekerabatan(kinship), cara tertentu dimana permusuhan(feuds) dan hubungan sosial ditindaklanjuti. Orang Nuer tidak berkerabat berdasar jalur laki-laki (patriarkal).  Keberlangsungan kekerabatan mereka tidak bergantung pada kesuburan pria (male fertility)akan tetapi pada kemampuan ekonomi dan politik untuk mentransfer mas kawin (bridewealth) dan menikahi istri-istri dalam komunitasnya atau lewat jalur adopsi untuk menjadi anggota keluarga.

Dalam konteks ini, sistem kekerabatan orang Nuer berbeda dengan sistem keluarga masyarakat modern karena anak-anak, sebagai contoh, memiliki nama yang berbeda ketika mereka hidup bersama ayah atau ibunya.

Memahami seks orang Nuer penting dalam konteks bagaimana mereka memproduksi generasi berikutnya dalam komunitas mereka yang melibatkan “pertukaran kekayaan yang kompleks” (sapi/cattle). Perkawinan juga tidak dianggap lengkap sampai anak pertama lahir.

Ketika seorang perempuan menikah dengan seorang pria, dia juga dianggap telah menikahi saudara pria itu. Dengan demikian ketika suaminya meninggal maka janda tadi secara otomatis menjadi suami bagi salah satu saudara laki-laki yang meninggal tadi. Ini tidak berarti bahwa perempuan dianggap sebagai property yang dapat ditukar dan tidak memiliki kebebasan.  Dari segi seksual, perempuan Nuer memiliki banyak kebebasan, misalnya saat mereka berumur 15 atau 16, mereka memiliki minimal 1 orang kekasih yang mungkin ada di tiap desa yang menjadi tetangga mereka.  Evans-Pritchard sendiri ragu apakah seorang perempuan Nuer ketika menikah masih perawan atau tidak karena faktor “kebebasan perempuan” tadi. Menurut orang Nuer, perzinahan adalah sesuatu yang ilegal tapi bukan tindakan yang tidak bermoral.

Mas kawin dalam perkawinan adalah sekitar 20-30 sapi dan tidak bisa kurang dari 16 sapi.  Seorang perempuan yang dilamar oleh laki-laki Nuer, sangat bergantung pada penerimaan dari keluarga atas lamaran tersebut dan tetap menunggu persetujuan perempuan. Orang tua perempuan dalam hal ini tidak memiliki kuasa untuk memaksa anak mereka menikah dengan laki-laki yang tidak disukai oleh perempuan tersebut. Bahkan, perempuan tersebut dapat melawan sebagai tanda ketidaksetujuan mereka.

Jumlah mas kawin itu dianggap sebagai kompensasi atas hilangnya seorang anak perempuan yang “ditukar” dengan mas kawin berbentuk sapi.  Dalam hal ini, laki-laki Nuer dianggap sangat bermurah hati dan akan mempertahankan hubungan sosial baru—dalam bentuk pernikahan—yang tidak mudah putus, terutama setelah kelahiran anak pertama.

Dalam pekerjaan, ada pembagian kerja yang kelas. Perempuan memainkan peranan penting dalam produksi seperti memerah sapi. Seorang laki-laki dianggap tidak berdaya (helpless) jika tidak memiliki istri, yang oleh karena itu pernikahan menjadi satu-satunya cari seorang laki-laki untuk memiliki rumah sendiri. Pada titik ini, perempuan Nuer memiliki peranan sentral dalam kehidupan politik dan ekonomi.

Sedangkan pada bab VI tentang The Age-Set System: Summary, Evans-Pritchard membahas tentang umur dalam kebudayaan orang Nuer.  Pembagian kerja yang jelas ada dalam kehidupan orang Nuerakan tetapi seringkali hal ini tidak berdasarkan jenis kelamin, tetapi pada kelompok usia.  Kelompok umur memainkan peran yang jauh lebih penting dalam masyarakat Nuer.

Membaca The Nuer
Dalam buku ini Evans-Pritchard berfokus pada kehidupan orang Nuer dan lembaga-lembaga politik yang terkait dalam kehidupan mereka. Ia dipekerjakan oleh Pemerintah Inggris (dari Sudan) untuk mempelajari struktur politik orang Nuer sehingga lebih mudah dikuasai oleh pemerintah kolonial.  Dalam risetnya, ia berfokus pada pentingnya ternak sapi yang terkait erat dengan masalah ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat, selain membahas soal konsep ruang dan waktu, struktur sosial, yang semua itu berhubungan dengan struktur politik orang Nuer.

Evans-Pritchard menggunakan perspektif struktural-fungsional yang menekankan pentingnya struktur sosial yang beroperasi dalam kehidupan orang Nuer. Keterkaitan semua aspek mereka sangat penting untuk fungsi sosial orang Nuer.

Seiring perjalanan waktu, budaya Nuer pun berubah. Jika pada tahun 1930-an aktivitas mereka berpusat pada ternak, kini dipahami bahwa orang Nuer telah memahami konsep mata uang (Hutchinson, 1992) dan melihat perdagangan yang mereka lakukan dengan pedagang Arab sebagai pertukaran hadiah (Batu, 2000). Pada tahun 1980, ternak tidak lagi dianggap penting seperti dulu. Kebanyakan orang merasa nyaman untuk menggunakan uang tunai ketika membayar pajak dan biaya dan bertukar gandum atau ikan. Alih-alih menjadi sarana utama pertukaran, Hutchinson (1996) mencatat bahwa ternak digunakan untuk hal-hal yang lebih penting seperti pernikahan dan pengorbanan (Akin, Langworthy, dan Smith, 2012).

Pada tahun 1983 perang saudara kedua pecah di Sudan antara utara dan selatan. Pemerintah Sudan mengadopsi hukum Islam, yang membuat marah banyak orang Kristen dan penganut kepercayaan tradisional yang tinggal di Sudan Selatan. Cara tradisional Nuer untuk hidup terancam oleh perang dan banyak orang Nuer memilih mengungsi di negara-negara asing, termasuk Amerika Serikat. Bothun dan Willis (2011) menulis bahwa kedatangan terbesar pengungsi yang datang ke Amerika Serikat mulai pada tahun 2000 dan pada tahun 2001, 208 pengungsi Sudan telah resmi dimukimkan kembali.  Jumlah ini, tulis Castro (2008)telah meningkat sejak itu, dan pada tahun 2006, 25. 000 orang Sudan dilaporkan telah dimukimkan kembali (Akin, Langworthy, dan Smith, 2012).

Tinggal di Amerika Serikat membuat orang Nuer menghadapi banyak tantangan seperti belajar bahasa Inggris dan memahami bagian dari budaya yang ada.  Pada tahun 2003, penilaian kesehatan Nebraska melaporkan bahwa orang-orang Nuer yang tinggal di negara yang biasanya kurang berpendidikan dan menerima pendapatan rendah. Program telah mulai untuk membantu orang-orang ini berasimilasi ke dalam budaya Amerika.

Kritikan untuk The Nuer
Hutchinson (1996) menulis bahwa etnografi Evans-Pritchard, The Nuer, adalah karya “yang luar biasa kaya” (extraordinarily-rich) dan “tersusun dengan baik”(well-crafted). Tulisan-tulisannya telah membuat The Nuer terkenal dalam literatur etnografi.  Dalam bukunya, Nuer Dilemmas: Coping with Money, War, and the State, Sharon Hutchinson memberikan update rinci tentang orang Nuer dan bagaimana budaya mereka telah berubah sejak Evans-Pritchard meneliti suku tersebut pada tahun 1930-an.  Hutchinsonmelakukan penelitiannya di tahun 1980 selama perang sipil, yang masih melanda Sudan hingga saat ini.

Kritikan pertama untuk The Nuer adalah terkait agama/sihir. Buku ini menjelaskan tentang kehidupan orang Nuer, akan tetapi tidak begitu dalam membahas tentang sistem kepercayaan mereka berikut sihir (magic) yang dimiliki atau dipraktikkan oleh orang Nuer.  Dalam masyarakat sederhana, umumnya mereka memiliki sihir yang berfungsi sebagai mekanisme untuk menciptakan keseimbangan sosial.

Kemudian, kritikan kedua adalah dalam metode pengumpulan data. Kendati Evans-Pritchard terlibat secara immersion dengan orang Nuer, akan tetapi ia memiliki kendala tersendiri soal bagaimana memahami bahasa Nuer.  Pada bagian pertama bukunya, ia menjelaskan kesulitannya untuk menemukan penerjemah yang baik.  Tentu saja, kesulitan mendapatkan penerjemah tersebut menjadi kekurangan tersendiri terkait bagaimana Evans-Pritchard memahami bahasa dan makna (meaning) dari aktivitas orang Nuer.

Kritikan ketiga berkaitan dengan peranan perempuan. Dalam buku ini, Evans-Pritchard kurang membahas tentang peran perempuanNuer. Semua contoh yang dikutipnyaberdasarkan pada wawancara dengan laki-laki. Dalam pernikahan misalnya, perempuan Nuer ditempatkan pada posisi subordinat laki-laki.

Referensi
Akin, Ashley; Langworthy, Alycia; Smith, Whitney

2012    “The Nuer (1940) Edward E.  Evans-Pritchard”, diunduh dari https://wiki. geneseo. edu/display/cultural/Group+7%3A++The+Nuer+(1940)+Edward+E. +Evans-Pritchard

Pritchard, E. E.  Evans

1968    The Nuer: A description of the modes of livelihood and political institutions of a Nilotic people.  London: Oxford University Press

Leach, E. R

1970    Political System of Highland Burma: A Study of Kachin Social Structure.  Australia: Athlone Press

Tags:

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top