Dari Grand Indonesia ke Marriot Bangkok

Rubrik Kegiatan Oleh

Serial Tiga Hari di Bangkok (1)
Oleh Yanuardi Syukur

Di awal tahun 2017, saya diundang oleh Kedubes Australia untuk menghadiri pertemuan bersama peserta Muslim Exchange Program (MEP) Australia yang akan kembali ke negara asalnya. Pertemuan yang diadakan secara terbatas di salah satu restoran di Grand Indonesia, Jakarta tersebut, “diwakili” oleh dua alumni MEP Indonesia: saya dan Farinia Fianto. Setelah berdialog dengan peserta MEP, Farinia mengabarkan kepada saya sebuah program Kedubes Amerika dan selanjutnya memberikan informasi terkait program tersebut.Saya kemudian mengirimkan aplikasi dan selanjutnya melupakan.

Suatu ketika, saat kuliah siang di FISIP UI, saya menerima telepon dari Dekan Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun Drs. Fachmi Alhadar, M.Hum yang mengabarkan bahwa sebentar lagi akan ada telepon dari Kedubes Amerika. Ternyata, saya mendapat kabar untuk dikirim ke Bangkok dan menjadi salah satu pembicara di forum tersebut.

Dalam banyak hal, saya selalu merasa beruntung—yang dalam hal ini—karena mendapatkan kesempatan hadir dalam berbagai kegiatan yang penting seperti “Empowering Ideas: Think Tank Development”di Hotel Courtyard Marriot Bangkok, 8-9 Februari 2017. Dalam kegiatan tersebut, saya diundang sebagai salah seorang pembahas materi kualitas riset (research quality) bersama Prof. Alvin P. Ang (Filipina) yang dipandu oleh moderator Panutat Satchachai, Ph.D (Thailand) pada workshop setelah materi dari Mantan Sekjen ASEAN Dr. Surin Pitsuwan.

Kegiatan yang dibiayai oleh Kementerian Luar Amerika Serikat dan ditangani secara teknis oleh World Learning yang berkantor di Washington D.C tersebut, hadir sekitar peserta yang berasal dari 19 negara, termasuk Amerika Serikat. Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendengarkan paparan dari beberapa pembicara kunci seperti Mantan Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva dan Mantan Sekjen ASEAN Dr. Surin Pitsuwan. Selain itu juga beberapa sambutan singkat dari Kedutaan Besar Amerika di Bangkok Peter Haymond dan Direktur of Outreach and Strategic Initiatives Association for Asian Studies United Kingdom Ms. Krisna UK.

Diskusi juga diisi dengan beberapa panel terkait peluang dan tantangan di Asia-Pasifik yang disampaikan oleh beberapa pembicara dan juga workshop dalam beberapa isu seperti research quality, branding, policy development, dan communication. Diskusi-diskusi tersebut (terutama workshop) tidak semuanya saya hadiri karena harus memilih satu di antara empat sesi yang digelar secara bersamaan, akan tetapi saya sempat mencatat beberapa hal penting yang ada didiskusikan dalam forum ini. Ketika kembali ke Jakarta pada 10 Februari 2017 saya pun mulai menyusun naskah buku yang dipublikasikan secara berkala di laman Agupena.

Kenapa pengalaman yang hanya tiga hari ini perlu ditulis?Pertama, tidak semua orang dapat hadir dalam kegiatan internasional tersebut. Maka, penting sekali rasanya mendokumentasikan apa yang ada dalam bentuk buku. Sebelumnya, via email saya sampaikan ke Manager World Learning Vlad Spencer terkait pentingnya kita terbitkan buku dan telah dibahas sekilas di grup Facebook akan tetapi menjelang berakhir acara tidak sempat lagi saya ingatkan kepada Vlad untuk sharing dengan teman-teman peserta terkait buku tersebut. Akibatnya kemudian ide tersebut nyaris hilang begitu saja, tapi saya kemudian “menjemput” kembali dengan sharing kepada teman-teman peserta Indonesia di grup Whatsapp.

Kedua, Asia-Pasifik (khususnya Asia) saat ini menjadi regional yang sangat dinamis terutama setelah krisis moneter pada 1997 yang bermula di Thailand kemudian menyebar ke berbagai negara di Asia termasuk Indonesia pada 1998 yang menjatuhkan Presiden Suharto. Kebangkitan Asia menjadi tema yang sangat populer untuk dibahas, didiskusikan, bahkan diperdebatkan di tingkat lokal, regional maupun global. Saat menulis buku ini di Perancis juga sedang dipersiapkan sebuah konferensi internasional tentang “The Rise of Asia” yang untuk kegiatan tersebut abstrak saya telah diterima oleh panitia dan diundang untuk menjadi pembicara di sana pada Maret 2017. Popularitas Asia pun banyak dibahas oleh berbagai buku terkait perkembangan dalam demokrasi, menurunnya angka kemiskinan, dan meningkatnya pendidikan dan kesejahteraan—walaupun kenaikan tersebut tidak merata di tiap negara.

Ketiga, Wadah Pemikir (think tank) adalah lembaga yang sangat penting sebagai salah satu jembatan yang menghubungkan antara kepentingan masyarakat (people) dengan pemerintah (government). Penelitian yang dilakukan oleh lembaga think thank sangatlah berguna untuk pemerintah dalam proses pengambilan keputusan. Di Indonesia istilah think tank memang tidak begitu terkenal akan tetapi kita lebih mengenalnya dengan nama lain seperti Pusat Studi, Institut, atau yang berbentuk LSM riset dan advokasi. Kehadiran lembaga think tank seperti CSIS, LP3ES, Habibie Center, Maarif Institute, Wahid Institute, dan lain sebagainya menjadi kekuatan bagi penguatan demokratisasi di Indonesia. Beberapa think tank tersebut—tentu saja selain lembaga lain di dalam dan luar universitas—telah memberikan sumbangsih yang tidak sedikit dalam memberikan perspektif dalam bentuk buku, jurnal, policy brief, dan rekomendasi yang dapat digunakan oleh berbagai stakeholder dalam kegiatannya (termasuk pemerintah).

Nah, kehadiran saya di Bangkok Forum tersebut rasanya menjadi “mubazir” saja jika tidak bisa menghasilkan semacam oleh-oleh yang dibawa dari sana dalam bentuk ide, analisis, dan pengalaman penting yang dapat dibagi untuk pembaca Indonesia. Maka, untuk itulah sehingga saya memberanikan diri menulis naskah buku ini.Atas segala bantuan dari semua pihak saya ucapkan terimakasih, terkhusus kepada Pemerintah Amerika Serikat yang memberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan di Bangkok.  (Bersambung) ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Kegiatan

Di Balik Nama Danau Asmara

Danau Asmara, merupakan penyebutan lain dari Danau Waibelen. Terletak di antara Desa Waibao
Go to Top