Dialog dengan Kawan Atheis

Rubrik Kegiatan Oleh

Serial Tiga Hari di Bangkok (6)
Oleh Yanuardi Syukur

Sambil menunggu tiket di River City saya ngobrol dengan seorang kawan asal Armenia tentang kampung halamannya.Sang kawan bercerita bahwa kampungnya berada di ketinggian dan suhu udara normalnya pada 20 derajat celcius.

Temanku yang fotografer itu bercerita bahwa di kampungnya ada gunung yang tinggi sekali jika dihitung ke atas dan ke bawah dari Everest. Bahkan di sana juga ada gunung Ararat yang dipercayai sebagai tempat berlabuhnya bahtera Nabi Nuh.

“Apakah kamu percaya itu?” tanya saya.

“Tidak, saya tidak percaya Tuhan,” jawab dia.

“Kenapa?” tanya saya penasaran.

“Karena kehidupan ini terjadi begitu saja lewat big bang yang menjadi planet dan menjadi kita seperti sekarang,” lanjutnya.

Saya bertanya lagi, “kamu percaya teori evolusi Darwin?”

Dia menjawab bahwa, untuk sekarang ia percaya karena itulah teori yang paling ilmiah yang dapat menjelaskan tentang asal-usul manusia.

Kawanku itu bercerita lagi bahwa ibunya seorang Kristen sedangkan ayahnya seorang atheis.Mereka hidup rukun-rukun saja, katanya.Dia pun memilih jadi atheis.

Tentang kawan atheis ini saya sempat menulis sebuah catatan kecil saat berada di kamar hotel sebagai berikut.

Dialog seperti ini cukup nyaman jika ada keterbukaan satu sama lain. Untuk mengetahui keterbukaan itu, kita perlu melihat bagaimana ekspresi, pemikiran, dan keterbukaan teman kita dalam diskusi soal keyakinan. Konon, soal keyakinan adalah hal yang sensitif untuk dibahas, akan tetapi tidak semua “orang Barat” seperti itu. Sebagai contoh, ada kawanku asal Washington DC yang ketika ngobrol ia bercerita santai tentang banyak hal: tentang anaknya, istrinya, dan bagaimana pemikirannya tentang sesuatu. Jadi, keterbukaan adalah modal yang sangat penting untuk dialog bahkan pada tema-tema yang sensitif sekalipun. (Bersambung) ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Kegiatan

Go to Top