GEDUNG PERPUSTAKAAN DAERAH FLOTIM MEMPRIHATINKAN

Rubrik Berita/Kegiatan Oleh

Oleh: Maksimus Masan Kian
(Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia/ Agupena Cabang Flores Timur)

Jumat, (24/2/17) siang kisaran jam 11.00 Wita, saya berkunjung ke Gedung Perpustakaan Daerah Flores Timur. Ada dua maksud saya bertandang ke gedung ilmu ini yakni mengurus Kartu Perpustakaan dan membangun komunikasi dengan pihak Perpustakaan untuk sama – sama menyukseskan kegiatan Seminar Pendidikan yang akan diselenggarakan Agupena Flotim pada Hari Sabtu, 4 Maret 2017 di Gedung OMK Larantuka.

Jujur saya harus katakan gedung Perpustakaan Flores Timur memprihatinkan. Kurang sepadan dikatakan Gedung Perpustakaan tempat untuk membaca. Gedung yang berlokasi di Jalan Basuki Rahmat Larantuka atau persis di depan Pasar Inpres Larantuka ini tampak dari depan tidak memberi kesan apa – apa bahwa gedung yang ada adalah sebuah perpustakaan. Mulai dari Papan nama, tulisan dipapan sudah kabur, dan tidak nampak jelas apa tulisannya. Dibagian tengah Papan Nama penuh coretan.

Enggan untuk terus melangkah ke dalam gedung ini. Namun demi sebuah tujuan, saya memantapkan langkah untuk masuk. Terdapat 3 ruangan terpisah seperti ruangan kelas. Beberapa pegawai lagi duduk santai di meja piket. Mata saya sempat melihat ada deretan lemari yang berisi buku yang tidak terlalu banyak.Hari itu saya tidak menemukan satu pengunjungpun yang sedang baca atau meminjam buku. Lama saya berdiri melongo di depan pintu masuk.Saya baru kaget saat disapah oleh salah satu pegawai sambil bertanya “ada keperluan apa pa, ada yang bisa kami bantu” bagi saya, pegawai ini sangat santun dan beretika menerima tamu. Saya diterima dengan begitu baik dan komunikatif. Selang beberapa menit ngobrol, saya diarahkan menemui salah satu Kepala Bidang yang ruangnya tidak terlalu jauh dari pintu utama. Ruangan Kepala Bidang ini, ada di sebuah ruang sempit dengan sebuah meja kerja. Di atasnya terdapat sebuah komputer. Sementara di sudut ruangan kecil ini terdapat semancam perangkat jaringan internet, dengan juluran kabel yang begitu banyak. Ruangan yang memberi kesan ketidaknyamanan bagi siapa saja yang duduk dalam ruangan ini. Lelaki paru baya, berkulit hitam dengan senyum santun menyalami saya dan mempersilahkan saya duduk. “Silahkan duduk Pa, dari mana? Saya menjawab dari Agupena Flotim. Oh…iyah…Agupena Flotim sering dengar. Bagaimana? Saya kemudian mengutarakan maksud kedatangan saya, dan pihak perpustakaan merasa berterima kasih mendapat kunjungan dan ajakan dari Agupena untuk bersama – sama menyukseskan kegiatan Seminar Pendidikan tentang Literasi.” selama ini memang kami sudah berusaha melalui program kami mengajak anak – anak sekolah dan warga untuk membaca namun hasilnya belum maksimal. Beberapa kegiatan coba kami rancangan dan laksanakan juga tidak memberi dampak yang luas,” keluh Kepala Bidang ini.

Dengan santun dan nampak sangat bersahabat, saya dihantar di salah satu ruangan yang tidak terlalu jauh untuk diambilkan data dan kemudian dibuatkan Kartu Perpustakaan. Tidak membutuhkan waktu yang lama, kartu Perpustaakan sudah saya kantongi. Tidak ada biaya administrasi. Syaratnya hanya membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) Sedikitnya ada 8 pegawai ada di kantor ini. Beberapa pegawai nampak berada di teras akibat panas karena atap plafon yang rendah.

Gedung Perpustakaan Kabupaten Flores Timur yang memprihatinkan.

Jika dilihat secara dekat dinding gedung ini sudah mulai retak dan terancam roboh. Nampak di dinding ada guratan – guratan retak. Sebagian plafon sudah terlepas dan sisa tripleks bergantungan begitu saja. Kondisi gedung tidak menjamin kenyamanan orang ada di dalam. Hanya duduk saja, tidak nyaman. Apalagi duduk sambil membaca.

Realita ini membawa saya pada satu pemikiran, tidak mampuhkan kekuatan Flotim saat ini membangun sebuah Gedung Perpustakaan yang layak dan nyaman untuk dikunjungi. Bayangan saya, ada sebuah gedung paling tinggi di kota ini, ada di pesisir Pantai kota Larantuka dengan bentuk khas lokal yang bisa dilihat dari segala sisi kota Larantuka, dan itu adalah Gedung Perpustakaan. Tempat generasi muda Flores Timur mendapatkan ilmu pengetahuan melalui aktivitas membaca.

Saya juga membayangkan dengan adanya perpustakaan menjulang tinggi di pesisir Pantai, warga Adonara, Solor, Lembata sebelum nyeberang singah dulu di Perpustakaan untuk membaca. Tidak nampak lagi waktu sore anak – anak secara kelompok ngebut – ngebutan di jalan dengan motor, duduk di deker, miras dan mabuk – mabukan, duduk berdua – duan di Pantai, tetapi mereka saling berbagi dan bercengkrama dalam nuansa ilmiah di perpustakaan. Di sekitar Perpustakaan disiapkan sarana olaraga, Lopo untuk diskusi, disiapkan makanan ringan, panggung kreasi, dan kreativitas lain yang bisa dikemas menjadi satu paket membentuk iklim ilmiah.

Kita mesti bergerak melahirkan ikon – ikon di daerah. Kelak, daerah kita bisa menjadi refrensi di banyak bidang kehidupan.***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*