Kenyamaman di Courtyard Marriot

Rubrik Kegiatan Oleh

Serial Tiga Hari di Bangkok (4)
Oleh Yanuardi Syukur

Kata “Marriot” pertama kali saya dengar secara familiar waktu terjadi pemboman hotel JW Marriot dan Ritz-Cartlon di Jakarta.Menurut berita, hotel Marriot adalah hotel mahal yang biasa ditempati oleh para elite dari Amerika atau negara-negara besar.Pilihan World Learning untuk menginapkan peserta pada Coutryard Marriot Bangkok juga pasti berasalan faktor berbagai kelebihan yang ada di dalamnya.

Ketika tiba di Courtyard, tiap orang menyerahkan jaminan (cash deposit)sekian baht cash atau pakai kartu kredit saat check in. Kebetulan di dompet saya hanya ada beberapa baht saja maka saya titipkan sekitar 1000 baht saat check in pukul 10.02 yang akan diambil saat check outpada Jumat, 10 Februari 2017. Saat check in itu juga saya mendapatkan kartu anggota Marriot Rewards (www.marriotrewards.co.uk). Bahkan, ada juga aplikasi mobile untuk mengakses digital membership card.

Di brosur sekaligus kartu member tersebut pada bagian bawah ada beberapa brand lain dari grup The Ritz-Carlton “exclusive luxury partners” (lebih dari 4000 hotel), yaitu: Edition, JW Marriot, Autograph Collection Hotels, Renaissance, Marriot, Marriot Vacation Club, Gaylord Hotel, AC Hotels Marriot, Courtyard, Residence Inn, Springhil Suites, Fairfield Inn & Suites, Towneplace Suites, Protea Hotels, Moxy Hotels dan juga satu brand yang baru: Delta Hotels and Resorts. Di hotel Courtyard ini saya tinggal di kamar 107.

Kamar hotel ini cukup nyaman dan luas.Saya merasa santai dan seperti biasa harus menaikkan derajat udara sampai 27 derajat celcius agar tidak terlalu dingin.Biasanya kalau terlalu dingin (misalnya 16 derajat) itu saya tidak maksimal untuk menulis.Ukuran 16 derajat itu sepertinya masih kategori panas untuk orang yang tinggal di gunung seperti teman saya yang asal Armenia.Tapi, begitulah tiap orang beda-beda kenyamanannya dengan udara.

Kenyamanan di Courtyard ini mengingatkan saya akan beberapa apartemen yang sempat saya singgahi waktu ikut Program MEP. Seluruh apartemen, baik yang di Kuningan hingga di Melbourne, Canberra, dan Sydney, semuanya memang nyaman. Saya kadang membayangkan: jika saja saya punya kesempatan menetap sekitar 1 minggu saja di apartemen, maka saya bisa menyelesaikan 1 buku. Seperti biasa, kalau hendak menyelesaikan buku saya perlu tempat yang relatif sepi dengan koneksi internet yang bagus untuk itu.

Kenyamanan di Courtyard ini menjadi inspirasi tersendiri.Artinya, jika suatu saat punya rumah, saya ingin punya rumah yang nyaman untuk belajar, menulis, dan juga merenung tentang berbagai hal yang pernah saya temui. (Bersambung) ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Kegiatan

Go to Top