KOREAN DEMILITARIZED ZONE: Perjalanan Paling Menegangkan di Korea

Rubrik Kegiatan Oleh

KOREAN DEMILITARIZED ZONE: Perjalanan Paling Menegangkan di Korea

Erawati Heru Wardhani
(Traveler)

Jalan-jalan paling seru dan menegangkan di Korea Selatan adalah tur ke DMZ (Demilitarized Zone). Bayangkan saja, DMZ disebut ‘sebagai tempat paling berbahaya di dunia’.

DEMILITARIZED ZONE (DMZ)
DMZ merupakan zona netral di perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Dahulu merupakan perbatasan wilayah Amerika yang menguasai Korea Selatan dan Uni Soviet yang menguasai Korea Utara. Wilayah ini terbentang sejauh 250 kilometer membagi Semenanjung Korea menjadi dua bagian.

Setelah perang yang dahsyat antara Korea Selatan dan Korea Utara (1950-1953), kedua belah pihak mengadakan gencatan senjata. Namun gencatan senjata itu tidak diikuti dengan perjanjian perdamaian sehingga sampai saat ini kedua negara itu belum berdamai.

Kedua negara sepakat untuk menarik mundur pasukan sejauh 2 kilometer dari garis depan sehingga tercipta zona penyangga (buffer zone)di perbatasan selebar 4 kilometer. Di tengah-tengah DMZ ini terbentang Garis Demarkasi Militer. Zona penyangga yang menjadi kawasan bebas dari militer ini dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan konflik antara tentara Korea Selatan dan Korea Utara yang berjaga di perbatasan yang kemudian bisa memicu perang lagi.

Meski kawasan ini relatif aman, namun DMZ merupakan perbatasan paling termiliterisasi di dunia. Di kawasan ini baik tentara Korea Selatan maupun Korea Utara berjaga-jaga lengkap dengan senjata berat, tank-tank dan misil yang siap diluncurkan. Mereka siap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk perang yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Rasa tegang, penasaran dan excited karena akan mengalami petualangan  seru, membuat saya sangat bersemangat dengan tur ke DMZ ini.

Rasa tegang sudah dimulai sejak pemandu menjelaskan bahwa demi keselamatan kami, saat berkunjung ke DMZ kami harus mematuhi beberapa aturan yang cukup ketat.

ATURAN DAN HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN

  • Kunjungan ke DMZ bisa dilakukan dengan mengikuti tur dari travel agent Korea yang sudah mendapat legalitas berkunjung ke DMZ. Ada banyak travel agent yang mengadakan DMZ Tour.
  • Wajib membawa paspor asli. Paspor harus cocok dengan identitas data pengunjung yang sebelumnya sudah didaftarkan oleh guide.
  • Saat pemeriksaan paspor di check point, jangan melakukan tindakan yang mencurigakan karena bisa berakibat dibatalkannya tur.
  • Untuk alasan keamanan, kita juga dilarang mengambil foto tentara saat pemeriksaan paspor berlangsung.
  • Tidak memakai baju atau atribut yang berbau militer. Bisa-bisa dicurigai sebagai mata-mata dari Korea Utara!
  • Tidak mengambil foto sembarangan. Kita hanya diperbolehkan mengambil foto di tempat yang sudah ditentukan.

IMJINGAK PARK
Perjalanan dari Seoul ke DMZ memakan waktu sekitar 1 jam. Pemberhentian pertama adalah Imjingak Park. Imjingak merupakan tempat paling utara di Korea Selatan yang masih bisa diakses tanpa melewati pos penjagaan militer, terletak 7 kilometer dari Garis Demarkasi Militer. Mobil pribadi maupun bus wisata hanya diperbolehkan sampai di Imjingak. Untuk bisa memasuki DMZ selanjutnya kami harus berganti bus khusus. Bus ini mempunyai jadwal keberangkatan yang sudah ditentukan.

Sambil menunggu jam keberangkatan bus, kami melewatkan waktu dengan berjalan-jalan di Imjingak Park. Imjingak Park didedikasikan bagi rakyat Korea Selatan dan Korea Utara yang telah kehilangan sanak saudara atau tidak bisa pulang ke kotanya karena perang. Monumen-monumen yang ada di sini terutama untuk mengenang berpisahnya kedua negara. Tulisan-tulisan di monumen selain berisi doa dan harapan bersatunya kembali dua negara itu, juga menceritakan kesedihan keluarga dan kerabat yang terpisah karena politik.

Banyak hal menarik di Imjingak Park. Sebuah lokomotif kereta tua yang bernama “The Iron Horse Wants to Run” menjadi simbol terputusnya jalur kereta antara Korea Selatan dan Korea Utara karena perang. Melihat kereta tua yang jadi saksi terpisahnya Semenanjung Korea benar-benar membuat saya sedih.

Kemudian ada Freedom Bridge, jembatan ini pernah digunakan untuk membebaskan tawanan perang, kembali ke Korea Selatan. Satu sisi jembatan itu tertutup pagar kawat berduri yang jadi pembatas area DMZ. Yang juga menarik perhatian adalah banyak sekali tulisan pada pita warna-warni yang ditempelkan di pagar kawat berduri. Menurut pemandu, tulisan itu berisi harapan dan doa dari rakyat Korea agar kedua negara bisa bersatu kembali.

Di sini juga bisa ditemui Peace Bell, yang menjadi simbol penyatuan kembali Semenanjung Korea. Saya sangat tertarik dengan tulisan di monumen yang terdapat di Peace Bell;

As we bid farewell to 20th century in which witnessed the division of the Korean Peninsula, we welcome the 21st century as a time of reunification and peace for all mankind….

Monumen bertanggal 1 Januari 2000 ini menunjukkan optimisme rakyat Korea bahwa abad 21 akan menjadi saat bersatunya kembali Semenanjung Korea.

DORASAN STATION
Dari Imjingak kemudian kami naik bus khusus. Dalam bus ini kami bergabung dengan beberapa rombongan wisatawan lain. Sepanjang perjalanan kami melihat tentara Korea Selatan dengan senjata lengkap berjaga di pos di setiap kilometernya. Pemandangan seperti ini makin memperkuat kenyataan kalau negara ini masih berstatus perang. Perjalanan tambah menegangkan ketika bus berhenti di sebuah check point. Dari dalam bus kami bisa melihat beberapa tentara bersenjata berjaga di pos penjagaan. Setelah sopir menyerahkan dokumen, dua orang tentara bersenjata naik ke bus, memeriksa paspor semua penumpang. Mungkin karena tegang atau takut, semua turis terdiam. Hanya para pemandu yang berbicara dengan tentara itu. Setelah memeriksa paspor, tentara itu menghitung jumlah penumpang. Menurut pemandu, jika saat masuk dan keluar DMZ jumlah penumpang tidak sama, maka bus akan ditahan tidak boleh keluar DMZ.

Setelah mendapat ijin memasuki DMZ, bus melanjutkan perjalanan. Pertama, bus berhenti di Dorasan Station. Stasiun ini menghubungkan Korea Selatan dan Korea Utara. Sebuah stasiun kereta yang megah dan sangat modern dengan fasilitas lengkap. Ada tempat penjualan tiket, kios makanan dan suvenir, toilet yang bersih dan kelengkapan lain. Sama dengan stasiun di kota-kota besar dunia. Yang membedakan adalah, di sini banyak tentara bersenjata yang berjaga dan ruang penjualan tiket maupun ruang dalam stasiun itu kosong! Meski di atas pintu masuk stasiun tertera jelas tulisan ‘To Pyeongyang’ namun stasiun ini tidak berfungsi karena untuk mengoperasikannya, Korea Selatan harus berdamai dulu dengan Korea Utara.

Memandang stasiun modern yang kosong dan tanpa aktivitas ini membuat saya merasa sedih. Stasiun yang mestinya bisa menghubungkan saudara yang terpisah karena politik, nyatanya hanya sekedar menjadi objek wisata saja. Apalagi saat membaca tulisan yang terpampang di lobby;

Not the last station from the South, but the first station toward the North.

Saya merinding membacanya. Terharu, betapa harapan itu selalu ada. Yah, tempat ini telah disiapkan jika di masa depan Korea Selatan dan Korea Utara bersatu kembali.

DORA OBSERVATORY
Dari Dorasan Station kami menuju ke Dora Observatory yang terletak di puncak Dorasan (Gunung Dora). Daerah ini merupakan wilayah Korea Selatan yang letaknya paling dekat dengan Korea Utara, tepatnya di Kota Paju, Provinsi Gyeonggi. Di sini disediakan beberapa teropong untuk mengamati wilayah Korea Utara. Teropong ini bisa beroperasi jika kita memasukan uang logam sebesar 500 won terlebih dahulu. Bisa ‘mengintip’ wilayah Korea Utara, benar-benar jadi pengalaman tak terlupakan. Mendadak ada rasa ingin tahu. Seperti apakah kehidupan masyarakatnya? Selama ini negara itu sangat tertutup dan terisolir dari dunia luar. Ada pemandangan kontras antara wilayah Korea Selatan dan Korea Utara. Pegunungan Korea Selatan terlihat hijau sedangkan Korea Utara terlihat gersang.

Dari sini kami juga bisa melihat Kota Geaseong yang merupakan kota industri terbesar di Korea Utara. Kami juga bisa melihat dua desa yang diperbolehkan berdiri di DMZ. Desa Daesong-dong yang menjadi desa terluar Korea Selatan dan desa Gijeong-dong di Korea Utara yang biasa disebut ‘Desa Propaganda’. Yang menarik, kami melihat ada dua tiang bendera yang sangat tinggi di dua desa tersebut. Menurut pemandu kami, Korea Selatan dan Korea Utara saling adu tinggi-tinggian tiang bendera di daerah perbatasan. Ketika Korea Selatan membangun tiang bendera setinggi 98 meter, Korea Utara membuat tiang bendera setinggi 160 meter. Alhasil, tiang bendera di Korea Utara ini merupakan tiang bendera tertinggi di dunia!

Seperti halnya di Imjingak, di sini kami juga melihat banyak tentara yang berjaga-jaga. Beberapa tentara terlihat mengawasi wisatawan yang mengambil foto. Ada garis penanda untuk area yang tidak diperbolehkan untuk mengambil foto. Menurut pemandu, beberapa kali ada kejadian turis yang nekad mengambil foto tanpa mematuhi aturan. Akibatnya mereka harus berurusan dengan petugas patroli yang kemudian mengecek kameranya dan menghapus foto-foto yang diambil di situ.

Di Dora Observatory, lagi-lagi saya menangkap optimisme rakyat Korea untuk terjadinya reunifikasi dalam tulisan yang terpampang besar,

END OF SEPARATION, BEGINNING OF UNIFICATION

THE 3RD INFILTRATION TUNNEL

Perjalanan berlanjut menuju ke The 3rd Infiltration Tunnel. Terowongan ketiga merupakan jalur inflitrasi yang dibuat oleh Korea Utara ke dalam Korea Selatan. Terowongan ini panjangnya sekitar 1,6 kilometer dengan tinggi dan lebar masing-masing sekitar 2 meter dan terletak sekitar 73 meter di bawah permukaan tanah. Terowongan ini bisa menampung 60.000 tentara Korea Utara untuk menyusup ke Korea Selatan dalam waktu 1 jam!

Meski panjang terowongan sekitar 1,6 kilometer, namun yang boleh dilewati pengunjung hanya sekitar 265 meter, yaitu sampai batas demarkasi militer. Selebihnya terowongan itu sudah masuk wilayah Korea Utara dan diberi dinding pembatas. Sebetulnya ada empat terowongan yang sudah ditemukan, namun yang dibuka untuk pengunjung hanya terowongan ketiga.

Pemandu mengingatkan, bagi peserta yang mengidap klaustrofobia atau ketakutan terhadap ruang sempit yang tertutup tidak disarankan mengikuti tur ini. Sebelum memasuki terowongan, semua barang wajib ditinggal di loker termasuk kamera, karena pengunjung dilarang memotret di sini. Kami juga wajib mengenakan helm berwarna kuning yang sudah disediakan.

Jalanan masuk terowongan yang terbuat dari conblock ini menurun tajam, membuat kami berjalan cepat ke depan namun badan condong ke belakang. Di sisi kanan dan kiri ada tiang yang bisa dijadikan pegangan. Meski ada lampu namun suasananya agak gelap. Di beberapa spot juga ada tempat duduk bagi yang ingin beristirahat karena perjalanan ini memang sangat menguras energi.

Setelah berjalan turun sangat jauh, kami mulai bertemu dengan jalanan mendatar yang masih asli tanpa conblock. Jalanan semakin sempit, lembab dan basah dengan tetes-tetes air dari langit-langit terowongan. Seperti di dalam gua. Di beberapa tempat langit-langit itu sangat rendah, sehingga beberapa kali kami harus merunduk. Rupanya itulah gunanya helm yang kami pakai, agar kepala tidak sakit terantuk langit-langit.

Setelah lama berjalan dan kelelahan, akhirnya kami sampai di ujung terowongan yang bisa dimasuki pengunjung. Di sini ada jendela kayu yang menutup terowongan ini. Menurut pemandu, di sisi lain ujung terowongan itu adalah wilayah Korea Utara. Jadi titik itu adalah titik terdekat dengan Korea Utara. Saat saya akan mengintip, pemandu mengatakan sesuatu yang membuat saya takut sekaligus penasaran. Katanya, kalau kita mengintip dari jendela itu, pasti kita akan melihat mata-mata Korea Utara yang juga sedang menatap ke arah kita. Wah, serem juga! Karena penasaran, saya melongok ke balik jendela kecil itu.

Ada sensasi yang aneh saat menatap ke seberang. Sepi, lengang, kosong, seperti melihat negeri misterius tak bertuan. Apakah ada mata-mata Korea Utara yang diam-diam mengamati saya di seberang sana? Entahlah, saya tidak melihatnya.

Perjalanan keluar dari terowongan adalah perjuangan yang sangat berat. Bayangkan saja, kami harus berjalan menanjak sepanjang terowongan. Napas kami nyaris putus rasanya. Beberapa kali kami harus berhenti untuk sekedar menarik napas panjang. Namun setiap kali menemui orang Korea yang bahkan sudah kakek-kakek dan nenek-nenek masih kuat berjalan, kami pun bersemangat kembali.

Begitu keluar terowongan dan menghirup udara segar kembali, rasa lelah langsung sirna. Puas dan takjub, itu yang saya rasakan. Bisa menaklukkan The 3rd Tunnel menurut saya itu luar biasa.

Tur DMZ berakhir dengan kembalinya kami ke Imjingak Park, tempat bis wisata kami sudah menunggu. Sebuah perjalanan yang meninggalkan kesan dalam. Ada seru, tegang, haru, dan sedih saat melihat dari dekat bukti sejarah terpisahnya dua negara. Namun di sisi lain juga ada kepuasan tersendiri karena bisa mendapat pengalaman yang sangat berharga. *****

TENTANG INFILTRATION TUNNEL
Sejak terjadi pemisahan negara, Korea Utara telah beberapa kali melakukan penyusupan dan penyerbuan ke wilayah Korea Selatan. Penyusupan dilakukan salah satunya dengan membuat terowongan melintasi garis demarkasi militer.

Korea Selatan telah menemukan empat terowongan dari dua puluh terowongan yang diperkirakan ada.

The 1st Tunnel ditemukan pada November 1974. Terowongan ini ditemukan pasukan patroli Korea Selatan yang melihat uap keluar dari bawah tanah.

The 2nd Tunnel ditemukan Maret 1975.

The 3rd Tunnel ditemukan berdasarkan informasi dari warga Korea Utara yang membelot ke Korea Selatan. Pihak Korea Utara berdalih bahwa terowongan itu merupakan pertambangan batu bara. Mereka melumuri dinding terowongan dengan bubuk batu bara. Kemudian terbukti di kawasan itu hanya ada batu-batu granit dan tidak mungkin ditemukan batu bara.

The 4th Tunnel ditemukan pada Maret 1990.

Meski pihak Korea Utara selalu membantah, namun bukti-bukti menunjukkan kalau terowongan itu dibuat Korea Utara untuk menyusup ke Korea Selatan.*****

NAIK APA, HABIS BERAPA?
Penerbangan
Penerbangan langsung ke Korea Selatan bisa dilakukan dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia atau dengan Korean Air. Penerbangan ini langsung ke Incheon International Airport, Seoul. Perjalanan Jakarta – Seoul memakan waktu sekitar enam setengah jam.

Transportasi
Untuk melakukan DMZ Tour disarankan ikut paket tur dari agen perjalanan di Seoul. Di Seoul banyak agen perjalanan yang menawarkan paket DMZ Tour. Selain lebih nyaman dan mudah karena peserta tur akan dijemput langsung ke penginapan, agen perjalanan dari Seoul menyediakan pemandu dalam berbagai bahasa sesuai pilihan kita. Dari Seoul ke Imjingak sekitar 1 jam. Kemudian di Imjingak kita akan berganti dengan bis khusus untuk memasuki DMZ.

Tarif berbeda tergantung paketnya. Untuk paket Half Day DMZ Tour tiketnya seharga 46.000 won per orang. Sedangkan paket Full Day DMZ Tour tiket 65.000 won. Selain itu ada juga paket kunjungan ke DMZ dan JSA (Joint Security Area), satu orang dikenai tiket sekitar 135.000 won.

Catatan:
Tahun 2015 genap 70 tahun kemerdekaan Korea, sekaligus 70 tahun terbaginya Semenanjung Korea menjadi dua negara.*****

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Kegiatan

Go to Top