Ladyboy: Lebih Cantik Laki-laki dari Perempuan

Rubrik Kegiatan Oleh

Serial Tiga Hari di Bangkok (5)
Oleh Yanuardi Syukur

Kata orang, laki-laki Thailand lebih cantik dari perempuannya.Bisa jadi benar jika dilihat dari fenomena hadirnya ladyboy, laki-laki yang mengubah beberapa tubuhnya menjadi perempuan. Jika sekilas melihat tubuh ladyboy kita akan mengatakan bahwa itu perempuan karena fisik dan suaranya memang perempuan. Tapi jika didalami lagi dalam diskusi tentang mereka maka akan sadarlah kita bahwa mereka asalnya laki-laki.

Pada malam perpisahan di Sungai Phrao River City saya melihat ladyboy secara langsung—dan memang persis cantiknya seperti waktu melihat di beberapa media online yang menampilkan berita kalangan tersebut.Saya pun sempatkan berfoto dengan dua orang tersebut.Beberapa teman juga pastinya tidak melewatkan kesempatan mengabadikan kenangan bersama “kelompok minoritas” yang konon kabarnya tidak selalu bahagia sebahagia wajahnya karena ada saja diskriminasi yang mereka dapatkan oleh masyarakat.

Fenomena ladyboy merupakan fenomena orientasi seksual yang berbeda dalam diri manusia.Dalam kajian antropologi, ada anggapan bahwa jenis kelamin laki-laki dan perempuan saat ini tidak lagi cukup untuk menampung lahirnya jenis kelamin baru. Maka, salah seorang penulis pun mengusulkan agar ada jenis kelamin hermaphrodite yang condong ke laki-laki atau ke perempuan.

Tentang ladyboy, saya sempat menulis catatan singkat sebagai berikut:

Ladyboy
Persis betul wajah dan tubuhnya perempuan
Mirip betul semua yang terlihat perempuan
Itu di Thailand, negeri pariwisata,
the spirit of ASEAN

Ladyboy adalah fenomena
Kenapa bisa lelaki jadi perempuan?
Mungkinkah takdir, atau pilihan hidup?

Terkadang hidup ini penuh teka-teki
Putih bisa hitam, hitam bisa putih

Ladyboy
Adalah dunia, ketika lelaki tertentu
punya kecenderungan tidak biasa
dan memilih jalan hidupnya

(Sungai Phao Praya, setelah berfoto dengan seorang Ladyboy, 9/02/2017, malam)

(Bersambung) ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Kegiatan

Di Balik Nama Danau Asmara

Danau Asmara, merupakan penyebutan lain dari Danau Waibelen. Terletak di antara Desa Waibao
Go to Top