MELAKA, SITUS WARISAN DUNIA

Rubrik Kegiatan Oleh

MELAKA, SITUS WARISAN DUNIA
Erawati Heru Wardhani

Beberapa waktu lalu saya dan dua orang teman melakukan backpack ke Singapore dan Malaysia. Saat singgah di Johor Baru, Malaysia, teman yang tinggal di sana menyarankan pada kami untuk mengunjungi Melaka. Wisata sejarah yang wajib dikunjungi, begitu katanya. Apalagi sudah sampai di Johor Baru, sayang kalau tidak mampir ke Melaka yang oleh UNESCO dimasukkan dalam daftar situs warisan dunia (world heritage site).

Tertarik dengan rekomendasi itu, akhirnya kami sepakat untuk menambah satu destinasi baru meski tidak ada dalam itinerary kami sebelumnya, yaitu Melaka! Begitulah, setelah puas berkeliling Kota Johor Baru, keesokkan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Melaka. Kami berangkat dari Batu Pahat, tempat kerabat yang kami inapi. Dari Batu Pahat kami naik bus AC Orkid Malaysia yang cukup nyaman dengan tiket seharga RM 9.00. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, akhirnya kami sampai di Terminal Melaka Sentral. Terminal ini cukup besar dan bagus. Di terminal ini juga ada semacam pusat perbelanjaan dan food court.

Karena sampai di Melaka Sentral sudah siang, kami memutuskan untuk sholat dzuhur dan makan agar cukup energi untuk berkeliling Melaka. Ada banyak pilihan makanan di sini. Restoran China, Melayu, India. Kami memilih restoran Melayu dengan pertimbangan lebih aman dan menunya pasti lebih pas buat lidah dan perut kami. Kami memilih restoran yang ramai pengunjung dengan asumsi, ramai berarti makanannya enak, meskipun itu tidak bisa jadi jaminan. Saya memesan nasi goreng ikan masin (ikan asin) seharga RM 5.50 dan kopi susu seharga 1.60, lumayan murah. Teman saya memilih menu Tom Yam yang pedas dan segar. Harga makanan memang relatif standar, tidak jauh dengan di Indonesia. Saat pulang, saya sempat membeli burger dan ice tea di Mc Donald Melaka Sentral hanya seharga RM 8.20.

Selesai makan, kami langsung ke bagian informasi untuk menanyakan bis ke pusat kota. Kami mendapat informasi untuk menuju pusat Kota Melaka kami bisa menggunakan Bis Panorama kemudian turun di Stadthuys yang merupakan pusat kawasan heritage Melaka. Kami pun naik Bus Panorama yang cukup bagus dan nyaman karena ber-AC. Tiket Bus Panorama dari Melaka Sentral ke Stadthuys sebesar RM 1.00. Tetapi ketika pulang kami naik bus yang berbeda. Kondisi busnya tidak terlalu bagus, harga tiketnya juga lebih mahal, RM 1.50 dan yang lebih menyebalkan adalah rutenya ternyata muter-muter sehingga lebih lama dari saat berangkat.

STADTHUYS – RED BUILDING
Begitu turun di halte Stadthuys, kami langsung disambut pemandangan yang sangat indah. Sebuah kota tua dengan dominasi bangunan warna terakota, khas bangunan peninggalan Belanda. Seperti kita ketahui, dahulu Melaka merupakan koloni dari tiga negara yaitu Portugis, Belanda dan Inggris. Itulah mengapa selain kental dengan budaya Melayu, India dan China, di Melaka banyak dijumpai bangunan kuno dengan arsitektur yang dipengaruhi budaya ketiga negara tersebut.

Bangunan pertama yang tertangkap mata dan menyita perhatian saya adalah Christ Church Melaka, sebuah gereja tua yang dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1753. Di depannya ada air mancur Queen Victoria dan taman cantik dengan bunga-bunga berwarna merah dan kuning yang mencolok. Air mancur Queen Victoria dibangun oleh rakyat Melaka sebagai persembahan untuk Ratu Victoria saat perayaan 60 tahun kekuasaannya di Melaka.

Di sebelah Christ Church terdapat Gedung Stadthuys. Gedung berwarna merah bata yang dibangun pada 1650 itu dahulu merupakan kediaman Gubernur Jendral Belanda. Konon Gedung Stadthuys merupakan bangunan Belanda yang tertua di Asia Tenggara. Saat ini Stadthuys dijadikan sebagai Museum of History and Ethnography. Koleksi museum ini berupa baju-baju pengantin tradisional dan benda-benda peninggalan sejarah Melaka lainnya.

Yang tidak kalah menarik adalah Tang Beng Swee Clock Tower atau Menara Jam Tang Beng Swee yang terletak di depan Christ Church Melaka. Bangunan yang menjadi salah satu landmark Kota Melaka ini juga berwarna merah bata.

Kawasan Stadthuys atau disebut juga Dutch Square ini mengingatkan saya pada gambar kota-kota di Eropa yang pernah saya lihat. Kalau di Jakarta mungkin mirip kawasan Kota Tua. Bedanya di Melaka menurut saya jauh lebih bersih dan teratur.

JONKER STREET
Setelah puas berfoto-foto di kawasan Stadthuys, kami menyeberang jembatan lalu menyusuri Jalan Hang Jebat atau lebih dikenal dengan nama Jonker Street. Jonker Street masuk dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi jika ke Melaka. Jangan bilang pernah ke Melaka kalau belum ‘blusukan’ ke Jonker Street. Kalau di Jogja mungkin sama dengan Jalan Malioboro yang legendaris itu.

Sepanjang Jonker Street, di sisi kiri dan kanan penuh dengan bangunan-bangunan kuno yang masih terawat dengan baik. Mulai dari galeri, restoran, kafe, museum, guest house, toko suvenir, kuil, dll. Bagi yang ingin wisata kuliner, belanja souvenir maupun berburu barang antik, di sinilah tempatnya.

Aroma budaya China sangat kental, karena Jonker Street memang merupakan kawasan pecinan (China town). Mulai dari orang-orang yang kami temui, arsitektur bangunan, kedai-kedai China, bahkan beberapa kali kami menemukan hio (dupa yang digunakan dalam ritual persembahyangan orang Tionghoa) di sudut jalan. Apalagi saat kami berkunjung masih dalam suasana peringatan tahun baru China. Bahkan saat baru memasuki Jonker Street, kami sudah disambut dengan hiasan ular naga raksasa berwarna merah khas China.

Dari info yang kami dapat, sebenarnya setiap weekend digelar acara Jonker Street Weekend Night Market, semacam bazaar, pesta rakyat di malam hari. Tetapi karena kami tidak menginap, maka kami tidak bisa menikmati pasar malam itu.

MUSEUM CHENG HO
Masih di kawasan Jonker Street, ada tempat yang tidak boleh dilewatkan yaitu Museum Budaya Cheng Ho. Museum ini dibangun sebagai penghargaan bagi Laksamana Cheng Ho. Seperti yang kita ketahui, Cheng Ho adalah penjelajah muslim dari China yang sangat terkenal. Selain pernah singgah beberapa kali di nusantara, Cheng Ho juga berkunjung ke Melaka setidaknya lima kali. Tempat yang sekarang dijadikan Museum Budaya Cheng Ho, dulunya diyakini sebagai tempat menyimpan barang milik Laksamana Cheng Ho saat kapalnya berlabuh di Kota Melaka.

Meski dari luar terlihat kecil, tetapi museum ini sebenarnya cukup luas dengan koleksi yang sangat lengkap. Kita bisa melihat benda-benda peninggalan Cheng Ho maupun benda yang berhubungan dengan Cheng Ho. Mulai dari guci-guci dari Dinasti Ming, patung Cheng Ho, replika kapal yang digunakan Cheng Ho dalam penjelajahannya, porselen, lukisan, dan diorama yang menceritakan kisah perjalanan Cheng Ho.

Mengunjungi museum ini dijamin puas dan tidak akan menyesal. Di mana lagi bisa menyaksikan sisa-sisa kejayaan laksamana yang sangat termashyur ini.

MASJID KAMPUNG KLING
Tidak jauh dari Jonker Street, tepatnya di Jalan Tukang Emas, bisa kita temui Masjid Kampung Kling. Masjid yang dibangun tahun 1748 ini merupakan salah satu masjid tertua di Malaysia. Masjid ini dibangun oleh para pedagang muslim India pada masa pemerintahan Belanda. Bangunan awalnya terbuat dari kayu, namun pada tahun 1872 masjid ini direnovasi menjadi bangunan batu.

Arsitektur Masjid Kampung Kling sangat unik karena merupakan gabungan dari budaya Melayu, Sumatera, China dan Hindu. Masjid ini dibangun dengan gaya masjid seperti di Jawa dan Sumatera. Atap limasan bersusun tiga juga mirip dengan masjid-masjid di Jawa dan Sumatera. Sementara itu ukiran-ukiran di dalam masjid dibuat oleh orang Melayu. Marmer dan ubin yang dipakai berasal dari Negeri China. Ukiran pada mimbar kayu memiliki gaya Hindu dan China. Kita juga bisa melihat menara yang bentuknya mirip pagoda China.

Selain kaum muslim yang ingin menjalankan sholat, saya juga melihat beberapa wisatawan mengunjungi masjid ini, termasuk bule-bule. Hanya saja bagi mereka yang non-muslim dilarang untuk masuk ke tempat sholat. Pengunjung juga diharuskan memakai busana yang menutup aurat. Nah, bagi mereka yang bajunya tidak menutup aurat, di bagian depan masjid sudah disediakan jubah panjang. Kami sholat asar di masjid ini dan sempat berkenalan dengan turis Perancis yang tengah melakukan studi tentang Islam.

EKSOTISME SEBUAH SUNGAI
Pemandangan yang sangat cantik menurut saya adalah pemandangan di sepanjang Sungai Melaka yang membelah kota. Saya rasa pemerintah Kota Melaka mengelola sungai ini dengan sangat baik sehingga bisa menjadi daya tarik wisata. Sungai ini terlihat bersih dan terawat. Di sepanjang sungai, di sisi kiri dan kanan disediakan broadwalk khusus bagi para pedestrian, sehingga kita bisa berjalan-jalan dengan santai dan nyaman. Di beberapa titik juga disediakan tempat duduk untuk bersantai atau tempat berfoto. Rasanya semua spot di sepanjang sungai ini bisa menjadi obyek foto yang menarik.

Nah, di river side ini terdapat beberapa hotel mewah bergaya Eropa, guest house serta kafe dengan view yang terlihat sangat romantis. Selain berjalan di tepi sungai, kita juga bisa menikmati pemandangan Kota Melaka dengan menggunakan Melaka River Cruise. Dengan tarif kapal boat sebesar RM 15 kita bisa menyusuri Sungai Melaka selama kurang lebih 45 menit. Di sini disediakan beberapa dermaga.

Selain pemandangan sungai yang cantik, kita juga bisa  menyaksikan sisa-sisa kejayaan Kesultanan Melaka. Ya, di sungai ini terdapat kincir air raksasa milik Kesultanan Melaka.

Oya, selain bisa menikmati keindahan Kota Melaka dengan menyusuri sungainya, kita juga bisa melihat Kota Melaka dari ketinggian. Kita bisa naik Menara Taming Sari yang tingginya 110 meter. Menara ini bisa berputar 360 derajat. Harga tiket menara berputar ini adalah RM 20 untuk dewasa dan RM 10 untuk anak-anak. Saya tidak sempat naik Menara Taming Sari karena keterbatasan waktu.

BANG TOYIB DI MELAKA
Hal yang tidak kalah menarik di Melaka adalah alat transportasi becak yang hilir mudik mengantar wisatawan berkeliling Kota Melaka. Uniknya becak-becak ini dihias bunga-bunga plastik dengan warna-warna ‘ngejreng’ sehingga terlihat sangat meriah. Sempat tergoda untuk mencoba menaiki becak itu. Tapi begitu melihat papan pengumuman tarif becak, saya langsung mengurungkan niat itu. Bayangkan saja, tarifnya RM 40 per jam, berarti sekitar Rp. 124,000. Wah, mahal juga, ya. Lagipula, rasanya lebih asyik berjalan kaki untuk berkeliling Melaka. Terasa lebih puas dan bisa berhenti kapan saja untuk berfoto. Setiap sudut di Kota Melaka memang spot yang indah untuk berfoto!

Oya, saat berjalan-jalan itu ada satu kenangan lucu. Jadi, sepanjang jalan kami sering berpapasan dengan becak-becak hias. Becak yang berpenumpang biasanya memperdengarkan lagu-lagu dari speaker yang dipasang di bemper belakang. Nah, yang membuat kami nyengir adalah, beberapa kali kami mendengar becak yang memutar lagu ‘Bang Toyib’ yang dilantunkan oleh penyanyi dangdut Indonesia. Wah, jadi terasa seperti di Indonesia saja. Ternyata Bang Toyib juga beredar dan popular di Melaka. Hahaha…

MAKANAN KHAS MELAKA
Wisata ke suatu tempat rasanya tidak afdol kalau belum mencicipi makanan khasnya.  Salah satu makanan khas Melaka adalah Chicken Rice Ball. Menu ini terdiri dari nasi gurih yang dibentuk bola-bola disajikan dengan ayam rebus berbumbu dan dilengkapi sambal bawang. Ada beberapa restoran yang menyediakan Chicken Rice Ball, tetapi ada satu kopitiam (kedai kopi) yang paling ramai dikunjungi yaitu Chop Chung Wah. Kopitiam yang terkenal dengan Chicken Rice Ball yang nikmat ini terletak di ujung Jonker Street. Saking populernya kopitiam yang satu ini, siap-siap saja untuk mengantri karena banyaknya pengunjung bahkan sebelum kedai kopi ini buka.

Jajanan khas Melaka yang juga layak dicoba adalah Satay Celup. Pilihan satenya banyak sekali, ayam, udang, cumi, bakso, tahu, sosis, sayuran dan lainnya. Cara makannya dengan mencelupkan sate ke dalam bumbu kacang.

Yang tidak kalah nikmat adalah es cendol durian Melaka yang sudah sangat terkenal. Selain bisa dibeli di restoran khusus cendol, kita juga bisa menjumpainya di beberapa kedai di pinggir jalan seberang Stadthuys.

Jika ingin membeli oleh-oleh, di depan Stadthuys banyak terdapat toko souvenir. Saya membeli beberapa kaos dengan harga antara RM 10.00 – RM 20 per pieces dan jilbab cantik dengan harga hanya RM 10.00.

TEMPAT BERSEJARAH LAINNYA
Sebenarnya masih banyak objek wisata sejarah di Melaka yang belum kami kunjungi. Sayang sekali, karena harus melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur, kami tidak tuntas menjelajah Melaka. Namun dalam hati saya bertekad suatu saat akan kembali mengunjungi Melaka.

Nah, jika Anda ingin mengunjungi Melaka, jangan khawatir, masih banyak lagi tempat yang sangat menarik untuk dijelajahi.

  • Istana Kesultanan Melaka, merupakan replika Istana Kesultanan Melayu Melaka pada masa pemerintahan Sultan Mansur Shah dari tahun 1456 sampai 1477.
  • A’Famosa Fort, merupakan benteng peninggalan Portugis. A’Famosa merupakan bangunan dengan arsitektur Eropa yang tertua di Asia Tenggara.
  • Baba and Nyonya Heritage Museum, museum peranakan yaitu keturunan campuran Melayu dan China.
  • Masjid Kampung Hulu, merupakan masjid tertua di Melaka.
  • Sam Po Kong Temple, didirikan untuk mengenang Laksamana Cheng Ho.
  • Sri Poyyatha Vinayagar Moorthi Temple, merupakan pura Hindu yang pertama di Melaka.
  • Francis Xavier’s Church, didirikan pada tahun 1849 untuk mengenang jasa St. Francis Xavier dalam menyebarkan agama katolik.
  • Dan masih banyak lagi.

Rasanya saya harus berterima kasih pada teman yang telah menyarankan pada kami untuk  mengunjungi Melaka. Benar-benar pengalaman yang menakjubkan. Bagaimana tidak, di Melaka saya masih bisa menyaksikan bangunan, benda, dan sisa peninggalan masa lalu yang sudah berusia ratusan tahun dalam kondisi yang masih baik dan asli. Meski hanya sebentar, tapi rasanya saya telah memasuki lorong waktu. Dalam sekejap dan hanya berjalan kaki, saya seperti telah melakukan perjalanan ke masa lalu!
*****

TIPS JIKA PERGI KE MELAKA

  • Disarankan berkunjung ke Melaka di saat weekend. Setiap jumat, sabtu dan minggu malam di Jonker Street ada Jonker Street Weekend Night Market. Bazaar atau pesta rakyat ini sayang untuk dilewatkan. Kita bisa puas berbelanja di berbagai stand kerajinan tangan, barang antik, baju, dan terutama adalah makanan atau jajanan khas Melaka.
  • Menyusuri Sungai Melaka dengan River Cruise juga lebih terasa romantis jika dilakukan di malam hari. Pemandangan Kota Melaka di malam hari sangat indah. Kata mereka yang sudah pernah, suasananya seperti di Venesia, Itali.
  • Jika menginap saat weekday dan ingin berbelanja atau membeli makanan, sebaiknya dilakukan sebelum pukul 19.00. Pada hari biasa, Malaka di malam hari sepi, toko-toko tutup dan tidak banyak yang berjualan makanan.
  • Untuk penginapan, tidak perlu bingung. Di Jalan Hang Jebat atau Jonker Street, Jalan Hang Kasturi, Jalan Hang Lekiu, maupun di sepanjang tepi Sungai Melaka, banyak penginapan bertebaran. Dari hotel yang mahal sampai hostel yang murah ada.

NAIK APA?
Saat ini beberapa maskapai sudah melakukan penerbangan langsung Indonesia – Melaka. Bisa dari Jakarta, Medan, Batam, Pekanbaru dan beberapa kota lain dengan harga tiket bervariasi. Kalau dari Jakarta berkisar antara 1 – 1,8 juta rupiah. Tentu lebih murah jika ada tiket promo. Jika ingin lebih murah, bisa kita siasati dengan sekalian melakukan perjalanan ke Malaysia atau Singapore.

Dari Kuala Lumpur kita bisa naik bus dari Terminal Bersepadu Selatan (TBS) menuju Melaka. Dari TBS ada beberapa pilihan bus, seperti Metrobus, Transnasional, atau Delima. Tiketnya berkisar antara RM 10 – RM 15 tergantung perusahan bus dan fasilitasnya. Waktu tempuhnya sekitar 2 jam.

Jika kita sekalian traveling ke Singapore, dari Singapore bisa dengan mudah menyeberang ke Melaka menggunakan bus. Harga tiket sekitar SGD$ 20 – SGD$ 35 tergantung fasilitas busnya. Perjalanan Singapore – Melaka dengan menggunakan bus sekitar 4 jam.

Begitu sampai di terminal bus Melaka Sentral, kita tinggal naik Bus Panorama untuk menuju pusat wisata Kota Melaka.
****

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Kegiatan

Go to Top