MUSEUM BENTENG HERITAGE MUTIARA DI TENGAH KOTA TANGERANG

Rubrik Kegiatan Oleh

MUSEUM BENTENG HERITAGE MUTIARA DI TENGAH KOTA TANGERANG
Oleh: Erawati Heru Wardhani

Tua, dingin dan sepi, itu kesan pertama melihat bangunan berarsitektur tradisional Tionghoa dari arah depan. Pagar bercat hitam memperkuat kesan kelam. Sepasang patung kura-kura menyambut saya di pintu depan. Ornamen tradisional Tionghoa langsung terlihat di sana-sini. Semua pemandangan itu seolah menyeret saya ke masa silam. Hal yang membuat kembali tersadar bahwa saya berada di masa kini adalah dua buah prasasti yang menempel di tembok depan. Di salah satu prasasti ada nama tokoh penting, Mari Elka Pangestu dan Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid yang pernah berkunjung ke museum ini. Satu lagi adalah prasasti peresmian Museum Benteng Heritage bertanggal cantik 11-11-2011.

Memasuki pintu bangunan, kesan pertama tadi mendadak buyar lantaran saya dan beberapa teman yang datang siang itu, langsung disambut ramah perempuan muda, resepsionis museum itu. Pemandu yang akan bertugas menemani pengunjung keliling museum juga sangat bersahabat. Sambutan hangat mereka berhasil mengusir kesan dingin yang ditampilkan sosok luar bangunan.

Kami sangat beruntung bisa bertemu langsung pemilik museum ini, Udaya Halim, pecinta sejarah yang merupakan keturunan Tionghoa Tangerang atau dikenal dengan sebutan Cina Benteng. Sebetulnya saat ini beliau tinggal di Australia bersama keluarganya, namun rutin pulang ke Indonesia. Udaya Halim yang juga sangat ramah dan humoris ini memberi pengantar sebelum kami berkeliling museum.

Beliau menjelaskan sejarah Museum Benteng Heritage. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan tertua di Tangerang, diperkirakan berdiri sejak abad 17. Sempat menjadi rumah tinggal namun kemudian bangunan ini dibiarkan terlantar. Kondisi tidak terawat dan menyedihkan menggelitik beliau untuk membeli dan melestarikan bangunan itu pada tahun 2009. Selama dua tahun bangunan ini direstorasi untuk dikembalikan sesuai bentuk aslinya. Udaya Halim banyak melalukan riset mengenai sejarah bangunan ini, bahkan sampai ke luar negeri untuk mencari referensi bentuk asli bangunan ini.

Di ruang depan ada beberapa lukisan kuno yang menggambarkan suasana kawasan pecinan Tangerang tempo dulu. Rumah-rumah asli warga Tionghoa, suasana pasar yang sekarang disebut Pasar Lama, juga gambaran aktivitas warga Tionghoa pada masa itu. Salah satu yang menarik adalah lukisan sebuah bioskop dengan poster film yang sedang diputar saat itu. Lalu ada becak yang dilengkapi poster film. Jaman dulu becak digunakan untuk promo film yang akan diputar dengan keliling ke pemukiman warga.

Di beranda itu juga terdapat barongsai naga yang penuh simbol. Barongsai ini dinamakan Barongsai Nusantara karena melambangkan akulturasi budaya. Kepalanya berbentuk naga merupakan simbol etnis Tionghoa, bersayap garuda melambangkan Negara Indonesia, dan bermahkota Candi Borobudur menggambarkan simbol agama Budha yang dianut sebagian besar keturuanan Tionghoa. Barongsai ini bernuansa emas sebagai simbol harapan kebahagiaan di masa depan serta merah putih yang melambangkan bendera Indonesia.

KOLEKSI SEJARAH ETNIS TIONGHOA DI TANGERANG
Menuju lantai dua ada sesuatu yang unik. Tangga menuju lantai atas ternyata sangat curam. Kita harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir. Ketika saya tanyakan perihal tangga yang curam, pemandu menjelaskan ini ada hubungannya dengan Feng Shui. Bangunan tradisional Tionghoa selalu dibangun dengan perhitungan Feng Shui.

Sebelum naik ke lantai dua pengunjung harus melepas alas kaki terlebih dahulu. Kebersihan sangat dijaga di dalam museum ini. Bahkan menurut pemandu, benda-benda di dalam museum ini dibersihkan setiap hari. Oya, kita tidak diperkenankan mengambil foto di ruang koleksi ini. Tujuannya agar kita lebih fokus mendengarkan penjelasan pemandu. Selain itu juga menghindari kejadian yang bisa membahayakan benda-benda bersejarah jika pengunjung terlalu heboh mengambil foto.

Bagian Depan Museum
Barongsai Nusantara
Klenteng Boen Tek Bio

Di lantai dua yang berlantai kayu kita akan dibuat takjub dengan koleksi sejarah kehidupan etnis Tionghoa khususnya di Tangerang. Ada keramik kuno, peralatan rumah tangga, alat musik kuno yang bernama Tehyan, perangko lama, bahkan meja belajar kuno dan alat tulis jaman dahulu yang bentuknya mirip tablet jaman sekarang. Bahkan karya sastra jaman dahulu juga menjadi salah satu koleksi museum ini. Kita bisa melihat koleksi surat-surat dan buku-buku lama kisah persilatan yang disadur oleh O.K.T (Oey Kim Tiang), sastrawan asli Cina Benteng.

Pemandu juga memperlihatkan koleksi timbangan (da chin) yang diyakini dahulu dipakai untuk menimbang opium. Ada timbangan yang berasal dari Tiongkok, Korea,  Jepang dan Thailand. Selain itu juga ada timbangan yang biasa dipakai untuk berdagang di pasar.

Ada juga koleksi sepatu wanita pada jaman dulu. Uniknya sepatu ini berukuran mini, persis sepatu bayi meski ini adalah sepatu wanita dewasa. Dahulu ada kepercayaan makin kecil ukuran kaki seorang wanita, maka semakin cantik. Kaki mereka diikat sedemikian rupa sehingga berukuran sangat kecil. Konon ini juga jadi simbol kemapanan. Wanita berkaki kecil artinya dia wanita yang berasal dari keluarga berada sehingga tidak perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, ada yang mengungkapkan bahwa tradisi foot binding ini sebenarnya bertujuan agar wanita Cina tidak keluar rumah. Saat Revolusi Cina, tahun 1911 Sun Yat Sen, tokoh Revolusi Cina menghapus tradisi tersebut karena dianggap tidak berperikemanusiaan.

Koleksi menarik lain adalah peralatan mah jong, kartu cheki, dan meja judi jaman dulu. Ternyata meja ini memiliki laci tempat menyimpan makanan dan minuman. Ini tentu ada kaitannya dengan kebiasaan orang Tionghoa yang betah berjam-jam bermain judi, saking lamanya mereka merasa perlu menyediakan makan dan minuman selama bermain.

Museum ini juga dilengkapi peralatan multi media. Kami diperlihatkan video upacara pernikahan khas peranakan Cina Benteng yang bernama Cio Tao. Lalu ada juga kebaya encim jaman dahulu dan batik-batik Cina. Video lain yang diperlihatkan di lantai dua ini adalah tayangan mengenai Kecap Benteng yang sangat legendaris. Kami diperlihatkan berbagai botol dan label kecap dari jaman dahulu sampai sekarang. Pabrik Kecap Benteng masih ada sampai sekarang dan menjadi salah satu kebanggaan warga Tangerang lantaran rasanya yang khas dan lezat.

Peninggalan kuno yang istimewa dalam bangunan ini adalah adanya relief di bagian atap bangunan. Relief yang menceritakan kisah Three Kingdom ini menurut pemandu 95% masih asli. Adanya temuan relief menandakan bahwa bangunan ini bukan bangunan biasa. Bisa jadi dulu semacam rumah perkumpulan. Jika menilik tempatnya yang di tengah pasar, kemungkinan merupakan rumah organisasi atau serikat dagang.

Meskipun museum ini kecil, namun banyak cerita yang bisa kita petik dari setiap benda di dalamnya. Berada di Museum Heritage yang letaknya di tengah hiruk pikuk pasar, rasanya seperti menemukan mutiara di tengah kota. Kita bisa menyaksikan sisa-sisa kebudayaan masa silam yang tak ternilai harganya

ADA PINTU RAHASIA!
Yang paling mengesankan ketika pemandu memberi kami tantangan untuk membuka pintu rahasia. Pintu kayu berukuran besar ini memiliki kunci yang sangat unik. Kuncinya berupa palang kayu. Setelah pemandu menutup pintu itu dan mengunci dengan menggeser palangnya, kami ditantang untuk membukanya. Ajaib! Ternyata pintu itu tidak bisa dibuka sama sekali. Susah payah kami bergantian mencobanya, namun hasilnya nihil.

Rupanya jaman dahulu rata-rata rumah tradisional Tionghoa memiliki pintu dengan teknik mengunci yang unik seperti itu. Tujuannya agar jika ada pencuri yang masuk rumah, pencuri tidak bisa kabur karena tidak tahu rahasia membukanya. Benar-benar teknik pengamanan yang menakjubkan! Bagi yang ingin tahu rahasia membuka pintu ini, harus datang sendiri ke museum Benteng Heritage. Dijamin akan jadi cerita seru setelah tahu rahasianya.

TOUR KELILING KAWASAN PECINAN
Selain keliling museum, Museum Benteng Heritage juga menyediakan paket wisata Heritage Walk. Dengan dipandu oleh seorang guide, pengunjung diajak berkeliling kawasan pecinan. Peserta tour akan diajak mengunjung klenteng tertua di Tangerang yaitu Klenteng Boen Tek Bio yang dibangun sekitar tahun 1684. Hal ini membuktikan bahwa etnis Tionghoa sudah masuk ke Tangerang dari abad ke-17. Klenteng Boen Tek Bio dibangun dari hasil patungan para kongsi dagang di Pasar Petak Sembilan yang sekarang dikenal dengan nama Pasar Lama.

Setelah itu kita akan diajak berkeliling pemukiman warga Tionghoa, melihat rumah-rumah berarsitektur Tionghoa yang khas dan masih bertahan hingga kini. Peserta juga berkesempatan bertemu dengan warga peranakan yang sudah berakulturasi dengan budaya lokal. Bahkan sebagian dari mereka sudah berbahasa betawi.

Perjalanan berikutnya adalah menyusuri tepian Kali Cisadane yang tak jauh dari kawasan pecinan. Di tepi Cisadane kita bisa menemukan situs Tangga Jamban. Disebut demikian karena di jaman Belanda merupakan tempat mandi. Di sini juga bisa ditemukan sebuah altar tempat memuja Toa Pe Kong atau Dewa Penguasa Kali.

Masih di kawasan tepi Cisadane kita bisa mengunjungi Masjid Kalipasir yang merupakan masjid tertua di Tangerang. Masjid ini didirikan sekitar tahun 1700-an. Arsitektur masjid ini merupakan contoh akulturasi budaya antara budaya Arab, Tionghoa dan Eropa.

JEJAK CHENG HO DI TANGERANG
Cheng Ho, Laksamana Tiongkok yang beragama Islam dan merupakan kepercayaan kaisar pada masa Dinasti Ming pernah melakukan ekspedisi pelayaran ke Kepulauan Indonesia sebanyak tujuh kali. Dalam perjalanannya, sebagian  pasukan Laksamana Cheng Ho ada yang mendarat di Teluk Naga, Tangerang pada tahun 1407. Pasukan ini dipimpin oleh Chen Ci Lung. Diyakini orang-orang Tionghoa inilah yang merupakan nenek moyang Cina Benteng, Tangerang.

Keberadaan Masjid Kalipasir yang merupakan masjid tertua di Tangerang di dekat klenteng kemungkinan juga ada kaitannya dengan sejarah perjalanan Laksamana Cheng Ho. Laksamana Cheng Ho adalah orang Tionghoa yang beragama Islam, namun tetap memegang teguh budaya Tionghoa. Itulah mengapa dalam setiap persinggahannya,Cheng Ho selalu membangun masjid dan juga klenteng.

DI MANA ALAMATNYA DAN BERAPA TIKET MASUKNYA
Museum Benteng Heritage terletak di Jalan Cilame Nomor 20 Pasar Lama, Tangerang. Letaknya benar-benar di tengah pasar, sehingga saat pasar belum bubar, bangunan ini tidak terlihat dari jalan karena tertutup lapak dagangan.

Untuk mencapai museum kita bisa masuk lewat Jalan Kalipasir lalu kendaraan diparkir di tepi Sungai Cisadane. Kita tinggal masuk ke gang menuju Pasar Lama. Jika menggunakan kendaraan umum, kita bisa naik commuter line tujuan Tangerang. Turun di Stasiun Kota Tangerang, lalu berjalan kaki ke arah Pasar Lama.

Harga tiket untuk keliling museum adalah Rp 25.000 dan Rp 75.000 untuk Heritage Walk. Harga yang murah untuk pelajaran sejarah yang luar biasa. Jam buka museum ini adalah Selasa – Minggu dari jam 10.00 – 17.00. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Kegiatan

Go to Top