Pelaksanaan USBN dan Ujian Nasional di  SMA Negeri I Adonara Tengah Memprihatinkan

Rubrik Berita/Pendidikan Oleh

Proses pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) 20-23 Maret 2017 dan Ujian Nasional (UN) yang berlangsung secara serempak (3 – 6/4 2017)  Untuk kelas XII Angkatan Perdana pada SMAN I Adonara Tengah tahun ini memprihatinkan.  Sekolah tidak memiliki ruangan kelas yang belum memadai. Bahkan tidak mampu menampung peserta ujian. Pihak sekolah meminjam fasilitas Paroki Lite melalui Yayasan dan Aula Paroki Lite untuk melaksanakan ujian. Kondisi ini tidak menyurutkan semangat guru dan siswa untuk menyukseskan ujian selama empat hari itu.

Gedung SMAN 1 Adonara Tengah yang belum selesai dibangun sehingga belum bisa digunakan untuk Ujian Nasional Tahun 2017

Dua Tahapan pelaksanaan Ujian Pada Tahun ini yakni USBN dan UN merupakan moment yang sangat berharga bagi lembaga SMAN I Adonara Tengah. dan ini menjadi evaluasi yang sangat penting serta menjadi suatu tolak ukur penilaian kinerja berbagai komponen di wilayah lembaga ini, karena sekolah ini baru tiga tahun berjalan, dan boleh dikatakan dari awal berdirinya dan pembukaan KBM pada Juli 2014 telah melewati beberapa tahapan sampai proses Visitasi dan Verifikasi sekolah oleh Dinas PPO Kabupaten Flores Timur dan penyerahan Ijian Operasional Sekolah Oleh dinas PPO melalui Kadis PPO Kabupaten Flores Timur Drs Bernadus Beda Keda pada pertengahan Juli 2015 serta proses penegerian dan penyerahan SK Penegerian yang sudah berlangsung akhir Desember 2015 yang dihadiri langsung Yosep Laga Doni Herin,S.Sos, kala itu sebagai Bupati Flores Timur dan Agustinus Payong Boli,SH, Anggota DPRD Kabupaten Flores Timur, dari DAPIL 3 meliputi wilayah Adonara Barat, Tengah,Wotanulumado dan kini sebagai Wakil Bupati terpilih periode 2017-2022 “Memang pelaksanaan USBN dan UN Perdana pada sekolah ini menjadi moment yang begitu berharga walaupun proses penegerian baru satu tahun berjalan. Namun sebagai pimpinan pada lembaga ini, saya optimish dan berjuang walaupun disana- sini kami masih terlalu banyak kekurangan. Dan kami sangat berharap pemerintah serta pihak lainya terkait,harus memperhatikan secara serius untuk SMAN I Adonara Tengah, Karena terbukti sampai pada detik ini kami masih meminjam ruang SMP Panca Karya Lite dan satu ruang kami pinjam Aula Paroki Lite”, kata Maximus Mamung Gesi,S.Pd, Kepala Sekolah SMAN I Adonara Tengah.

SMAN I Adonara Tengah telah berjalan tiga tahun dengan berbagai kekurangan, mulai awal kepemimpinan RD Agustinus Siswani Iri,Pr, baru mendapatkan dua lokal dari Pagu Wilayah Kecamatan(PWK) yang sudah dibangun dilokasi. “Ketika harapan masyarakat terpenuhi seperti ini, maka sebaliknya apa yang harus dilakukan pemerintah ketika status sekolah sudah berlabel Negeri. Kerjasama yang baik dari berbagai stakeholder kedepan harus sungguh dinyatakan karena ini sekolah baru, dan kita sedang siapkan kader generasi baru untuk lewo tanah ini, terkhusus Adonara Tengah maka bidang pendidikan menjadi hal yang diutamakan dan menjadi satu – satunya bukan salah satunya,”ujar Romo Gusti.

Menurut Romo Gusti sapaan akrabnya, dengan menggunakan Aula Paroki untuk satu ruang ujian dan tiga Rombel SMP Panca Karya, merupakan keputusan dalam rapat bersama Badan pengelola SMA Adonara Tengah, Tokoh Masyarakat, Kepala sekolah SMAN I Adonara Tengah,Kepala SMP Panca Karya Lite,serta Para Guru pada kedua sekolah tersebut. Dan hal ini juga menjadi bentuk kepedulian dari semua pihak karena melihat tahun ini adalah tahun pertama lembaga ini melaksanakan ujian. “ kita juga patut memberikan apresiasi terutama kepada Pimpinan dan Para Guru yang telah berusaha dalam segala hal sehingga terbukti sampai hari ini ujian untuk kelas XII kita sudah saksikan bersama. Harapan saya sebagai pimpinan terdahulu bahwa masyarakat adonara tengah dan sebagai umat, harus mendukung SMAN I dalam segala hal,para guru ini sangat mampu, tinggal kita memperhatikan mereka, jangan sekali- kali menganggap mereka kecil dan sepele,tapi mari kita rangkul serta kita ajak diskusi dengan mereka. bagi dunia mereka (Guru) begitu besar,mereka sedang mencerdaskan bangsa dan sebagai anak lewo tanah”, ungkap Rm Gusti mantan Kepala Sekolah tersebut.

Kepala Desa Kenotan Damianus Keda Kenotan,A.Md ketika berada di lokasi menyatakan apresiasi kepada pihak lembaga atas terselenggaranya ujian akhir angkatan perdana ini. Namun ia juga sangat prihatin dan menyayangkan apa yang dilalami lembaga hari ini. Sebagai pemimpin desa yang menjadi pusat SMA Adonara Tengah berada, ia serius untuk secepatnya mengatasi segala kekurangan yang tengah terjadi. “ Sekolah ini milik kita bersama seluruh masyarakat Adonara Tengah, apapun terjadi ini masalah besar yang harus diatasi oleh kita semua”, ungkap Dami Keda. Sebagai putra Desa Kenotan Kecamatan  Adonara Tengah dan juga sebagai pemimpin di Desa menurutnya ia akan tetap bekerja keras membangun diskusi ,menjalin hubungan dan komunikasi kepada pihak terkait, seperti DPRD, Pemda Flotim dalam hal ini Bupati dan Wakil Bupati terpilih pada periode ini, dan semua komponen terkait lainya, serta Masyarakat sebagai orangtua/ wali murid siswa agar mari bersama-sama bersinergi untuk memperhatikan, membangun sekolah kita ini. Sepatutnya Pemerintah melalui Pemda Kabupaten Flores Timur juga  secepatnya konsentrasi dan membangun dunia pendidikan di Adonara, khususnya di Adonara Tengah.  Menurutnya Lembaga Pendidikan itu Aset Pemerintah Daerah tapi butuh semua komponen untuk berpikir, sampai menyentuhnya baik secara materiil maupun moril, apapun terjadi pemerintah juga terlibat aktif didalamnya. Menurutnya SMAN I Adonara Tengah itu harapan masyarakat Adonara Tengah, dan menjadi kebanggaan bersama, kita harus tetap berkomitmen untuk menyikapi keresahan, kecemasan dan kegelisahan masyarakat tentang kedepanya sekolah ini, begitupun para guru yang ada.

Tentang kekurangan Ruang Kelas Baru (RKB) dan pelaksanaan Ujian menggunakan Ruang Aula Paroki Lite  untuk pelaksanaan USBN da UN, beliau sangat menyayangkan,dan pemerintah juga mengambil sikap yang secepatnya untuk meminimalisir semua kekurangan yang dihahapi.” Kita berharap  kedepan anak- anak tidak binggung lagi untuk menempati tempat yang nyaman,sehingga semua proses KBM dan lainya sudah berjalan normal dan seharusnya kepentingan anak- anak ini diutamakan,”ungkap Dami Keda.

Mewakili para   guru SMAN I Adonara Tengah, Thomas Ara Kian Boli, S.Pd menyatakan bahwa pelaksanaan USBN hari pertama ini berlangsung normal,  sesuai yang direncanakan,” pelaksanaan USBN hari pertama  berlangsung dengan lancar dan telah mengikuti semua mekanisme dan rujukan yang ada. Semua kepanitian bekerja dengan maksimal dan pengawas ujian juga menjalaninya dengan baik. Dan kita berharap ujian selanjutnya juga berjalan aman sampai pada Ujian Nasional (UN) nantinya.” Ujar Thomas Ara.

Pantauan penulis peserta USBN dan UN untuk SMAN I Adonara Tengah Tahun pelajaran 2016/2017 berjumlah 75 orang dari jumlah siswa keseluruhan 198. Mereka menggunakan 4 Ruang, yakni 3 ruang dan 1 ruang aula paroki Lite. Diantara 4 ruang tersebut 2 ruangan yang sedikit memprihatinkan yang selama ini dipakai sebagi ruang belajar. Hal senada juga disampaikan ketua panitia pelaksanaan USBN/US SMAN I Adonara Tengah, Kornelius Eko Hayon, S.Pd,” kita berbangga bahwa baru angkatan pertama tetapi jumlah peserta sedikit ideal, dan ini kita harus pertahankan dan pada tahun berikutnya jumlah siswa harus banyak dan para orangtua dan masyarakat tetap memilih sekolah menengah ini menjadi sekolah idamannya. Kita juga berharap hari ini menjadi momentum yang berharga untuk lembaga ini kedepan, ketika kita mengejar kualitasnya hajatan nasional di bidang pendidikan ini tapi marilah sama- sama kita menengok lebih mendalam, apakah anak-anak sudah terpenuhi kebutuhan. Satu hal yang sangat tidak kita pungkiri bahwa kebutuhan bersama, pelayanan itu harus didahulukan. Dan hari ini kami sudah buat di sekolah ini, walaupun sana-sini banyak kekurangan, tapi disinilah kami menjawab tentang panggilan nurani seorang guru yang sebenarnya,” tegas Eko hayon.

Secara terpisah kepada penulis Senin (21/03/2017) Maksimus Masan Kian, S.Pd, Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) cabang Flores Timur juga turut prihatin terhadap apa yang dialami oleh lembaga pendidikan SMA ini. Beliau mengharapkan agar dengan kondisi yang ada ini, semua pihak khususnya pemerintah setempat sudah seharusnya turun ke lapangan untuk melihat langsung  semua situasi dan kondisi yang tengah dialami.” Sebagai guru dan juga pengurus Agupena Flotim, kami juga tidak tinggal diam karena ini masalah kita semua, kami akan berupaya seturut kemampuan kami. Karena ini sekolah baru maka butuh kerja keras dari kita semua,” ujar Maksi Kian. (Thomas Ara Kian – Anggota Agupena Flotim, Kecamatan Adonara Tengah- Flotim)

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Berita

Go to Top