Ilmu Gaib Mewarnai Politik Indonesia

Rubrik Berita/Kegiatan Oleh

“Politik Indonesia kontemporer tidak terlepas hal-hal gaib yang mengalami berbagai modifikasi,” demikian kata Antropolog Yanuardi Syukur setelah diskusi “Masyarakat Rempah dan Ilmu Gaib” yang digelar oleh Masyarakat Negeri Rempah di Gallery Kantor Pos Kota Tua, Jakarta (15/4).

Dalam paparannya, Yanuardi Syukur yang juga pengajar Antropologi di Universitas Khairun, Ternate, menyebut bahwa sejak lebih dari dua ribu tahun manusia telah mengenal kegaiban dalam berbagai bentuk.

“Kegaiban-kegaiban tersebut tercermin dari pemikiran manusia bahwa di atas kuasa manusia ada kekuatan lain yang lebih besar dan olehnya itu manusia bersandarkan diri pada kekuatan besar tersebut,” lanjutnya lagi.

Dalam bidang politik Indonesia kontemporer misalnya, kepercayaan dan aplikasi ilmu gaib terlihat dalam figur Kyai Muzakkin, pengasuh Pondok Pesantren Jin Dzikrussyifa’ Asma’ Brojomusti Sendang Agung Paciran Lamongan yang pernah mengirimkan seribu jin untuk mengamankan demonstrasi anti-korupsi di Jakarta.

“Pada titik ini, Kyai Muzakkin sesungguhnya telah berkontribusi dalam dunia politik dan anti-korupsi di tanah air lewat pengamanan aksi oleh seribu jin yang dipimpin oleh jin asal Negeri Mesir,” kata Yanuardi lagi yang juga aktif sebagai Direktur Center for Islamic and Global Studies.

Dalam kasus persidangan Basuki Thajaja Purnama, lanjutnya lagi, pernah beredar issue bahwa dalam salah satu persidangan tersebut dihadiri oleh kakek dan nenek yang mempraktikkan sihir untuk membuat jaksa terlihat mengantuk di ruangan. Untuk itu, maka persidangan selanjutnya, dihadirkan ahli rukyah untuk menangkal sihir tersebut.

Bahkan, kontestasi “politik gaib” ini juga terlihat dalam contoh lain, yang diwakili oleh Mbah Mijan yang kabarnya menyiapkan seribu jin untuk mendukung Ahok dalam Pilkada Jakarta.

Kepercayaan dan praktik ilmu gaib dalam politik ini seperti ini memang umum terjadi di Indonesia yang majemuk dengan berbagai agama, suku, kepercayaan, dan latar belakang.

Menurut Yanuardi yang juga penulis buku-buku tentang Islam, kajian tentang politik dan ilmu gaib ini saat ini menunjukkan relevansinya. Salah satu kajian yang menurutnya menarik adalah karya terbaru Nils Bubandt, Antropolog asal Denmark dalam bukunya yang membahas tentang demokrasi, korupsi, dan makhluk halus dalam politik Indonesia. ***

Tags:

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Berita

Go to Top