Mengenang Sosok Sang Petarung dan Pionir Agupena

Rubrik Opini Oleh

Oleh: Sawali Tuhusetya
(Bidang Pengembangan Profesi Agupena)

“Innalillahi wainnaillaihi raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, Bapak Achjar Chalil, Ketua Umum Agupena Pusat, pada hari Senin, 3 Mei 2010, pada pukul 02.00 WIB”.

Demikian inti pesan singkat yang saya terima dari Pak Deni Kurniawan As’ari (Ketua Agupena Jawa Tengah) tujuh tahun yang silam. Kabar itu sungguh mengejutkan. Pasalnya, kurang lebih sepekan sebelumnya, Pak Achjar –demikian kami biasa menyapa Almarhum– sempat mengabarkan kondisi kesehatannya yang makin membaik melalui telepon. Kanker kelenjar tiroid yang dideritanya sejak beberapa bulan yang lalu berangsur-angsur hilang, bahkan nafsu makannya juga sudah normal. Nada suaranya pun benar-benar meyakinkan saya bahwa Pak Achjar sudah tidak dalam keadaan sakit yang mengkhawatirkan. Saya benar-benar lega. Meski masih harus melakukan therapi secara rutin, Pak Achjar sudah berada dalam tahap pemulihan kesehatan yang tak lama lagi akan segera sehat dan segar bugar. Namun, agaknya Tuhan berkehendak lain. Setelah menerima telepon berdurasi sekitar 30 menit itu, saya hanya sempat menerima satu kali pesan singkat dari Pak Achjar tentang therapi rutin yang dilakukannya, sebelum akhirnya saya mendengar kabar duka itu.

Pak Achjar Chalil
Sesaat sebelum kembali ke Kota Tangerang (27 Desember 2008)

Almarhum dikenal sebagai sosok yang sederhana, jujur, dan rendah hati. Kecintaannya pada konsep pendidikan EMS (Engku M. Syafe’i) yang diterapkan di Perguruan Indonesische Nationale School (INS) yang kemudian berubah menjadi Institut Nasional Syafe’i di desa Palabihan, Kayutanam, Sumatera Barat, pada 31 Oktober 1926, agaknya membuat almarhum tak pernah berambisi menjadi seorang pejabat, meski kesempatan untuk itu sangat terbuka luas. Hingga meninggal, Pak Achjar masih tercatat sebagai guru di SMK 56 Jakarta. Pak Achjar pula yang membidani lahirnya Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) yang sekaligus menjadi Ketua Umum periode 2006-2011.

Pak Achjar juga dikenal sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah. Untuk membuktikan kecintaannya pada INS Kayutanam, lelaki kelahiran Aceh Timur, 16 April 1954 itu pernah menyusuri jalan darat dari Tangerang (tempat tinggalnya) ke Kayutanam dengan bersepeda motor. “Ustadz, antum sudah tua, ingat-ingatlah umur,” demikian saran Pak Rafi Arta koleganya yang sesama guru di SMK 56 Jakarta. Namun, agaknya saran itu hanya direspon dengan senyum khasnya. Bahkan, Pak Ahjar yang menguasai bahasa Jawa, Sunda, dan Betawi dan punya hobi naik motor gede itu juga pernah singgah di berbagai kota besar di Indonesia dengan bersepeda motor.

Selain dikenal sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah, Pak Achjar juga memiliki ide-ide cemerlang dan kritis tentang ranah dunia pendidikan. Konsep-konsep pendidikannya yang sangat kuat kesan religiusnya terungkap dalam buku “Pembelajaran Berbasis Fitrah” (Balai Pustaka, 2008). Menurutnya, pembelajaran berbasis fitrah merupakan pembelajaran yang mengupas masalah fitrah dalam makna suci yang mengingatkan bahwa “Kesucian Jiwa” memegang peranan penting dalam perilaku dan keberhasilan manusia dalam menjalani hidupnya. Jiwa yang kering dan jauh dari nilai-nilai agama, tegasnya, adalah jiwa yang cenderung membuat seseorang atau sekelompok orang berbuat tanpa kearifan dan cenderung mengabaikan etika, estetika, dan ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’. Jiwa adalah bagian dari Fitrah dalam makna; penciptaan yang dilakukan oleh Allah sebagai Sang Pencipta (al Khalik).

Pak Achjar memang telah tiada. Namun, jiwa petarung dan sikap pantang menyerah yang melekat pada sosok almarhum akan senantiasa menginspirasi para penggiat dunia pendidikan dan literasi, khususnya di Agupena. Almarhum adalah sosok “mahaguru” sejati yang tak pernah lelah “membangun semangat berbagi”, bersilaturahmi, dan membangkitkan kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter berbasis religi di tengah dinamika peradaban global yang makin rumit dan kompleks.

Tak banyak yang bisa kami persembahkan buat almarhum selain iringan doa semoga Allah memberikan tempat terbaik dan terindah di alam keabadian. Insyaallah, kami akan terus berikhtiar melanjutkan perjuangan almarhum untuk membesarkan Agupena di tengah tantangan zaman yang makin rumit dan kompleks. Meski jasatmu telah tiada, nilai-nilai keteladanan, pemikiran, dan kebersahajaanmu merupakan warisan tak ternilai bagi Agupena. ***

Tags:

Seorang guru, penyuka musik tradisional, penikmat sastra, dan bloger. Sebagian besar tulisannya dipublikasikan di blog pribadinya sawali.info. Ikut berkiprah di Agupena pada Bidang Pengembangan Profesi. Buku kumpulan cerpen pertamanya, Perempuan Bergaun Putih, diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top