Home » Cerpen » Sastra » Di Pantai Itu » 369 views

Di Pantai Itu

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Di Pantai Itu
Cerpen Dini Safitri

Pantai..

Ah, Entah kenapa, setiap melihat pantai, hati ini merasa rindu.

Tapi tidak tahu rindu untuk siapa.

Apakah rindu untuk ibu yang sudah lima tahun meninggal?

Dan ternyata, hari ini tepat hari beliau dipanggil Tuhan untuk selamanya.

Atau kah, rindu untuk ayah yang ada di negeri seberang?

Ayah yang pergi mengadu nasib menjadi TKI di negeri orang.

Ataukah rindu kepada adik-adik ku yang sudah terpencar-pencar?

Ya kedua adikku, Yana dan Yani terpaksa diambil oleh paman dan bibiku, karena di sini tidak ada orang yang mengasuh. Kami , kakak beradik, hanya bisa berkumpul saat lebaran tiba.

Rumahku, kini hanya ditingali oleh ku dan nenek ku yang sudah sepuh.

Tiba-tiba ingatan ku kembali kepada lima tahun yang lalu, saat ibu masih hidup dan ayah masih berada bersama kami. Kami tadinya adalah sebuah keluarga yang utuh. Saat itu, kurasakan hidup yan benar-benar bahagia, walaupun ayah tidak punya pekerjaan tetap. Ibu yang membantu ekonomi keluarga dengan berjualan. Dan untuk orang yang tinggal di kampung, hidup kami tidak berkekurangan, karena kami punya sedikit hasil ladang untuk makan sehari-hari.

Tapi kebahagiaan itu hilang, sepeningal ibu. Ibu meninggal karena melahirkan yana dan yani. Nenek yang sudah tua, tidak mungkin merawat yana dan yani, begitu pula aku. Selain aku masih kecil, tapi aku juga seorang anak cacat dan bisu. Terpaksa, Yana dan Yani dititipkan pada Om dan Tante. Mereka dipisahkan oleh nasib. Tak lama berselang, Ayah mendapat tawaran kerja menjadi TKI. Karena keadaan, Ayah menerima tawaran tersebut. Namun selama ayah pergi, tak pernah aku mendengar ada kabar dari Ayah. Apakah ia baik-baik saja disana. Dan kini, aku tinggal bersama nenek.

Walaupun rumah ku jauh dari pantai, aku selalu menyempatkan diri untuk datang kesini. Aku berharap bisa bertemu atau mendengar kabar dari ayah. Entah mengapa firasatku mengatakan aku harus ke pantai, kalau ingin mendapatkan kabar tersebut.

Lama aku termenung akan masa silam ku. Sampai aku mendengar, ada orang-orang berkumpul dan meributkan sebuah hal. Walau aku bisu, tapi aku tidak tuli. Aku mendekat untuk lebih mengetahui apa yang mereka bicarakan.

“Orang-orang baru itu, benar-benar cari masalah. Dari pakaiannya saja sudah beda dengan kita. Bajunya jubah. Celananya diatas mata kaki. Dia ajak anak-anak kita mengaji. Dan sekarang anak-anak kita sudah berani melawan kepada kita. Dia katakan janganlah ayah berjudi, mabuk, ya macam-macam lah kata nya” ujar seorang pria bertubuh kurus.

” Samalah dengan anak kita. Anakku malah berani menyimpan botol minum ku. Dan ia katakan di ambil kucing. Mana ada kucing ambil botol minum. Dan dia itu sekarang di rumah kerjanya mengaji. Pusing aku dengar nya” ujar pria lainnya.

Kemudian, aku mendengar mereka sedang menyusun rencana. Mereka ingin pengajian itu di bubarkan dan orang baru itu angkat kaki dari desa mereka.

Tentang orang baru itu, aku sudah pernah dengar tentang nya. Bahkan aku pernah melihat, saat pertama kali  mereka datang ke pantai ini. Walau mereka berpakaian jubah, tapi wajah mereka bersih dan sepertinya terlihat bersinar. Karena waktu itu, aku berpapasan dengan wajah-wajah mereka. Mereka tersenyum kepada ku. Tapi aku hanya membalas dengan senyum seadanya. Karena mereka kan orang baru, belum aku kenal.

Sejak itulah, aku sempatkan mendatangi tempat mereka mengajar mengaji. Awalnya dengan diam-diam dan mencuri dengar saja. Karena aku malu pada diriku. Disana banyak anak-anak yang mengaji. Tapi mereka semua, dahulunya tidak pernah ada yang bermain dengan aku. Begitu aku mendekati mereka, mereka akan lari menjauh. Jadi aku tidak berani menampakan diri di hadapan mereka.

Selain mengaji, anak-anak itu juga belajar agama. Hari itu, mereka belajar tentang tidak boleh rendah diri. Pelajaran yang tepat sekali untuk diriku. Tapi, saat itu aku masih sungkan untuk masuk dan ikut belajar bersama yang lain. Lama kelamaan, aku berani kan diri untuk masuk. Awalnya aku takut ditolak, tapi aku kerahkan segenap rasa percaya diri ku, dan akhirnya aku berani melangkahkan kaki masuk ke dalam untuk mengaji.

Semua mata tertuju padaku, tapi sang guru langsung menuntut tangan ku dan mendudukan aku pada sebuah kursi. Setelah itu, ajaib, anak-anak yang lain sangat ramah pada ku.

Tiba-tiba aku tersentak, kenapa aku melamun. Bukan kah, guru mengaji itu akau diusir?

Padahal aku yang baru sekali datang mencuri dengar, merasakan pengajian itu bermanfaat.

Aku merasa harus memberitahukan berita ini kepada para guru ngaji tersebut.

Tapi aku pun teringat, bagaimana caranya ya?

Aku kan bisu…

Ah, tapi aku tidak peduli. Aku teringat materi pengajian pada hari itu. Aku tidak boleh rendah diri dan menyerah pada keadaan diriku. Aku harus menemui kepala guru ngaji tersebut, yang bernama Abang Hatim.

Tapi ternyata aku terlambat.

Orang-orang sudah banyak yang berkerumun di depan rumah Abang Hatim.

Aku mengumpat diriku.

Aku memang tidak berguna. Jalanku lambat, aku cacat dan bisu.

Ingin rasanya aku berteriak, tapi tidak bisa.

Tiba-tiba badanku terasa lemas, aku teringat badanku tidak sanggup untuk melakukan perjalanan yang baru saja aku tempuh untuk menemui Abang Hatim. Dan kemudian semuanya menjadi gelap.

***

“Yubi?”, ujar sebuah suara.

Aku membuka mata ku perlahan, tampak oleh ku Abang Hatim.

” Syukurlah kau sudah bangun. Kenapa kau tertidur di pasir pantai?”, tanya Abang Hatim

Aku hanya tesenyum. Ternyata aku hanya bermimpi.

“Sebentar lagi sholat ashar. Ayo kita berwudhu dan kumandangkan azan”, ujar Abang Hatim sambil mendirikan aku yang masih tergeletak di pasir pantai.

Aku mengikuti Abang Hatim. Segera aku berwudhu dan aku bersegera sholat.

Oya, kali ini, Aku tidak sedang bermimpi teman.

Aku Ayubi. Aku seorang hamba Allah. Biarpun aku cacat dan bisu, tapi Allah tidak melihat hal tersebut.

Aku punya semangat untuk hidup lebih baik.

Bersama Allah, Nenek ku, Abang Hatim dan teman-teman lainnya, semua orang punya kesempatan untuk di cintai Allah.

Yang paling aku suka dari azan adalah kalimat, “Hayya ‘Alal Falah”. Pada kalimat tersebut Allah mengajak semua hambanya meraih kemenangan. Dan aku yakin, aku bisa menang melawan kekurangan diriku.

Aku juga bertekad membantu perjuangan abang Hatim di desaku. Mari Bang, kita rebut kemenangan di desa ini. Memenangkan hati para orangtua untuk bersama-sama mengerakan pengajian kita…

Tiba-tiba aku tersadar, untuk siapa rasa rindu ku, aku tujukan.

Rindu untuk menjemput kemenangan bersama Allah… ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerpen

Senandung Cinta di Lalao

Cerpen: Heronimus Bani Sejauh mata memandang di pantai Ba’a nuansa sore mengantar

Di Shopping Center

“Neta, ikut mbak Shopping yuk..”, ajak Mbak Nela. Mbak Nela itu, kakak

Perempuan Pemurung

Cerpen: Hadi Sastra Perempuan itu melepaskan pandangannya. Siang tak lagi terik. Angin
Go to Top