Home » Cerpen » Sastra » Malam Terindah Dinda » 313 views

Malam Terindah Dinda

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Malam Terindah Dinda
Cerpen Dini Safitri

Saat kuresah
Saat kugelisah
Saat kususah
Ku datang pada-Mu

Maafkan aku
Maafkan aku
Ku akui aku bersalah
Ku akui aku berdosa
Ku akui aku berdosa

Di pintu Mu
Aku mengetuk
Di Doa ku
Aku memohon

Bila ku senang
Bila ku bahagia
Terkadang aku melupakan Mu

Kemudian tubuh itu terbujur kaku. Tapi sebelum akhir hayatnya. Ia sempat mengucapkanLa Ilaha Illallah. Dan memalingkan mukan ke kanan dengan tersenyum.

Tak berapa lama, pulang lah anak gadisnya.

Dinda: Assalamulaikum… Ibu, ibu, Dinda pulang.. Dinda bawain pesenan Ibu… Bu..ibu di mana? Ibu sedang sholat?
Karena tidak ada jawaban, anak nya bergegas pergi ke kamar ibunya.

Dinda: Astagfirullah al adzhim. Ibu,ibu.. Ibu kenapa? Bangun bu, bangun bu.. Jangan tinggalin Dinda bu.. Dinda sendirian bu.. Ibu…Ibu..

Mendengar tangisan Dinda yang menyayat hati. Para tetanga berkerumun di rumah dinda.

Tetanga 1: Innaa lillahi wa innaa ilaihi roo ji’uun, tabah ya Din… Rupanya Allah sayang pada Ibu. Ia tidak mau Ibumu, tinggal lama di dunia. Makanya Allah cepat memanggilnya.

Tetanga 2: Iya Din. Kau tak usah sedih. Ibu mu itu orang baik. Jadi, lepaskanlah kepergiannya dengan ikhlas.

Dinda: Dinda tidak sanggup menerima cobaan ini. Dengan siapa Dinda akan tinggal? Dinda kini sebatang kara. Bapak Dinda pergi entah ke mana. Sanak Saudara, Dinda juga tidak ada yang kenal. Ibu atau bapak tidak ada yang mengenalkan Dinda kepada mereka. Cuma Ibu yang Dinda punya. Ke mana Dinda harus mencari Bapak?

Tetangga 3: Dinda..yang sabar ya. Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya, jika hamba-Nya tidak sanggup menerimanya. Sekarang kita mandikan jenazah ibu Dinda. Kita kafani, kita sholatkan, lalu kita antarkan ke kebur nya. Cepatlah, kasian mayitnya.

Sepulangnya dari pemakaman, salah seorang tetanga Dinda menawarkan Dinda untuk diangkat sebagai anak dan tinggal di rumahnya. Kebetulan, beliau juga tidak punya anak perempuan. Tapi Dinda menolak. Dinda ingin mencoba mandiri. Pada bulan pertama sejak ibunya tiada, banyak tetanga yang berkunjung dan mengantarkan makanan kepada Dinda. Tapi masuk bulan berikutnya, sudah tidak ada kunjungan atau bantuan dari tetangga nya. Selain itu, Dinda juga larut dalam kesibukannya belajar, apalagi sebentar lagi ia akan menghadapi UN. Beruntung bagi Dinda, ia mendapatkan nilai tertinggi di sekolah nya.

Teman 1: Selamat Din. Kamu memang pintar. Kamu juga lolos untuk program bidik misi. Senangnya menjadi kamu…

Dinda: Terimakasih teman-teman. Tapi sepertinya aku tidak akan kuliah.

Teman 2: Kenapa? Kan tidak ada biayanya? Kalau bidik misi kan gratis.

Dinda: Iya sih. Tapi aku memilih untuk bekerja saja.

Teman 3: Sayang Din, dengan ijazah SMU, pekerjaan yang kamu dapatkan tidak akan sesuai dengan kepintaran yang kamu miliki.

Dinda: Gapapa ko. InsyaAllah pekerjaan aku halal.

Teman 4: Memang kamu mau kerja apa? Dimana?

Dinda: Aku mau ke Jakarta. InsyaAllah jadi asisten rumah tangga

Teman 5: Apa?! Ga salah Din? Dinda yang juara kelas, diterima bidik misi, tapi memilih ga kuliah dan jadi pembantu?

Dinda: Ga. Ga ada yang salah. Pembantu kan pekerjaan halal. Oya teman-teman, aku ga bisa lama-lama.
Nanti sore aku sudah harus berangkat ke Jakarta.

Dalam hatinya, Dinda berdoa kepada Allah agar keputusannya untuk berkerja ke Jakarta adalah yang terbaik untuk diri dan agamanya.

Dinda: Ya Allah, Ya Rahim. Esok Hari, keadaannya akan berbeda dari hari-hari kemarin. Ya Allah, janganlah engkau hukum hamba, jika hamba lupa atau bersalah. Ya Allah, janganlah engkau bebankan kepada hamba, beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum hamba. Ya Allah, jangan engkau pikulkam kepada hamba apa yang tidak sanggup kami pikul. Maafkan hamba, ampunilah hamba dan rahmati hamba. Engkau lah penolong hamba, maka tolong lah hamba terhadap kaum yang kafir. Aamiin..
***

Ketua Pengelola Yasayan ART: Dinda, tolong kamu lepas jilbab mu ya. Karena jilbab mu itu, kamu akan kesulitan mendapatkan majikan, dan kerja mu juga akan jadi lamban. Saya juga tidak mau rugi, harus menampung kamu terlalu lama disini. Kita kan maunya sama-sama untung. Kamu cepat dapat perkejaan, saya juga akan cepat terima komisi.

Dinda: Maaf Bu, saya tidak bisa memenuhi permintaan ibu.

Ketua Pengelola Yasayan ART : Maksudnya? Kamu mau melawan saya?

Dinda: Maaf Bu. Saya tidak bermaksu melawan ibu. Saya hanya mempertahankan prinsip saya bu. Hanya itu bu…

Ketua Pengelola Yayasan ART: Selama ini belum ada yang seperti kamu. Semuanya mau menuruti saran dari saya. Tapi kalua kamu memaksa. Saya akan lebih memaksa lagi.

Dinda: Ya Allah beri saya kekuatan.

Ketua pengelola Yayasan ART hendak menyeret Dinda masuk ke dalam sebuah kamar khusus. Tapi, tiba-tiba diluar ia mendengar ada rekanannya datang. Ia pun urung melakukan niatnya pada Dinda.

Ketua Pengelola Yayasan ART: Kamu beruntung Dinda. Nanti setelah ini kamu akan saya beri pelajaran.

Kemudian Ketua Pengelola Yayasan ART menemui tamunya tersebut. Tak berapa lama, asisten Pengelola Yayasan ART meminta semua pekerja di yayasan tersebut berkumpul, termasuk Dinda.

Ketua Pengelola Yayasan ART: Ini Bu Syamsul, sudah menjadi langganan baik di yayasan ini. Silahkan bu, ibu bisa pilih-pilih.

Bu Syamsul: Thank you Jeng. Mmm, yang mana ya Jeng. Kalau dari penampilannya, ada satu yang beda
Jeng. Tapi dia biasa kerja ga?

Ketua Pengelola Yayasan ART: Tentu bu, semua yang ada di sini rekomended.

Bu Syamsul: I Know Jeng. Saya interview dia dulu ya.

Ketua Pengelola Yayasan ART: Tentu bu, Silahkan. Dinda, kesini.

Bu Syamsul: Kamu sudah biasa berkerja?

Dinda: Ya Bu, Insya Allah

Bu Syamsul: Apakah jilbab mu akan terus kau pakai selama bekerja?

Dinda: Iya bu, bila ada non Muhrim disana

Bu Syamsul: Bagaimana bila tidak saya izinkan

Dinda: Saya akan tetap mempertahankannya bu

Bu Syamsul: Berarti kamu melawan saya ya? Padahal saya yang memberi kamu gaji

Dinda: Saya tidak bermaksud melawan Ibu. Saya hanya berusaha mempertahankan prinsip dan keyakinan saya.

Bu syamsul: Baiklah, menurut saya kamu bisa dipercaya. Dan kepercayaan itu adalah hal yang utama. Oke Jeng. Saya ambil yang ini saja.

Ketua Pengelola Yayasan ART: Sip Bu. Mari bu, kita ke ruangan saya. Dinda, kamu bereskan barang-barangmu ya.

Dinda membereskan barang-barangnya, yang memang sudah tertata rapi. Lagi pula ia juga tidak membawa banyak barang. Teman-temanya ikut senang Dinda selamat dari kamar khusus. Tapi mereka juga berpesan untuk hati-hati dengan bu syamsul. Menurut mereka, bu Syamsul seorang yang perfeksionis. Karena hal tersebut, maka banyak ART yang tidak bertahan lama di sana.

Dinda pun tiba di kediaman bu Syamsul. Rumahnya besar dan tertata rapi. Tapi ternyata ia tinggal seorang diri di rumah tersebut. Di dalam perjalanan Bu Syamsul bercerita, bahwa suaminya sudah lama meninggal. Sebetulnya ia memiliki seorang putra. Tapi Putra tersebut sudah lama menghilang. Kurang lebih 18 tahun yang lalu, putra tersebut kabur dari rumah. Ia kawin lari bersama seorang wanita yang jauh lebih tua darinya. Usia mereka terpaut 5 tahun.

Bu Syamsul : Dinda. Kamu melamun ya? Tolong siapkan meja makan, saya mau makan malam

Dinda: Baik bu

Setelah makan malam, Bu Syamsul bersantai sejenak di ruang santai. Kemudian ia memangil Dinda dan memberikan wejangan.

Bu Syamsul: Dinda, bekerja di sini harus mentaati peraturan. Ini adalah sederet peraturan yang harus kamu taati di rumah ini. Dan kamu tidak usah kuatir dengan jilbab mu, tidak ada masuk dalam peraturan tersebut. Oya, saya wanti-wanti, jangan pernah kamu masuk pada kamar di tengah tersebut. Aku tidak mau ada orang lain, yang memasuki kamar tersebut. Itu adalah kamar putra ku. Aku dengar, ia mempunyai seorang anak perempuan. Mungkin pula usianya sama dengan dirimu. Eh, kenapa saya jadi bercerita itu pada kamu. Kita teruskan ya pembicaraan kita sebelumnya. Jadi, intinya, jangan sampai kamu melanggar aturan yang sudah saya buat. Mengerti kah?

Dinda: InsyaAllah mengerti bu.

Bu Syamsul: Baiklah. Saya mau tidur dulu.

Bulan demi bulan berlalu. Dinda berkerja dengan rajin. Ternyata Bu Syamsul tidak terlalu perfeksionis seperti yang dikatakan teman-temannya. Dinda diperlakukan sebagaimana mestinya. Hanya saja, di lubuk hatinya yang paling dalam, Dinda ingin merasakan menjadi mahasiswa. Dia sering tertegun bila melihat, gadis-gadis seusianya yang pulang pergi ke kampus.
***

Di suatu pagi.

Bu Syamsul: Dinda, kamu belum pernah bercerita tentang asal mu? Di mana orang tua mu. Pokoknya yang berhubungan dengan dirimu. Saya lihat kamu tidak punya HP. Padahal jaman sekarang semua ART juga tidak jauh dari gadget.

Dinda: Apa yang bisa saya ceritakan bu? Saya cuma anak desa. Tapi alhamdulillah bu, Saya tamat SMU negeri dengan nilai terbaik. Ibu saya sudah meninggal. Ayah, tidak tahu kabarnya. Katanya merantau ke Jakarta, tapi sudah 10 tahun tidak ada kabarnya. Saya juga tidak kenal siapa kerabat dari orangtua saya. Ibu tidak pernah bercerita apa pun. Ia selalu menghindar kalua saya tanya.

Bu Syamsul: Oh, kamu tamatan SMU negeri to. Ya, nasib orang itu beda-beda. Maaf ya, ibu tanya-tanya. Kamu jadi sedih ya?

Dinda: Ga papa ko Bu. Maaf ya bu, saya pamit ke pasar dulu…

Bu Syamsul: Oke..
***

Malam harinya…

Dinda: Assalamualaikum warahmatullah…Assalamualaikum warahmatullah.

Tak berapa lama, Bu Syamsul mengetok kamar Dinda.

Bu Syamsul: Maaf ibu menganngu. Jarang-jarang ibu pergi ke kamar ini. Tapi entah kenapa malam ini, ibu rasanya ingin sekali pergi ke sini. Rapi benar kamar mu. Oh, rupanya kamu bawa bingkai foto. Itu foto orang tua mu ya? Boleh ibu lihat?

Dinda: Foto lama bu, mungkin sudah tidak terlalu jelas. Boleh bu, silakan.

Dinda menyerahkan bingkai foto tersebut. Kemudian seketika itu juga raut muka Bu Syamsul berubah. Badannya terkulai lemas. Tapi perasaan yang ia rasakan bercampur aduk menjadi satu. Dinda yang melihat hal tersebut menjadi bingung.

Dinda: Ada apa bu? Ibu mau duduk dulu?

Bu Syamsul: Dinda. Mendekat ke ibu, nak.

Begitu mendekat, Bu Syamsul langsung memeluk Dinda erat sekali. Tangis pun meledak dari mata Bu Syamsul. Setelah ia dapat menahan diri, ia pun berujar.

Bu Syamsul: Dinda. Ternyata kau adalah cucu ku. Kau anak dari putra ku, Arifin.

Dinda yang mendengar hal itu ikut menangis bersama Bu Syamsul. Malam itu adalah malam terindah untuk Dinda. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerpen

Di Shopping Center

“Neta, ikut mbak Shopping yuk..”, ajak Mbak Nela. Mbak Nela itu, kakak

Perempuan Pemurung

Cerpen: Hadi Sastra Perempuan itu melepaskan pandangannya. Siang tak lagi terik. Angin

SECERCAH CAHAYA TAUBAT

Cerpen Hadi Sastra Seorang ustaz memperhatikan laki-laki yang sedang sempoyongan. Dari mulutnya

Di Pantai Itu

Di Pantai Itu Cerpen Dini Safitri Pantai.. Ah, Entah kenapa, setiap melihat
Go to Top