Melalui Agupena Saya Ingin Berjuang dengan Buku untuk Meningkatkan Daya Nalar Anak Didik

Rubrik Pendidikan Oleh

TRI BUDIYONO, S.Pd.
(SMP Negeri 1 Pamotan, Rembang, Jawa Tengah)

Penulis telah bekerja selama 22 tahun menjadi guru. Sebenarnya belajar secara khusus tentang bagaimana membaca dan menulis serta “mengemas” buku secara khusus sehingga buku itu dapat membangkitkan selera seseorang untuk membaca dan memahaminya juga belum pernah, tetapi penulis selalu berjuang agar tulisan diterima oleh media masa terus saya lakukan. Bermula dari aksi corat coret karena ada kendala dari siswa disekolah yang mengalami kesulitan dan kurang mampu memahamkan anak dengan gambling dan jelas. Hasil coretan itu ternyata mampu membantu anak mengatasi masalah yang dihadapi dengan baik. Dan dari coretan itu juga, penulis mendapat berkah karena coretan itu mampu menembus media massa meskipun media massa local. Tetapi publikasi tersebut mampu memotivasi penulis agar berkarya yang lebih baik dan lebih baik lagi. Dari motivasi itulah karya-karya penulis telah menembus media yang lebih besar. Dan mampu diterima oleh penerbit berskala Nasional.

Penulis ingin menggunakan talenta sebagai penulis otodidak yang dilakukan sehingga mampu menyusun buku dapat digunakan dan disenangi para pembaca. Tetapi ternyata itu tidak cukup dan gampang. Menyajikan dan mengemas materi buku yang mudah dipahami dan mampu membangkitkan daya nalar anak ternyata tidak cukup dengan otodidak. Penulis harus mau berdiskusi, belajar bersama dengan penulis-penulis lain agar didalamnya terdapat bangunan yang timbulnya dari kelebihan-kelebihan penulis yang lain.

Melalui Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) penulis punya harapan yang besar cita-cita dapat tercapai, karena penulis yakin di wadah itu penulis akan bertemu dengan penulis sekaligus guru yang berpengalaman. Sehingga penulis akan menemukan jati diri sebagai penulis. Corak yang cocok sebagai penulis.

Pengalaman penulis selama menjadi guru telah bertemu dengan materi buku pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah—seperti matematika, sejarah, kimia, fisika, bahasa, dan lain-lain. Sebagian besar materinya, dari dahulu hingga sekarang, tidaklah banyak berubah. Jika toh berubah, perubahan itu tidak sangat signifikan meskipun kurikulum di sekolah juga berubah. Oleh sebab itu, dalam pembahasan saya ini, saya ingin lebih menitikberatkan pada , yaitu bagaimana isi buku itu disajikan dan dikemas sehingga menarik para pengguna buku. Lebih jauh, saya ingin sekali buku-buku pelajaran itu tidak hamya sekadar menjadi pedoman guru dan murid dalam mempelajari sesuatu. Tetapi Saya ingin buku-buku yang disusun nanti dan yang telah disusun dapat menyenangkan para pembaca sehingga para pembaca (siswa, Guru, masyarakat pembaca) bisa terbangun nalarnya, menjadi pintar, cerdas sekaligus gemar membaca.

Untuk meraih keinginan tersebut, Penulis akan menyajikan materi dalam dua bagian yaitu tentang perkembangan baru tentang riset otak dan bagian kedua adalah bagaimana menyusun buku agar otak itu menjadi senang dan mudah memahami.

Bagian pertama

Tentang materi perkembangan-perkembangan baru tentang riset otak. Kita semua sudah pasti mafhum bahwa belajar—lebih khusus lagi membaca buku—sangat terkait dengan otak (brain). Apabila kita memahami bagaimana cara kerja otak dan menyesuaikan penyajian dan pengemasan buku sesuai dengan cara kerja otak, saya yakin bahwa kegiatan belajar—khususnya lagi, membaca buku—dapat diselenggarakan secara sangat efektif dan menyenangkan. Di bagian pertama ini, saya akan membahas serba sedikit tentang temuan Roger Sperry dan Howard Gardner berkaitan dengan organ penting bernama otak.

Di bagian kedua, dengan berpijak pasa riset Sperry dan Gardner, saya akan membahas bagaimana menyajikan dan mengemas buku pelajaran yang dapat membuat otak senang. S. Buku-buku penulis bukanlah buku fiksi dan bukan buku yang membahas tema-tema yang ringan. Beberapa buku saya—antara lain kreasiku dalam mengajar IPA, Mahir berhitung dengan Jari tangan, Pembelajaran MIPA di masa dating, Konversi nilai dalam Evaluasi Pengajaran.
Penulis percaya bahwa salah satu penyebab beberapa buku penulis diminati oleh pasar karena penulis “mengemas” buku-buku tersebut dengan cara-cara yang tidak konvensional, dan didukung oleh managemen pemasaran yang baik.
Di bagian kedua penulis akan mengisahkan cara-cara saya “mengemas” buku saya. Saya berharap, apa yang saya sampaikan di bagian kedua ini dapat bermanfaat bagi para pengemas (khususnya penerbit) buku pelajaran.

Otak dan Kegiatan Membaca Buku Pelajaran

Riset-riset otak mutakhir menunjukkan betapa membaca itu terkait dengan kebugaran otak. Namun, bukan soal manfaat ini yang akan saya bahas di sini. Penulis hanya ingin menunjukkan betapa peran buku pelajaran tidak hanya membantu para siswa untuk belajar secara sistematis tentang materi pelajaran yang ingin dipelajarinya. Buku pelajaran—yang jumlahnya puluhan dan senantiasa berada di dekat mereka ketika mereka belajar—dapat membuat para siswa fungsi otaknya bekerja dengan baik. Tentu, sebuah buku akan membantu menyalakan otak seorang siswa apabila buku tersebut benar-benar dapat membuatnya senang dan nyaman sekaligus harganya terjangkau oleh kantong mereka.

Memang, belum ada riset khusus tentang apakah buku pelajaran itu menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi para siswa. Namun, penulis yakin—dengan ditemukannya banyak sisi menakjubkan dari otak kita—buku-buku pelajaran di masa sekarang dapat disajikan sesuai dengan cara bekerjanya otak manusia.
Apabila sebuah buku pelajaran dapat disajikan dan dikemas sedemikian rupa sehingga sesuai cara kerja otak, ada kemungkinan para pembaca buku pelajaran dapat lebih senang ketika menjalankan kegiatan membaca.

Temuan Roger Sperry, tampaknya, telah memberikan inspirasi bagi dua buku bestseller, Quantum Learning (Kaifa, 1999) dan The Learning Revolution (diterjemahkan dan diterbtikan oleh Penerbit Kaifa dengan judul Revolusi Cara Belajar). Baik Quantum Learning dan The Learning Revolution secara ekstrem mengubah penampilan sebuah buku yang biasanya sisi halaman kiri dan kanannya sama. Kedua buku tersebut membedakan tampilan halaman kiri dan kanan hampir di seluruh halaman. Satu sisi halaman diisi oleh deretan teks sebagaimana buku biasa, sementara sisi halaman lainnya diisi dengan ilustrasi/gambar atau kata-kata yang membangkitkan semangat. Dari ide itulah dalam buku Metode Handtrymatika juga dimasukan kata-kata filosof yang mampu menggugah semangat disela-sela bacaan.

Sperry menunjukkan kepada kita bahwa belahan otak kiri sifatnya logis dan belahan otak kanan intuitif. Apabila secara sadar kita menggunakan otak kiri untuk belajar, kita akan merasakan bahwa otak kiri ini akan bekerja sebagai berikut: menyukai hal-hal yang berurutan; belajar secara maksimal dari hal-hal yang bersifat detail lebih dahulu; menyukai sistem membaca yang berdasarkan pada fonetik; menyukai kata-kata, simbol, dan huruf; menyukai sesuatu yang terstruktur dan dapat diprediksi; mengalami lebih banyak fokus internal; dan ingin mengumpulkan informasi yang faktual. Sebaliknya dari itu, otak kanan akan bekerja sebagai berikut: lebih suka dengan hal-hal yang bersifat acak; belajar secara maksimal dengan pemahaman global lebih dahulu, baru kemudian ke hal-hal detail; lebih menyukai sistem membaca yang bersifat menyeluruh; menyukai gambar dan grafik; lebih suka melihat dahulu atau mengalami sesuatu; ingin mengumpulkan informasi mengenai hubungan antarpelbagai hal; lebih menyukai lingkungan yang bersifat spontan dan alamiah; mengalami lebih banyak fokus eksternal; dan ingin pendekatan yang bersifat terbuka, baru, dan memberikan kejutan-kejutan yang menantang.

Bayangkan apabila sebuah buku pelajaran dapat disajikan dan dikemas sedemikian rupa sehingga mampu diakses oleh otak kanan dan otak kiri secara sinergis? Dalam buku Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah (MLC, 2004), saya terinspirasi oleh gagasan Gardner tentang adanya banyak tipe kecerdasan yang dimiliki seseorang. Menurut Gardner, kecerdasan merupakan kumpulan kepingan kemampuan yang ada di beragam otak. Semua kepingan ini saling berhubungan, tetapi juga bekerja sendiri-sendiri. Dan yang terpenting, kata Gardner lebih jauh, mereka tidak statis atau ditentukan saat lahir. Seperti otot, kecerdasan dapat berkembang sepanjang hidup asal terus dibina dan ditingkatkan.

Penulis membayangkan bahwa sebuah buku pelajaran dapat dikemas sedemikian rupa sehingga dapat merangsang seluruh tipe kecerdasan yang saat ini telah ditemukan oleh Gardner. Ada sembilan tipe kecerdasan yang ditemukan oleh Gardner, yaitu kecerdasan (1) spasial atau gambar, (2) bahasa, (3) interpersonal, (4) intrapersonal, (5) musik, (6) natural (alam), (7) tubuh (kinestetik), (8) matematika (logis), dan eksistensial (mencari makna). Setiap tipe kecerdasan ini dapat bekerja secara sendiri-sendiri dan dapat saling membantu atau mempengaruhi. Apabila seorang anak lemah dalam kecerdasan matematika, misalnya, namun kecerdasan musiknya menonjol, maka kecerdasan musik dapat membantu anak itu untuk membangkitkan kecerdasam matematikanya.

Menurut teori kecerdasan majemuk, sebuah pembelajaran akan mengasyikkan bagi setiap anak apabila dalam pembelajaran tersebut digunakan pelbagai cara yang mampu merangsang seluruh tipe kecerdasan yang ada. Masing-masing tipe kecerdasan—terutama kecerdasan yang sangat menonjol—seolah-olah merupakan sebuah “jalan” yang digunakan oleh seorang anak untuk belajar sesuai karakter dirinya. Prinsip-prinsip kecerdasan majemuk inilah yang kemudian diambil dan diolah untuk menjadi sebuah buku pelajaran dapat menyenangkan seorang anak. Ia dapat menyenangkan karena di dalam buku pelajaran tersebut ada banyak cara yang bisa digunakan si pengguna buku pelajaran untuk mengakses materi yang dikandungnya. Tujuan lain penulis dengan memanfaatkan teori kecerdasan majemuk dalam mengemas buku pelajaran adalah untuk merangsang seluruh area atau kepingan otak yang di dalamnya tersimpan pelbagai tipe kecerdasan.

Bagaimana Mengeksplorasi “Context” Buku Pelajaran

Salah satu medium-penting yang digunakan untuk menyerap ilmu dari sebuah buku adalah bahasa. Oleh sebab itu, baik-buruk dan menyenangkan-tidak menyenangkannya sebuah buku sangat bergantung pada bahasa-tulis yang digunakan oleh buku tersebut. Apabila bahasanya ruwet, berantakan, dan kaku, ada kemungkinan sebuah buku tidak akan mampu memberdayakan pembacanya. Bahasa-tulis yang indah, menggugah, dan mencerahkan penalaranlah yang akan mampu—meminjam kata-kata Prof. Dr. Fuad Hassan—“memperkaya dan mempercanggih gagasan dan wawasan” seseorang.

Apabila kita ingin berbicara dan mengeksplorasi context buku pelajaran, mau tidak mau kita harus memperhatikan penggunaan bahasa-tulis. Context yang berkaitan dengan bahasa-tulis ini dapat sangat banyak dan beragam. Misalnya, bahasa-tulis yang digunakan untuk menyampaikan isi, apakah telah menggunakan bahasa emosi, bahasa yang mengalir dan enak dibaca sekaligus menyentuh? Bagaimana pula dengan penciptaan judul-judul buku (yang diletakkan di sampul depan), lantas judul-judul bab dan sub-subjudul, apakah juga sudah dipoles sedemikian rupa sehingga tidak rigid dan terkesan mekanis?

Dalam buku Kreasiku Dalam Mengajar IPA, penulis menekankan betul pentingnya bahasa-tulis yang bercerita (mengalir) dan menggugah. Apabila seorang penulis buku pelajaran ingin memiliki kemampuan untuk menyusun bahasa-tulis yang mengalir dan menggugah, dia harus membaca banyak buku yang sangat kaya dan beragam. Mustahil kemampuan menulis secara mengalir dan menggugah ini dapat dimiliki oleh seorang penulis apabila dia tidak membaca buku yang sangat kaya dan beragam. Bagi saya, membaca adalah menyerap kata-kata untuk disimpan di dalam diri, dan menulis adalah mengeluarkan hal-hal yang di batin lewat bantuan kata-kata yang telah tersimpan di dalam diri.

Setelah bahasa kata, context yang perlu digarap secara total adalah bahasa rupa atau bahasa visual. Bahasa visual adalah bahasa untuk otak kanan. Bahasa visual bukan sekadar menempel atau menambah gambar di dalam sederetan teks. Dalam kata-kata Milly R. Sonneman—penulis buku Mahir Berbahasa Visual—bahasa visual ini disebut sebagai “fasilitasi grafis”. Kemampuan seorang desainer dalam memfasilitasi grafis ini akan menjadikan sebuah buku dapat meningkat kekuatan komunikasinya. Sederetan teks yang disertai gambar yang lucu dan menyentuh bisa jadi akan lebih mudah dicerna dan dipahami. Ringkasnya, bahasa visual akan memungkinkan sebuah buku dapat didekati dari “pintu” yang lain.

Hal terakhir yang ingin penulis usulkan dalam mengeksplorasi context buku pelajaran adalah bagaimana membuat buku pelajaran tersebut tampil interaktif. Dalam buku-buku karya penulis, kesan interaktif itu saya munculkan dalam “boks” yang saya sebut sebagai wadah untuk “mengikat makna”. Dalam buku-buku pelajaran, meskipun saya tahu ada beberapa buku pelajaran yang sudah menyediakan wadah untuk “mengikat makna” dalam bentuk yang lain, bisa secara khusus disediakan wadah “mengikat makna” dan diberi penjelasan tentang pentingnya mengonstruksi materi yang sudah dipahami dari kegiatan membaca. ***

DAFTAR PUSTAKA
Bell Gredler, Margaret E (1991). Belajar dan Membelajarkan Seri Pustaka Teknologi Pendidikan No.11. Cv. Rajawali. Jakarta

Brotosiswoyo, BS (2002). Hakikat Pembelajaran MIPA dan Kiat Pembelajaran Fisika di Perguruan Tinggi. Pengembangan Universitas Terbuka. Depdiknas. Jakarta.

Budiyono, Tri. Metode Handtrymatika, Yogyakarta: Cv. Asta Aji Pustaka, 2008

Budiyono, Tri. Kreasiku Dalam Mengajar IPA, Jakarta : Sinar Cemerlang Abadi, 2007

Darajat, zakiah. (1982). Kepribadian Guru. Bulan Bintang. Jakarta

Hierlock, Elizabeth B, (1981). Child Development. Mc. Graw Hill International Book Company. Singapura

J.P Gulford. (1969). Personality. Mc. Graw Hill Book Company. New York.

Lester D, Crow & Crow (1973). Educational Psycology. American Book Co, New York.

NAESP (1977). Principal’s Survival Kit: Practical Information on Critical Issues for Elementary and Middle School Leaders. Alexandria. NAESP

NRC. (2001) Inquiry and the National Science Education Standards : Washington DC: National Academy Press. Tersedia: http//books.nap.edu/html/inquiryaddendum/notice.html

Rustawan, Nuryani Y. (2007). Kemampuan Dasar Bekerja Ilmiah dalam Pendidikan Sains dan Assesmensnya. Makalah UPI Bandung.

Samani, Muchlas (2002). Panduan Menejemen Sekolah. Depdiknas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta

Skinner, Charles E. (1977). Educational Psycology. Prenticl Hall Of India Private Limited. New Delhi.

AGUPENA.OR.ID merupakan website resmi Agupena yang diluncurkan pada 10 Oktober 2016. Kehadiran website ini diharapkan bisa menjadi pendukung program Agupena di seluruh wilayah tanah air. Website dikelola oleh Sawali Tuhusetya (Bidang Pengembangan Profesi Agupena).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top