Penguatan Pendidikan Karakter

Rubrik Pendidikan Oleh

Penguatan Pendidikan Karakter
Oleh Hery Nugroho *)

PEMBUNUHAN pelajar oleh temannya sendiri di SMA Taruna Nusantara Magelang menyentakkan masyarakat Indonesia. Hanya karena masalah sakit hati, tega dibunuh. Kejadian tersebut adalah salah satu masalah yang dialami pelajar. Masalah lain adalah tawuran antarpelajar, narkoba, pergaulan bebas, dan ketidakjujuran dalam ujian. Terkait dengan masalah ini, penulis ingat program revolusi mental yang didengungkan Presiden RI, Joko Widodo layak untuk dikuatkan kembali. Gagasan revolusi mental ini digagas di tengah carut marutnya kondisi bangsa, terutama dengan maraknya kasus-kasus (krisis moral) yang tidak mencerminkan bangsa Indonesia (Dirjen GTK Kemdikbud, 2016: 1). Gagasan tersebut perlu diimplementasikan oleh semua komponen, termasuk di pendidikan.

Secara regulasi sebenarnya Kemdikbud sudah memberikan panduannya, yaitu Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Menindaklanjuti regulasi tersebut, Mendikbud meluncurkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di sekolah.

Mendikbud ME
Pengalaman penulis dalam PPK di SMA 3 Semarang dengan cara MENDIKBUD ME sebagai upaya Merevolusi Mental, yaitu  singkatan dari Menyusun panduan, Sosialisasi Pendidikan Karakter, Membiasakan nilai karakter yang dikembangkan  sehingga menjadi Budaya, Pendampingan, Reward dan Punishment.

Pertama, menyusun PPK. Pengalaman penulis dalam penyusunan panduan tersebut mengacu pada panduan yang dikeluarkan Kemdikbud dengan menyesuaikan dengan kondisi yang ada di sekolah. Dalam penyusunan tersebut juga dilengkapi dengan Standar Operasional Pelaksanaan (SOP) Pendidikan Karakter di sekolah.

Kedua, sosialisasi pendidikan karakter. Sosialisasi ini dilakukan kepada semua warga sekolah. Cara sosialisasi pelaksanaan pendidikan karakter adalah melalui pembinaan upacara bendera hari senin yang diikuti peserta didik, guru, dan karyawan. Khusus guru dan karyawan dikuatkan lagi pada waktu rapat dewan guru dan karyawan. Harapannya, guru dapat menguatkan lagi di sela-sela mengajar di kelas.

Selain sosialisasi tersebut, juga melalui berbagai media. Diantaranya melalui pembuatan beberapa banner yang dipajang di tempat yang sering dilalui warga sekolah dan masyarakat. Tujuannya, warga sekolah selalu mengingat dan melaksanakan nilai karakter yang dikembangkan. Sedangkan di masing-masing kelas dipasang pamflet  berisi nilai-nilai karakter yang dikembangkan di sekolah. Kemudian untuk mengingatkan pendidikan karakter juga disosialisasikan nilai karakter yang dikembangkan sekolah melalui grup media sosial yang dimiliki guru, karyawan, dan peserta didik.

Ketiga, membiasakan nilai-nilai pendidikan karakter yang sudah disosialisaikan di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dalam pelaksanaan pendidikan karakter menggunakan tiga cara, yaitu PPK berbasis kelas, budaya sekolah, dan masyarakat (Kemdikbud, 2016). Kendali utama PPK berbasis kelas adalah guru. Karenanya perencaan guru yang terimplementasi dalam RPP harus menginsertkan PPK, mulai kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Dari RPP yang sudah terinsert dengan PPK, kemudian benar-benar dilaksanakan guru di kelas.

Contohnya, sebelum memulai pembelajaran, guru meminta salah satu peserta didik memimpin doa teman-temannya sesuai agama masing-masing dengan khidmat. Setelah itu guru memastikan kondisi meja, kursi dan sekitar tempat duduknya rapi dan bersih. Apabila ada sampah, mohon peserta didik membuangnya ditempat sampah. Kemudian dalam kegiatan inti, guru meminta kepada peserta didik melakukan pengamatan terhadap gambar yang ditampilkan di papan tulis, peserta didik dimohon memberi komentar. Saat ada peserta didik berpendapat, peserta didik memperhatikan. Dari contoh sederhana di atas guru melakukan pembiasaan karakter religius, peduli lingkungan, dan peduli sosial (menghormati orang lain). Hal ini tentunya bisa dikembangkan karakter yang lain.

Cara PPK berikutnya adalah berbasis budaya sekolah. PPK mengembangkan budaya sekolah yang sudah menjadi regulasi di sekolah. Misalnya di SMA Negeri 3 Semarang mengembangan budaya 3S (Senyum, Salam, dan Sapa) dengan teman, guru, karyawan, dan tamu yang datang ke sekolah. Budaya ini merupakan implementasi nilai karakter peduli sosial. Sehingga kalau budaya 3S biasa dilakukan di sekolah, maka kebiasaan tersebut akan dipraktikkan di keluarga maupun di masyarakat.

Cara yang lain adalah berbasis masyarakat. Pelaksanaan PPK tidak bisa dilaksanakan hanya pihak sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Kalau di sekolah anak mempunyai budaya 3S, maka di masyarakat perlu melakukan hal serupa. Apabila masyarakat mendukung, maka peserta didik akan lebih membudayakan karakter tersebut.

Keempat, melakukan pendampingan kepada peserta didik. Pendampingan dalam pelaksanaan PPK dilakukan oleh semua guru. Pendampingan tersebut dilakukan di dalam kelas, luar kelas, maupun di masyarakat. Di dalam kelas, guru dapat mendampingi peserta didik dalam PPK, yaitu saat mengajar. Sedangkan diluar kelas, guru melakukan pendampingan saat istirahat atau kegiatan ekstrakuliler. Sedangkan di lingkungan keluarga dan masyarakat, guru dapat bekerjasama dengan orang tua serta tokoh masyarakat.

Kelima, reward (penghargaan) dan punishment (hukuman). Untuk menguatkan pelaksanaan PPK, perlu ada reward bagi peserta didik yang dapat membiasakaan nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan sekolah. Bentuk penghargaan tersebut adalah memberikan pujian di depan teman satu kelas. Selain itu guru dapat memberikan reward dalam bentuk nilai sikap yang sangat baik di laporan hasil belajar.

Sebaliknya, bagi peserta didik melanggar dari karakter yang dikembangkan sekolah, maka guru memberikan hukuman sesuai tata tertib. Misalnya, peserta didik mengambil barang yang bukan miliknya, sesuai dengan tata tertib, maka dia akan dikembalikan kepada orang tuanya.

Dari penjelasan di atas, kalau langkah-langkah tersebut dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh semua pihak, maka revolusi mental bagi peserta didik dapat terwujud. Dalam melaksanakan program PPK tersebut jangan karena ada program dari pemerintah, tetapi kesadaran kolektif bersama untuk memperbaiki bangsa Indonesia menuju Indonesia emas pada tahun 2045. Pertanyaan apakah semua sekolah sudah menerapkan PPK?

*) Hery Nugroho, Guru SMA Negeri 3 Semarang dan Sekretaris Umum Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Jawa Tengah.

Guru SMA Negeri 3 Semarang dan Sekretaris Umum Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top